
Suara Ijah berubah serak dan ada tangisan yang terdengar dari perkataannya. Memilukan dan mengerikan nasib yang diterima ust. Aslam. Atang ikut larut merasakan kesedihan Mak Ijah.
“Lalu apa lagi yang terjadi, Mak?”
“Ustaz Aslam tetap sabar dengan fitnah itu. Emak dan Atang diam-diam selalu memberinya makanan dan air untuk bertahan hidup. Tapi ternyata, itu kekeliruan. Warga malah menyangka ust. Aslam memiliki ilmu hitam yang tahan dengan siksaan. Beliau divonis mati dengan menggantungnya di dalam musala.“ Tangisan Ijah terdengar kencang.
“Astagfirullahaladzim, innalillahi wainna ilaihi rajiun, nahas sekali nasib Aslam,” tutur Ilyaz menghela napas.
“Kemudian setelah kejadian itu, muncul peristiwa aneh, Dok. Di musala itu sering terlihat pocong yang katanya itu arwah ust. Aslam yang penasaran. Ia ingin membalas kematiannya, Pak Dokter,” sela Atang.
Ingin percaya dan juga tidak. Ilyaz tak mau gegabah untuk mengiyakan semua cerita mistis yang ada di musala itu. Ia harus berlaku bijak. Pemikirannya lebih mengedepankan kepercayaan akan realita daripada hal-hal yang bersifat klenik.
Makan pagi Ilyaz sedikit lama tertunda. Cerita kenahasan ust. Aslam, semakin membuatnya ingin tahu kelanjutan dari kutukan desa ini.
“Jadi, pocong yang ada di musala itu, arwah ust. Aslam?” tanya Ilyaz.
“Demi Allah, Pak Dokter! Mak yakin itu bukan ust. Aslam. Mak yakin itu adalah fitnah orang yang keji.” Ijah membela nama baik ust. Aslam.
Dokter Ilyaz sedikit mengembangkan bibir. Rasa haru dan bangga menyertai senyumannya pada Ijah.
“Atang juga sama, Mak. Tak percaya bila pocong yang ada di musala itu arwah penasaran ust. Aslam. Banyak warga yang jadi saksinya, Mak,” Atang bersikukuh dengan pendapatnya. “Dan setelah kejadian penampakan pocong di musala, warga jadi takut dan enggan untuk salat di sana. Terlebih setelah mereka meninggalkan salat, warga semakin ketakutan.”
“Ketakutan?”
“Banyak warga yang meninggal dengan cara yang sama seperti ust. Aslam. Mayat Anto, itu contohnya,” jelas Atang.
“Warga desa kemudian banyak yang pindah karena takut jadi korban kutukan arwah ust. Aslam,” sambung Ijah menjelaskan.
“Oh, saya baru tahu. Jadi, yang dimaksud penyakit kutukan itu adalah peristiwa ini?”
“Tidak hanya itu, Pak Dokter. Warga juga terserang penyakit aneh. Saat ust. Aslam masih hidup, banyak warga yang menderita semacam penyakit borok. Ustaz Aslam meminta bantuan dinas untuk kemari, tapi sayang. Saat itu, kejadian musala itu terlanjur terjadi,” ujar Ijah.
“Lalu, apa alasan warga tidak boleh menyalatkan mayat? Tadi, saat saya ingin menyalatkan almarhum Anto, warga malah bersikap tak mengenakkan.”
__ADS_1
“Itu karena menurut Pak Ismat, kutukan ust. Aslam berlaku bagi siapa saja yang mati tak wajar akibat kutukan itu. Orang yang terkena kutukan itu harus dimakamkan dengan cara yang sama seperti ust. Aslam,” jelas Ijah.
“Pak Dokter lihat sendiri, ‘kan? Bagaimana bisa mayat bergerak sendiri saat disalatkan?” kata Atang.
Ilyaz terpaku mengingat kejadian aneh saat hendak menyalatkan jenazah Anto. Mayat Anto bergerak sendiri tatkala ia memulai salat jenazah.
“Benar begitu, Pak Dokter?” tanya Ijah.
“Iya, Mak. Jenazah Anto bergerak-gerak.”
“Itu karena saat ust. Aslam meninggal, warga malah menghinanya. Mereka enggan mengurusi jenazah ust. Aslam dan menguburkannya layaknya kucing mati.” Kekesalan sangat terasa dari mulut Atang.
“Astafirulllah subhanalllah, tega sekali. Padahal, ada hak mayat yang wajib diselenggarakan oleh yang masih hidup.” Ilyaz benar-benar miris mendengarnya
Obrolan tentang kutukan musala membuat ketiganya lupa menyantap makanan yang ada di piring dan berubah dingin. Mereka diam sejenak. Keadaan hening di atas meja. Topik pembicaraan ketiganya sudah habis. Ijah mulai menyuapkan makanan. Tangan-tanganya yang keriput kehitaman mencocol nasi di piring. Atang dan Ilyaz mengikuti. Mereka melupakan sejenak tentang kutukan musala desa Suka Asih.
“Pak Dokter? Apa sebaiknya, nanti malam Pak Dokter menginap di rumah kami saja?” tawar Ijah.
“Tidak terima kasih, Mak. Di sini juga enak, Mak.”
“Takut apa Tang?”
“Eh, itu....”
“Sudah, jangan aneh-aneh!” sanggah Ijah. “Pak Dokter kalau ada apa-apa, ke rumah kami saja. Kami senang kalau Pak Dokter menginap.”
“Insya Allah, Mak. Saya nanti akan ke rumah Mak Ijah bila dibutuhkan.”
“Wah, Pak Dokter memang pemberani. Saya kagum,” ucap Atang memuji.
“Kamu bisa saja, Tang. Setelah ini, Mak Ijah mau ke perkebunan Lurah Hamid, ya?”
“Iya, Pak Dokter. Atang dan saya jadi kuli di sana. Lumayan, buat tambahan keperluan sehari-hari.”
__ADS_1
“Saya juga mau ke tempat Pak Lurah, Mak.”
“Ya, sekalian saja Pak Dokter. Jam-jam ini, Lurah Hamid masih di rumahnya,” ucap Atang.
***
Rumah dengan arsitektur campuran. Belanda dan tradisional jawa sungguh sangat megah di tengah lahan perkebunan. Halaman yang terhitung luas dengan tatanan rapi dihiasi tanaman-tanaman perdu.Tampak depan sudah terlihat ukiran-ukiran jawa dari kayu mahoni tua. Elegan bernuansa tradisional. Kursi kayu bercat coklat memperlihatkan urat kayu halus sudah terlihat di beranda depan. Lantai rumah dari marmer berurat coklat senada dengan warna furnitur dari bahan kayu yang mendominasi rumah. Kontras sekali dengan keadaan rumah-rumah warga yang hanya berbahan bambu dan kebanyakan lapuk. Hamid menjadi orang satu-satunya yang paling kaya di desa Suka Asih ini.
Ilyaz takjub dengan selera arsitektur pemilik rumah. Penuh dengan daya khayal tingkat tinggi dan makna filosofi yang dalam. Ornamen-ornamen rumah bergaya klasik dan terkesan kuno yang menambah keartistikan rumah ini.
“Dokter Ilyaz? Silakan, Dok,” ucap Hamid.
Kebetulan sekali, Hamid masih duduk santai pagi ini. Ditemani secangkir kopi hitam beraroma kuat dengan beberapa makanan kecil di piring kecil. Ada uap yang masih mengepul di cangkir kopinya.
Kursi kayu jati ditarik, Ilyaz duduk santai.
“Maaf, Pak Lurah. Pagi-pagi saya menganggu. Ada sesuatu yang ingin saya mohon pada Pak Lurah.”
“Pak Dokter tidak usah sungkan. Pak Dokter butuh apa? Akan saya bantu.”
“Ini soal musala yang ada di desa ini.”
“Musala itu? Memangnya kenapa, Pak?”
“Kalau Pak Lurah mengizinkan, saya ingin memperbaiki musala itu dan mengembalikan fungsinya seperti semula.”
“Apa tidak salah, Pak? Musala itu, Pak Dokter tidak akan mengerti dengan kutukan musala itu. Kualat. Siapa saja yang berani mendekati musala itu, ia akan didatangi arwah penasaran. Saya tak bisa menjamin teror yang akan terjadi di desa ini kalau musala itu malah dibangun lagi.”
“Pak Lurah, apa Bapak benar-benar sangat percaya dengan hal-hal mistis seperti itu? Saya yakin, Bapak orang terpelajar di desa ini.”
Hamid terdiam mendengar jawaban Ilyaz. Ia memang orang terpelajar di desa ini, satu-satunya orang yang berpendidikan tinggi. Gelar pendidikan miliknya master dalam bidang pemerintahan, tapi keyakinannya mengapa harus berbau klenik dan di luar logika.
Hamid berpikir untuk menutupi keyakinan yang bisa saja merendahkan kedudukannya di depan Ilyaz. Ia tak ingin itu terjadi.
__ADS_1
“Ya, saya juga tidak begitu percaya, Pak Dokter. Saya selaku kepala pemerintahan di sini, ikut kearifan budaya dan adat kepercayaan yang ada di desa ini,” bantahnya.
“Justru itu, Pak Lurah. Kearifan adat desa ini harus diperbaiki. Warga butuh pencerahan akan hal-hal berbau mistis. Mereka memiliki agama dan kewajiban melaksanakan ajaran agamanya. Yang saya prihatin, justru warga malah sangat manut dengan kualat yang ada di desa ini.”