Tumbal Pesugihan Pocong

Tumbal Pesugihan Pocong
delapan belas


__ADS_3

“Tapi..., siapa Pak Dokter? Di desa ini tidak ada yang melakukan perdukunan ataupun melakukan kesyirikan dengan bersekutu pada Ki Ageng Mayitan,” pungkas Ijah.


“Kita tak bisa berprasangka sebelum menemukan buktinya, Mak. Kita jadi lega, musala itu bukan penyebab kutukan dan teror di desa ini. Melainkan, ulah jahat dari penghamba iblis.”


“Iya, Pak Dokter. Hmmm, Mak tak tahu harus menceritakan ini atau tidak,” Ijah ragu-ragu, lantas ia memaksakan diri, “ini rahasia, jangan sampai ada yang tahu,” ucapnya serius.


Atang dan Ilyaz tampaknya benar-benar penasaran, mereka tak lepas memandang.


“Insya Allah, Mak. Saya tidak akan bicara apa pun pada orang lain,” ujar Ilyaz.


“Mak pernah lihat ruangan rahasia di rumah Pak Lurah dan...,” Ijah bergidik.


“Ada apa, Mak?” Atang makin penasaran dan mimiknya malah ketakutan.


“Di dalam ruangan itu, Mak menemukan kain kafan lusuh dan tanah kuburan yang baru saja diambil dari pemakaman Pak Aryo. Saat itu, kebetulan hari pemakamannya,” lanjut Ijah.


“Untuk apa Lurah Hamid mengambil tanah kuburan? Saya sempat melihatnya juga mengambil bantalan tanah kubur Anto,” kata Ilyaz ikut terbawa cerita.


“Iya, Dok. Saya juga sering lihat Pak Lurah ambil tanah kubur. Kalau ada warga yang tanya, pasti bilang, tidak usah ikut campur,” ucap Atang polos.


“O ya, Mak. Arum, bagaimana keadaannya? Saya pikir lebih baik dibawa ke kota. Di sana bisa dirawat di rehabilitasi mental.”


“Keadaannya sama saja, Pak Dokter. Saya sangat kasihan sama Neng Arum. Kematian ust. Aslam membuatnya terpukul berat. Apalagi, setelah dipaksa menikah dengan Pak Lurah.” Ijah mendelik, wajahnya menyiratkan keraguan, “kemarin, saat mengantar Neng Arum, Mak tidak sengaja mengintip ruangan itu. Di dalamnya..., Mak lihat orang tinggi besar, hitam. Pakaiannya serba putih, lusuh. Matanya merah, menatap. Mak sampai panas dingin lihatnya.” Ijah gugup, keringatnya basah di kening


Atang merapatkan diri ke sisi Ijah setelah mendengar pangkuan itu. Sedangkan, Ilyaz terbengong. Keyakinannya bertambah kuat, kejadian mengerikan di desa ini memang ulah seseorang yang bersekutu dengan iblis.


**


Angin malam berembus semakin dingin, sedangkan bulan bersinar cukup terang. Namun, suasana desa sangat hening, hanya lolongan anjing liar dan nyanyian hewan-hewan malam yang terdengar nyaring dari luar.


Di ruangan yang dipenuhi aroma dupa dan wangi-wangian sejenis kemeyan, dua orang duduk bersila, menghadap pada bayangan hitam tinggi besar, menunduk.

__ADS_1


“Korban tahun ini baru satu orang, kamu masih harus menyediakan dua orang lagi sesuai perjanjian kita,” ucap sosok itu.


“Saya mengerti, Ki. Korban berikutnya Atang, anak Mak Ijah. Saya sudah tandai sebagai tumbal,” ucap orang yang menunduk di belakang satu orang lainnya.


“Ho, tumbal berikutnya Atang? Malam ini, empat panglima pengawalku akan menjemputnya.”


“Iya, Ki. Kemarin malam Atang menang kupluk, tinggal dijemput saja.”


“Hihihi, aku suka dengan caramu memberikan tumbal. Semua korban, kamu beri kesenangan dengan permainan dadu itu. Tahun ini akan kuberikan kekayaan yang lebih banyak lagi.”


“Terima kasih, Ki. Orang-orang di pemerintahan pusat, mereka mulai curiga. Saya ingin, Ki Ageng bantu saya agar terbebas dari kecurigaan itu, buat orang-orang pusat melupakan kasus-kasus itu.”


“Itu mudah. Abdi-abdiku melaporkan kalau di desa ini ada orang yang berani mengusik wilayahku,” suaranya mengerikan, menggeram dengan parau.


“Siapa, Ki? Akan saya bereskan,” ucapnya.


“Pasti yang dimaksud Ki Ageng, orang kota itu,” ucap satu orang lagi yang duduk di barisan paling depan.


“Dokter Ilyaz?”


“Iya, siapa lagi orang asing yang ada di desa ini. Ia juga yang terus memaksa membuka kembali musala itu dan mengajak warga untuk kembali beribadah,” ujar orang yang duduk di depan.


“Namanya Ilyaz? Aku ingin, ia tumbal berikutnya. Orang yang sangat berbahaya, bisa jadi penghalang kekuasaanku. Bila berhasil, akan kupenuhi semua permintaan kalian.”


“Baik, Ki. Akan saya penuhi permintaan Aki, Dokter Ilyaz akan menjadi penyempurna tumbal tahun ini.”


“Hihihi, aku menunggu janji kalian. Sekarang, kuperintahkan empat pengawal menjemput tumbal bernama Atang.”


Satu dari orang yang duduk, maju ke depan membawa sesuatu, diletakkannya bawaan tersebut dekat bayangan hitam jangkung.


Sebuah bungkusan kecil dari kain kafan, isinya gumpalan tanah bercampur dengan taburan bunga rampai. Kemudian, orang tersebut melafalkan mantra dan menaburkan serbuk dupa ke dalam bara arang. Asap mengepul dari serbuk dupa yang terbakar. Seketika tercium aroma khas memenuhi ruangan. Mantra pemanggil pocong dilafalkan, setelah selesai, angin kencang dan dingin berembus.

__ADS_1


Gemuruh angin terdengar mengetuk-ngetuk jendela kayu yang ada di ruangan itu. Kemudian, dari luar tercium bau busuk yang menyengat, hampir membuat muntah orang yang ada. Wangi dupa yang tadinya mendominasi aroma ruangan, hilang berganti bau daging busuk yang tercium. Tak sampai di sana, ruangan itu terasa menjadi sesak, terasa ada kehadiran empat orang yang tak terlilhat pada awalnya. Lalu setelah beberapa lama, kabut asap putih tipis muncul, membentuk empat pocong berdiri di depan dua orang yang sedang duduk.


“Malam ini kalian jemput Atang, tumbal selanjutnya,” ucap bayangan hitam yang dipanggil Ki Ageng Mayitan.


“Baik Ki, kami laksanakan perintah Ki Ageng,” ujar mereka lalu berubah menjadi kabut putih tipis dan lenyap dari ruangan itu.


Kabut putih tipis melayang terbawa embusan angin dingin yang mencekam, diikuti lantunan nyanyian anjing-anjing liar yang melolong memecah malam, menambah rasa ngeri pada atmosfer desa.


Sepasang mata memperhatikan mereka, tubuhnya benar-benar menggigil ketakutan. Sebisa mungkin, tenggorokan ditahan untuk tidak bersuara agar keberadaannya tidak disadari. Ia kemudian menyudahi aksi memata-matai kegiatan para penghuni ruangan beraromakan wewangian dupa. Apa yang diinginkan sudah didapat.


**


Jam di dinding menunjukkan pukul 01.48, waktu dini hari yang membuat warga semakin nyenyak dalam tidur. Atang ikut terlelap dalam dinginnya udara malam.


Kabut tipis terbawa angin menuju rumah berbahan bilik bambu, berkerumun di atas atap rumah itu lalu berubah wujud menjadi empat sosok mengenakan kain kafan yang terikat lima tali. Mereka membawa keranda mayat di pundak, trokkk trokk trokk, suara itu terdengar Ilyaz ketika keempat sosok itu turun dari atap dan berjalan mengelilingi rumah.


Ilyaz tersadar dari tidur, telinganya amat peka menangkap suara ganjil dari luar rumah dengan konsentrasi, memusatkan pendengaran sambil bibir berkomat-kamit. Derap kaki halus, menimbulkan hentakan yang membuat bulu kuduk merinding dan jantung berdetak lebih cepat. Apa mereka sudah datang? Trokk trokk trokk, berulang-ulang hentakan yang sama terdengar. Kemungkinan suara itu berasal dari keranda mayat yang diusung


Mereka berkeliling dengan membawa keranda mayat, memeriksa satu per satu ruangan yang ada dari luar.


“Di mana kamarnya?” sebuah suara berhasil didengar Ilyaz.


“Ada di sana! Alat ukur, tali dan kain kafannya sudah dibawa?” suara lain turut terdengar.


“Ada, tinggal dijemput saja. Kita masuk lewat celah jendela.”


Jantung Ilyaz semakin kencang memompa darah, deg-degan luar biasa dengan apa yang didengar. Dokter itu memahami apa yang akan terjadi selanjutnya.


Derap langkah halus yang didengar, berjalan menuju arah sisi ruangan lain kamar. Otak Ilyaz memikirkan sesuatu, dengan penuh kecemasan, dokter itu memikirkan prediksi kejadian selanjutnya. Ia yakin langkah itu menuju kamar Atang.


Buru-buru ia melompat dari ranjang, tanpa berpikir takut beranjak menuju tempat tumbal berikutnya. Ruangan dekat dapur, Atang tidur di sana. Langkahnya segera ke tempat tujuan. Kain yang berfungsi sebagai pintu kamar, disingkapkan.

__ADS_1


“Astagfirullahadzim!” sentaknya dengan mata terbelalak.


__ADS_2