
Kyai Tapa bersama Ilyaz diikuti warga menuju pemakaman desa. Makam Atang, mereka ingin membongkar kembali makam itu. Dengan petunjuk dari Kyai Tapa, beberapa orang menggali, hamburan tanah bertebaran, lubang kubur itu kembali menganga. Dari dalam, bau busuk tercium menyengat sampai yang menggali harus menutup hidung begitu juga yang menyaksikan.
“Ada apa ini?” tanya Hamid bersama Ismat ikut menyusul. Mereka menerima laporan tentang pembongkaran makam.
“Ini sudah kelewatan Pak Lurah! Mereka sudah seenaknya di desa ini,” tutur Ismat marah.
“Kenapa makam Atang dibongkar? Siapa yang memberi izin?” desak Hamid.
“Saya yang mengizinkan, Pak Lurah,” Ijah tampil di saat orang-orang diam memperhatikan raut marah keduanya.
“Kamu, Ijah?” Ismat mengalihkan pandangan, “Ijah, kamu ini sudah tidak waras, ya? Jangan-jangan kamu begini karena ajaran sesat mereka?” tuduhnya.
Ilyaz ikut terbakar dengan tuduhan itu, hampir saja melawan kalau Kyai Tapa tidak mencegahnya.
“Saya yakin, Atang masih hidup. Ia tidak mati karena ditumbalkan,” bela Ijah.
“Kamu jadi ngaco begini, Ijah. Mana ada tumbal di desa ini, jangan ngarang,” sengit Ismat.
“Pak Lurah dan Pak Ismat, kami hanya ingin memastikan saja. Sesuai dengan yang diminta, kami harus membuktikan anggapan bila di desa ini ada persekutuan dengan Ki Ageng Mayitan ‘kan?” ujar Ilyaz tenang.
“Lho lho, tapi tidak dengan cara ini. Kalian ini sebenarnya ingin cuci tangan, ya. Dengan membongkar makam, apa yang bisa dibuktikan?” tantang Ismat gerah dengan jawaban Ilyaz.
Kyai Tapa tetap tenang, begitu juga dengan Ilyaz yang tak menunjukkan kecemasan sedikit pun, hanya Ijah yang gugup dengan perselisihan itu.
“Bagaimana kalau kita buktikan saja?” tantang Ilyaz berbalik.
Hamid dan Ismat amat kesal, mereka memerah, tapi tak sama sekali ingin menumpahkannya. Warga sedang memperhatikan. Semakin mereka ngotot, warga semakin tak menaruh simpati pada pemimpin dan sesepuh desa itu.
Makam itu mengeluarkan bau busuk, semakin dalam. Papan-papan kayu penutup lubang sudah tampak, satu per satu diangkat. Bau pun semakin menyengat sampai-sampai salah seorang dari warga memuntahkan sarapan pagi dalam perut, busuk sekali.
Papan terakhir diangkat, sebujur bangkai terlihat jelas dengan kain kapan yang kotor kena tanah. Namun, warga dibuat kaget, itu bukan bangkai manusia, tapi bangkai anjing yang dikerumuni belatung-belatung, memakan daging yang mulai mencair.
“Astagfirullah,” sentak orang-orang hampir bersamaan.
__ADS_1
Hamid dan Ismat ikut melongok kaget dengan mayat yang ada.
“Ya Allah, Atang!” pekik Ijah terisak.
“Ini...?” Ilyaz juga ikut keheranan dengan kejadian di luar nalar. “Pak Kyai?”
“Itulah permainan siluman itu, Nanda Ilyaz,” jawab Kyai Tapa, “jasad Atang pasti disembunyikannya di suatu tempat.”
Orang-orang yang menyaksikan turut berbisik dengan apa yang terjadi. Kyai Tapa belum mengetahui di mana jasad Atang. Namun, yakin kalau anak emak itu memang masih bisa diselamatkan dari jeratan Ki Ageng Mayitan.
**
Tak biasanya, musala duhur ini sepi. Tak ada yang datang untuk menunaikan salat berjamaah. Apa mungkin mereka sibuk sekali di perkebunan sampai melupakan salat berjamaah? Padahal, sudah hampir dua minggu ini, warga desa Suka Asih bersemangat melaksanakan salat berjamaah di setiap waktu salat tiba. Namun, sudah hampir empat hari semenjak penyakit kulit yang menimpa, warga tak terlihat.
Ilyaz selesai melaksanakan salat berjamaah bersama Ijah, kyai Tapa dan lainnya.
“Dokter Ilyaz, keluar! Kalian harus tanggung jawab dengan bencana yang menimpa desa ini!” teriak orang dari luar.
Ilyaz memastikan keluar.
“Dokter Ilyaz! Saya mewakili warga desa Suka Asih, meminta kalian untuk segera meninggalkan kampung ini,” tunjuk Hamid.
“Apa yang terjadi?” Ilyaz setengah kaget bercampur heran melihat warga berkerumun di depan musala.
“Jangan pura-pura, Pak Dokter!” sanggah Ismat, “masih ingat dengan ucapan Pak Dokter? Ini batas waktu pembuktian yang sudah kami berikan pada kalian. Tapi, apa hasilnya? Kami terkena kutukan akibat ulah kalian, kualat dengan kutukan itu. Lihat warga!”
Ismat tajam memandang Ilyaz, tapi masih sempat memutarkan tubuh menunjukkan kondisi warga yang sakit parah, penuh dengan luka-luka bernanah dan berbau busuk.
“Mengenai penyakit di desa ini?” Ilyaz tersulut emosi dan tak bisa menahannya.
“Bagaimana pertanggungjawaban Pak Dokter?”
“Saya sudah semaksimal mungkin mencegah penyebaran penyakit ini. Berdasarkan analisa, penyakit yang mewabah di desa ini bukan karena kutukan, tapi memang karena virus dan bakteri yang terkandung di beberapa sumber mata air desa. Saya sedang menunggu hasil laporan laboratorium untuk memastikannya.”
__ADS_1
“Kalian dengar? Dokter ini malah cuci tangan lagi, banyak sekali alasan, tidak tanggung jawab dengan ulahnya yang telah membuat desa ini harus kembali menerima kutukan,” Ismat melancarkan provokasinya.
Warga semakin menunjukkan kemarahan. Mereka teriak-teriak, “adili Dokter Ilyaz, adili.”
Suasana dibuat menjadi tak terkendali. Warga saling berteriak dan hampir akan maju untuk mengeroyok dokter itu. Namun, mereka tertahan dengan komando Hamid yang masih tenang.
“Tenang, semuanya tenang!” perintah lurah Hamid menengahi kericuhan yang terjadi. Warga tertahan, ia mengalihkan kembali fokusnya pada Ilyaz, “sesuai janji, Pak Dokter bersedia melakukan apa pun untuk bertanggung jawab, benar ‘kan?” tanya Hamid melembut.
“Saya bertanggung jawab, Pak Lurah. Saya sedang menunggu hasil laboratorium dari pusat. Wabah yang menyerang warga sudah saya teliti dan tinggal menunggu hasilnya. Jadi, mohon bersabar supaya saya bisa meminta bantuan pusat menangani wabah ini lebih lanjut,” jelas Ilyaz.
“Ah, alasan saja. Kita tidak percaya,” ujar Ismat, lalu menoleh ke arah warga, “kalian percaya dengan kebohongan Dokter Ilyaz?” lantang. Serentak orang-orang menyatakan tidak dan Ismat sangat diuntungkan dengan posisinya memojokkan Ilyaz, “Pak Dokter! Kami tidak membutuhkan hasil laboratorium. Kami lebih menginginkan tanggung jawab atas ucapan Pak Dokter yang telah kualat pada desa kami,” Ismat melancarkan aksi memanas-manasi Ilyaz agar terpancing emosi.
Jengkel bercampur kebingungan dengan aksi warga yang malah memercayai hasutan Ismat. Ilyaz mengatakan yang sebenarnya, ia memang sedang menunggu hasil laboratorium dari penelitian beberapa hari belakangan.
“Pak Dokter, saya sebagai lurah desa Suka Asih, tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut. Saya memiliki kewenangan untuk melindungi warga dari bahaya. Apa yang telah Pak Dokter lakukan selama ini, telah banyak merugikan desa kami. Jadi, kami akan menuntut pertanggungjawaban Pak Dokter,” kata Hamid.
“Pak Lurah dan warga, sudah saya katakan dari tadi, saya bertanggung jawab. Saya benar-benar menunggu hasil laporan laboratorium, demi Allah!” ucap Ilyaz gemas dengan kebodohan warga yang terus menekannya.
“Tidak usah bawa-bawa nama Allah, Pak Dokter. Begini saja, menurut adat kampung ini, Pak Dokter, kami tantang untuk bermain kupluk untuk menentukan siapa yang benar dan salah. Jika menang, artinya apa yang dikatakan Pak Dokter, benar. Jika salah, Pak Dokter akan kami perlakukan seperti ust. Aslam yang telah membuat kutukan di desa kami,” ucap Hamid menatap serius Ilyaz. Pandangannya kemudian berputar ke arah kerumunan warga, “setuju, tidak?”
Teriakan warga menyetujui usulan itu.
Ilyaz menghela napas panjang, “Astagfirullahaladzim, kalian malah percaya menentukan benar salah dengan mengadu dadu?” hatinya merasakan miris yang menyayat.
“Apa Pak Dokter takut?” tantang pak Ismat.
“Itu permainan mengadu nasib dan bukan solusi permasalahan ini. Permainan itu dilarang dalam agama.”
“Pak Dokter tidak usah banyak berdalih. Mau apa tidak, itu saja. Kami hanya mengikuti adat dari leluhur kami. Sebaiknya tidak melarikan diri dari tanggung jawab,” pancing Ismat.
Ilyaz memandang ke belakang, sinar matanya menunjukkan kebimbangan dengan keadaan yang mengimpit. Kyai Tapa mengerti dan menganggukan kepala, lalu kembali mengarahkan pandangan pada warga desa yang menunggu jawaban.
“Baik, saya terima. Semoga Allah mengampuni langkah ini dan menunjukkan siapa yang benar,” ujarnya.
__ADS_1
Ismat dan Hamid saling lirik dan tersenyum puas.