
Keajaiban kembali terjadi.
Di tangan Ilyaz ada sebuah busur bersinar emas tanpa anak panah, dengan mengucap bismillah, ditariknya tali busur itu ke arah pasukan yang mengejar. “Bismillahirahmanirrahim, lauhaula walakuwatta illa billah alliyyil adzim.” Tarikan busur sang dokter melesat. Anak panah api yang menyala-nyala berjumlah ribuan, menerjang apa pun yang ada. Pasukan Ki Ageng Mayitan tak bisa berkutik, setiap yang kena langsung terbakar seketika.
Atang melotot saja melihat panah-panah api menerjang banyaknya pasukan dan juga membakar mereka. Tak hanya pasukan Ki Ageng Mayitan yang terbakar, tapi juga area yang ada. Hancur berantakan.
Ilyaz mendekatkan telinga ke balik dinding lalu melafalkan doa-doa.
“Pak Kyai!” panggilnya setelah membaca beberapa doa yang diajarkan Kyai Tapa, “tolong tunjukkan di mana letak pintu gerbangnya.” Sebuah sinar putih menebus bagian dinding di dekat mereka. Tentu, dokter itu sangat senang, Kyai Tapa berhasil menunjukkan pintu gerbang penghubung istana Ki Ageng Mayitan dengan dunia manusia. “Tang, cepat keluar sebelum mereka meminta bantuan,” ucapnya.
Air dalam botol dilemparkan ke dinding yang bersinar putih, terbuka sebuah gerbang seukuran tubuh orang dewasa. Atang dan Ilyaz hendak keluar melalui gerbang yang terbuka.
“Awas Pak Dokter!” teriak Atang menghempaskan tubuh Ilyaz.
Bola sinar hitam berkilat-kilat hampir saja menghantamnya, meledak dan cukup untuk membakar Ilyaz.
“Hampir saja,” ujarnya lega. Dari belakang, pasukan pengejar datang dengan jumlah lebih besar. Ilyaz dan Atang benar-benar terpojok, ditambah, Ki Ageng Mayitan berada di barisan depan pasukan. Ia dikagetkan juga dengan kehadiran orang yang dikenalnya. “Pak Ismat?”
“Kalian mau lari ke mana? Tidak akan kami biarkan,” ucap Ismat.
“Jadi, selama ini Pak Ismat pelaku di balik semua kutukan desa yang telah bersekutu dengan siluman jahat?” teriak dr. Ilyaz.
“Haha, aku Adipati di sini, juru kunci pesugihan Ki Ageng Mayitan. Sudah lama, aku menjadi pelantaranya.”
“Saya paham sekarang, Pak Ismat sengaja menyebar fitnah karena ust. Aslam berhasil mengajak warga untuk tidak melakukan pesugihan.”
“Haha, Si Aslam itu penghalang terbesarku, pantas mendapatkan itu semua, dan aku... aku mendapatkan keuntungan dari kematiannya.”
“Bedebah! Pak Ismat tega mengorbankan banyak nyawa warga desa,” teriak Atang.
“Aku tidak mengorbankan warga desa, hanya jalan bagi mereka yang menginginkan bersekutu dengan Ki Ageng Mayitan. Lurah Hamid yang telah menumbalkan warga desa untuk dikorbankan.”
“Sudahlah Adipati Pasomayit, jangan banyak bicara. Mereka sudah berani menghancurkan sebagian istanaku dan membuat kekacauan. Aku ingin mereka dilenyapkan selamanya,” ujar Ki Ageng Mayitan sangat murka dengan keadaan istana yang kacau.
__ADS_1
Mata merah menyala Ki Ageng Mayitan bersinar dan mengeluarkan cahaya hitam yang berubah menjadi bola besar hitam berkilat-kilat. Pak Ismat tak ketinggalan mengeluarkan pusaka berupa keris kecil dan mengacungkannya ke arah bola besar itu, ukurannya semakin mengganas setelah mendapatkan energi tambahan dari pusaka itu. Angin di sekitaran terasa sangat dingin dan mencekam, tiupannya kencang.
Keringat dingin membasahi Ilyaz dan Atang.
“Bagaimana ini, Pak Dokter?” bisik Atang gemetaran. Tubuhnya seketika menggigil kaku.
Ilyaz kembali membacakan doa-doa.
“Pak Kyai, tolong. Apa yang harus kami lakukan?”
Bola hitam besar diarahkan kepada mereka, tak ada kesempatan melarikan diri. Bola itu meluncur cepat, hendak menghantam keduanya. Boommmm, ledakan besar menghantam tubuh keduanya. Raut Ismat sangat puas dengan ledakan itu, begitu pula tawa Ki Ageng Mayitan yang sangat menakutkan. Api hitam membumbung, membakar sekitarannya. Namun, mereka terpana, dikejutkan dengan sesuatu di luar perkiraan.
Sosok manusia dengan mengenakan jubah bersinar putih menghalangi keduanya.
Keheranan dengan sosok yang menolongnya, Ilyaz menatap dan memperhatikan.
“Aku, Eyang Kucarban,” ucap sosok itu tahu dengan kebingungan Ilyaz. Ia mirip sekali dengan kyai Tapa, tapi lebih muda puluhan tahun. “Kalian telah berani mengganggu cucuku,” sentaknya garang.
“Aku Kucarban yang akan menjadi lawan tanding kalian!” tantangnya.
“Kucarban?” Ki Ageng Mayitan terdengar gugup dengan nama itu, rasa ketakutan juga yang menderanya.
Eyang Kucarban melancarkan serangan.
Sinar putih menjalar dari ujung tangan sampai telapaknya, berkilat-kilat dan membentuk sebuah cambuk petir yang sangat mengerikan lalu dilecutkan seketika itu juga.
“Bismillahi tawakaltuallahu, lahaula walaquwata illabillahu. Lenyap semua kebatilan di muka bumi dengan rahmat Allah. Lenyapkan semua angkara dengan kalimatullah. Sirnalah semua kesesatan dengan kalamullah. Allahuakbar,” teriaknya dan cambuk di tangan, berkilat-kilat putih dan menyambar apa pun yang ada, ditariknya dan dicambukkannya dengan sekali tarikan tangan.
Kekuatan cambuk yang luar biasa, istana Ki Ageng Mayitan dibuat kacau balau dan luluh lantak. Semua penghuninya dibuat ketar-ketir dan menjerit-jerit ketakutan, begitu pula dengan Ki Ageng Mayitan yang ketakutan dan tak bisa melarikan diri. Pasukan yang datang, semuanya kocar-kacir dengan kilat yang terus menyambar-nyambar, mereka tak luput dari hantaman kilat.
Ismat segera menyelamatkan diri setelah melihat kekuatan besar dari cambuk petir menjilati semua wilayah istana. Bangunan-bangunan di sekitarnya ambruk terkena kilatan cahaya. Nahas, Ismat tak dapat menyelamatkan diri saat hendak lari dari petir yang menerjang, tubuh itu terpental jauh. Jerit kesakitan spontan keluar dari mulut Ismat dan seketika tak bernapas lagi.
“Ampun! Aku menyerah,” jerit Ki Ageng Mayitan mengiba. “Aku akan menuruti apa pun kemauanmu, ampun. Jangan hancurkan kerajaan dan rakyatku.”
__ADS_1
Kilat-kilat yang saling menyambar lenyap, setelah Eyang Kucarban menghentikan serangan, hanya dengan sekali serang, hampir seluruh istana siluman itu hancur luluh.
“Alhamdulillah,” pekik Ilyaz lega.
Mata Atang tak bisa berkedip. Sangat takjub dengan segala peristiwa yang dialami.
Eyang Kucarban mendekat ke arah Ki Ageng Mayitan, “Kamu akan aku ampuni. Tapi, dengan syarat. Pindahkan kerajaan silumanmu dari desa ini. Carilah tempat lain yang tidak bisa dihuni dan didatangi manusia. Mengerti?” ucapnya penuh ketegasan.
“Baik Eyang. Saya akan memindahkan kerajaan ini sesuai keinginan Eyang.”
Sosok Eyang Kucarban berubah kembali menjadi cahaya putih dan menghilang lalu dinding penghubung dunia manusia dan istana Ki Ageng Mayitan terbuka. Pohon beringin besar di belakang musala terlihat jelas. Atang dan Ilyaz keluar dari celah batang beringin yang cukup lebar.
“Kita kembali Pak Dokter!” jerit Atang senang.
“Alhamdulillah, kita berhasil melarikan diri dari mereka. Ayo, Tang! Kyai Tapa pasti sudah menunggu di musala.”
Atang menurut saja dengan perkataan Ilyaz. Tanpa membuang banyak waktu, mereka menuju musala tempat Kyai Tapa dan tamu-tamu Ilyaz serta Ijah menunggu.
Jasad Atang, jasad itu tergolek di dekat pohon beringin. Sukma Atang melayang kemudian masuk dalam raga itu. Sedangkan Ilyaz, raga itu berada di musala bersama Kyai Tapa berselimutkan kain panjang. Kyai Tapa bersama yang lain berserta Ijah tak henti-hentinya berzikir dan membaca lantunan ayat-ayat alquran.
“Assalamualaikum,” ucap Ilyaz memecah konsentrasi mereka saat tubuh yang semula kaku itu, terperanjat. “Pak Kyai?” Ilyaz agak linglung setelah ia berhasil kembali.
Kyai Tapa menepuk bahu Ilyaz untuk menenangkannya, “alhamdulillah, Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Nanda Ilyaz bisa selamat atas izin Allah.”
“Lalu siapa tadi yang menolong kami di istana Ki Ageng mayitan?”
“Itu bentuk pertolongan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang yakin akan kekuasaan-Nya.”
Dari arah belakang musala, Atang berlari cepat. Ia segera menuju musala dan berkumpul dengan yang lainnya.
“Mak!” teriak Atang bahagia melihat Ijah.
“Atang?!” Ijah ikut histeris melihat anaknya kembali dan kali ini bukan berwujud pocong. “Alhamdulillah,” Ijah langsung memeluk Atang.
__ADS_1