Tumbal Pesugihan Pocong

Tumbal Pesugihan Pocong
dua puluh delapan


__ADS_3

Mata itu dengan jelas melihat sosok empat pocong mengerikan dengan wajah membusuk dan juga menghitam sedang mengelilinginya. Ilyaz benar-benar melotot saking kagetnya melihat penampakan mereka, lalu sesuatu melilit tenggorokannya. Seekor ular hitam melingkar di leher, kuat sekali. Dengan kepanikan yang amat, dokter itu berusaha melepaskan diri, tapi tak bisa lari dari pemandangan ngeri yang sedang menimpa.


“Kamu tumbal Ki Ageng Mayitan. Jadi, pasrah saja,” ucap salah satu pocong itu.


Ilyaz serasa lemas dan ringan.


Ia melihat dirinya sendiri dalam keadaan melotot dan lidah yang menjulur, terdapat bekas cekikan hitam di leher, sedangkan kesadarannya sedang melayang dikawal oleh empat pocong yang mengikatnya dengan kuat.


Ah, ini yang dimaksud Kyai Tapa dengan raga sukma? desah hati Ilyaz, terbaring dalam keranda mayat yang terbang menuju luar kamar. Doker itu melihat pemandangan desa di malam hari, benar-benar sepi, dan ia dibawa ke tempat yang dikenalnya. Ini belakang musala, pohon beringin ini? Ya, aku tahu ini belakang musala. Jadi, ini gerbang menuju istana Ki Ageng Mayitan?


Sebuah dimensi mengejutkan.


Ilyaz melihat sebuah kerajaan berada di balik pohon beringin besar di belakang musala. Pantas saja, masuk akal sekali. Energi negatif yang kuat terasa di musala, rupanya bersumber dari pohon besar ini dan alasan mengapa musala itu terkutuk dan angker juga. Sering muncul sosok pocong, warga kerap kali diganggu karena hantu itu masuk musala, semuanya bisa dipahami.


Dengan tubuh terikat, dokter itu dipaksa berjalan.


Istana dikelilingi sungai berwarna merah, berbau busuk dan anyir, sepertinya genangan darah bercampur nanah, busuk sekali. Ia menahan sebisa mungkin bau yang tercium. Namun, ada yang lebih mengagetkan, jembatan menuju istana, tersusun dari tubuh-tubuh manusia yang diikat jadi satu. Mereka merintih kesakitan ketika diinjak dan dilalui banyak orang. Hatinya serasa miris dan ngeri dengan keadaan mereka yang tersiksa. Wajah-wajah menyedihkan dan meraung-raung kesakitan. Namun, tak dapat melarikan diri.


Di pintu gerbang istana.


Dua pengawal tinggi besar dengan wajah hitam legam dan berwujud pocong membukakan pintu yang langsung menghubungkan pendopo utama istana dan singgasana kerajaan. Terlihat, di sana ada kursi besar yang langsung menghadap pelataran. Singgasana besar dari batu hitam dan berkilau, duduk sosok tinggi besar mengerikan. Wajah setengah tengkorak dan berjubahkan pakaian kerajaan kuno, memancarkan energi yang lebih menakutkan dari penghuni kerajaan lainnya.


“Ki Ageng, tumbal sudah dijemput,” ucap salah pengawal pada sosok yang duduk di kursi.


“Kalian masukan saja dulu ke tahanan, kurung sukmanya selama empat puluh hari agar tidak bisa kembali lagi ke alam manusia.”


Suara Ki Ageng Mayitan membahana, besar dan membuat bulu kuduk berdiri. Ilyaz memperhatikan sosok itu sebentar saja, ada kengerian dan rasa takut langsung menerjang dada.


“Baik, Ki.”

__ADS_1


Ilyaz dibawa menuju tempat tahanan. Sepanjang perjalanan, dilihatnya kengerian-kengerian yang menyedihkan. Ia dipaksa memperhatikan semua kegiatan yang ada di istana itu yang sepertinya sedang dalam masa pembangunan. Beberapa kegiatan tampak sedang merenovasi bagian-bagian istana, ia melihat orang-orang bekerja secara paksa. Mereka terikat dan dipaksa bekerja tanpa henti. Ada yang membawa batu besar, ada yang menarik kereta layaknya kuda dan ada pula yang menjadi pijakan orang-orang yang lewat. Jeritan dan rintihan terdengar di mana-mana, dokter itu menangis tak tahan melihat keadaan yang menyedihkan. Batinnya tak kuat untuk segera pergi dari tempat itu, terlalu banyak suara-suara yang membuat otaknya stress dan depresi.


Beberapa saat, mereka sudah sampai di tempat yang dimaksud. Sebuah tahanan dengan banyak orang di dalamnya, semua berada dalam pengawasan penjaga-penjaga istana. Rantai-rantai terlihat di beberapa bagian ruangan, wajah-wajah putus asa dari penghuni tahanan terlihat menyayat hati, benar-benar tersiksa dengan keadaan. Beberapa ruang tahanan dilalui Ilyaz, betapa sedihnya, tak hanya orang-orang usia produktif yang ada di dalam tahanan itu, anak-anak balita dan usia pra remaja juga menjadi penghuni tahanan. Apa mungkin mereka juga tumbal dari pesugihan ini?


Benar-benar miris, manusia benar-benar tega mengorbankan manusia lain hanya demi ambisinya. Tumbal-tumbal yang dilihat Ilyaz menjerit-jerit meminta tolong. Namun, ia tak bisa berbuat apa pun. Dirinya sama seperti mereka, menjadi tahanan karena ditumbalkan oleh orang yang melakukan persekutuan dengan Ki Ageng Mayitan. Tahanan dengan jeruji dari tulang manusia tersusun rapi, terlihat putih kecoklatan, tapi kuat seperti besi baja.


“Masuk!” Ilyaz didorong memasuki tahanan itu.


Matanya menatap ke sekitaran, orang-orang yang tak dikenalnya, terlihat putus asa dan bersedih.


“Dokter Ilyaz?” sapa seseorang yang kenal dengannya.


Ilyaz menoleh ke arah suara yang memanggilnya, “Atang? Syukurlah, alhamdulillah,” ucapnya bersyukur, keanehan terjadi. Bacaan hamdalah membuat ruangan itu bergetar hebat dan orang-orang yang ada di sekitarnya menjerit-jerit. “Apa yang terjadi?”


“Pak Dokter jadi tumbal juga?” Ilyaz mengangguk menjawab pertanyaan Atang, “ini ulah Pak Lurah dan Pak Ismat. Mereka pelaku pesugihan pocong dengan menumbalkan warga.’’


“Benar, Pak Dokter. Saya sudah bertemu mereka, dua hari lagi waktu untuk dijadikan budak. Saya takut, Pak Dokter,” isak Atang ketakutan.


Ilyaz merasa sangat kasihan, waktunya tak lama lagi, dua hari dan Atang tidak bisa kembali ke dunia manusia bila waktu itu terlewatkan.


“Tang, tenang. Saya kemari karena diminta Kyai Tapa untuk membawa kembali kamu dan Anto. Mana Anto?” tanya dr. Ilyaz.


“Benarkah, Pak Dokter?” Atang sangat antusias dan senang, lalu ekspersinya kembali muram, “Anto sudah dibawa untuk dijadikan budak.”


“Belum terlambat ‘kan, Tang?”


“Saya tidak tahu, Pak Dokter, hanya saja kata Pak Ismat, setelah tumbal dijadikan budak, mereka sudah tidak bisa lagi ke alam manusia dan menunggu kematian di alam siluman ini. Atang tidak menginginkan itu, Pak Dokter,” isak tangis Atang semakin terdengar memilukan.


Raut Ilyaz kecewa, tak bisa menyelamatkan Anto, sudah terlambat dengan batas waktunya. Namun, ia tak patah semagat, dirinya dan Atang masih harus lari dari istana Ki Ageng Mayitan.

__ADS_1


Ingatan Ilyaz bertitik pada pesan Kyai Tapa dengan semua petuah-petuah untuk melarikan diri dari kerajaan siluman dan menyelamatkan Atang untuk dibawa kembali ke dunia manusia.


“Kita harus segera keluar dari sini, Tang.”


“Bagaimana caranya, Pak Dokter? Tahanan ini sangat kuat.”


Dokter itu mengambil botol kecil yang ada di balik saku, air pemberian Kyai Tapa sebelum dijemput oleh keempat pocong pengusung beranda mayat. Air itu jadi satu cara yang diingat, pesan kyai Tapa jelas terekam akan fungsi dan cara menggunakannya.


“Bismillahirahmanirrahim,” lantas sang dokter membaca beberapa ayat yang sudah diingatkan Kyai Tapa. “Allahu akbar,” teriaknya setelah selesai membaca doa.


Air dalam botol kecil disiramkan. Ajaib, tulang-belulang yang menyusun tahanan, satu per satu rubuh, sekitarannya bergoyang-goyang seperti gempa.


“Ayo Tang, segera keluar dari sini!” ajak dr. Ilyaz.


Keduanya berhasil keluar dari tahanan.


Para tahanan yang ada, ikut keluar melarikan diri. Keadaan semakin kacau dengan banyaknya teriakan dari tahanan lain. Namun, pasukan Ki Ageng Mayitan mengejar mereka dan menangkap tahanan yang bisa ditangkap. Atang dan Ilyaz sekuatnya melarikan diri dari kejaran pasukan siluman itu.


“Kita lari ke mana, Pak Dokter? Mereka terus mengejar,” ujar Atang panik.


“Kita harus mencari gerbang penghubung dunia ini dan dunia kita, tadi saya lihat gerbang itu ada di dekat sini, di belakang musala.”


Ilyaz terus mencari.


Pasukan pengejar semakin mendekat, jumlahnya hampir ratusan dengan wujud pocong, cepat melompat.


“Pak Dokter, mereka semakin dekat. Bagaimana ini?”


Dokter Ilyaz teringat sesuatu, diangkatnya kedua telapak tangan lalu membaca doa yang diajarkan Kyai Tapa.

__ADS_1


__ADS_2