
“Nah, benar kata Atang, arwah itu penyebabnya. Ia masih belum puas dengan banyak korban yang mati di desa ini,” ocehan Ismat semakin menjadi, merasa dapat dukungan. Ia begitu percaya diri dengan semua perkataannya.
“Lalu, yang harus kita lakukan sekarang? Saya sebagai lurah desa ini, tidak ingin membuat malapetaka ini berkelanjutan,” ujar Hamid.
“Tidak ada jalan lain lagi, Pak. Kita robohkan saja musala ini agar tidak ada lagi kutukan,” ucap Ismat.
“Benar, Pak,” ucap Atang malah ikut-ikutan mengompori lurah itu.
“Dirobohkan, Pak?” Ilyaz keberatan dengan usulan Ismat. Terlalu dini bila langkah itu diambil. Bukankah lurah itu yang mengatakan, keputusan nasib musala akan ditentukan berdasarkan kesepakatan warga.
“Dirobohkan Pak. Saya kira tidak ada alasan warga untuk mempertahankan musala terkutuk ini,” Ismat semakin mempengaruhi.
“Saya kira tidak demikian, saya yakin masih ada warga yang menginginkan tempat ibadah ini tetap berdiri. Kutukan di desa ini bukan karena musala,” sanggah dokter itu tenang.
“Pak Dokter ini tidak tahu apa-apa mengenai desa ini. Pak Dokter jangan banyak ikut campur dengan urusan desa. Biar kami mengurusi urusan desa kami atau mungkin, Pak Dokter ingin kena kualat juga, ya?” sindir Ismat, tenang namun sinis.
Bibir Ilyaz sedikit melebar, “Pak Ismat ini terlalu percaya dengan hal-hal irrasional. Mana buktinya bila orang yang sudah mati, hidup kembali untuk membalas dendam?”
Garis bibir Ilyaz bukan dianggap keramahan. Itu adalah ejekan dalam anggapan Ismat. Ia itu anak kemarin sore, berani benar menentang sesepuh sekaligus pejabat desa Suka Asih. Harga diri KaDus itu sudah dibuat pecah dengan kesoktahuan Ilyaz.
Mata itu agak melotot tidak senang dan tersinggung dengan Ilyaz. Sensitivitas sesepuh desa amat peka dan mudah sekali berbenturan dengan egoisme yang ada.
“Terserah Pak Dokter, saya sudah mengingatkan. Kalau nanti terjadi apa-apa di desa ini, kepala Pak Dokter yang jadi jaminannya. Sanggup?” Ismat balik menantang.
Tantangan pak Ismat tak menggentarkan Ilyaz sedikit pun. Tantangan itu dianggapnya sebagai sebuah pembuktian bila kutukan itu tidak pernah ada. Kesempatan baginya untuk membuka pemikiran warga desa yang masih kental dengan hal-hal berbau klenik. Musala itu hanya bangunan biasa yang harusnya diramaikan para penganut ajaran Allah untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya, bukan sebaliknya. Hati sang dokter benar-benar merasa terpanggil untuk menyadarkan warga akan kewajiban mereka sebagai hamba Tuhan.
“Saya, insya Allah siap dengan segala risikonya. Saya yakin Allah akan menunjukkan kebenaran pada warga desa Suka Asih ini.”
Mantap dengan jawaban yang terlontar, semakin membuat Ismat tak senang dengan jawaban itu. Apa yang keluar dari mulut dokter sok tahu itu, tantangan langsung. KaDus itu menanggapi dengan penuh kemarahan yang bergejolak dalam diri, tapi tak ditumpahkan. Posisinya sebagai sesepuh desa memaksanya untuk bertindak arif dan berkepala dingin.
“Saya kira, perihal musala ini kita serahkan sepenuhnya pada warga sesuai diskusi yang sudah kita sepakati,” Hamid mengambil alih ketegangan yang terjadi.
Tindakan tepat mencerminkan seorang pemimpin yang dijadikan panutan warga.
“Ya, Pak Lurah. Menurut saya juga demikian, warga memiliki hak juga dalam menentukan masa depan musala dan keyakinan mereka,” ujar Ilyaz.
__ADS_1
“Ngeyel, heuh!” ujar Ismat belum puas dengan keputusan yang diberikan Hamid.
“Pak Ismat, sebaiknya kita pamit. Urusan kita sudah selesai,” Hamid mengerti dengan kekesalan rekannya. Dengan mengajaknya pergi, suasana tidak akan bertambah tegang. “Pak Dokter, kami permisi.”
Ilyaz menjawab dengan melemparkan simpul bibir ramah. Sekilas, matanya tertuju pada kantung yang dibawa Hamid. Ada kain putih lapuk dan tercium bau minyak khas mayat serta sedikit aroma wangi dupa yang menempel.
Hamid sadar bila sedang diperhatikan. Lalu dengan cepat, bungkusan yang dibawa segera disembunyikan di balik baju. Sikap dibuat biasa saja, seminimal mungkin mengendalikan diri agar Ilyaz tak curiga.
“Ada apa, Pak Dokter?” Atang sadar bila dokter itu memperhatikan sesuatu.
“Ah, tidak ada apa-apa, Tang. Kita segera ke pondokan. Semakin malam, anginnya semakin dingin, tak baik untuk kesehatan,” ucap dr. Ilyaz mengalihkan.
“Ya, Pak Dokter. Di sini juga semakin seram.”
Perasaan Atang muncul seperti sebelumnya. Ia menyadari sosok lain sedang memperhatikan mereka dari dalam musala.
Entah Ilyaz menyadari atau tidak, sepasang mata sedang mengamatinya.
Sosok itu tak kasat mata, mengawasi mereka dari dalam. Seraut wajah memperhatikan di balik jendela kaca musala.
**
Atang lega pada akhirnya merasa aman dari sosok yang mengikuti mereka. Pondokan yang berdekatan dengan musala, setidaknya lebih terjamin keamanannya daripada harus berdiri di luar dan memandangi musala mengerikan terkutuk.
Dokter Ilyaz membuka pintu. Belum sempat dokter itu mempersilakan masuk, Atang sudah mendahului dengan langah tergesa-gesa. Ia menggeleng kemudian menutup pintu lalu menguncinya.
“Kamu ketakutan sekali, Tang.”
“Hehe,” Atang cengengesan saja, “Pak Dokter tidak merasakan apa-apa?”
“Merasa apa, Tang?”
“Di musala tadi, hih,” pundaknya bergoyang. “Pak Dokter tidak merasakan sesuatu?”
“Ya apa, Tang?” ulang Ilyaz, “saat di musala tadi, yang terasa aneh justru kehadiran Pak Lurah dan Pak Ismat. Buat apa mereka di sana?”
__ADS_1
“Atang juga tidak tahu, Pak. Mereka bilang hanya ingin memeriksa musala, tapi bukan itu maksud Atang.”
“Hem, saya heran saja dengan mereka, Tang. Malam-malam ada di sana. Kamu sadar tidak, mereka aneh?”
“Aneh kenapa Pak Dokter?”
“Kamu perhatikan tidak, yang dibawa Pak Lurah di balik bajunya?”
Atang geleng-geleng, tak tahu dengan barang bawaan yang dibungkus dalam plastik hitam di balik baju Hamid. “Saya terlalu ketakutan, Pak Dokter. Tak memperhatikan apa yang dibawa Pak Lurah.”
“Kamu mencium bau minyak dan dupa?”
Mata Atang agak menyipit. Ia baru sadar dengan bau yang samar tercium saat di musala. Itu juga yang membuatnya merasakan ketakutan yang sangat. Menurut cerita orang tua dulu, bau-bau yang tercium samar beraromakan dupa, minyak khas mayat dan bunga-bunga tertentu menandakan datangnya makhluk tak kasat mata di sekitaran tempat tersebut atau memang ada orang yang sengaja memanggil mereka untuk ritual tertentu.
“Pak Dokter menciumnya juga?”
“Saya rasa aroma wewangian itu berasal dari bungkusan yang dibawa Pak Lurah.”
“Untuk apa Pak Lurah melakukan itu?”
“Saya juga tidak tahu, Tang.”
“Pak Dokter yakin dengan rencana memperbaiki musala?”
“Kenapa harus tak yakin, Tang?”
“Benar kata Pak Ismat, musala itu menyimpan kutukan. Saya tidak ingin Pak Dokter terkena kutukan seperti yang menimpa ust. Aslam.”
“Sudah saya bilang ‘kan, Tang? Itu hanya mitos, justru saya lebih takut bila Allah menimpakan azab-Nya,” Ilyaz menanggapi dengan penuh ketenangan.
“Saya juga takut sama azab Allah. Apa Allah akan menjamin keselamatan kita dari kutukan itu? Pak Dokter sedang mempertaruhkan nyawa.”
“Apa kamu ragu dengan kekuasaan Allah, Tang?”
“Bukan begitu Pak Dokter, buktinya ust.Aslam. Ia mati digantung di musala itu dan tidak ada yang menolongnya, malah sekarang arwahnya penasaran dan menyebarkan kutukan di desa ini.”
__ADS_1
“Itu fitnah, Tang. Saya yakin yang menimpa ust. Aslam, fitnah dari orang yang tidak suka dengan keberhasilannya membangun desa ini.”
“Masa sih, Pak Dokter? Atang yakin arwah yang mengikuti kita tadi dan masuk ke musala, itu arwahnya ust. Aslam. Ia tidak ingin seorang pun mendekati musala,” dengan entengnya Atang menyimpulkan.