
Warga diam, tak ada yang berani menjawab. Ilyaz benar akan satu hal, akan tetapi ia juga tak paham akan satu hal, ketakutan warga sudah sangat akut pada kutukan itu. Lagi pula, warga sudah lupa bagaimana caranya melaksanakan perintah Allah. Jangankan salat mayat, salat lima waktu saja sudah dilupakan.
“Sok agamis sekali, sama seperti Si Aslam. Sok alim, tapi kelakuannya busuk,” umpat Ismat tak mau kalah.
Tentu saja, Ilyaz tak dapat menerima umpatan yang sangat keji itu, ust. Aslam tidak seperti yang dituduhkan Ismat.
Wajah Ilyaz memerah, menahan luapan emosi yang membakar.
Ijah mengerti benar dengan keadaan dokter itu, wanita tua itu berdiri sebagai penengah. Atang sudah damai dan tak harus menjadi bahan percekcokan di hari pemakamannya.
“Sudah Pak Ismat, saya setuju sama Pak Dokter. Atang harus disalatkan, itu adalah kewajiban, fardu kifayah. Bila tidak ada yang melaksanakannya maka, seluruh kampung ini akan kebagian dosanya.”
“Kamu tidak memikirkan keselamatan warga lain, Ijah,” ucap Ismat memaksa.
“Saya ingin Atang diterima dan damai di sisi Allah, Pak Ismat. Saya sendiri sekarang dan akan tambah bersedih kalau arwahnya malah tak tenang.”
Warga berbisik-bisik, rasa iba ditunjukkan pada Ijah.
“Ya sudah Pak Ismat, kita hargai saja keinginan Mak Ijah. Kutukan itu, berdoa saja agar tidak terjadi lagi,” ucap Hamid terdengar bijaksana.
“Tapi, Pak Lurah?”
“Biarkan saja,” ucap Hamid ekspresinya menyelipkan isarat tertentu. Sorot matanya menyampaikan pesan yang hanya mereka yang paham.
“Baiklah. Kalau nanti ada apa-apa di desa ini, saya ingin Pak Dokter dari kota ini yang bertanggung jawab dan harus mau diadili,” desak Ismat.
Ilyaz mengeryitkan dahi, tak mengerti dengan keinginan Ismat yang terus mendesak dan menyalahkannya.
“Bagaimana, Pak Dokter mau tanggungjawab kalau ada apa-apa dengan desa ini?” tanya lurah Hamid, halus.
“Ya, silakan saja,” ucap Ilyaz tanpa pikir panjang lagi.
“Nah, warga jadi saksinya. Kalian yang hadir di sini jadi saksi, Dokter Ilyaz akan mempertanggungjawabkan semuanya. Kalian setuju?” ucap Hamid di depan para pelayat.
__ADS_1
Tentu, mereka setuju-setuju saja. Orang-orang itu selalu manut apa pun kata pimpinannya. Bak segerombolan kerbau yang dicocok hidungnya, ikut saja apa pun kemauan dari Hamid.
“Baiklah, tolong jenazah Atang di bawa ke musala untuk disalatkan.”
Beberapa orang maju menganggkat Atang, Ilyaz ikut serta menggiringnya untuk disalatkan di musala. Jenazah diletakkan di dalam musala yang kemarin dibersihkan, tak disangka, hari ini pemuda ini jadi yang pertama menggunakannya untuk ibadah setelah hampir dua tahun dibiarkan terbengkalai dan lapuk.
Tak ada yang berani masuk, mereka hanya berdiri dan melihat saja dari luar. Hati Ijah benar-benar teriris dengan keengganan warga tidak ikut menyalatkan jenazah anaknya untuk terakhir kali.
“Kalian tidak ingin menghormati saudara kalian? Atang ini bukan binatang yang mayatnya dibiarkan begitu saja. Ia juga bukan hanya jadi tontonan. Kita ini umat Rasul yang mengajarkan untuk menghormati jenazah,” ucap Ilyaz.
Warga menunduk mendengar kemarahan dokter itu.
“Biarkan saja, Pak Dokter. Bukan salah mereka, warga berhak tidak melakukan apa pun pada almarhum Atang. Biar kita saja yang menyalatkannya,” ujar Ijah masih terisak.
“Astagfirullahadzim, sabar Mak. Kita urus jenazah Atang sesuai syariat Rasul,” ucap Ilyaz melembut.
Jenazah Atang dibaringkan, Ilyaz dan Ijah bersiap menyalatkan. Dengan tertutup kain, tubuh itu terbaring kaku di sebelah kanan, di depan dokter, Ijah berdiri di belakang sebagai makmumnya.
“Allahu akbar,” takbir pertama menggema.
Ijah menjerit histeris dengan mayat yang melayang.
Ilyaz mengumandangkan takbir ketiga, mayat malah makin terangkat dan saat takbir keempat, tubuh kaku Atang berputar ke arah luar, meluncur. Kekuatan luar biasa melemparnya ke luar mushala.
Ijah tak tahan dengan kejadian di luar nalar, berkali-kali menjerit histeris lalu tak sadarkan diri. Tak hanya wanita tua itu, warga yang menyaksikan, juga ikut berteriak. Ilyaz segera menyadarkan wanita itu.
“Sadar, Mak,” ucap Ilyaz mengoyang-goyangkan tubuh itu.
Beruntung Ijah masih bisa membuka mata, tak lama tak sadarkan diri, di luar, warga menjerit-jerit ketakutan dan itu memancing perhatian keduanya untuk segera memastikan yang terjadi.
“Astagfirullahaladzim, Atang!” teriak Ijah.
Mayat Atang melayang-layang di atas kerumunan warga, berputar-putar. Ilyaz ikut syok, tangan diangkat, membacakan doa sebisanya. Lafalan-lafalan ayat-ayat alquran dilantunkan, beberapa menit menjelang, mayat yang melayang-layang, berhenti, lantas jatuh menghempas tanah.
__ADS_1
“Apa saya bilang, kualat! Kita benar-benar kualat!” teriak pak Ismat bercampur emosi dan ketakutan yang sangat.
Warga ikut ricuh dengan keganjilan yang terjadi sementara, Ijah terus menangis histeris melihat mayat anaknya terlempar.
“Sudah, sudah. Kita segera kuburkan saja mayat ini daripada nanti makin banyak hal aneh,” tutur Hamid mengambil keputusan cepat.
Kericuhan warga seketika bisa terhenti karena turut perintah Hamid. Segera, mayat Atang dimasukkan ke dalam keranda dan diusung beberapa orang. Ilyaz terus berusaha menguatkan Ijah yang menangis sepanjang perjalanan menuju makam desa.
Lubang tanah seukuran mayat sudah siap menyambut tubuh kaku Atang untuk ditimbun. Rumah terakhir semua makhluk, terlihat menganga dengan kedalaman sekitar dua meter dengan gundukan-gundukan tanah yang siap mengubur jenazah yang datang.
Ilyaz memperhatikan, satu bantalan tanah diambil Hamid lalu dimasukannya ke dalam kantung hitam tanpa ada warga yang menyadari.
Mayat Atang terbaring dalam lubang yang perlahan-lahan mulai ditimbun. Semakin lama, tanah yang menimbun semakin memadati lubang yang tadinya terbuka. Tanah itu menggunung dan membentuk gundukan yang sama seperti tanah-tanah lain yang ada di sekitarnya. Para pelayat pergi setelah mereka menaburkan bunga di atasnya.
Begitu juga Ijah yang terus menangis setelah sejenak mendoakan almarhum anaknya.
Pada akhirnya, dari tanah kembali lagi pada tanah. Catatan takdir manusia yang tidak dapat dihindari siapa pun.
Ilyaz kembali pulang setelah menenangkan Ijah.
Di dekat musala, seseorang sedang berdiri bersama empat orang yang mendampinginnya. Ada rasa senang dan ragu. Ilyaz berhenti sejenak untuk memastikan, bibir itu melebar. Keyakinan penuh ada pada diri sang dokter. Lalu, ia memberanikan diri untuk mendekati orang yang ada di dekat musala. Salam dilantunkan, disusul jawaban dari salam tadi, kelima orang tersebut menoleh.
“Masya Allah, Alhamdulillah, Pak Kyai?” sanggah Ilyaz begitu antusias, diraih tangan orang yang lebih tua dari kelima orang tersebut dan diciumnya.
“Alhamdulillah, kami bisa sampai juga di desa ini, Nanda Ilyaz,” ucapnya.
“Kyai Tapa bersama guru-guru yang lain, terima kasih sudah mau datang kemari. Saya jadi merasa sangat terbantu.”
“Kami merasa terpanggil, Nanda Ilyaz. Setelah kami membaca surat yang dikirimkan minggu lalu, kami putuskan berdakwah di desa ini,” ujar Kyai Tapa. Raut wajahnya amat menenangkan.
“Ya, begitulah keadaannya, Pak Kyai.”
“Hmm, memang sangat disayangkan. Kuat sekali energi negatif yang ada di musala ini,” ujar laki-laki tua penuh kharisma itu.
__ADS_1
“Begitu ya, Pak Kyai?” ucapnya memelan, “sebaiknya tidak mengobrol di sini, kita ke pondokan desa saja. Mari, Pak Kyai dan para guru.” Kelimanya mengikuti Ilyaz.