
Warga manggut-manggut dan heboh.
Namun, Ijah kaget dengan keputusan itu, hukuman gantung untuk Ilyaz dan tamu-tamunya, sama seperti yang menimpa ust. Aslam.
“Astagfirullahadzim, Pak Dokter,” desah mak Ijah cemas.
“Bagaimana, Pak Dokter?” tanya Ismat tertawa licik.
Ilyaz tak banyak bicara untuk keputusan hukuman itu, antara berani dan takut. Vonis itu tidak main-main, kematian diinginkan sebagai tebusan atas mitos yang sedang berlaku di desa ini.
“Silakan saja, tapi kami juga meminta diberikan kesempatan untuk memperbaiki musala ini dan menguak siapa yang telah bersekutu dengan raja siluman itu,” kyai Tapa tampil dengan kharisma yang sangat berwibawa.
Warga seolah tertarik dengan kharismanya. Mereka tak berkata-kata.
“Siapa kamu?” tanya Ismat.
“Saya bukan siapa-siapa. Saya hamba Allah yang akan menegakkan tauhid di desa ini,” ucapnya tegas dan berwibawa.
“Sombong sekali. Baiklah, nyawa kalian jadi taruhannya,” ucap Ismat kemudian pergi dengan geram dan sangat tak menyenangkan. Tubuh memanas, terbakar emosi yang meledak-ledak, tapi tak bisa dikeluarkan mengingat wibawanya sebagai sesepuh kampung akan cemar.
“Baiklah, kami akan melihat pembuktian kalian. Kami beri kalian waktu dua minggu untuk membuktikannya. Bila tidak, maka sesuai dengan hukum adat desa kami, kalian akan kami gantung di musala itu sebagai persembahan karena sudah kualat melanggar kutukan yang ada di desa.” Hamid ikut menyusul Ismat dan juga beberapa warga, sedangkan sebagian lainnya masih berada di musala, kebingungan dengan langkah apa yang harus diambil. Percaya dengan pemimpin mereka atau Ilyaz.
“Bagaimana, Pak Kyai? Ini tidak main-main, saya rela kalau hanya nyawa ini yang jadi jaminan, tapi kalau guru-guru semua? Nyawa Pak Kyai lebih berharga untuk kemajuan umat,” ujar Ilyaz terlihat rada cemas dan ketakutan dengan perjanjian itu.
Kyai Tapa melemparkan senyum, “Nanda Ilyaz jangan takut. Bila Allah berkehendak, kematian bisa datang kapan saja dengan jalan apa saja. Bila memang, kami harus meninggal dengan cara fitnah seperti yang menimpa ust. Aslam, itu sudah jadi ketetapan Allah. Kami percaya, Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya dan kami yakin, Allah akan menunjukkan siapa yang benar sesuai kehendak-Nya.”
Hela napas Ilyaz mendalam, kekhawatiran dan ketakutannya sedikit terobati setelah mendengar jawaban dari kyai Tapa.
“Ya, Pak Kyai. Saya serahkan semua urusan ini pada Allah,” ucapnya.
Kyai Tapa tersenyum puas. Mereka kembali masuk diikuti beberapa warga yang tertarik dengan tausyiah yang diberikan.
Matahari yang bersinar tak begitu menyorot, perlahan menjadi terik. Musala yang biasanya melemparkan hawa keseraman dan dingin, pagi menuju siang ini agak menghangat dan sedikit menghapus rasa seram yang ada. Beberapa warga dibantu tamu-tamu Ilyaz, membersihkan dan merapikan tempat ibadah itu.
__ADS_1
Wajah musala menjadi benar-benar rapi meskipun, masih ada beberapa bagian yang harus diperbaiki akibat terlalu lama dibiarkan kosong.
**
Bayangan hitam tinggi besar berada di depan dua orang yang sedang bersila.
“Kalian, tahu? Istanaku mengalami banyak bencana, ini semua karena musala itu, warga kembali menjalankan ibadah. Kalian harus mencegah agar mereka kembali tak beribadah di sana,” ucapnya sangat marah.
“Baik, Ki. Kami sedang mengusahakannya, dua hari semenjak musala itu dibersihkan, warga jadi lebih senang menghabiskan waktu di sana. Mereka merasa aman bila di musala bersama orang-orang asing itu.”
“Aku tidak mau tahu. Ingat, kalian masih berutang tumbal padaku! Dokter itu, aku menginginkannya sesuai janji kalian.”
“Iya, Ki. Kami sedang mencari cara agar dokter Ilyaz terpancing untuk dijadikan tumbal. Ki Ageng tunggu saja, kami akan menumbalkannya sesuai keinginan Aki,” ucap salah satunya.
“Hihihi, aku akan menunggu janji kalian. Kalau ingkar, kalian jadi gantinya,” ucapnya.
Ia menghilang seiring dengan embusan angin kencang yang menerpa ruangan samar bersinarkan cahaya lilin.
**
Setiap malam, warga lebih memilih menginap di musala daripada di rumah atau pergi ke tempat judi kupluk akibat ketakutan dengan arwah korban kutukan yang masih gentayangan meminta tolong. Sempat beberapa kali, arwah Anto dan Atang datang, tapi Kyai Tapa berani berdiskusi dengan arwah-arwah tersebut.
Kemajuan luar biasa, Ilyaz patut berbangga. Ambisinya saat pertama tiba di desa ini, tercapai, musala kembali berfungsi lagi sebagaimana mestinya.
“Alhamdulillah, hampir sepekan ini, musala kembali ramai dengan jamaah dan pengajian. Meskipun, alasan mereka masih sangat lemah, takut dengan pocong,” kata Ilyaz.
“Itu proses keimanan mereka yang belum begitu kuat, Nanda Ilyaz. Kita harus tetap membimbing mereka agar sadar akan kekuasaan yang jauh lebih layak untuk ditakuti, Allah,” ujar Kyai Tapa.
“Ya, Pak Kyai. Allah maha raja dari segala raja yang berhak disembah. Hmm, saya masih kepikiran sesuatu.” Ilyaz sedikit menampakkan raut heran bercampur ragu.
“Ada apa, Nanda Ilyaz? Sepertinya, ada sesuatu yang mengganjal.”
“Begini Pak Kyai, kemarin saya ziarah ke makam ust. Aslam, aneh, di sana ada beberapa makam digali. Tak hanya saya, warga juga banyak yang melaporkan hal itu.”
__ADS_1
“Kabar itu ya, Pak Dokter?” tanya Ijah yang sedari tadi ikut mendengarkan obrolan. “Mak kemarin dapat kabar dari Pak Kirman, katanya ada orang yang menggali kuburan malam-malam dan bekasnya ditemukan pagi. Rata-rata, kuburan yang digali, berusia di atas enam bulan.”
“Warga sudah melaporkan ini ke Pak Lurah, Mak?” tanya Ilyaz.
“Sudah Pak Dokter, tapi Pak Lurah malah berkata, urusan ini kita serahkan pada pihak berwajib, tapi sudah tiga hari tidak ada tindakan apa pun, enam makam rusak akibat ada yang menggali. Mak semakin yakin, di kampung ini memang ada yang melakukan pesugihan. Kasihan Atang, malah jadi tumbalnya,” ucap Ijah sedih.
“Itu juga yang akhirnya membuat resah warga, Mak. Warga jadi lebih betah menginap di musala karena takut dengan teror pocong yang menurut mereka memang dari korban pesugihan bukan karena kutukan musala ini.”
“Ya Alhamdulillah, di balik kejaian ini, warga jadi tidak menyalahkan kematian ust. Aslam sebagai sumber kutukan, Pak Dokter dan warga jadi rajin ibadah juga,” ujar Ijah.
“Ini semua rencana Allah dalam menyadarkan warga untuk kembali pada-Nya. Kita harus tetap mengusut pelaku pembongkaran makam itu, Nanda Ilyaz, ini tidak boleh dibiarkan. Ajaran kita tidak pernah membenarkan adanya tindakan penistaan pada mayat, membongkar kuburan sama saja dengan tidak menghormati orang yang telah meninggal, dosa besar,” ucap Kyai Tapa.
“Ya, Pak Kyai. Saya juga berpikir ke sana. Yang membuat saya heran, ya... itu. Apa tujuan sebenarnya menggali kuburan-kuburan yang usianya di atas enam bulan?” ungkap Ilyaz.
Semuanya terdiam, tak bisa menduga apa pun. Kasus yang terjadi akhir-akhir ini di desa Suka Asih, menjadi teror yang menambah ketakutan.
Kyai Tapa memajukan tubuhnya pasa Ilyaz. “Nanda Ilyaz, tentang Atang.”
Ijah melongok begitu juga dengan Ilyaz, “ada apa, Pak Kyai?”
“Sepertinya kita harus membongkar kembali kuburnya.”
Jelas saja, Ijah dan Ilyaz kaget bukan kepalang. Baru saja, Kyai Tapa memberikan petuah tentang larangan menistakan mayat, tapi kenapa malah ingin membongkar makam Atang? Namun, ia tak bisa mengatakan kebingungan itu, raut wajahnya saja yang datar sedikit mengeryit di dahi. Kyai Tapa mengerti ekspresi itu.
“Untuk apa makam anak saya dibongkar, Pak Kyai?” Ijah angkat bicara.
“Saya hanya ingin memastikan saja, apakah itu benar jenazah Atang atau bukan. Saat saya didatangi arwahnya, ia banyak cerita mengenai keadaannya, katanya belum meninggal. Itu hanya permainan dari Ki Ageng Mayitan untuk menipu tumbalnya. Mereka akan dibiarkan selama 40 malam berkeliaran di alam manusia untuk menebar teror.”
“Lalu, Atang?” sentak Ilyaz.
“Kita harus menyelamatkannya. Untuk itu, kita harus pastikan dulu jasadnya karena itu penting untuk sukmanya kembali nanti.”
“Seperti itu ya, Pak Kyai?” ujar Ijah. Hatinya sedikit bahagia karena ada harapan, Atang akan selamat dari jeratan pesugihan Ki Ageng Mayitan.
__ADS_1