Tumbal Pesugihan Pocong

Tumbal Pesugihan Pocong
dua puluh satu


__ADS_3

Rumah dengan model setengah panggung, berdindingkan bilik bambu hitam, terasa penuh. Tamu-tamu sang dokter duduk di kursi yang ada, mengamati keadaan pondokan itu.


“Bagaimana, Pak Kyai?” tanya Ilyaz.


“Alhamdulillah, dengan izin Allah, energi negatif yang ada di rumah ini sedikit memudar. Pantas saja Nanda Ilyaz selalu diganggu dengan suara-suara aneh. Rumah ini rupanya masih memiliki hubungannya dengan musala yang ada di depan.”


“Ya, Pak Kyai. Rumah ini milik ust. Aslam, pendiri musala desa ini. Saya sudah menceritakan semuanya mengenai kutukan desa ini.”


“Takdir ust.Aslam memang mengenaskan, harus wafat dalam keadaan terfitnah.”


“Lalu, rencana Pak Kyai apa setelah ini?”


“Kita tidak boleh menyia-nyiakan perjuangan ust. Aslam dalam menegakkan kalimatullah di desa ini. Kita harus mengembalikan lagi kepercayaan warga desa untuk kembali menjalankan perintah Allah.”


“Ya, Pak Kyai. Saya paham.”


Suasana kampung sangat hening, seperti halnya malam-malam yang lalu, lolongan anjing liar dan hewan malam mendominasi suasana desa. Tak ada warga yang berani keluar semenjak magrib tiba. Ini adalah malam pertama kematian Atang, sama halnya saat kematian Anto, pasti arwahnya gentayangan.


Di rumah Ijah.


Ilyaz beserta tamu-tamunya turut mengaji, mendoakan kematian Atang dengan mengadakan tahlil, tak ada satu warga pun yang datang ikut serta. Pemilik rumah sibuk di dapur mempersiapkan sedikit makanan dan minuman untuk menjamu tamu-tamu, cukup dengan gelas berisi air teh dan sedikit makanan kampung yang disediakan Ijah. Hatinya gembira dengan kepedulian mereka yang mau mendoakan almarhum anaknya. Gelas kosong diisinya dengan air teh yang mengucur dari teko almunium yang sudah menghitam pada alasnya, uap panas mengepul di gelas.


Angin dari luar terdengar riuhnya, kencang berembus dan berhawa dingin.


Ijah menggidik-gidikan badan beberapa kali ketika menuangkan air teh di gelas. Ada hawa menggigil yang membuat bulu-bulu halus meremang, tapi tak terlalu dipedulikan. Dari arah luar bersamaan dengan embusan angin, terdengar langkah kaki melompat, mendekat. Kali ini tangan yang agak bergetar terlihat dari air yang dituangkan, bergoyang-goyang, sepertinya kedinginan atau mungkin pengaruh rasa takut yang menjangkiti setelah mendengar langkah melompat.


Suara itu berhenti di pintu dapur, lalu hidung Ijah menangkap bau bunga pekuburan secara samar-samar, bulu kuduk semakin berdiri setelahnya.


Tok tok tok, pintu dapur diketuk pelan, “Mak, tolong Atang. Dingin,” panggilan dari balik pintu terdengar jelas di telinga.


“Atang?” gumam mak Ijah mengenali suara anaknya yang baru saja mati tadi pagi.


“Mak, tolong Atang.”


“Tang!” panggil Ijah melangkah pelan.


Kepenasaran membawanya untuk memastikan siapa yang telah memanggil. Perlahan, tapi pasti, Ijah mendekat ke pintu dapur, meraih gagangnya yang hanya terbuat dari kayu jenjeng. Wanita itu memiringkan badan dan menempelkan telinga di daun pintu.


“Mak, dingin. Tolong,” rintih suara itu.


Ijah membuka kunci pintu yang hanya berupa slot dari besi, perlahan deritnya terdengar. Ia mengintip sedikit di balik celah pintu yang terbuka, tak ada siapa pun. Namun, suara itu jelas terdengar. Dengan keyakinan penuh, pintu ditutupnya, tak ada siapa pun di luar. Siapa yang meminta tolong, suaranya mirip Atang?

__ADS_1


“Mak, dingin. Tolong.” Ijah mendengar lagi suara itu, samar.


Namun, entah mengapa, jantungnya malah berdebar kencang dan keringat dingin keluar dari dahi. Seseorang yang sangat dekat berada di belakang, sadar bukan hanya ada ia di dapur. Namun, siapa? Dengan hati-hati, wanita itu berbalik melangkah sangat halus, melirik perlahan.


“Arrrghhh!” jeritnya histeris.


Tubuh itu langsung ambruk di tempat setelah memastikan siapa yang ada di belakangnya.


Jeritan Ijah terdengar sampai ruangan tengah. Ilyaz dan orang-orang yang sedang mengaji berlarian menuju arah teriakan.


“Astagfirullah, Mak! Apa yang terjadi?” ujar Ilyaz setengah kaget.


Spontan, Ijah yang terkapar di lantai yang hanya berlapiskan tanah diraih. Pergelangan tangannya diperiksa untuk memastikan denyutan nadi. Ilyaz mengambil minyak aroma terapi dari balik saku baju, diciumkannya pada wanita tua itu. Beberapa detik berlalu, terjadi reaksi, mata mulai terbuka, sedikit linglung dengan keadaan, pelipis dipijat-pijatkannya.


“Pak Dokter?” ucap Ijah agak kaget.


“Apa yang terjadi, Mak?”


“Pocong, Atang! Pak Dokter, ia jadi pocong. Tadi kemari.”


“Atang, Mak?” ucap Ilyaz keheranan. Kepalanya sedikit menengadah, mengawasi keadaan sekitar kemudian kembali lagi memandang Ijah yang masih terkulai, “Mak, coba tarik napas dalam-dalam. Tenang.”


“Atang, Pak Dokter... hiks,” suara histeris Ijah berubah jadi isak tangis.


Setelah minum, ia mulai agak tenang.


“Tadi, Mak dengar orang minta tolong, mirip sekali dengan Atang. Karena penasaran, Mak pastikan, tapi di luar tidak ada siapa-siapa dan setelah pintu kembali ditutup-” Ijah terhenti sejenak, rautnya tegang, “Atang di hadapan Mak, jadi pocong.”


“Astagfirullah, mungkin terlalu kelelahan, Mak dari pagi terus-terusan menangisi kepergian Atang. Sekarang, lebih baik istirahat saja di pondokan, ikut dengan kami agar ada yang menjaga Mak Ijah,” ajak Ilyaz.


***


Pondokan desa.


Ijah tak bisa tidur dengan kejadian yang dialami saat berada di rumah itu, jelas-jelas yang mendatanginya saat isya tadi, Atang. Yakin tak salah lihat, anaknya dengan ekspresi menyedihkan, meminta tolong kedinginan. Wanita tua itu berurai air mata saat mengingatnya, “Tang, apa yang terjadi sebenarnya? Mak sedih, arwahmu tidak tenang.”


Mata itu enggan terpejam karena pikiran yang terus terbayang Atang, padahal waktu sudah menunjukkan jam dua dini hari. Angin di luar kencang berembus, lolongan anjing liar menyertai. Lagi, Ijah menangkap langkah melompat, sama ketika sesaat arwah Atang muncul di dapur. Jantungnya berbedar keras karena tahu suara yang terdengar. Ia terperanjat dari tempat tidur dan cepat-cepat keluar kamar.


“Pak, Pak Dokter!” ucap Ijah agak keras disertai ketukan pintu yang membangunkan Ilyaz.


“Ada apa, Mak?”

__ADS_1


“Pak Dokter, Atang kemari. Mak dengar suaranya.”


“Masa, Mak?” tanya Ilyaz meragu dengan keyakinan Ijah.


“Benar, coba Pak Dokter dengar baik-baik.”


Ilyaz diam dan menuruti keinginan Ijah.


Trok trok trok, ia menangkap bunyi yang sama sebelum melihat Atang kaku di atas ranjang, sesaat berhenti dan kemudian ketukan pintu depan terdengar keras.


Ilyaz dan Ijah mengalihkan pandangan ke arah pintu.


“Pak Dokter, tolong. Dingin ,” seseorang di luar memanggil Ilyaz.


“Itu pasti Atang, Pak Dokter,” ujar Ijah sedikit menggigil karena rasa takut yang menderanya.


Ilyaz memberanikan diri untuk melangkah ke pintu depan, disusul Ijah yang tak lepas dari pegangannya pada dokter itu.


Pintu perlahan dibuka, deritnya terdengar agak pelan.


“Astagfirullahadzim,” sentak Ilyaz kaget. Di depan pintu, hadir sesosok mayat hidup terbalut kain kafan dengan lima ikatan.


“Pak Dokter, tolong. Dingin,” panggil Atang.


“Atang!” jerit Ijah, ekpresi takut berubah drastis jadi kesedihan.


“Tang, apa yang kamu inginkan?” cukup jelas kata-kata Ilyaz. Ia tak merasakan ketakutan yang berlebihan walaupun, tak bisa dibohongi bila jantungnya agak gugup.


Tamu-tamu Ilyaz terbangun dan bergabung. Mereka juga mengalami kekagetan yang sama.


“Pak Dokter tolong, dingin. Saya tidak mau dijemput ke istana Ki Ageng Mayitan,” ratapnya.


“Ki Ageng Mayitan?” Kyai Tapa ikut bertanya.


“Benar, raja siluman pemilik istana pocong yang ada di desa ini,” hentakan Atang masih terdengar meratap sedih.


“Tang,” panggil Ijah terisak.


“Dingin, Mak. Atang tidak kuat,” rintih Atang.


“Lalu, bagaimana kami menolongmu, Tang?” tanya Ilyaz.

__ADS_1


Wajah Atang hanya mengalirkan air mata, tak berbicara apa pun. Kesedihan dan kebingungan yang ditunjukkannya, membuat Ilyaz dan Ijah ikut merasakan.


“Baik, kami akan menolongmu, Insya Allah. Sekarang, pergi dulu dari sini dan jangan menganggu warga lain,” ujar Kyai Tapa.


__ADS_2