
Hamid tak bisa berkutik dengan penjelasan dari Ilyaz. Matanya sedikit mengangkat, ragu dan juga masih berpikir ada benarnya dengan ucapan Ilyaz. Namun, ia tak ingin bertindak di luar perhitungan, mengubah kepercayaan dan adat di desa bukanlah perkara mudah. Butuh banyak hal yang mesti diperhatikan.
“Bagaimana, ya? Saya belum bisa memutuskan apa-apa, Pak Dokter. Kita butuh pendapat dan persetujuan dari masyarakat desa.”
“Bapak memiliki kekuasaan untuk bergerak. Kita bisa mengumpulkan warga untuk mengambil keputusan,” usul Ilyaz meyakinkan.
“Ah, baiklah. Kita akan membicarakan ini pada semua warga. Besok kita kumpulkan warga untuk berdiskusi. Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak Dokter?”
“Saya mohon izin untuk mengambil data. Warga akan saya periksa satu per satu untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka. Menurut laporan dinas pusat, warga desa ini terkena pandemi penyakit kulit yang menyebabkan kematian, Pak Lurah?”
“Hm, berdasarkan pengamatan orang dinas, katanya memang begitu. Saya juga tak begitu paham Pak Dokter. Dulu, sebelum saya menjabat sebagai lurah. Desa ini terkena wabah penyakit korengan dan mematikan. Mereka rata-rata mati dengan keadaan mata yang melotot dan lidah yang terjulur dan di leher mereka ada bekas hitam. Penyakit itu sangat ditakuti warga.”
Kisah yang sama seperti yang disampaikan Mak Ijah dan Atang saat makan pagi tadi. Informasinya benar-benar sama. Dokter itu sudah paham dengan berita yang didengarnya.
“Kondisinya sama seperti kematian yang menimpa almarhum Anto?”
“Benar, Pak Dokter. Saya percaya dan tidak, bila penyakit itu adalah kutukan. Untuk itulah, saya agak ragu dengan rencana Pak Dokter untuk memfungsikan kembali musala itu. Saya ingin melindungi warga dari kutukan itu,” ucap Hamid.
“Saya paham, Pak Lurah. Saya yakin bila musala itu bukan penyebabnya. Saya akan bertanggung jawab bila nanti terjadi sesuatu di sini.”
“Kalau demikian, keputusan tetap akan saya limpahkan pada warga. Biar warga yang memutuskannya.”
Senyum di bibir Hamid menjadi penanda keramahan yang disuguhkan pada tamu paginya. Ilyaz mengangkat tubuh dari kursi yang diduduki. Dengan tegap dan mengulurkan tangan, ia menjabat tangan Hamid.
“Baik, Pak Lurah. Saya permisi dulu,” ujarnya.
Hamid membalasnya dengan senyum ramah dan mempersilakan Ilyaz undur diri.
**
__ADS_1
Melelahkan juga berjalan kaki dari rumah Hamid menuju pondokan. Ilyaz tak terlalu menghiraukan kelelahan yang menyergap, ia terus berjalan menuju pondokan untuk mengambil beberapa barang. Tugas penelitiannya sudah harus dimulai.
Musala. Hawa keberadaannya masih menyisakan keangkeran walaupun sinar matahari menuju siang sudah terik. Hawa sepi senyap dan dingin kental terasa berembus dari dalam. Dokter itu terpaku sejenak di depan musala.
“Sayang sekali. Musala ini adalah tempat untuk mengagungkan-Mu, Ya Allah,” gumamnya.
Beberapa menit, Ilyaz membayangkan bila musala kembali ramai dikunjungi warga desa untuk salat berjamaah. Bersih, rapi dan warga tak takut untuk berjamaah. Angan-angannya tak terlalu muluk. Hanya ingin menjadikan musala tersebut sebagai pendekat warga dengan kepercayaan akan Tuhan bukan hal mistis yang berbau klenik. Lamunan itu terpecah, matanya menangkap sosok bayangan berlari menuju arah MCK. Bayangan itu cepat berkelebat saat ia memperhatikan.
“Siapa itu?”
Dengan melawan rasa takut yang berkecamuk, Ilyaz memberanikan diri memastikan bayangan apa yang dilihat. Jantung deg-degan dengan menghilangnya sosok yang sekelebat terlihat. Nyali agak menciut dengan pikiran dan rasa takut yang menyerang. Namun, kepenasaran mengalahkan semua rasa yang menyergap. Tidak mungkin bayangan tadi adalah hantu seperti yang semalam aku lihat, pikirnya.
Dengan sikap penuh waspada, Ilyaz mengitari musala menuju belakang. Di sana, ada MCK yang kondisinya tak kalah menyeramkan. Dipenuhi sarang laba-laba dan juga debu. Keadaan yang lembap dan gelap menambah kesan menakutkan dalam benak siapa pun yang pergi ke MCK ini. Lalu, di sampingnya tergeletak keranda mayat dari besi yang juga tak terurus. Suara kayu terjatuh terdengar. Tak akan pernah terpengaruh untuk mundur, Ilyaz mencoba memeriksa keadaan sekitaran lebih dalam lagi. Nyalinya bukan tak merasakan takut, tetapi kepalang tanggung untuk mengundurkan diri.
“Pocong… pocong,” kata seseorang dari dalam.
Penglihatan Ilyaz menangkap seseorang dengan pakaian serba lusuh tak terawat sedang berjalan mundur manakala ia memergokinya. Seorang wanita dengan rambut panjang tak terawat. Acak-acakan dan lusuh. Ada bekas melingkar di kakinya. Sepertinya, ia dirantai pada kedua kaki itu. Terlihat cara berjalannya seperti seorang anak yang baru belajar, terseret-seret. Otot-otot kakinya kaku akibat lama tak bergerak.
“Pocong pocong, hiksss….” Wanita itu malah berteriak histeris dan menangis. Lalu ia tersungkur sambil terisak-isak.
Hati Ilyaz mengiba. Dengan sangat hati-hati dan tenang, dokter itu mendekati wanita tersebut.“Tenang... tenang. Apa yang kamu lihat?”
Mata wanita itu melirik ke sana kemari.
“Sstttt, hati-hati! Di rumah itu ada pocong. Ayah.” katanya menangis histeris.
Ilyaz melakukan hal yang sama. Matanya berputar ke segala arah. Tak ada apa pun. Hanya kondisi musala saja yang banyak mengalami kelapukan dan sarang laba-laba. Pocong, Mana? Ia kembali menenangkan wanita itu.
“Mbak, apa yang kamu lihat?” tanyanya lagi.
__ADS_1
“Hamid, ia... ia pocong, hati-hati,” kali ini wanita itu tidak histeris, tapi malah berbisik.
Wanita depresi. Ilyaz tetap sabar untuk tidak menyerah menenangkan wanita itu.
“Apa maksudnya?” gumamnya, lalu kembali memandang wanita itu, “Mbak, lebih baik kita keluar dari sini. Mbak lapar? Akan saya bawakan makanan.”
Wanita itu malah asyik dengan dunianya, ucapan Ilyaz tak didengarkannya sama sekali. Ia terus menunjuk-nunjuk ke arah manapun matanya memandang.
Ilyaz meninggalkan wanita itu untuk mengambil makanan yang ada di pondokan. Kebetulan, makanan tadi pagi masih tersisa.
“Loh, Mak Ijah sudah pulang?” tanya Ilyaz saat melihat Ijah berada di dalam rumah, sibuk membereskan isi rumah.
“Emak izin libur dulu, Pak Dokter. Pak Lurah Hamid bilang, Mak libur dulu untuk membenahi pondokan ini. Pak Dokter pasti belum sempat membereskan. Ya, ‘kan?”
“Iya Mak, belum saya benahi.” Ia mengambil piring yang ada, mengisinya dengan nasi beserta lauk pauk yang tersisa.
Ijah yang memperhatikan, keheranan dengan selara makan Ilyaz. Badannya padahal tak gemuk juga tak kurus kekurangan gizi. Cukup berisi dan proporsional untuk tinggi seperti itu. Namun, selera makannya besar sekali. Makan siang masih belum waktunya dan ia juga belum menyiapkan apa pun untuk makan siang.
“Pak Dokter lapar lagi?” tanya Ijah sedikit agak canggung.
“Ini bukan untuk saya, Mak. Untuk wanita yang ada di musala. Sepertinya ia mengalami gangguan mental yang berat,” tukas Ilyaz.
Kening Ijah mengerut. Kerutannya bukan hanya karena usia yang sudah menua, tapi juga karena keheranan yang menggelayuti otaknya.
“Di musala ada wanita? Pak Dokter tidak salah?” tanyanya pada Ilyaz.
“Tidak Mak. Kalau Emak tak percaya, mari ikut saya! Sekalian, Mak temani saya. Saya khawatir ada fitnah nantinya,” ucap Ilyaz.
“Ya, Pak Dokter. Emak akan temani.” Perkerjaan Ijah membenahi pondokan desa dihentikan. Mak Ijah dan Ilyaz memasuki musala yang terasa lembap dan berdebu. Mata Ijah memperhatikan sekeliling. Mata itu tak lepas dari pengawasan. “Di mana, Pak Dokter?” tanyanya tak sabaran.
__ADS_1
“Tadi ada di sekitaran sini, Mak,” Ilyaz keheranan dengan keberadaan wanita yang tadi histeris di dalam musala. Ia mencari- cari di sekitaran.