Tumbal Pesugihan Pocong

Tumbal Pesugihan Pocong
dua puluh lima


__ADS_3

Dua orang di dalam ruangan, jelas kaget. Obrolan mereka ada yang mendengarkan. Diperiksanya, tak ada siapa pun, hanya piring hiasan yang tergeletak di lantai. Matanya memastikan dan mencari orang yang mencuri dengar, lalu membuka sebuah ruangan yang sangat tertutup. Seseorang sedang tertawa-tawa kemudian ketakutan.


“Poc... pocong pocong,” teriaknya.


“Ah, tidak mungkin. Ruangan ini terkunci, tidak mungkin keluar,” gumamnya. “Diam, wanita gila!” umpatnya mengunci kembali kamar lalu ke ruangan dengan cahaya temaram.


“Apa yang terjadi?” tanya satu orang yang menunggu di dalam ruangan.


“Piring perak jatuh. Mungkin karena tikus atau tertiup angin, maklum, setiap kedatangan Ki Ageng atau anak buahnya, pasti selalu ada angin kencang,” ucapnya.


Tak lama, angin kencang terdengar mengetuk-ngetuk jendela ruangan. Sebuah cahaya membentuk bayangan tinggi besar jatuh di depan mereka.


“Arghhh,” pekiknya.


“Apa yang terjadi, Ki?”


“Mereka bukan orang sembarangan. Mereka memiliki kesaktian yang hampir seimbang denganku,” ucapnya geram.


“Yang benar, Ki?”


“Aku tadi menemui mereka untuk memperingatkan agar tidak mengusik wilayah kekuasaanku. Mereka sama sekali tak takut.”


“Ini bahaya, Ki.”


“Secepatnya kalian usir, aku tidak ingin kerajaanku hancur dan harus tunduk pada mereka.”


“Baik Ki, secepatnya akan kami lakukan. Kami juga tidak ingin junjungan kami, meninggalkan kami.”


“Hahaha, bagus sekali. Aku senang dengan pengabdian kalian. Kalian memang abdi setiaku.”


Gelegar tawanya benar-benar mengerikan. Namun, itu tak membuat kedua manusia penghamba iblis itu ketakutan. Mereka malah turut tertawa bersama-sama dengan tuannya.


****


Musala diramaikan dengan bacaan zikir dan lantunan ayat-ayat alquran. Warga yang tak sadarkan diri, sudah mendapatkan kembali kesadarannya setelah mendapatkan rukyiah untuk menetralisir pengaruh energi negatif yang menyerang. Warga mulai tenang dan ikut berzikir bersama yang lainnya secara khidmat.


Ilyaz dan kyai Tapa duduk berdua di salah satu sudut musala mendiskusikan sesuatu.

__ADS_1


“Nanda Ilyaz, penyakit yang menyerang warga ini ada kaitannya dengan penyakit dari makhluk gaib. Alhamdulillah sudah teratasi, hanya penyakit lahiriahnya saja yang harus diobati,” ujar kyai Tapa.


“InsyaAllah, Pak Kyai. Saya akan meminta bantuan pusat untuk segera mengirimkan bantuan medis. Desa ini juga membutuhkan perawatan medis. Bagaimana dengan perjanjian itu? Apa kita bisa membuktikan bila kutukan yang menjadi kepercayaan mereka disebabkan adanya orang yang bersekutu dengan Ki Ageng Mayitan?”


“Yakin saja Nanda Ilyaz dengan kebesaran dan petunjuk dari Allah. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa ditunjukkan kebenaran.”


“Tapi..., batas waktunya hanya dua minggu, Pak Kyai dan lima hari lagi, waktu itu akan berakhir,” Ilyaz sedikit cemas dengan vonis dari Hamid.


Kyai Tapa tak pernah melepaskan senyumnya, “Nanda Ilyaz yakin dengan kekuasaan Allah ‘kan? Nanda Ilyaz fokus saja pada penelitian yang menjadi tugas utama, penyakit yang mewabah, itu harus segera diatasi sebelum menjadi bencana di desa ini.”


“Ya Pak Kyai, sedang saya teliti, besok pengumpulan beberapa sampel air dari sumur-sumur serta observasi kebiasaan warga dalam hal kebersihan mereka.”


“Nanda Ilyaz fokus saja, biar masalah kutukan di desa ini suatu saat akan terungkap dengan sendirinya,” kyai Tapa mantap tanpa ada rasa ragu yang mengelayuti.


Ilyaz mendapatkan energi keyakinan, semua urusan di luar nalar disingkirkan, penelitian itu harus segera dilaporkan ke dinas. Hal mistis yang terjadi di desa ini, cukup jadi pengalaman saja.


Dua hari ini, Ilyaz disibukkan dengan pengambilan sampel dan keluhan penyakit kulit yang menyerang. Kondisi warga semakin parah, bercak-bercak yang tumbuh, berubah menjadi cairan nanah, kulit busuk mengeluarkan cairan hijau dan ketika pecah baunya menyengat.


Warga cemas dengan keadaan ini karena penyakit itu menular hampir ke semua anggota keluarga, bayi sampai orang tua tak luput dari borok yang menyerang. Mereka kembali yakin, penyakit ini kutukan dari Ki Ageng Mayitan. Keadaan jadi panik dengan wabah penyakit mayat busuk.


“Kalian rasakan sendiri ‘kan, ini akibatnya melanggar kutukan itu, kualat!” Ismat lantang mengumandangkan unek-uneknya.


“Lalu bagaimana mengatasinya, Pak Lurah. Keadaan ini semakin parah,” ucap warga.


“Sesuai adat. Kita harus menumbalkan orang yang menyebabkan kutukan itu terjadi, dokter itulah beserta tamu-tamunya penyebab semua ini. Lihat orang-orang yang ikut ajaran sesat mereka, kena penyakit itu ‘kan? Sedangkan, yang tidak mau percaya, lihat, apakah terserang?” ujar Hamid.


Warga saling pandang dan berbisik, mengamati sebagian warga yang baik-baik saja, tak terkena penyakit kulit yang melanda sebagian yang lainnya.


“Benarkan kataku? Kalian itu ngeyel. Tidak ada cara lain, kita harus adili dokter sok tahu itu bersama tamu-tamunya yang hanya membuat bencana di desa kita seperti halnya Aslam. Mereka itu menyebarkan sihir untuk mengembalikan kutukan si Aslam. Apa kalian sadar? Ajaran mereka sama seperti Si Aslam, ajaran sesat,” Ismat semakin membakar kecurigaan warga.


“Apa benar, Pak Ismat? Mereka mengajarkan ajaran agama, Pak,” protes satu warga.


“Kamu itu sedang dibodohi, coba kamu ingat-ingat! Sebelum mereka datang, desa ini aman, arwah penasaran saja yang menjadi ketakutan kita. Itu wajar sebab mereka mati akibat kutukan musala itu. Sekarang, selain kutukan itu, kita harus menderita dengan penyakit mayat busuk ini. Apa kalian tidak curiga dengan semua itu?”


Warga terdiam sejenak.


“Kalian masih ragu? Kalian mau jadi korban selanjutnya setelah menderita penyakit kutukan ini, seperti yang dialami Pak Aryo dulu?” ucap Hamid lantang dan menggebu-gebu.

__ADS_1


Warga kembali berpikir dan lantas kompak bersuara, serentak. “Tidak Pak Lurah.”


Hamid tersenyum puas, “bagus. Sekarang kita adili dokter Ilyaz untuk tanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya. Setuju?” teriak lurah Hamid memanas-manasi warganya.


Mereka mengiyakan, menyetujui saran dari Hamid tanpa berpikir panjang.


**


Di istana Ki Ageng Mayitan.


Tangisan, teriakan, jerit ketakutan dan kesakitan terdengar di mana-mana, orang-orang berteriak-teriak nyeri mana kala sosok-sosok prajurit berwujud pocong melecutkan cambuk pada mereka yang dipaksa bekerja tanpa henti. Ada yang menangkat batu, menarik gerobak berisi material berat, menjadi kuda untuk menarik pasukan yang ada, bahkan yang lebih membuat miris, sebagain dijadikan pijakan, berjajar layaknya batang pohon yang dijadikan jembatan.


Atang amat ketakutan dengan pemandangan itu. Ia terus menangis tak tahan dengan penyiksaan yang dilihat.


“Emak...,” rengeknya, “Atang takut.”


Tangisan itu tak ada yang memedulikan. Semua orang sibuk dengan siksaan yang diterima.


Atang dibawa untuk di hadapkan pada Ki Ageng Mayitan yang duduk di singgasana berbahan batu hitam. Sepanjang perjalanan, ia melihat orang-orang yang dikenalnya, merintih-rintih, meminta tolong dan menjerit.


“Pak Kasim, Anto?” gumam Atang.


Mereka melambai-lambaikan tangan hendak meminta tolong. Namun, Atang tak bisa berbuat apa-apa untuk itu.


“Ini Ki, tumbal kedua,” ujar seseorang berlutut ketika menghadap sosok tinggi besar hitam.


Mata Atang lebih ngeri melihat sosok itu ketimbang para pengawal yang ada. Ia memakai pakaian serba putih dengan wajah hitam legam yang hanya berupa tengkorak bermata merah menyala.


“Kamu memang abdiku, pengabdianmu akan aku hargai. Aku sudah menyiapkan hadiah besar,” ujar Ki Ageng Mayitan.


“Terima kasih, Ki,” ucapnya undur pamit. Namun sebelumnya, ia menghadap Atang, “Tang, kamu di sini harus melayani Ki Ageng Mayitan. Kamu akan dijadikan budak, selamanya. Sebentar lagi waktumu habis untuk berkeliaran di alam manusia,” ia menyeringai senang.


“Bapak tega! Apa salah Atang?”


Orang itu tak menggubris, malah tertawa senang lalu pergi dari kerumunan.


“Bawa ke tahanan. Kurung sampai sukmanya tak bisa kembali,” perintah Ki Ageng Mayitan, suaranya sangat menggelegar.

__ADS_1


Atang meronta-ronta melawan. Namun, sia-sia. Ia diseret, dibawa ke tahanan untuk dikurung selama empat puluh hari agar sukmanya benar-benar tidak bisa kembali. Pemuda kurus itu menangis sejadi-jadinya, tetapi tak ada siapa pun yang menolong.


__ADS_2