Tumbal Pesugihan Pocong

Tumbal Pesugihan Pocong
sembilan


__ADS_3

Rumah megah berasitekur Belanda-Jawa.


Hamid terlihat cemas dan mondar-mandir di teras rumah kemudian berlari menyambut mereka setelah melihat Arum. “Aduh, Mak. Untung, Mak Ijah temukan Arum. Saya cemas tadi,” Hamid begitu panik.


Ijah tak begitu menggubris. Dibawanya Arum ke ruangan yang memang disediakan untuknya. Ruangan dengan ranjang terpasang pasung, Ijah menenangkan Arum di sana. Sementara, Hamid dan Ilyaz berbincang di luar.


“Pak Lurah, bagaimana kalau Arum dibawa saja ke pusat rehabilitasi? Di sana, Arum bisa dapat perawatan yang layak.”


“Saya maunya seperti itu, Pak. Namun, tidak bisa karena urusan desa begitu banyak. Kalau Arum di sana, nanti siapa yang akan menjenguknya, mengurusi segala macam kebutuhannya?”


“Loh, Pak Lurah ‘kan bisa meluangkan waktu sebulan sekali.”


Ijah di dalam berhasil menenangkan Arum. Setelah istri pak lurah itu tertidur, ia kemudian keluar untuk segera berpamitan. Namun, ada sesuatu yang membuat bulu kuduk meremang. Saat akan melewati ruangan yang tertutup rapat, wanita tua itu merasakan seseorang sedang mengawasi. Entah siapa, tapi ada sosok yang memperhatikan di baliknya.


Saat Ijah hendak memastikan, mengintip ke lubang kunci. Betapa terkejutnya, di dalam terlihat sosok tinggi besar dengan tubuh menghitam seluruhnya serta mata merah menyala. Sekilas, sosok itu mengenakan pakaian serba putih, namun lusuh di beberapa bagian. Ia segera mundur, dengan takut dan bergidik, buru-buru keluar.


“Pak Dokter, kita segera pulang!” ajak Ijah bergetar.


Pak Lurah dan Ilyaz keheranan dengannya yang gemetaran.


“Emak kenapa?” tanya Hamid.


“Ah itu, saya tidak enak badan, Pak,” kilahnya, “Pak Dokter, ayo!”


Tak banyak bicara lagi, dokter itu undur diri. Ia tahu kalau Ijah takut sesuatu, tapi itu disembunyikannya. “Mak, tadi kenapa?”


“Tidak apa-apa, Pak Dokter.”


“Sepertinya, Mak Ijah takut sesuatu?”


Wanita tua itu bungkam karena takut kalau-kalau yang dilihatnya tadi salah. Ia tidak ingin berprasangka macam-macam yang bisa membuat ketakutan nanti malam.


**


Malam tiba. Ke mana warga? Tak ada seorang pun yang berani ke luar. Kualat jadi alasan tepat untuk tidak keluyuran di malam hari.

__ADS_1


“Wah, sudah malam, Mak. Saya permisi pulang saja,” Ilyaz mengangkat tubuh dari bangku bercat coklat tua agak kehitaman.


“Menginap di sini saja, Pak Dokter,” ujar Atang.


“Iya Pak Dokter. Jangan pulang! Menginap saja,” cegah Ijah.


“Tidak Mak. Terima kasih.” Wajah ramah dokter itu tenang dan damai


“Rumah ini memang kecil, tapi masih cukup untuk menampung Pak Dokter. Biar nanti, Atang tidur di bawah saja,” ujar Ijah.


“Ya, Pak Dokter. Atang tidur di bawah juga tak apa. Ranjangnya memang tak muat untuk dua orang, tapi lumayan.”


“Iya, terima kasih atas semua kebaikan Mak dan Atang, sebaiknya saya pulang saja. Banyak proposal yang harus dipersiapkan untuk pembangunan musala desa.”


“Musala mau diperbaiki?” Atang mendadak kaget dengan keinginan Ilyaz.


“Ya, memangnya ada apa, Tang?”


“Pak Dokter tidak salah?” Atang heboh sendiri. Matanya kemudian beralih, “bagaimana ini, Mak? Bisa-bisa, desa ini kembali seperti dulu, kena kutukan lebih parah lagi,” pungkasnya.


“Kutukan itu tidak ada, Tang. Saya yakin sekali, itu hanya rumor yang disebarkan.”


Atang bengong dengan jawaban Ijah. Jawaban yang tak diharapkan. Padahal, Ijah harusnya menolak secara halus tentang rencana itu. Ia tahu dengan semestinya, akibat kutukan itu, bapak mengalami kemalangan yang sama dengan Anto. Mati dengan mata melotot, lidah menjulur dan bekas hitam di leher seperti terjerat tali. Pemuda kampung kurus itu yakin sekali, bila kematian bapak, efek kutukan itu.


Hantu penunggu musala pasti tidak rela keberadaan mereka diganggu. Musala menyimpan cerita mengenaskan ust. Aslam. Dendamnya pada warga kampung, tidak akan hilang dengan kembali membangunnya. Pak lurah sudah menutup dan melarang warga untuk tidak dekat-dekat.


“Emak tidak ingat dengan almarhum Bapak? Bagaimana kondisinya ketika meninggal?”


Ijah terdiam bukan tak ingat dengan peristiwa itu, akan tetapi hatinya tak membenarkan bila suaminya itu mati akibat kutukan yang sangat ditakuti warga. Kematiannya bukan karena ia adalah penjaga musala dan arwah ust. Aslam yang membunuhnya. Semua pasti karena takdir, ada rahasia lain di desa ini, entah apa. Ijah tak bisa menuduh ataupun menyangka yang tidak-tidak.


Wajah Ilyaz sedikit terbawa penasaran. Begitu mengerikankah musala itu? Kutukan itu? Semua warga sangat mewanti-wanti agar tidak terkena kualat sampai-sampai mereka harus meninggalkan perintah Tuhan hanya karena ketakutan dengan kutukan.


“Bapak,” desah Ijah. Tatapannya kosong, isi kepala dipenuhi prasangka kebenaran akan kutukan itu. Ia mencoba melawan semua prasangka yang mengerumuni. Itu tidak benar, semuanya tidak benar. Bapak meninggal karena takdir.


“Mak?” panggil Atang lembut.

__ADS_1


Ijah tersentak dengan panggilan anaknya itu lalu menatap balik.


“Bukan, Emak sangat yakin Bapakmu bukan meninggal karena kutukan. Itu sudah takdir, Tang,” tegasnya yakin benar.


“Atang paham, Mak, semua itu takdir. Namun, tetap saja takdir itu jalannya melalui kutukan musala itu.”


Perbicangan ketiganya dirasa sudah tak nyaman lagi, Ilyaz melihat jam tangan.


“Sudah jam delapan lewat. Saya harus mengerjakan proposal untuk pembangunan musala. Saya permisi, Mak,” ucapnya berpamitan.


“Pak Dokter benar mau pulang?” Ijah meragukan keberanian dokter itu untuk beranjak dari rumahnya. Bibir itu tersenyum disertai anggukan kecil. “Tang, sebaiknya kamu antar Pak Dokter pulang,” titahnya.


“Mengantar pulang, Mak?” Atang syok berat dengan permintaan yang diajukan Ijah. “Tidak Mak, Atang tidak berani. Ini malam pertama kematian Anto.”


Dokter itu geleng-geleng hampir bersamaan dengan Ijah.


“Kamu penakut sekali, Tang,” Ijah sedikit memberi ejekan pada anaknya itu. “Begini saja, Mak izinkan kamu menginap di rumah Pak Dokter. Mak, berani kok ditinggal sendirian.”


“Mak, tidak takut ditinggalkan sendirian? Bukan Atang penakut, Atang tidak ingin, Mak ketakutan,” kilah Atang menyembunyikan nyalinya yang sempat terkapar.


“He-emmm,” jawab Ijah mengangguk pelan.


“Ya, Atang sedikit tenang kalau begitu,” ujarnya sok berani.


Keduanya tertawa kecil. Atang mengerti bila tawa itu untuk dirinya. Ia membiarkan tawa itu mengalir dari bibir mereka.


Langkah Atang cepat bak derap kaki kuda perang yang menghindari musuh. Ia berjalan menempel terus pada Ilyaz. Mata terus awas menghadap ke depan, tak sekali pun Atang menengok ke belakang. Degup kegugupan menggelora, ia berusaha menenangkan detak jantung yang sudah tak terkendali.


Ilyaz menangkap sesuatu yang membuat bulu kuduk meremang. Untunglah langit malam desa Suka Asih cerah karena purnama. Tak terlalu membuat ngeri, tapi atmosfer yang terserap sedikit membuat was-was. Pantaslah bila Atang tak ingin jauh dari sisinya.


Atang terus mempercepat langkah, “aw!” ringisnya, kaki diangkatnya lalu berjalan jinjit.


“Hati-hati Tang. Jalannya pelan-pelan saja.”


“Aw, batu sialan!” umpat Atang lagi memarahi batu yang tak bersalah. “Kita harus cepat, Pak Dokter. Malam pertama korban kutukan, biasanya mereka akan gentayangan minta tolong.”

__ADS_1


“Tidak ada ceritanya orang meninggal hidup lagi. Kamu ada-ada saja, Tang,” tukas Ilyaz.


“Benaran, Pak Dokter merasakannya juga ‘kan? Malamnya... hih,” ujar Atang bergidik.


__ADS_2