Tumbal Pesugihan Pocong

Tumbal Pesugihan Pocong
tiga puluh (ending)


__ADS_3

Ilyaz ikut tersenyum dengan pertemuan Atang dan Ijah.


“Alhamdulillah, Allah menunjukkan kebenarannya. Selama ini warga dibohongi dengan fitnah kematian ust. Aslam yang membawa kutukan. Tapi, ternyata itu semua permainan Pak Ismat dan Pak Lurah yang telah bersekutu dengan Ki Ageng Mayitan.”


“Apa Pak Dokter? Pak Lurah dan Pak Ismat pelaku pesugihan di desa ini?” sentak Ijah.


“Iya, Mak. Atang saksinya. Pak Lurah sengaja membuat judi kupluk sebagai jalan persaratan tumbal. Pak Lurah akan mengambil tumbal dari orang yang memenangkan judi itu, Mak.”


“Astagfirullahaladzim. Pantas saja, ketika ust. Aslam mendirikan mushola ini, pak Ismat dan Lurah Hamid begitu menentangnya.”


“Itu salah satu jebakan iblis dalam menyesatkan iman manusia pada Allah. Naudzubillah, semoga kita tetap dikuatkan dalam jalan keimanan, amin,” ucap kyai Tapa.


**


Malam beranjak pagi.


Warga dihebohkan dengan penemuan mayat Ismat dengan keadaan gosong terkena petir. Kondisinya benar-benar mengerikan, mata melotot dan mulut menganga menumpahkan rasa sakit yang amat saat nyawa itu tercabut dari raga. Mayatnya ditemukan di rumah Hamid, di ruangan khusus, tempat mereka memanggil Ki Ageng Mayitan.


Hamid ketakutan melihat mayat rekannya yang menghitam. Namun, ia juga terlihat sangat marah dengan kematian Ismat.


Di sana hanya ada Arum.


Sebelum Hamid mendapati kematian Ismat, di ruangan itu terjadi suara gaduh dan bunyi ledakan yang keras. Arum sempat melihat kejadian yang membuatnya juga ngeri saat mengintip. Dalam ruangan itu, Ismat duduk bersila dengan mata terpejam lalu seketika dari tubuhnya keluar asap putih dan hawa membakar. Ia sempat merintih kepanasan lalu meledak dan terlempar, dan akhirnya jasad menghitam dengan luka bakar hebat.


Arum segera berlari meninggalkan ruangan itu agar dapat segera menyelamatkan diri. Ia menemui Kyai Tapa di musala.


“Neng Arum?” Ijah keheranan.


“Assalamualaikum, Pak Dokter,” ucapnya, “tolong Pak Dokter, di rumah itu... Ismat,” air muka Arum ketakutan.


“Ada apa sama Pak Ismat?” Ijah menyela.


“Mati mengenaskan, seluruh tubuhnya hitam terbakar.”

__ADS_1


“Innalillahi wa innailaihi rajiun,” sentak semuanya hampir bersamaan.


Ilyaz bersama yang lainnya ke tempat Arum untuk mengurusi Ismat yang ditemukan sudah tak bernyawa. Warga sangat ketakutan dengan kondisi mayat yang tak wajar. Kerumunan warga datang lebih awal dari rombongan dokter itu.


“Ini semua pasti karena kutukan musala itu. Tak bisa dibiarkan, korban sudah berjatuhan dan semua ini karena ulah Dokter Ilyaz dan Kyai itu!” tuduh Hamid ketika mereka baru tiba.


Warga dengan penuh emosi menatap tajam orang-orang yang baru saja menginjakkan kaki di rumah itu.


“Bohong, itu semua fitnah!” ucap Arum dengan lantangnya.


Warga terkesiap kaget dengan kemarahan Arum. Wanita yang dianggap gila itu, dengan tegas dan lantang bersuara di depan orang banyak. Dengan langkah terseret, Arum pasang badan membela Ilyaz dan tamu-tamunya.


“Apa yang kamu bicarakan?” ujar Hamid jelas terkejut dengan kelakuan Arum. “Jangan dengarkan wanita gila ini, kalian percaya dengan orang gila?”


Sorot mata Arum menatap tajam, menantang, “aku tidak gila, Hamid! Selama ini aku pura-pura gila supaya bisa membongkar semua kejahatan dan persekutuanmu dengan iblis itu!”


Hamid terdiam, terkesima dengan hentakan suara Arum yang meninggi.


“Benar, Neng Arum tidak gila. Mak, berani sumpah,” ujar Ijah.


Warga berbalik, mereka melemparkan tatapan penuh marah pada Hamid. Orang-orang desa tersulut emosi dan ingin sekali menghakimi lurah itu.


“Jangan menuduh sembarangan!” sentak Hamid membela diri.


“Aku menuduh sembarangan?” balasnya. “Siapa yang sudah memperkosaku di musala itu? Kamu, Hamid. Aslam...,” ia terisak, “hanya jadi korban fitnah agar kamu bisa merebut kekuasaannya dan juga menguasai kekayaan ayahku!” Wanita itu mengalihkan pandangannya pada kerumunan warga, “kalian periksa saja ruangan itu! Di sana tempat untuk melakukan ritual tumbal dan persekutuan dengan siluman.” Warga melirik ke arah ruangan yang ditunjuk, mereka hendak memastikan kebenaran tuduhan Arum.


Hamid pucat pasi. Entah ada dorongan apa, ia mengambil langkah untuk melarikan diri dari kerumunan, secepatnya. Warga sadar dengan tindakan lurah itu, mereka hendak mengejar dan mengadilinya seperti yang telah dilakukan pada ust. Aslam.


Tiba-tiba saja.


Pintu ruangan yang selalu digunakan untuk ritual, terbuka sendiri dan membuat orang-orang di sekitarnya histeris ketakutan. Kabut putih muncul dari dalam dengan cepat menangkap Hamid yang lari ketakutan.


“Tolong!” jerit Hamid saat kabut putih itu menangkapnya kemudian diseretnya tubuh itu memasuki ruangan.

__ADS_1


Kain putih membaluti tubuh Hamid yang sudah seperti mayat dikafani. Kabut yang menyergap, berubah wujud menjadi empat sosok pocong yang mengelilinginya. Keempat pocong itu kemudian melemparkan tali di lehernya, mengekang begitu erat dan membuat tenggorokannya terasa amat sesak. Orang-orang yang menyaksikan hanya bisa bengong dan kaget setengah mati tanpa bisa melakukan apa-apa. Ia terus meronta-ronta kesakitan dengan tali yang mengikat kencang. Beberapa saat kemudian, tubuhnya kaku persis mayat korban-korban pesugihan yang menjadi tumbalnya, mata melotot dengan lidah yang mejulur disertai tanda hitam melingkar di leher.


Orang-orang histeris ketakutan dan menjauh dari ruangan. Namun, Ilyaz dan Kyai Tapa memberanikan diri untuk memeriksa keadaan.


“Bagaimana Pak Kyai?” tanya Ilyaz.


“Innalillahi wa innailahi rajiun,” kata itu saja yang terlontar dari Kyai Tapa.


“Innalillahi wa innailahi rajiun,” tutur Ilyaz diikuti oleh yang lainnya.


“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Arum saat memastikan kematian Hamid.


“Ini sudah takdir Allah. Pak Lurah sudah habis masa perjanjiannya dengan Ki Ageng Mayitan dan menjadi budak untuk perjanjiannya sendiri.”


“Percuma saja akhirnya, Pak Kyai. Bersekutu dengan siluman dan berbuat sesat, tapi pada akhirnya ia sendiri yang menjadi korbannya,” ujar Atang.


“Dunia ini adalah ujian dan iblis akan selalu menyesatkan manusia ke jalan yang tidak diridai Allah. Untuk itulah, Allah mengutus rasul-Nya dan menurunkan agama ini sebagai jalan keselamatan atas kesesatan iblis, mudah-mudah kita selalu berada di jalan Allah, amin,” ucap Kyai Tapa penuh dengan pesan kebijakan.


**


Desa Suka Asih.


Musala desa kembali seperti dahulu, warga sangat antusias kembali melakasanakan salat berjamaah di musala, mengaji, mendengarkan tausyiah dan belajar memperdalam keimanan mereka pada Allah.


“Pak Dokter kembali ke kota, ya?” ujar Atang menatap sedih.


“Iya Tang, tugas penelitian saya, alhamdulillah selesai,” senyum Ilyaz tulus.


“Ya... Pak Dokter tinggal di sini saja, Atang siap bantu, apa saja.”


“Ya tidak bisa begitu Tang,” Ijah ikut menyela, “Pak Dokter, kapan-kapan main ke sini lagi. Mak dan Atang pasti senang kalau Pak Dokter menginap di rumah kami.”


“InsyaAllah, Mak. Nanti saya kemari, di sini ‘kan sudah ada Kyai Tapa yang akan memberikan pengajaran,” ucap Ilyaz lalu bersalaman dan merangkul Atang dan Ijah. Tak lupa, ia juga bersalaman dengan kyai Tapa, “saya pamit.”

__ADS_1


Dokter Ilyaz kembali ke kota dengan hasil penelitian yang diharapkan. Ia melaporkan penyakit kulit yang melanda dan menjadi pandemi. Laporannya diterima dengan baik dan dinas pusat memberikan banyak bantuan untuk mencegah dan memperbaiki kondisi kesehatan warga desa Suka Asih.


__ADS_2