Tumbal Pesugihan Pocong

Tumbal Pesugihan Pocong
tiga belas


__ADS_3

Atang ingin tak mengacuhkan segala suara yang membuat tak nyaman. Namun tak berhasil, mata itu enggan memejam dan malah detak jantung semakin kencang. Nalurinya menangkap sesuatu yang membuat cemas dan merasakan ketegangan. Begitu juga telinga, kembali menangkap suara lain setelah benda berat bergerak hilang. Suara yang didengar kali ini, langkah kaki orang yang melompat di malam hari. Ia paham benar apa yang sedang didengarnya.


Keringat semakin dingin keluar. Tubuh seakan kaku saking gemetarnya, kegelisahan semakin membuat sulit untuk tidak terjaga. Hentakan kaki melompat terdengar ganjil, dekat, berada di samping kamar tidur. Tak tahu mendapat ilham dari mana, Atang baru sadar dengan posisi kamar tidur itu. Raungan ini tepat di samping, belakang musala.


Ia ingat dengan tempat penyimpanan keranda mayat yang terkenal dengan keanehannya.


Ah, sial di saat seperti ini, kenapa malah teringat keranda itu? Aku ingat, keranda itu bisa bergerak sendiri bahkan terbang tanpa ada yang mengendalikannya. Bisik hati Atang tercermin dalam pikiran. Dan sekarang, suara kaki melompat di hari buta? Ia pasti paham bila derap kaki itu bukan langkah kaki manusia. Mana mungkin ada manusia beraktivitas di pagi buta. Terlebih, saat menyadari bila kampungnya bukanlah tempat ramai, sudah pasti bukan juga warga yang berkunjung, mengingat kampung ini benar-benar terisolir.


“Tang, tolong... dingin,” sebuah suara memanggil dari luar. Atang kenal dengan suara itu, meskipun, sedikit berubah agak sengau, tetapi sangat mengenalnya. Pemilik suara itu, baru tadi pagi dikuburkan. Mata Atang dipaksakan terpejam, tetap tak bisa lelap. Telinga jelas menangkap suara Anto yang mati kemarin malam, memanggil namanya dan meminta tolong. “Tang, tolong. Dingin,” lagi, suara yang sama memanggil. Ia semakin menggigil terlebih ketukan terdengar dari luar.


Tok… tok, jendela kamar bergema.


Atang tak berani menjawab ataupun memastikan siapa yang memanggil dan mengetuk jendela. Nyalinya sudah habis termakan ketakutan yang mendera. Ia tak mau kalau harus berurusan dengan orang yang baru saja bangkit dari dalam kubur, sangat membuat syok. Rasanya ingin cepat-cepat bertemu pagi agar bisa segera melarikan diri dari ketakutan yang mencengkeram.


Atang tetap terjaga.


Suara yang memanggil namanya lenyap, benar-benar mengusik. Namun, langah kaki melompat-lompat lagi yang terdengar, bergerak ke belakang. Ke arah dapur yang berdekatan dengan letak MCK musala. Ia tahu persis letak-letak bagian pondokan desa. Langkah lompatannya menuju ke sana, kemudian berhenti. Keringat Atang tak hentinya mengalir, kegelisahan dan ketakutan semakin menguasai.


Suara langkah berhenti, berganti dengan derit pintu dari belakang pondokan. Kreeettttt, nada khas pintu kayu terbuka, Atang semakin gelapan dengan suara itu. Pintu belakang sudah pasti terkunci, dan mana ada tamu yang akan masuk dari arah belakang rumah. Maling? Ah, maling bodoh dan nekat saja yang mau membobol pondokan dekat musala terkutuk ini. Pondokan ini tak menyimpan benda berharga apa pun. Jadi, pasti yang memasuki pondokan ini bukan maling atau juga tamu, Atang meyakini pemikirannya.

__ADS_1


Ketika bantingan pintu belakang terdengar, Atang hampir melompat dari rebahnya. Jantung anak itu benar-benar dibuat melompat. Hentakan kaki melompat, kembali terdengar dan semakin mendekat, mengarah menuju kamar ini.


Atang buru-buru menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dengan ide itu, ia berharap bisa terhindar dari kunjungan tamu yang tak pernah diinginkan. Jantung masih keras berdetak, kegugupan tak bisa disembunyikan. Telinga malah sangat peka pagi itu. Pemuda itu menangkap suara langkah halus mendekati, langkahnya sama dengan langkah sosok yang mengikuti saat perjalanan ke pondokan. Dekat dan semakin dekat. Ingin berteriak histeris, tapi semuanya seolah terkunci. Tenggorokan serasa ada yang menghambat, susah mengeluarkan suara dan bertahan untuk tidak teriak atau itu malah akan memancing perhatian pemilik langkah, sebisa mungkin tidak memancing perhatiannya.


Si pemilik langkah berhenti.


Terasa sensasi dingin menembus kulit Atang. Perlahan, kain yang menyelimut tubuh pemuda malang itu tersingkap dari arah kaki. Ia merasakan sekepal tangan menempel di pergelangan kaki, dingin. Tangan yang menempel benar-benar dingin, memegang kuat dan tercium aroma minyak khas mayat.


“Tang, tolong. Dingin,” suara yang sama terdengar lagi, lirih dan parau. Atang semakin gemetaran. “Tang, tolong. Dingin,” kembali ia membisik di telinganya.


Atang terpaksa harus membuka mata. Ia tak bisa bertahan untuk terus bersembunyi di balik kain yang menyelimuti seluruh tubuh. Kain itu terus tersingkap dengan sendirinya. Perlahan mata itu terbuka. Walaupun, dengan napas yang menderu, menahan seluruh rasa takut, ia memastikan siapa yang telah menarik kain. Mata terbelalak ketika tahu pasti siapa yang ada di hadapannya.


“Tang, tolong. Dingin,” Anto memelas.


Namun, itu tak membuat Atang merasa iba. Ketakutan lebih menguasai dirinya.


“Po… po… poc pocong,” jerit Atang lalu tubuhnya lemas karena terguncang hebat hingga tak sadarkan diri.


Teriakan itu membangunkan Ilyaz dengan spontan, ia melompat dari rebahannya. “Astagfirullah, Tang?” pekiknya.

__ADS_1


Kemudian dengan cepat memeriksa keadaan Atang. Mata terbelalak dan terpaku sejenak saat kesadarannya menangkap sosok putih dengan dibalut kain kafan, menghilang dari hadapan dengan cepat. Ilyaz memeriksa dada Atang, telinga ditempelkan.


Denyutan jantung Atang cepat berdetak. Lalu, kedua kelopak mata itu dibuka, bola matanya hampir berada pada sisi putih seluruhnya. Sang dokter mengambil botol kecil minyak kayu putih. “Tang, sadar,” panggilnya sembari menciumkan botol itu.


Atang menunjukkan reaksi.


Mata yang memutih dan tertutup, mulai terbuka. Agak kaget, kebingungan dengan yang terjadi. Air mukanya menunjukkan kepenasaran sekaligus kepanikan.“Dokter, di mana? Di mana pocongnya?” Atang gelapan dengan keadaan sekitar.


“Tenang, Tang. Tidak ada apa-apa.”


“Tapi tapi, tadi pocong. Arwah Anto datang dan...,” matanya melirik ngeri, “Pak Dokter, Anto masih ada di sini? Kutukan itu ternyata benar,” wajah itu benar-benar pucat dan air mata membasah karena ketakutan.


“Tang tenang, tidak ada apa-apa. Tadi itu hanya bayangan ketakutan kamu saja. Sebelum tidur, kamu cerita tentang kutukan itu, kamu lupa berdoa. Sekarang, kita lebih baik berjamaah salat sunat sambil menunggu waktu subuh. Kamu terlalu larut dengan rasa takut,” kedua tangan Ilyaz memegang bahu Atang.


Ketakutan Atang sedikit berkurang, ia mulai tenang. Lalu berpikir, apa yang dikatakan dokter itu ada benarnya. Pikirannya terlalu fokus dengan cerita-cerita seram kutukan musala sebelum tidur. Pemuda itu lupa dengan kekuatan Tuhan yang akan menjaganya dari gangguan iblis. “Mungkin, Pak Dokter ada benarnya,” ujarnya.


“Bagaimana kalau kita ambil air wudu dan berjamaah?” tanya Ilyaz berusaha santai dan menganggap tak terjadi apa-apa. Padahal sebenarnya, ia sempat melihat sosok terbungkus kafan dengan lima ikatan saat terbangun dengan jelas, persis di sebelah Atang. Namun, sang dokter tak akan membuat semuanya menjadi sangat menakutkan dan kacau balau. Dokter itu cukup tenang untuk mengendalikan keadaan agar tak terlalu bernuansa menyeramkan. Cukup tadi saja dengan kehisterisan Atang yang membuatnya tak sadarkan diri.


Jangan sampai arwah penasaran itu merasa menang dengan teror menakutkan. Ilyaz menyakini bila kedudukan manusia lebih mulia dari arwah penasaran yang dianggapnya hanya fitnah yang disebarkan sosok iblis. Tidak mungkin orang yang telah mati bisa berkeliaran di dunia manusia. Mereka sudah tak memiliki urusan apa-apa lagi dengan orang-orang yang masih hidup.

__ADS_1


__ADS_2