
"Ku harap suatu saat nanti ada sesuatu yang dapat mengubah segalanya, sesuatu yang akan membawa kekuatan untuk ku, "sebelum kejadian ini terjadi beberapa hari yang lalu tepatnya pada malam hari Chang yi pernah mengatakan suatu hal pada dirinya sendiri, sembari menatap rembulan saat itu menjadi satu-satunya yang ada di langit lantaran akan terjadi bulan purnama, dia berkata pada dirinya sendiri.
"Aku memang memiliki sebuah harapan"
"Dan itu perlahan akan terwujud"
Chang yi kembali mengalihkan perhatiannya pada Xiuhuan, seraya mengangguk dia lalu berkata "semoga saja"
Malam semakin gelap dan taburan bintang di langit masih terlihat, namun suasana sekitar terasa dingin juga sunyi. Sesekali terdengar suara riuh dari daun-daun pohon yang tertiup angin, terdengar juga suara merdu seruling Xiuhuan yang tengah dia mainkan sembari duduk menghadap perapian bersama dengan Chang yi yang tengah duduk di sebelahnya. Suaranya terdengar di seluruh penjuru hutan, langkah demi langkah Xiuhuan melewati setiap nada dari lagunya. Hawa yang terasa dingin juga menakutkan di sana seperti tidak dapat mengusiknya.
Chang yi yang dari tadi terdiam kini mulai berbicara padanya. "Terima kasih"
Mendengar itu Xiuhuan lantas berhenti memainkan serulingnya, kemudian menoleh ke arahnya yang masih menatap perapian, dan bertanya "untuk apa?"
"Kau telah menolong ku ... tadi aku belum sempat berterima kasih pada mu, maaf aku melupakan itu"
Xiuhuan menjawabnya dengan menganggukkan kepala seraya berkata "tadi memang mengagetkan, mahluk halus yang memasuki tubuh mu ternyata memiliki dendam besar pada seseorang. Selain itu, mereka yang saat ini tengah menatap kita juga memiliki dendam besar sepertinya"
"Dendam?, "mendengar itu membuat Chang yi terkejut dia terlihat menoleh melihat Xiuhuan.
"Ya, setelah melihat mu di rasuki tadi, dan juga hawa dingin yang sekarang tengah kita rasakan. Memang mereka sepertinya adalah para jiwa yang di selimuti dendam besar"
"Dan suara jeritan yang saat itu kita dengar adalah teriakan mereka, teriakan itu memang terdengar mengerikan dan sampai membuat telinga kita sakit. Tetapi jika kita dengarkan lebih jelas dan tidak menutup kedua telinga kita, suara jeritan itu malah akan terdengar seperti orang-orang yang tengah menangis serta meminta tolong"
"Jika itu benar, apa yang telah terjadi pada mereka semua sampai menjadi seperti ini?"
"Yang bisa menjawabnya hanyalah mereka sendiri"
Tidak lama setelah itu mendadak hutan yang berada di sekeliling mereka berubah menjadi sebuah kota yang beberapa hari lalu sempat mereka kunjungi. Keduanya tampak terkejut dengan apa yang sedang terjadi, mereka melihat sebuah kota yang tentram, orang-orang di sana terlihat bahagia dan juga berinteraksi satu sama lain, tidak seperti saat mereka lihat waktu itu.
"Mengapa tiba-tiba semuanya berubah?" kaget Chang yi.
Namun di tengah kecerian juga kebahagiaan yang orang-orang itu tengah rasakan, tiba-tiba segerombolan orang dengan menumpangi seekor kuda datang dan mulai menghancurkan kota itu. Salah satu dari mereka, yaitu pemimpinnya terlihat mengenakan pakaian gelamor yang di balut sebuah baju besi berwarna perak, rambutnya terikat panjang dia juga membawa sebuah pedang merah yang terlihat tajam. Orang itu kemudian berteriak memerintahkan para bawahannya sambil mengeluarkan pedangnya.
"Hancurkan semuanya!"
Lalu orang-orang itu melakukan perintahnya dan mulai menghancurkan kota, semua yang tinggal di sana tidak bisa melakukan apa pun lantaran mereka hanyalah orang biasa yang tidak ahli dalam berpedang atau pun bela diri. Mereka ketakutan dan hanya bisa pasrah juga tidak bisa melarikan diri karena orang-orang itu telah menghadang gerbang yang biasa mereka gunakan untuk keluar masuk kota.
Dan di tengah kekacauan itu, seorang wanita muda dengan di balut pakaian putih datang, dia juga terlihat membawa sebuah pedang.
"Apa urusan kalian datang ke mari dan menghancurkan kota yang damai ini?" seruannya yang terlihat sangat marah.
Laki-laki yang sebelumnya memerintahkan untuk menghancurkan tempat itu kemudian turun dari kudanya setelah melihatnya, dia lalu berjalan sedikit mendekatinya dan menjawab pertanyaannya.
"Kota ini sekarang ada di bawah kendali ku dan kalian semua akan ku bunuh satu-persatu saat ini juga"
__ADS_1
"Cih, semudah itu kau mengatakannya? seakan kau tidak tau dosa apa yang kau perbuat jika melakukan itu"
Laki-laki itu tersenyum menyeringai padanya. "Bukan urusan mu, aku bisa melakukan apa pun yang ku mau"
"Sekarang kemarilah, biarkan aku mengambil nyawa mu" lanjutnya.
"Memalukan, rupanya kau adalah orang yang sangat lugu, apa kau fikir aku akan dengan bodohnya mendengarkan mu? jangan bodoh, tuan"
"Sepertinya kau menarik, bagaimana jika kita bertarung?"
"Tetapi dengan sebuah syarat!"
Lelaki itu mulai mengerutkan wajahnya, dan saat wanita itu melihat ekspresinya ia kemudian berjalan mendekatinya seraya tersenyum dan berkata.
"Mengapa? mendadak ekspresi mu berubah, apa kau menolak?"
" ... Apa syarat yang kau maksud?" tidak lama dia menjawab pertanyaan, namun masih dengan ekspresi yang sama.
"Jika aku memenangkan pertarungan ini, maka kau harus meninggalkan kota ini dan sebelum itu terlebih dahulu kau harus membayar semua dosa mu karena telah menghilangkan sebagian nyawa keluarga mereka" balasnya sesaat berpaling pada orang-orang yang tampak ketakutan.
"Baiklah, aku menerima syarat mu itu. Tapi kau juga harus menerima syarat ku"
"Apa mau mu? "
"Jika aku memenangkan pertarungan ini, saat ini juga kau akan menanggung semuanya dan melihat mereka semua mati, "lelaki itu sekarang tersenyum percaya diri sembari mengarahkan pedangnya pada orang-orang yang terlihat ketakutan.
"Kalau begitu jangan diam saja, kemari lah kita mulai pertarungan ini, "lelaki itu kemudian berlari ke arahnya seraya mengacungkan pedang di tangannya, begitu juga sebaliknya dengan wanita yang menjadi lawannya. Pertarungan keduanya pun di mulai dengan di iringi suara pedang yang saling beradu tanpa henti.
"Slash"
Orang-orang yang berada di sana hanya menonton keduanya yang sama-sama ingin memenangkan pertarungan. Terlihat wanita muda itu pandai memainkan pedangnya, beberapa kali pedang lawannya berusaha menusuk tubuhnya dia berhasil menangkisnya.
"Kau cukup berani nona"
Saat kedua pedang mereka terkunci dengan sigap wanita itu memutar tubuhnya ke atas dan kemudian menendang wajah lawannya dengan keras. Lelaki yang tengah di lawannya itu tidak tinggal diam, dia membalas serangannya secara bertubi-tubi yang membuat wanita itu kewalahan menangkis setiap serangannya, sampai akhirnya pedangnya berhasil melukai tangan kiri lawannya.
Orang-orang yang menonton mereka tampak tertegun melihat keduanya yang tengah bertarung, sebagian juga ada yang berdoa agar wanita muda itu memenangkan pertarungan dan mereka semua akan selamat.
"Nona Qiaofeng kami percaya anda tidak akan membiarkan kota ini hancur dan kami semua mati di tangannya" ujar salah seorang pria paruh baya.
Kembali pada pertarungan, terlihat Qiaofeng berhasil menjatuhkan pedang lawan dia kemudian dengan cepat menerjangnya yang hendak mengambil pedang yang baru saja terlempar.
"Apa yang akan kau lakukan?" ujar Qiaofeng seraya menginjak tangan kanan lelaki itu dengan keras.
"Cih, "lawannya kini terpojok dan dia tidak bisa melakukan apa pun lantaran bukan hanya tangannya saja yang terinjak tetapi juga sebuah pedang tajam tampak terbentang di lehernya dan siap untuk menyayatnya.
__ADS_1
Melihatnya terpojok seseorang kemudian terlihat mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya pada Qiaofeng, dan orang itu tidak lain adalah anak buahnya. Namun untungnya dengan cepat Qiaofeng menyadarinya dan berhasil menangkis pedang itu, keduanya kini bertarung dengan saling mengadu pedang mereka.
Dalam kesempatan itu lelaki yang sebelumnya kehilangan senjatanya kembali berdiri sembari mengambil pedangnya yang berada di sisi kanannya, setelah itu dia kembali menyerang Qiaofeng dan menyuruh tangan kanannya untuk berhenti menyerang wanita itu.
"Chang yang hentikan!, biarkan aku yang menghabisinya"
Mendengar perintahnya dia pun berhenti menyerang Qiaofeng dan menurunkan pedangnya, sebentar Chang yang juga melihat ke arah lelaki itu sembari menganggukkan kepalanya.
Pertarungan antara keduanya kembali terjadi, namun kali ini salah satu dari mereka terlihat mengeluarkan sesuatu dari tangannya, yang tidak lain adalah sihir hitam. Dia lalu melemparkan sihir itu pada Qiaofeng dan hampir mengenai tubuhnya lantaran Qiaofeng berhasil menghindar.
"Sihir itu?"kaget Qiaofeng tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.
"Dia ternyata ternyata Jiao long"
Jiao long tersenyum menyeringai padanya yang baru saja mengetahui siapa dirinya, dia kemudian kembali mengarahkan sihir hitam itu pada Qiaofeng dan kali ini serangannya berhasil menjatuhkannya.
Jiao long adalah seorang raja yang kejam, dia tidak akan segan-segan membunuh siap pun untuk kepuasan-nya sendiri termasuk rakyatnya. Selain itu dia juga di kenal sebagai pengguna sihir hitam yang jelas-jelas di larang di gunakan lantaran sihir itu selalu memanipulasi orang yang menguasainya untuk melakukan kejahatan dengan membunuh siapa pun untuk memperbesar sihir tersebut.
Menurut cerita yang berseliweran dari mulut ke mulut, Jiao long adalah satu-satunya orang yang menggunakan sihir hitam yang tersisa. Karena sebelumnya bagi yang mengetahui kejadiannya orang yang sama sepertinya telah mati terbunuh oleh salah seorang roh, entah bagaimana dia selamat tapi yang pasti ada cerita di balik semua itu.
Kembali pada pertarungan Qiaofeng yang baru saja terkena serangan Jiao long terlihat kesakitan karena sihir hitam itu mengenai tubuhnya, tetapi dia kembali berdiri dan melawannya dengan hanya menggunakan sebuah pedang, Qiaofeng melawan Jiao long yang jelas bukan tandingannya. Dan satu-satunya cara untuk mengalahkan sihir hitam itu adalah dengan membunuh orang yang mengendalikannya, yaitu Jiao long.
Akan tetapi untuk melakukannya tidaklah mudah lantaran Jiao long tidak berhenti mengarahkan sihir itu padanya, yang membuatnya kesulitan untuk menggores kulit lelaki kejam itu. Seraya tersenyum meremehkan Jiao long kali ini mengarahkan serangannya pada orang-orang yang dari tadi terlihat ketakutan dan menangis, dengan cepat sihir itu mengarah pada mereka seraya berubah menjadi seekor naga yang menyerupai gumpalan asap hitam dan besar.
Mereka tampak ketakutan juga menangis sambil meminta ampun pada raja kejam itu, tetapi Jiao long tidak mendengarkan rintihan mereka dan tetap akan membunuh mereka.
"Ampuni kami tuan, jangan bunuh kami" ujar seorang lelaki tua.
"Tuan ijinkan kami hidup, kami mohon" sahut salah seorang wanita yang terlihat memegang kedua anaknya yang masih kecil.
"Tidak hentikan!, "Qiaofeng kemudian berlari mendekati orang-orang itu untuk melindungi mereka.
Tetapi dia terlambat dan pada saat itu juga naga itu menyambar mereka dengan sekejap mata, setelah itu mendadak hujan yang menyerupai darah turun seakan dari langit dan mewarnai seluruh kota. Kota yang sebelumnya terlihat damai serta di penuhi kehangatan semua orang-orang di sana, mendadak berubah dalam menjadi sebuah kota yang mengerikan.
Qiaofeng tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya, dia mulai kehilangan keseimbangan untuk berdiri dan kedua lututnya jatuh menimpa tanah bersamaan dengan pedang yang dia pegang di tangannya. Darah orang-orang itu juga mewarnai bajunya yang berwarna putih, dia kemudian melihat kedua telapak tangannya yang sudah di lumuri banyak darah dan perlahan air matanya jatuh mengenai kedua telapak tangannya itu. Air matanya bahkan tidak dapat menghilangkan warna merah dari tangannya, dan di tengah tangisannya itu dia berkata.
"Maafkan aku"
Lalu kemudian sebuah benda yang menyerupai mainan anak-anak tanpa sengaja menghampirinya dan kini berada di sebelahnya karena tertiup anging, melihat itu kesedihan dan rasa penyesalan semakin menyelimuti hatinya lantaran ada banyak anak kecil yang tidak berdosa dan tidak tau apa-apa harus menjadi korban kekejaman Jiao long.
Pada saat itu juga Jiao long tanpa fikir panjang berjalan mendekatinya lalu kemudian mengangkat pedangnya dan menebas leher Qiaofeng. Di saat matanya akan tertutup wanita itu melihat Jiao long berjalan menjauhinya dan kemudian menunggangi kudanya yang mengarah pada pintu gerbang.
Bersamaan dengan itu semua yang ada di sana pun menghilang dan menjadi seperti semula yaitu hutan yang gelap, Xiuhuan serta Chang yi hanya terdiam melihat semua kejadian itu, keduanya bahkan terlihat menangis saat menyaksikan kekejaman raja Jiao long pada orang-orang itu.
"Lagi-lagi Jiao long!" ujar Chang yi yang terlihat tidak dapat menahan amarahnya pada orang kejam itu.
__ADS_1
"Jadi dia pengguna sihir hitam?" tanya Xiuhuan sesaat menoleh ke arahnya.
Saat sebelum Chang yi menjawabnya hantu wanita tanpa kepala itu muncul dan berdiri beberapa langkah dari hadapan mereka, perlahan dia mulai berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Dan di salah satu tangannya dia terlihat membawa sebuah pedang, wanita itu adalah Qiaofeng dia mati terbunuh oleh Jiao long.