Tumbal Pesugihan Pocong

Tumbal Pesugihan Pocong
sembilan belas


__ADS_3

Empat sosok pocong mengelilingi Atang. Mereka sempat melirik ke arah Ilyaz kemudian berubah menjadi kabut tipis dan lenyap. Beberapa saat mematung, terkesiap dengan pemandangan menyeramkan, sosok-sosok itu mengerumuni Atang. Namun, setelah lenyap, ia kembali menemukan kesadarannya.


“Atang!” pekiknya histeris dan langsung berlari menuju tempat tidur anak itu. “Astafirullahadzim, Tang!” jeritnya kaget bukan kepalang.


Kondisi Atang mengenaskan, mata melotot dengan lidah menjulur keluar. Di leher ada bekas hitam seperti tercekik, persis sama dengan kondisi Anto.


Jeritan Ilyaz membangunkan Ijah yang terpancing untuk memastikan apa yang terjadi di kamar anak tunggalnya. Dengan ekspresi penuh kecemasan, wanita tua itu berlari. Di bibir pintu, langkahnya berhenti, terlukis ketidakpercayaan dengan apa yang terjadi. Atang sudah benar-benar kaku dengan kondisi memperihatinkan.


“Atang!” teriaknya lalu tubuh tua itu roboh seketika itu juga, tak tahan melihat keadaan anak kesayangnya yang sudah menjadi mayat.


Isak tangis Ijah memecah rumah yang memancarkan energi duka cita, tangisan menyebut nama anaknya terus membahana. Ia masih tak rela kehilangan Atang secara mendadak, baru malam tadi, anak itu masih berbincang dengannya, dan dini hari, sudah ditemukan tak bernyawa.


“Sabar Mak, ini ujian dari Allah,” ujar Ilyaz.


“Sudah saya peringatkan, musala itu jangan diganggu! Ini... ini akibatnya kalau ada orang sok tahu. Kalau sudah begini, mau bagaimana?” sindir Ismat saat melayat.


Para pelayat melemparkan pandangan takut dan sinis, sangat dingin. Ilyaz merasakan pandangan-pandangan tak mengenakkan dari warga, seakan sedang melemparkan panah tuduhan, dirinyalah penyebab semua ini. Kematian Atang, ulahnya yang telah berani mengusik musala terkutuk desa ini.


“Saya juga tak bisa apa-apa, hanya turut berduka atas kematian Atang,” ujar Hamid. Raut wajah sayu, menunjukkan rasa berkabung yang sangat. “Mak Ijah, sabar. Atang anak baik.” Amplop putih diselipkannya pada baskom yang ditutup kain dekat mayat Atang.


Diam, Ilyaz tak menggubris semua tatapan dingin yang menyerangnya.


“Mak, sabar. Allah menakdirkan hidup dan mati seseorang sesuai kehendak-Nya,” kata Ilyaz.

__ADS_1


“Haha, tidak usah cuci tangan. Ingat dengan kesombongan Pak Dokter yang akan tanggung jawab bila kutukan musala itu memakan korban lagi? Dan sekarang, korbannya Atang. Pak Dokter tak kasihan dengan orang-orang yang ditinggalkan mati? Lihat! Ijah contohnya,” Ismat sangat puas dengan kata-kata yang keluar.


Pandangan warga semakin tak suka dengan dokter sok tahu itu, mereka saling berbisik.


Ilyaz peka dengan tatapan itu, tapi tak ingin terpancing. Jelas sekali kalau kematian Atang bukan karena dirinya ataupun kutukan dari musala yang menjadi mitos mengerikan desa ini. Pemuda itu mati karena empat pocong yang dilihatnya. Dokter itu malah berspeklusi, kematian ini ada kaitannya dengan cerita Ijah sebelum peristiwa penjemputan itu. Pesugihan, ada seseorang yang melakukan persekutuan itu dengan mengorbankan warga desa sebagai tumbalnya.


“Saya ikhlas, Pak dengan kepergian Atang. Pak Dokter benar, ini memang sudah kehendak Gusti Allah,” ucap Ijah sambil terus terisak.


Ismat masam dengan jawabannya. “Ijah ,jadi orang jangan terlalu polos. Semua memang kehendak Allah, tapi tetap ada penyebabnya, dan penyebabnya itu, Atang meninggal akibat kutukan. Kan saya sudah benar-benar memberikan peringatan waktu itu, jangan mengganggu musala itu, tapi dokter ini malah berani-berani mengusiknya. Kamu dan Atang juga turut membantu ‘kan?” oceh Ismat berusaha memanas-manasi hati wanita tua itu.


Para pelayat mulai berani bersuara, mereka kompak mengiyakan perkataan pak Ismat.


Ilyaz menanggapi dengan menghela napas panjang, sama sekali tak merasa terpojok dengan semua tuduhan Ismat. Kematian Atang memang janggal dan menurut persepsi warga penyebabnya kutukan dari musala itu. Bukan tak ingin percaya dengan mitos itu, bisa jadi semuanya benar, mengingat, ia mengalami sendiri kejadian itu.


Kemunculan Anto yang sempat menemuinya, menambah keyakinan bila itu memang bukan kutukan, tapi teror akibat tumbal pesugihan yang dilakukan seseorang. Siapa? Itulah yang belum bisa dibuktikan karena tak bisa sembarangan menuduh.


“Ya, masih ingat. Saya akan bertanggung jawab, hanya, apa warga di sini benar-benar yakin bila kutukan yang terjadi di desa akibat musala itu? Bagaimana bila ternyata, ada seseorang yang mengadakan perjanjian dengan iblis?” Ilyaz keceplosan saking tak tahan dengan tekanan yang ada. Provokasi Ismat, rupanya membuat geram sisi kemanusiaannya untuk membela diri.


Wajah Hamid sedikit pucat.


Ismat melirik sebentar pada para pelayat.


“Haha, benar-benar ingin cuci tangan. Apa buktinya? Di kampung ini tidak ada pesugihan, jelas ini akibat kutukan yang sudah lama berlangsung. Haha, lucu sekali. Seorang yang terpelajar seperti Pak Dokter, malah berpikir hal-hal yang di luar logika. Apa selama ini di sekolah, Pak Dokter belajar pesugihan?” ucapnya panjang lebar puas memojokkan Ilyaz, posisi Ismat kuat dalam hal ini.

__ADS_1


“Sudah Pak Ismat, tidak baik bertengkar di hadapan orang yang meninggal. Kasihan Mak Ijah kalau harus ditambah dengan kericuhan ini. Biar, urusan ini kita selesaikan setelah pengurusan jenazah Atang,” ucap Hamid bijak dalam mendinginkan situasi.


“Iya, Pak Lurah. Saya sudah ikhlas melepas kepergian Atang. Ini sudah takdir Gusti Allah, bukan karena kutukan ataupun korban pesugihan. Ini kehendak Gusti Allah,” pungkas Ijah, tangisnya belum juga reda.


“Heuh, kamu terlalu baik, Ijah,” ujar Ismat ketus.


“Sebaiknya jenazah Atang, kita bawa ke musala untuk disalatkan, Mak,” ucap Ilyaz.


“Apa Pak Dokter, disalatkan di musala?” ujar Hamid cukup syok.


“Iya, Pak Lurah. Bukankah kewajiban muslim terhadap orang yang meninggal, salah satunya menyalatkan jenazahnya?”


“Oh benar, tapi apa Mak Ijah setuju dengan usulan Pak Dokter?” tanya Hamid.


“Ijah! Apa kamu mau desa ini kena kutukan seperti yang pernah terjadi saat si Aslam masih hidup?” tanya Ismat tersulut emosi.


“Pak Ismat, penyakit yang menimpa warga dua tahun lalu, kemungkinan bukan karena kutukan Pak, saya bisa menjamin itu. Saya dikirim kemari, juga karena ingin meneliti wabah penyakit yang terjadi dua tahun lalu.”


“Pak Dokter, jangan sok pintar. Nanti malah kembali cuci tangan, seperti yang terjadi pada Atang sekarang. Berapa banyak korban yang diinginkan sebenarnya?” Ismat bersikukuh dengan pendapatnya.


“Apa maksud Pak Ismat?” Ilyaz agak geram, tak terima dengan tuduhan Ismat. Terlalu picik untuk seorang sesepuh desa menuduh warga pendatang.


“Halah, pura-pura! Apa tujuan Pak Dokter sebenarnya? Sudah tahu di desa ini terlarang mendekati musala itu, terlarang juga menyalatkan jenazah korban kutukan musala, tapi malah memaksakan kehendak. Ingin desa ini lebih banyak lagi terkena kualat, ya?” tuduhan Ismat semakin memancing emosi Ilyaz.

__ADS_1


“Pak Ismat, tidak ada maksud apa pun dengan desa ini. Saya hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim, Allah memerintahkan untuk memberikan penghormatan terakhir pada jenazah dengan menyalatkanya sebagai bentuk ibadah terakhir. Apa warga di desa ini tidak takut dengan azab Allah hanya karena tidak mau melaksanakan perintah-Nya?” ucap Ilyaz agak keras.


__ADS_2