Tumbal Pesugihan Pocong

Tumbal Pesugihan Pocong
dua puluh tujuh


__ADS_3

Di atas meja yang mendadak disediakan, sudah tergeletak dua buah dadu beserta alat pengocoknya. Ilyaz duduk menghadap Hamid untuk bermain kupluk.


“Pak Dokter paham peraturannya?” tanya lurah Hamid basa-basi. Diam saja, Ilyaz tak selera menjawab pertanyaan itu, ia bukan seorang penggila judi dadu. Jadi, pertanyaan tadi terasa konyol di benaknya. “Peraturannya sederhana. Pak Dokter cukup menebak angka berapa yang keluar dari dadu, bila angka dadu tepat sesuai tebakan, Pak Dokter memenangkan permainan ini, mudahkan?”


Dadu di meja mulai dikocok. Jantung Ilyaz deg-degan, nasibnya ditentukan dengan kocokan dadu yang akan keluar. Tak henti-hentinya, Ilyaz berdoa, nyawanya benar-benar dipertaruhkan.


Hamid sangat semangat mengocok-ngocok dadu. Kecepatan tangannya lihai mengaduk-aduk dadu dalam alat pengocok berbentuk gelas tak transparan. Tak hentinya bibir Hamid mengumbar senyum puas melihat ekpresi sang dokter yang agak pucat.


Kocokan dihentikan.


“Berapa angka yang keluar?” tanya Hamid.


Tenggorokan Ilyaz turun naik, napasnya agak lambat menahan kegugupan yang ada. Ragu bercampur rasa tertekan tarik-menarik dalam benak. Jujur, ia tak tahu berapa angka yang keluar, hanya mengadalkan perasaan dan naluri tajamnya untuk selamat dari hukuman adat desa yang telah mengantarkan ust. Aslam pada kematiannya. Ilyaz serasa berada di ujung tanduk.


“Sepuluh,” tiba-tiba saja angka itu terucap, begitu saja. Entah mendapat bisikan dari mana, Ilyaz tidak cukup yakin dengan angka yang disebutkan.


“Anda yakin, Pak Dokter? Ini menyangkut hidup dan mati,” ujar Hamid lembut. Namun, efeknya cukup menghujam rasa ketakutan pada Ilyaz.


Wajah dokter itu semakin memucat, tenggorokan terasa kering sampai beberapa kali menelan ludah. “Sepuluh,” agak terbata-bata bercampur kepasrahan akan nasib yang menimpanya kelak. Lemas dan penuh harapan. Tak hentinya, hati Ilyaz berdoa agar benar-benar bisa selamat dari permainan konyol ini.


Bibir Hamid melebar, tangannya sengaja memperlambat membuka pengocok dadu. Kepuasan terlihat jelas di bibir Hamid melihat ketegangan yang ditunjukkan Ilyaz. Hamid mengintip sedikit dadu yang masih ada dalam pengocok.


“Oh, bersiap Pak Dokter, nasibmu akan segera ditentukan,” ujar Hamid.


Ilyaz memejamkan matanya sebentar, sudah harus pasrah dengan hasil yang akan ditunjukkan dadu di dalam pengocok yang baru seperempat terbuka.


Dengan cepat, pengocok dadu dibuka. Warga antusias melihat hasilnya, tepat atau tidak. Sesuai dengan tebakan dokter itu atau malah membawanya pada hukuman desa.


Mata Ismat hampir keluar setelah melihat hasilnya. Sangat kecewa, Ismat terdiam seketika, sedangkan Hamid tersenyum puas dengan hasil yang didapatkan dari kocokannya.

__ADS_1


“Huh, selamat Dokter Ilyaz, nasib baik masih menyertai Anda,” ucap Hamid.


Ilyaz setengah tak percaya, dibukanya mata yang terpejam.


Di atas meja, dua buah dadu menunjukkan sisi angka enam dan empat, tebakannya tepat. Doanya terkabulkan.


“Alhamdulillah,” pekik Ilyaz yang langsung bersujud syukur seketika itu juga.


Warga terdiam dan tak berani berkomentar.


Sesuai dengan kesepakatan, Ilyaz tidak berbohong. Warga percaya bila dokter itu bukanlah penyebab kutukan ini, sangat berbeda dengan dahulu yang menimpa ust. Aslam. Tiga kali kesempatan, semuanya meleset.


“Baiklah. Kami percaya dengan Pak Dokter. Kami akan memberikan kesempatan untuk menuntaskan wabah penyakit ini. Maaf telah mengganggu waktunya,” ujar Hamid.


Warga turut bubar bersamaan dengan kemenangan Ilyaz. Kelegaan dan rasa syukur tak hentinya dirasakan, ia lolos dari maut.


Di ruangan temaram.


“Kalian berhasil?” tanyanya.


“Berhasil, Ki Ageng bisa menjemputnya malam ini juga. Dokter Ilyaz sudah menyatakan kontrak dengan kita. Ia bersedia jadi tumbal,” ucap satu pengikutnya.


“Hihihi, kalian memang cerdik. Sesuai janjiku, apa yang kalian inginkan?”


“Saya hanya meminta naik jabatan. Di pemilihan yang akan datang, mohon Ki Ageng untuk mengarahkan warga agar memberikan hak pilihnya pada saya. Saya ingin mencolankan diri jadi bupati, dan Ki Ageng akan mendapatkan tumbal lebih banyak lagi. Desa ini sudah terlalu kecil dan penduduknya makin sedikit,” ucap satu orang yang duduk agak di belakang.


“Itu permintaanmu? Mudah sekali. Aku akan kerahkan anak buahku agar saat pemilihan nanti, orang-orang memilihmu.”


“Terima kasih, Ki Ageng. Saya akan selalu menjadi abdi setia Aki.”

__ADS_1


“Hihihi, aku senang memiliki abdi setia sepertimu, dan kamu sebagai juru kunciku, sudah kupersiapkan hadiah yang luar biasa. Kamu, aku angkat menjadi penasihat kerajaan dengan gelar Ki Adipati Pasomayit”


“Terima kasih, Ki Ageng. Saya sangat terhormat sekali mendapatkan posisi tersebut. Saya akan membawa lebih banyak pengikut dari golongan manusia untuk menjadi abdi setia Ki Ageng,” ucap yang satunya.


“Ya ya, aku suka bila banyak manusia yang menjadikanku sebagai pujaan dan sesembahan mereka. Kerajaanku akan semakin besar dan semakin dikagumi di kalangan bangsaku. Saat ini, penghalang kita adalah mereka-mereka yang kuat dengan keyakinannya pada Allah, Raja alam semesta. Mereka, manusia-manusia yang patut diwaspadai.”


“Kalau soal itu, kami akan mengaturnya. Dengan jabatanku nanti sebagai seorang bupati, sedikit demi sedikit kuhapuskan keyakinan dan menyesatkan mereka dari kepercayaan akan Allah. Tiada yang berhak dipuja selain Ki Ageng Mayitan, junjungan kami,” ucap satunya lagi.


“Hihihi, aku senang dengan rencanamu dan akan kudukung. Baiklah, sudah waktunya anak buahku menjemput tumbal. Hihihi, tumbal yang sangat berharga.” Bau dupa tercium. Asapnya terbawa embusan angin.


Mantera-mantera pemanggil terdengar lirih dari mulut salah seorang yang sedang duduk bersila. Mantera selesai dirafalkan, lalu kabut putih tipis hadir di hadapan mereka dan membentuk empat sosok pocong, melayang-layang.


“Kalian jemput manusia bernama Ilyaz,” perintah orang tersebut.


“Baik, kami laksanakan perintah Ki Adipati Pasomayit,” ujar keempat pocong yang baru saja tiba lalu kembali berubah menjadi kabut putih dan menghilang untuk menjemput korbannya.


****


Jam di dinding kamar menunjukkan waktu 01.48, ia terlelap dalam tidurnya. Hawa dingin yang menusuk berembus kencang, membuat dokter itu menggigil. Ada rasa aneh yang menyelimuti, gemetaran dan gelisah, tiba-tiba saja suasana hati amat gelisah meskipun, mata sedang terpejam. Kesadarannya ingin bangun, akan tetapi mata tak bisa terbuka. Aroma dupa bercampur bangkai busuk, samar tercium, semakin membuat sang dokter merasakan kegelisahan. Keringat dingin di tubuh dan dahi mengalir deras. Berulang kali, Ilyaz ingin membuka mata dan mulut, tapi semuanya sia-sia, susah sekali terbuka. Telinga mulai menangkap suara-suara aneh seperti yang pernah didengar saat di rumah Ijah, sebelum kematian Atang.


Trok trok trok, suara itu sudah bisa ditebak, keranda mayat yang turun dari atas atap dengan empat pocong yang mengusungnya. Tak sampai di sana, langkah kaki melompat juga turut mendekat, semakin membuat panik dengan keadaan yang tak kunjung juga bisa membuka mata atau menggerakkan kaki untuk lari dan sembunyi. Semuanya terasa ada yang mengikat, ia merasakan hawa keberadaan keempat makhluk itu dekat. Keringat semakin deras mengalir dan rasa gelisah semakin menjadi.


“Sudah diukur belum?” suara terdengar dari telinganya lirih.


“Sebentar, mana talinya?”


Ilyaz merasakan ada sesuatu yang menempel, panjang dan sepertinya memang tali ukur. Lantas setelah itu, ia merasakan ada yang mengikat kencang.


“Tali sudah. Sekarang kita jemput dan bungkus dengan kain lalu masukan dalam keranda.”

__ADS_1


Seketika, tubuh Ilyaz serasa ada yang membungkus. Setelahnya, ia merasakan sangat sesak. Kali ini, matanya bisa terbukan dan-.


Tak bisa dipercaya.


__ADS_2