
Kerumunan semakin ricuh dengan suara yang terpecah, tak ada yang berani lantang berbicara. Mereka malah makin berbisik dan saling mengandalkan. Ilyaz paham dengan keadaan ini, kebimbangan dan ketidakenakan pada Ismat yang melatarbelakangi ketidaktegasan yang terjadi.
“Warga sekalian, tolong dengarkan saya dulu. Saya tahu Bapak-bapak dan Ibu-ibu sangat takut dengan kutukan yang ada di musala ini. Seperti yang sudah saya jelaskan, kutukan ini hanyalah sebuah ujian keimanan kita pada Allah. Apa warga semuanya sudah tidak percaya lagi dengan kekuasaan Allah?”
Suara gaduh warga terhenti. Mereka memandang, walaupun ada pula yang malah menundukkan kepala, membisu. Suasana spontan hening karena merasa kalah dan tak bisa berkutik.
Ismat melirik sekilas ekspresi-ekspresi warga.
Ijah dan Atang sempat tegang dengan adu argumen tadi. Mereka tidak bisa memilih harus berada di pihak siapa, mengingat apa yang disampaikan semuanya benar. Ilyaz memang tamu di desa ini, tapi ibu dan anak itu merasa dekat dengannya. Keseharian dokter itu mengingatkannya pada ust. Aslam, begitu pula kepribadian dan tingkah laku. Itulah alasan mereka mendukung niat untuk mengembalikan musala seperti sebelumnya.
Sebagian besar warga juga sama, dalam nurani masih tersirat rasa rindu akan aktivitas ibadah yang sudah terlalu lama ditinggalkan. Semenjak kematian ust. Aslam itulah, mereka melupakan kewajiban beribadah dan lebih terfokus pada teror pocong.
“Pak Dokter bisa berkata seperti itu karena tidak merasakan bagaimana kami merasa tidak aman dengan kutukan pocong di desa ini. Jelas sekali, musala ini penyebabnya,” Ismat angkat bicara. “Apa kalian ingin mendapatkan kutukan yang lebih parah lagi seperti yang terjadi dulu?”
“Itu bukan kutukan. Mak yakin, itu penyakit biasa karena musim saja,” bela Ijah.
“Kamu jangan sok tahu, Ijah! Apa kamu paham dengan kutukan itu, coba jelaskan sama saya?” hardik Ismat, tidak suka dengan pembelaan Ijah. Matanya menatap sangar, hampir saja biji mata itu keluar.
“Bukankah Pak Ismat pernah mendapat penerangan dari pihak dinas? Penyakit borok yang dulu melanda desa karena air tidak bersih.”
“Haha, sok tahu! Benar-benar sok tahu kamu, Ijah. Air di desa ini bersih dan seperti biasa. Penyakit borok menimpa karena mereka salat di musala itu. Buktinya, setelah diadakan penelitian lebih lanjut dari kota, air-air di sumur maupun di mata air, biasa-biasa saja.”
Ijah terdiam, semua argumennya mentah, sadar bila ia bukanlah ahli dalam bidang penelitian air dan penyakit yang melanda desa ini beberapa tahun lalu.
Pandangan Ilyaz berbalik pada Ijah. Otaknya menangkap sesuatu yang penting untuk bahan penelitian di desa ini, kasus yang dilaporkan ke pihak Dinas Kesehatan. Dokter itu mendapatkan bahan untuk pengkajian lebih mendalam tentang pandemi yang melanda beberapa tahun lalu.
“Pak Ismat dan warga sekalian, saya akan pertanggungjawabkan semuanya. Saya tetap yakin, kutukan di musala bukan seperti keyakinan warga selama ini. Pasti, akan saya temukan penyebabnya.”
__ADS_1
“Pak Dokter jangan sombong! Apa jaminan untuk keselamatan kami? Kutukan itu bisa mengenai siapa saja.”
“Seperti yang Pak Ismat katakan dulu, kepala ini jaminannya. Saya rela mempertaruhkan nyawa bila gagal mematahkan kutukan ini. Saya yakin, ust. Aslam dan musala ini bukan penyebab semua kutukan yang ada di desa ini.”
“Huh, sombong! Semoga saja kesombongan Pak Dokter tidak memperparah kutukan ini. Percuma kalau harus banyak berdebat. Semoga suatu saat, Pak Dokter merasakan kualat dari desa ini,” ujar Ismat berapi-api menyumpahi.
Dokter Ilyaz menanggapi dengan senyuman saja, tidak mau emosi memuncak dan tertumpah. Keyakinan dokter itu tetap teguh, kutukan ataupun kualat tak akan bisa menggoyahkannya untuk mengajak dan menghidupkan kembali musala desa.
Kericuhan bisa diatasi. warga kembali tenang dan pulang tanpa ada yang mau membantu. Mereka masih takut dengan kepercayaan kutukan yang akan menimpa. Namun, Mak Ijah dan Atang tetap setia dan mendukung Ilyaz membersihkan musala.
“Alhamdulillah, musala sudah bersih. Tinggal memperbaiki beberapa bagian saja,” ucap Ilyaz, peluh mengalir dari kening.
“Iya Pak Dokter, selesai juga. Hampir magrib, suasana jadi agak berbeda,” kepekaan Atang mulai kembali merasakan perubahan aura.
“Ya, sebaiknya kita lanjutkan saja besok. Nanti malam kemungkinan saya akan menginap di rumah Emak.”
“Pak Dokter, takut ya?” Atang malah menggoda dengan nada mengejek.
Malam menampakkan wajahnya.
Belum terlalu malam, jam di tangan Ilyaz menunjukkan waktu 21.46, masih menunjukkan waktu awal menuju pertengahan, tapi desa Suka Asih sudah lelap ditelan kesunyian. Tak ada satu pun warga yang beraktivitas. Mereka semua lebih memilih diam di rumah, bukan tanpa alasan tak ingin keluar bila malam menjelang, semua takut dengan kutukan yang belum juga tuntas.
Malam ini, malam ke tiga belas kematian Anto. Warga percaya bila korban kutukan musala, arwahnya masih akan gentayangan selama empat puluh hari. Arwah itu akan terus mencari orang-orang yang keluyuran di malam hari untuk dimintai tolong dan bila perlu mengikuti orang tersebut pergi kemana pun.
Biasanya dalam setahun akan ada dua sampai tiga orang yang menjadi korban kutukan itu. Nasibnya sama, mati dengan cara ada tanda tercekik dan bekas menghitam di leher seperti bekas tali yang menggantung. Warga tidak ingin menjadi korban berikutnya, juga tak ingin terus dihantui arwah korban kutukan berwujud pocong selama empat puluh hari.
Ilyaz bersiap ke tempat Ijah, dibawanya semua persiapan untuk menginap di sana.
__ADS_1
Dokter itu memiliki tujuan lain. Sehari sebelum membersihkan musala. Malam pukul 01.58, persis sama dengan saat pertanda Anto. Sekali lagi, Ilyaz mendapati peristiwa yang sama.
Keranda di samping musala bergerak dengan sendirinya, diawali dengan suara benda terjatuh lalu ia mengintip, empat orang dengan memakai kain putih lusuh, khas pakaian mayat dengan wajah membusuk, mengusung keempat sisi keranda.
Ilyaz menguping pembicaraan mereka.
“Sekarang siapa?” tanya salah satu pengusung keranda.
“Kata Ki Ageng Mayitan, kita akan menjemput yang namanya Atang, tapi bukan malam ini.”
“Kapan?”
“Lusa saja. Tepat malam ketiga belas penjemputan korban pertama.”
“Hihihi, kita diperintahkan menakut-nakuti supaya tidak ada warga yang berani mendekati tempat ini.”
“Hihihi, manusia yang dari kota itu memiliki sesuatu yang tidak bisa kita lawan. Ki Ageng Mayitan mewanti-wanti agar tidak bertindak gegabah.”
“Lebih baik kita pergi dulu saja, hihihi.”
Keempat pocong menghilang disertai embusan angin kencang.
Atang, mereka menginginkannya sebagai tumbal. Ia yakin dengan apa yang didengar. Untuk itulah Ilyaz memaksakan diri menginap di rumah Ijah, memastikan apa yang terjadi dengan anak itu pada hari yang dikatakan keempat pengusung keranda mayat.
**
Ilyaz menutup pintu dan menguncinya dari luar. Saat melangkah menuju rumah Ijah, dipandangnya tempat itu, terlihat tak seberantakan sebelumnya, lumayan bersih. Namun, masih menyisakan hawa yang membuat bulu kuduk merinding. Musala gelap dan hening, tak ada siapa pun di dalam. Jelas saja, siapa yang berani? Mendekatinya saja sudah tak ada yang mau apalagi berada di dalam.
__ADS_1
Dokter itu terbilang pemberani, tak ada satu warga pun yang mau keluar malam, tapi dengan tak mempedulikan rasa takut, mencoba melawan semua pemikiran-pemikiran negatif yang menggerogoti benak, ia melenggang.