
Mereka kembali hening, tak lupa lantunan salawat menggema ketika menantikan waktu magrib. Warga yang ada, ikut bersalawat memuji junjungan Nabi semesta alam.
Petang berganti magrib, lantunan salawat yang terdengar mulai berhenti ketika kyai Tapa mempersilakan salah satu muridnya untuk mengumandangkan azan.
“Lebih baik kita bersiap. Waktu magrib akan tiba, pasti banyak warga yang akan salat berjamaah dan menginap di musala,” ucap kyai Tapa mengakhiri obrolan santai mereka.
Wajah langit kembali menghitam setelah lembayung-lembayung sore menghilang di atas langit desa. Lolongan anjing liar mulai samar terdengar di sekitaran desa, warga mulai berdatang menuju musala untuk melaksanakan salat berjamaah.
Satu per satu jamaah berdatangan.
Ilyaz memperhatikan ada yang lain pada tubuh mereka, mata itu tak henti-hentinya mengamati sekujur tubuh warga yang datang.
“Maaf Pak, sejak kapan ada bercak-bercak merah ini?” Ilyaz memeriksa bercak-bercak merah seperti bisul dengan saksama.
“Tidak tahu, Pak Dokter. Sejak tiga hari lalu sudah banyak, awalnya hanya ada di tangan, lama-lama menjalar ke seluruh tubuh. Gatal sekali,” ucapnya menunjukkan bagian-bagian tubuh yang terkena bercak.
“Tiga hari yang lalu, Bapak memiliki riwayat alergi sesuatu?”
“Ah, saya tidak tahu,” ucapnya terus menggaruk-garuk.
Ilyaz sepertinya mengerti akan sesuatu.
“Pak Dokter, saya dan keluarga juga kena. Apa mungkin penyakit ini, penyakit kutukan seperti yang terjadi dua tahun lalu sebelum ust. Aslam meninggal?” ucap salah satu warga.
“Penyakit kutukan?”
“Iya, Pak Dokter. Dua tahun lalu, kami juga mengalami penyakit yang sama, muncul bercak merah lalu, setelah tiga hari, kulit kami bernanah, menjijikan seperti mayat busuk,” ucapnya.
Ilyaz mengerutkan dahi.
“Tidak mungkin penyakit kutukan, mungkin penyakit musiman. Kalau dilihat dari tanda-tandanya, kemungkinan eksim basah. Saya akan meneliti apa penyebabnya, sebagai pertolongan pertama, akan saya bagikan obat anti alergi dan anti biotik.”
“Mudah-mudahan saja, Pak Dokter. Soalnya, dahulu pun penyakit ini muncul saat ust. Aslam membangun musala ini dan banyak warga yang salat. Saya takut karena sekarang sering salat di sini, Ki Ageng Mayitan sebagai penguasa desa ini, menyebarkan kutukannya pada kami.”
__ADS_1
“Astagfirullah, tidak ada yang patut kalian sembah kecuali, Allah. Setiap penyakit pasti akan ada obatnya,” ujar Ilyaz menanggapi.
Warga mengangguk-angguk, tak ada bantahan yang keluar, setuju dengan ucapan Ilyaz.
Dari dalam musala sudah terdengar kumandang azan dari salah satu jamaah. Namun aneh, angin di sekitaran berembus sangat kencang. Para jamaah dibuat kaget dengan beberapa benda yang terbawa angin menghantam dinding musala. Jamaah di dalam panik bukan kepalang, tak hanya mendengar bunyi angin kencang, tapi juga ada suara-suara yang mula-mula terdengar samar, setelah beberapa saat terdengar jelas, mengerikan, tak tahu berasal dari mana.
“Kalian sudah mengganggu wilayah kekuasaanku,” ucap suara itu menggelagar.
Jamaah berteriak histeris dan berkumpul pada satu titik, bersembunyi di belakang punggung kyai Tapa dan murid-muridnya.
Mereka melangkah keluar untuk memastikan.
Teriakan warga semakin histeris.
Keranda mayat melayang-layang di luar, sesekali, berputar-putar di sekitaran diikuti angin kencang. Warga terlihat amat panik dengan keranda yang terbang, tidak dengan Ilyaz dan tamu-tamunya yang terus menerus melantunkan doa-doa dan takbir, tak henti-hentinya melafalkan doa. Kereta mayat itu kemudian berputar dan semakin kencang melayang, lalu terlempar ke tanah. Jeritan histeris makin menggelegar.
“Kalian berani menantangku?” suara menggelegar tanpa tuan, terdengar lagi dan lebih kencang dari sebelumnya. Entah dari mana asalnya.
Bayangan hitam tinggi besar tak menampakkan wujudnya, hanya berupa cahaya hitam dengan mata merah menyala.
“Astagfirullahadzim, Allahu akbar! Apa itu Pak Kyai?” sentak Ilyaz kaget bukan kepalang.
“Nanda Ilyaz tidak usah takut. Itu wujud pengawal Ki Ageng Mayitan dan sinar hitam itu, itulah Ki Ageng Mayitan. Mereka hanya ingin menakut-nakuti saja agar tidak ada warga yang melaksanakan salat di musala.”
Keempat pocong mengerikan, melompat-lompat dan hendak menyerang Ilyaz. Angin kencang benar-benar terasa dingin dan mengembuskan aura negatif, dokter itu agak gemetaran mendapatkan serangan.
“Nanda Ilyaz, tetaplah berdoa semampunya, baca ayat qursy dan surat alfalaq, annas sebagai penjagaan,” tutur kyai Tapa.
Embusan angin menerbangkan daun-daun kering di luar musala, hawanya menusuk dan membuat tubuh menggigil ditambah rasa ngeri yang semakin membuat gelisah. Ilyaz melafalkan doa-doa sebisanya untuk melawan hawa negatif yang menyerang.
Kyai Tapa menengadahkan tangan. Entah apa yang dilakukan, dari telapak tangan muncul sinar putih memancar cukup terang dan langsung menerjang sosok yang muncul tiba-tiba.
“Huaa,” satu per satu sosok itu merintih kemudian menghilang dari hadapan jamaah.
__ADS_1
“Hihihi, kalian memang menantang kesaktian denganku? Baiklah, aku tidak akan mengampuni siapa pun yang ada di sini,” ancamnya.
Giliran sosok itu yang mengeluarkan semacam aura hitam berkilat-kilat membentuk bulatan hitam, melesat hendak menyerang Kyai Tapa. Namun, dengan mudahnya sinar itu malah berbalik arah, kembali pada pemiliknya dan boommm...! Letusan kecil membakar cabang pohon yang ada di depan musala.
“Aa...!” jerit bayangan hitam itu, lenyap.
“Alhamdulillah, ia sudah pergi,” ucap Kyai Tapa, “tolong, kalian bawa orang-orang yang tak sadarkan diri. Kita harus segera merukyah mereka agar energi negatifnya hilang.”
Ilyaz dan beberapa warga menuruti perintah Kyai Tapa. Orang-orang yang tak sadarkan diri, dibawa masuk untuk mendapatkan pengobatan secara rukyiah.
“Semua sudah selesai dilaksanakan?” tanya seseorang yang berada di ruangan temaram bersinarkan cahaya lilin.
“Sudah, sesuai rencana. Dengan ini, dokter Ilyaz tidak akan bisa berkutik, dengan mudah warga akan terpengaruh, seperti yang kita lakukan pada Aslam,” jawab satunya lagi.
“Kalau mengingat kejadian itu, jadi ingin tertawa. Aslam, ustad bodoh yang sangat mudah dijebak. Ia tumbal yang sangat menguntungkan.”
“Kita berhasil mempengaruhi warga dari cara yang sekarang ini ‘kan?”
“Benar sekali. Warga kena penyakit kutukan menjijikan sebagai bentuk provokasi dan menanamkan keyakinan bila ajaran yang dibawa Aslam itu sesat dan musala itu biangnya.”
“Cara yang sama kita lakukan juga pada Ilyaz dan orang-orang itu. Aku sudah menggali banyak kuburan untuk diambil air mayatnya, lalu menyebarkannya ke sumur-sumur warga.”
“Tak sampai ada yang tahu ‘kan?”
“Tidak, aku bermain rapi.”
“Hmm, akhir-akhir ini, desa diramaikan dengan desas-desus pembongkaran makam. Warga jadi benar-benar mencurigai kita sebagai pelaku pesugihan dan bersekutu dengan Ki Ageng Mayitan. Desas-desus itu sudah sampai ke kelurahan.”
“Semua bisa kita tutupi nanti dengan melemparkannya pada dokter itu. Kita sebarkan isu bila itu semua karena kutukan yang dilanggar, kualat.”
“Hahaha, strategi kita memang sempurna. Ki Ageng Mayitan akan semakin senang dan aku akan semakin kaya dan bertambah jaya.” Mereka tertawa puas.
Seseorang mengamati dan mencuri dengar obrolan mereka tanpa disadari, kemudian mundur meninggalkan ruangan itu. Namun, tak sengaja tubuhnya menyenggol pajangan piring yang terbuat dari perak, ia buru-buru lari dari sana.
__ADS_1