Tumbal Pesugihan Pocong

Tumbal Pesugihan Pocong
satu


__ADS_3

Keringat mengalir dari dahi. Seorang asisten berbaju hijau mengusapkan tisu untuk mengeringkan keringat dokter yang mengalir dari dahinya. Operasi ini tidak hanya memakan waktu tapi juga tenaga para dokter ahli. Penyakit yang disebabkan virus Papilloma, menyerang sekujur tubuh pasien, kondisi pasien benar-benar memprihatikan dengan Papilloma yang tumbuh mengeras. Tapi, itu bisa ditangani dengan baik.


Seorang dokter keluar dari ruangan itu. Selesai juga tugas beratnya.


“Bagaimana Dok?” tanya seseorang yang menunggu.


“Alhamdulillah, semuanya lancar.”


“Syukurlah. Dokter Ilyaz memang bisa diandalkan,” ucap orang yang menunggu. Matanya berbinar.


“Semua karena izin Allah. Saya hanya pelantara saja. Saya permisi.” Tak lupa senyum ramahnya tersemat saat meninggalkan orang tadi.


Dokter Ilyaz masuk ruangan. Di atas meja tergeletak amplop cokelat berlogokan dinas kesehatan. Dibukanya amplop itu, kemudian dengan cepat dibacanya.


“Itu surat pengajuan penelitianya ya, Dok?” asistennya membenahi beberapa berkas.


“Ya, dua hari lagi. Saya harus mempersiapkan diri.”


“Dokter Ilyaz yakin dengan keputusan itu? Maaf, Dok. Menurut kabar yang pernah saya dengar, Desa Suka Asih sedang dilanda pandemi penyakit aneh. Menurut laporan, sudah hampir empat bulan ini warga di desa itu banyak yang meninggal. Dan, kabarnya, sudah satu tahun lebih pandemi itu muncul.”


“Pandemi apa?”


“Katanya, di sana banyak yang meninggal mendadak. Di setiap korban ada bekas luka menghitam di lehernya. Mayat mereka seperti tercekik. Dan Dok, kabarnya dokter yang bertugas di sana, mengundurkan diri karena... ini boleh percaya atau tidak, banyak hal-hal mistis setelah ada kematian warga, Dok.”


Bibir Ilyaz mengembang.


“Untuk itu, saya mengajukan diri meneliti penyakit yang menjangkiti Desa Suka Asih. Pihak Dinas Kesehatan menyambut baik penelitian saya. Ini kesempatan untuk mengembangkan ilmu saya di sana. Kalau hal mistis, ya percaya tak percaya. Saya hanya berniat menjalankan tanggung jawab saja.”


“Dokter memang sangat berdedikasi. Kami akan merasa sangat kehilangan dengan kepergian dokter. Dokter adalah salah satu yang terbaik di sini.”

__ADS_1


“Saya juga akan merindukan rumah sakit ini untuk beberapa waktu. Doakan saja semoga penelitian saya bisa cepat selesai dan melaporkan hasilnya ke pusat untuk penanganan lebih lanjut.”


“Ya Dok. Pasti saya doakan.”


Isi amplop cokelat yang dikeluarkan, kembali dimasukkan dalam amplop.


**


Hari pemindahan tugas tiba.


Desa Suka Asih.


Suasana pegunungan dengan ditumbuhi banyak pohon-pohon dan hutan belantara yang masih perawan. Masyarakatnya bekerja di bidang perkebunan kelapa sawit dan pohon damar. Warga di sana jauh dari kemapanan. Listrik belum menyentuh daerah ini. Pasokan listrik berasal dari pembangkit sederhana hasil swadaya masyarakat. Jalan-jalan yang masih berbatu dan berlumpur ketika hujan. Akses menuju perkotaan juga cukup sulit. Pas sekali bila desa ini disebut sebagai desa terisolir. Tapi menurut data pemerintahan pusat, Desa Suka Asih memiliki potensi kekayaan yang harusnya bisa menjamin kesejahteraan. Hanya sayang, tingkat pendidikan warganya yang rendah, potensi itu tak bisa dimanfaatkan dengan baik. Warga hidup serba kekurangan.


“Selamat datang di desa kami, Pak Dokter,” sambut pak Ismat, pegawai desa Suka Asih. Umurnya sekitar lima puluh tahunan lebih. Tapi, pak Ismat masih memiliki stamina yang bagus. Terlihat dari wajah yang segar dan cerah saat menyambut Ilyaz. Kesantunan ditunjukan sebagai penyambutan. “Pak Lurah sudah menunggu Pak Dokter di dalam.”


Seseorang tersenyum ramah saat Ilyaz dan Ismat memasuki ruangan kepala desa. Laki-laki dengan kumis tipis dan kulit putih bersih, sosok berkharisma tenang, ramah tamah dan sangat terlihat memimpin. Meskipun, usianya hampir sama dengan Ilyaz. Sekitar tiga puluhan.


“Iya, Pak Is. Selamat datang di desa kami, Pak Dokter. Mudah-mudahan Pak Dokter betah di sini selama penelitian nanti,” keramahan Lurah Hamid tergambar dari penyambutannya.


“Insya Allah, Pak. Ini tanggung jawab yang sudah ditunjukkan pada saya.”


“Pak Dokter, nanti akan saya tempatkan di pondok desa. Tempatnya mungkin tidak besar dan tidak mewah. Tapi, saya harap Pak Dokter bisa betah selama penelitian.”


“Insya Allah, Pak.”


“Pak Dokter mau di tempatkan di sana, Pak? Tempat itukan....” keraguan dan heran menyertai Ismat.


“Memang mau di mana lagi, Pak? Hanya di sana saja tempat kosong dan cukup layak. Desa kita ini desa miskin, kalau Pak Dokter dititipkan di rumah warga, mereka juga sangat prihatin dengan keadaannya. Sedangkan, kalau di tempat saya, kamu tahu sendiri kan?” Lurah Hamid keburu memotong.

__ADS_1


“Baik, Pak. Akan saya antarkan Pak Dokter ke sana,” Ismat menyembunyikan keraguannya, Ilyaz menangkap keraguan itu tapi, ia tak mau terlalu memikirkan. Lurah Hamid mempersilakan Ilyaz mengikuti KaDus desa itu. Sedikit basa-basi terlontar sebagai tanda penyambutan. “Silakan, Pak Dokter! Barang-barang Pak Dokter biar Atang yang bawakan,” ucap laki-laki tua itu.


Atang dipanggilnya. Pemuda berusia sekitar dua puluh tahunan datang dan mengambil barang-barang Ilyaz. Lalu, memikulnya.


Pemandangan desa sangat asri. Sepanjang mata memandang, tanah sekitaran desa menghijau dengan hamparan sawah, irigasi dan juga perkebunan dan hutan. Rumah-rumah sepanjang desa tak begitu rapat. Dari rumah ke rumah terpisah cukup jauh.


“Jauh ya, Pak?” tanya Ilyaz.


“Sebentar lagi Pak Dokter, di sana. Dekat mushola,” tunjuk Ismat.


“Itu mushola, Pak?” Ilyaz terperanjat dengan bangunan yang ditunjuk.


Mushola desa, lebih tepat disebut bekas gudang. Keadaannya benar-benar tak menggambarkan bila bangunan yang ditunjuk adalah sarana ibadah. Tak terawat. Alang-alang malah meninggi di halaman luar dan ada pula yang sampai tumbuh di dalam. Debu dan sarang laba-laba mendominasi keadaan rumah ibadah itu. Tak cukup di situ. Kesan angker juga melekat kuat pada keadaan mushola. Hawa dingin dan menggigil saat lewat, terasa kuat. Apalagi ketika melihat keranda mayat yang tergeletak begitu saja dekat MCK dan tempat wudhunya. Benar-benar terbengkalai.


“Iya, Pak Dokter dan pondokan desa ada di sana,” tunjuk Ismat lagi.


Sebuah rumah semi permanen dari bilik bambu hitam berarsitek panggung di area utama rumah. Cukup asri dan bersih. Rumah itu khas dengan arsitektur rumah-rumah penduduk sekitarnya tapi, lebih terkesan megah. Jarak antara pondokan desa dengan mushola hanya sekitar kurang dari tiga meteran saja. Kontras sekali. Di sekitarnya, hanya berdiri lima rumah dengan arsitektur hampir mirip.


“Jadi selama saya di desa ini, saya tinggal di tempat ini ya, Pak?” Ilyaz memutar matanya ke segala arah saat mereka sudah berada di dalam pondokan.


“Iya, Pak Dokter. Kata Lurah Hamid, pondokan ini dikhususkan untuk tamu-tamu dari luar desa. Desa ini terhitung desa miskin. Jadi, warga malu kalau ada tamu penting seperti Pak Dokter, kalau menginap di rumah warga. Sedangkan rumah Pak Lurah.....” Ismat ragu dengan ucapannya. Ia tak berani melanjutkan.


“Di rumah Pak Lurah ada orang gila, Pak Dokter,” Atang ikut berkomentar tanpa diminta.


“Hush, tidak usah diceritakan! Pak Lurah sering bilang, agar kita warganya menghormati keadaan Pak Lurah.”


Atang terdiam dan menunduk. Sedangkan, Ilyaz belum paham apa pun dengan yang terjadi di desa ini.


“Saya senang kok tinggal di sini. Asri dan jauh dari kebisingan.”

__ADS_1


“Syukurlah bila Pak Dokter mau tinggal di sini. Nanti Atang dan Mak Ijah yang akan membantu Pak Dokter menyiapkan kebutuhan Pak Dokter,” Ismat kerap membubuhkan senyumnya setiap melemparkan pembicaraan. Kesantunan khas penghuni pedesaan masih melekat di warga desa Suka Asih. “Tang, nanti kamu bantu Pak Dokter benah-benah sebelum pulang!” perintah Ismat.


__ADS_2