Tumbal Pesugihan Pocong

Tumbal Pesugihan Pocong
dua belas


__ADS_3

“Ah, kamu terlalu berimajinasi dengan mitos di desa ini, Tang. Kamu bisa membuktikannya?” pemuda desa nan polos itu terdiam dan menggelengkan kepala, “lebih baik, jangan membahas dulu mitos kutukan di musala itu. Besok, kamu bantu saya meyakinkan warga untuk membangun kembali musala itu.”


“Bagaimana ya, Pak Dokter?”


“Apa kamu lebih takut dengan mitos daripada Tuhan?”


Atang kalah argumen, keyakinan akan Tuhan masih melekat di hati yang membuatnya membenarkan pertanyaan dokter itu. Tidak ada kekuatan yang lebih tinggi selain Tuhan.


“Tak tahulah, Pak Dokter. Bagaimana besok saja,” mulut Atang melebar. Jarinya mengucek-ngucek mata yang mulai berair, terdengar suara menguap dari mulut yang terus melebar. Ia sudah tak tahan dengan rasa kantuk yang menyerang. “Saya tidur di kamar Pak Dokter, ya? Saya takut kalau harus tidur sendirian.”


“Ranjangnya hanya muat satu orang, Tang.”


“Tak apa, Pak Dokter. Saya tidur di bawah saja, sudah biasa kok tidur di ubin.”


“Ya... kalau begitu, baiklah.”


***


Desir angin di luar pondokan mengiring suara-suara penghuni malam. Lolongan anjing beradu dengan ocehan burung hantu yang samar terdengar.


Dokter itu sibuk mencoret-coret kertas. Ia tak mempedulikan suara-suara binatang malam yang saling menyahut dan beradu. Ilyaz terlalu sibuk menulis lembaran-lembaran kertas di atas meja kerja.


Atang memperhatikan seputar ruangan, terlalu sepi. Sementara, sang dokter sedang memusatkan perhatiannya pada kertas yang tergeletak di atas meja, suara-suara yang terdengar sudah membuat pemuda kampung itu tak berani melangkah sedikit saja dari kamar. Ia sangat paham dengan pertanda-pertanda yang terdengar.


“Pak Dokter tidak merasa takut tinggal di sini? Pondokan ini dekat sekali dengan musala.”

__ADS_1


“Apa yang harus saya takutkan, Tang?”


“Hmm, Pak Dokter tahu? Setiap orang yang mati karena kutukan itu, arwah mereka akan datang menemui warga desa. Saya yakin, arwah Anto malam ini pasti gentayangan,” matanya tak fokus, terus melirik ke segala arah. Terutama arah jendela yang menghadap langsung ke musala.


Ilyaz berhenti sebentar dari kegiatan menulis. Kertas yang tadinya putih, sudah penuh dengan tulisan-tulisan. Ia membaca sejenak isinya, lantas melipat dan memasukannya ke dalam amplop yang sudah disiapkan.


“Apa itu karena kutukan juga, Tang?” sahutnya.


“Iya, Pak Dokter. Dulu juga sama, saat ust. Aslam meninggal, arwahnya gentayangan meneror warga. Sampai saat ini, tidak ada warga yang berani keluar malam-malam. Mereka lebih senang diam di rumah masing-masing.”


“Saya heran dengan warga desa ini, Tang. Mereka lebih ketakutan dengan arwah penasaran dan mitos kutukan. Padahal, semua bisa dicari jalan keluarnya.”


“Pak Dokter tidak mengerti. Warga desa ketakutan karena mereka merasa sangat bersalah dengan kematian ust. Aslam yang mengenaskan. Kutukan itu akhirnya membuat warga merasa sangat berdosa atas tindakan mereka yang gegabah. Ya, nasi sudah jadi bubur.”


“Kalau menyesal, harusnya warga mendoakan almarhum, tapi yang terjadi malah kebalikannya.”


“Yang benar, Tang?”


“Iya, Pak. Menurut warga, setiap kematian ada pertandanya,” Atang terlihat serius dengan perkataannya. Dokter itu tertarik, matanya memperhatikan dengan saksama. “Pak Dokter tahu keranda di musala ‘kan?” ia manggut-manggut, “nah, keranda itu akan bergerak dan melayang sendiri lalu muncul empat pocong membawanya, kemudian menghilang dari musala. Menurut warga, keranda akan berada di rumah orang yang menjadi korban kutukan.”


Suasana mendadak agak ngeri. Cerita Atang berhasil mengubah suasana menjadi meremang. Bulu-bulu halus Ilyaz berdiri. Itu bukan bualan, persis sama dengan yang ia alami. Sebelum kematian Anto, keranda mayat di musala bergerak, melayang, lalu menghilang dan benar, empat mayat dari alam kubur saling berbincang dan mengangkat keranda itu kemudian hilang entah ke mana.


“Sudah berapa banyak warga yang meninggal setelah kematian ust. Aslam?”


“Selama hampir setahun, hmm…,” Atang mulai menghitung dengan jarinya dan bergumam, “Pak Aryo korban pertama, Bapak, Karman…terakhir Anto,” ia menyingkat korban-korban kutukan. Arah pandangan anak itu mengarah kembali pada sang dokter, “kalau dihitung, kira-kira berjumah sepuluh orang selama hampir dua tahun.”

__ADS_1


Sepuluh orang, sama persis dengan laporan dari dinas. Korban mengalami kondisi yang sama pada kematiannya. “Sepuluh? Banyak juga korban yang terkena wabah penyakit aneh itu.”


“Bukan wabah penyakit, Pak Dokter,” protes Atang, “semuanya korban kutukan arwah ust. Aslam dan musala itu sumbernya. Dan akhirnya, warga banyak yang mengungsi, pindah dari desa karena takut dengan kutukan itu.”


“O, pantas desa ini sepi.”


“Rumah-rumah di desa dibiarkan kosong. Pak lurah sempat membujuk warga untuk tidak pindah, tapi warga ketakutan dengan teror pocong dan kematian.”


“Saya prihatin dengan keadaan ini. Saya sudah menulis surat untuk Kyai Tapa, Beliau insya Allah bisa membantu mengamankan teror pocong ini. Saya juga akan meminta Beliau untuk menempatan beberapa muridnya sebagai pengajar di sini, agar warga bisa kembali menjalankan aktivitas ibadah seperti saat ust. Aslam masih hidup.”


“Yang benar, Dok?” senang dan antusias. Ilyaz memamerkan senyum pengharapan untuk Atang. “Alhamdulillah, Atang dan Mak bisa belajar ngaji lagi. Atang harap, teror kutukan di desa berakhir, lenyap.”


**


Rasa kantuk menerjang Atang. Berkali-kali, mulut itu melebar, mengeluarkan kelelahan.


“Kamu sudah ngatuk ya, Tang?”


“Hoamm, iya Pak Dokter. Seharian kerja di perkebunan, menguras banyak tenaga. Panen perkebunan sangat subur, pasti bakal punya untung banyak. Tambah kaya saja Pak Lurah,” dengan terantuk-antuk, Atang memaksakan obrolan.


“Sudah, tidur saja dulu, Tang.”


Kertas yang sudah rapi tersimpan dalam amplop, disusun dan dimasukan dalam map bening berbahan plastik mika. Ilyaz bangkit dari duduk dan sedikit melakukan gerakan menggeliat. Otot-otot terasa kaku dan tegang setelah tadi cukup lama mengobrol dan menulis. Rasa kantuk juga dirasakannya. Dinaikan tubuh itu ke atas kasur lalu tangan menarik selimut yang ada. Dilihatnya, Atang sudah pulas, tertidur di bawah dengan dengkuran yang terdengar cukup kencang. Ia masih menyempatkan berdoa terlebih dahulu sebelum menutup mata.


Angin kencang berisik mengetuk-ngetuk beberapa sudut pondokan. Ketukan keras membangunkan Atang. Mata yang masih ngantuk dengan kelopak agak sayu, suara ketukan angin benar-benar mengusik. Ia melirik ke arah jam dinding yang menggantung di kamar. “Hoamm, baru pukul 03.15, masih terlalu pagi,” ujarnya saat belum tersadar sepenuhnya, kemudian menyempatkan diri memeriksa sekitar ruangan. Dokter Ilyaz terlelap di atas kasur dan terbungkus selimut.

__ADS_1


Angin berembus kencang membuat Atang merasakan suasana hati gelisah. Rasa takut tiba-tiba datang dan menyelinap di sela-sela pikirannya. Malam senyap harus berbalut lolongan anjing liar di luar serta kukuk burung hantu yang terasa mengiris.


Bruuggg bruuggg, telinga Atang menangkap suara lainnya. Suara ini lebih mirip dengan suara benda berat yang bergerak-gerak, arahnya dekat dengan ruangan tidur. Telapak tangan berkeringat dingin.“Ya Tuhan, mudah-mudahan tidak ada apa-apa,” gumamnya kembali memaksa mata itu terpejam.


__ADS_2