
“Apa Dokter tak salah lihat? Warga desa tidak ada yang berani mendekati musala ini. Baru Pak Dokter yang berani sampai masuk ke sini.”
“Demi Allah, Mak. Tadi ada wanita yang menangis di sini. Ke mana lagi perginya?” Ilyaz tak bisa menemukan keberadaan wanita yang dimaksud.
Ijah jadi merinding. Pikirannya menerawang. Selain pocong yang diceritakan warga desa. Bisa jadi, wanita itu kuntilanak yang memperlihatkan keberadaannya pada Ilyaz. Maklum saja, dokter itu baru di desa ini. Belum tahu apa-apa soal keangkeran musala.
“Pak Dokter, apa sebaiknya kita keluar saja dari sini?” Ijah gemetaran. Rasa takut serta merta bangkit. Hawa lembap dan seram malah makin menambah ketakutan Ijah. Terlebih wanita yang diceritakan Ilyaz lenyap tanpa diketahui keberadaannya.
“Nanti dulu, Mak. Kita pastikan dulu. Siapa tahu masih ada di sini,” ujar Ilyaz semakin penasaran dengan wanita itu.
“Aduh Pak Dokter, mana ada wanita yang berani kemari sendirian. Mungkin saja, yang dilihat Pak Dokter, lelembut penguasa musala ini. Benar kata Atang bila musala ini malah jadi tempat berkumpul makhluk halus. Aduh Gusti…tobat,” ucap Ijah merengek ketakutan.
Ilyaz menoleh ke arah Ijah. Hatinya merasa kasihan dengan ketakutan yang dialami wanita tua itu. Bila semakin lama dibiarkan, bisa-bisa Ijah mengalami hal-hal negative dan mungkin terbawa mimpi nanti malam.
“Ayo Mak, kita tinggalkan tempat ini! Ya mungkin Emak benar, saya salah lihat.”
“Iya Pak Dokter, Mak tak kuat ingin segera pergi dari sini. Seram.” Bibir Ilyaz mesem dengan ketakutan Emak yang berlebihan. Matanya terus mengawasi tanpa henti dan bibir tak lepas dari komat-kamit membaca beberapa ayat alquran. Ijah juga terus-menerus menyebut nama Allah untuk menenangkan hati. “Pak Dokter tahu di mana ust. Aslam digantung?” wanita tua itu malah mengungkit cerita ust. Aslam.
“Memang di mana, Mak?” tanya Ilyaz penasaran.
“Di sana! Persis di tiang itu,” tunjuk Ijah pada dua tiang kayu penyangga.
Bekas tali menggantung di palang kayu yang menghubungkan dua tiang musala. Talinya terlihat sudah kusam, tetapi masih kuat untuk mengikat. Beberapa saat, Ilyaz tak lepas dari palang dengan tali mengantung bekas eksekusi ust. Aslam. Kesedihan tampak jelas di wajahnya. Ia harus meninggal dengan cara yang tragis dan diperlakukan sangat terhina. Malang sekali nasibnya.
“Ada apa Pak Dokter?” tanya Ijah sudah tak betah berlama-lama di musala.
“Ah, tidak ada apa-apa, Mak,” ujar Ilyaz lalu pergi bersama Ijah meninggalkan tali yang menggantung.
Sebuah MCK berada di belakang mushala. Keadaannya lebih miris. Benar-benar lembap dan bau. Dari dalam terdengar wanita terisak.
“Pak Dokter dengar itu?” tanya Ijah.
“Iya, Mak.”
__ADS_1
Kaki Ilyaz pelan melangkah mendekati MCK, tercium bau yang khas dari dalam, busuk bercampur pesing menyengat hidung. Jari telunjuk sang dokter diimpitkan pada kedua lubang hidung. Suara isakan terdengar dari salah satu bilik yang tertutup pintu rusak pada engselnya. Isakannya lirih, terdengar samar.
Ijah menggenggam erat tangan dokter itu karena ketakutan yang amat mendera. Pintu bilik MCK perlahan dibuka. Derak pintu berdecit di sela-sela isakan. Di dalam, sudah sedikit terlihat sosok perempuan dengan rambut panjang yang tergerai acak-acakan. Rambut lusuh seperti tidak pernah dicuci. Sangat tak terurus. Ilyaz yakin bila ia, perempuan yang sama. Pintu MCK dibuka penuh.
“A, tidak tidak. Pergi… pergi! Jangan. Huhuhu,” sela perempuan itu menangis histeris melihat Ilyaz membuka pintu bilik.
Ijah yang semula ketakutan berbalik penasaran dengan perempuan yang ada di balik pintu.
“Astagfirullahadzim, ya Allah!” pekik Ijah terkesima.
Buru-buru, wanita tua itu mendekati perempuan tadi.
“Mak kenal?”
“Iya, Pak Dokter. Ini Neng Arum, istri Pak Lurah,” ucap Ijah mendekap tubuh wanita itu.
“Arum, istri Pak Lurah?” tanya Ilyaz heran.
Arum menuruti kata-kata Ijah. Dengan dipapah wanita tua itu, Arum melangkahkan kaki. Cara berjalan terseret membuat Ijah harus menjadi tongkat berjalan. Kakinya terlihat menyempit akibat terlalu lama diberikan beban pada pergelangan. Ilyaz mengawal mereka dari belakang.
Angin bertiup lembut namun, dingin di pundak Ilyaz. Sedikit bergidik, diusapkan tangan ke arah pundak. Lalu, seolah ada energi yang menariknya untuk menegok ke arah dalam musala. Entah energi apa. Sekilas, mata itu memperhatikan keadaan di dalam musala, sekali lagi. Sosok putih berpakaian khas orang mati. Ada lima ikatan dengan mata bersinar merah dan wajah menghitam. Sosok itu lenyap seketika setelah dokter itu mengibaskan kepala.
“Astagfirullah! Apa tadi? Pocong?” Jantung Ilyaz berdetak kencang. Ia segera keluar dari area musala dan tak berani untuk memastikan apa yang telah dilihat.
**
Arum terduduk di kursi bambu ruang tengah. Ia cekikan sendiri dan sesekali menangis, menunjuk-nunjuk ke arah musala dan mendesahkan “pocong,” ketika Ilyaz memperhatikannya. Mak Ijah dengan sabar menenangkan Arum dan menyuapi perempuan itu.
“Kenapa bisa seperti ini, Neng?” tutur Mak Ijah sedih, “Ya Allah! Padahal, dulu Neng Arum dan Pak Aryo sangat baik sama Emak. Kenapa nasib Neng Arum jadi begini,” ratapnya.
“Emak sabar. Allah menguji hamba-Nya dengan berbagai cara.”
“Iya, Pak Dokter. Ayo Neng, nanti kita pulang,” ajak Ijah.
__ADS_1
Arum menjerit-jerit histeris. Ditepisnya piring di tangan Ijah. Piring itu terbanting, isi di dalamnya berantakan. Ijah jelas terkejut dengan perubahan emosi wanit itu. “Tidak! Pocong, tidak!” Arum menyelak. Ia mengangkat kakinya ke kursi lalu melipat sebatas lutut dan mengunci lutut itu dengan kedua tangan.
“Mak? Apa sebaiknya, Arum di sini saja dulu sampai tenang?” usul Ilyaz.
“Jangan Pak Dokter. Orang kampung bilang apa nanti? Mak takut malah jadi masalah.”
“Saya kasihan lihat kondisi Arum. Mak, lihat sendiri ‘kan? Pergelangan kaki Arum menyempit. Itu tidak baik untuk ke depannya. Bisa-bisa Arum bakal susah berjalan selamanya.”
Mak Ijah rada takut dengan penjelasan dokter itu. Kalau benar terjadi, kasihan Arum harus kesusahan sedangkan ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. “Lalu bagaimana Pak Dokter? Mak tidak mengerti. Kata Lurah Hamid, Neng Arum harus dikerangkeng karena sering kabur dari kamarnya dan bisa-bisa meresahkan warga kalau ngamuk.”
Hati Ilyaz merasa iba. Persepsi seperti itu sudah sangat kolot dan tidak berperikemanusiaan. Arum membutuhkan pengobatan, rehabilitasi di tempat layak. Bukan dijadikan tahanan dengan memasung kakinya. “Saya akan bicara dengan Lurah Hamid, Mak.”
Ilyaz kembali memperhatikan.
Arum, dengan mengapit lututnya, melempar pandangan ke kamar yang ditempati dokter itu. Mata basah menerawang, maniknya bercerita tentang masa lalu, entah apa. Namun, air mata itu mengisaratkan suatu kesedihan dan rasa rindu.
“Aslam,” lirihnya.
Air mata berderai saat meracaukan nama orang yang pernah mengisi kamar itu.
“Neng, kita pulang ya,” bujuk Ijah.
“Aslam... Aslam,” tangisnya makin keras terdengar.
Mak Ijah ikut menangis. Dipeluknya Arum, “sabar, Neng. Sabar.”
Ilyaz ikut menenangkan, “Mbak, ikhlaskan ust. Aslam. Insya Allah, ia damai dan tenang di sisi Allah. Mbak harus kuat.”
Arum berhenti setelah Ilyaz membujuk. Ia kemudian melepas pelukan di lutut, lalu menyeret langkah ke luar. Mak Ijah dan Ilyaz memperhatikan heran, mereka mengikuti Arum.
“Pulang... Mak, pulang,” ujarnya.
Mak Ijah mengerti, dipapahnya Arum pulang ke rumah itu.
__ADS_1