
Dari dalam musala.
Tanpa disadarinya, asap putih tipis muncul. Asap itu semakin lama semakin membentuk satu sosok. Samar-samar, sosok manusia berkain kafan terikat lima, mengikuti dari belakang. Bulu kuduk meremang sebagai pertanda adanya kehadiran sosok lain yang menyertai. Ada suara langkah yang terdengar samar, seakan jauh.
Kemudian, hidungnya mencium bau agak busuk seperti aroma daging yang mulai mencair. Samar, tapi aromanya mengganggu. Naluri alamiahnya tetap merasakan ketakutan dengan hal-hal di luar nalar. Namun, ia berusaha tak terpengaruh dengan ketakutan itu. Tak berhentinya bibir itu menyebut nama Allah, bukan histeris dengan langkah kaki yang terdengar mengikuti.
“Tolong,” kini, suara mendesah terdengar menggigil, agak serak dan sepertinya tersiksa.
Ilyaz tak mempedulikan walaupun rasa takut tetap ada, tapi tak mau ketakutan itu semakin menjadi-jadi.
“Astagfirullahadzim,” katanya dengan lirih dan terus mengulang kata itu.
Langkah kaki dari belakang masih mengikuti, bau busuk juga masih mengganggu penciuman Ilyaz. Tak salah lagi, yang mengikutinya pasti arwah penasaran berwujud pocong.
Sang dokter tak terlalu ingin ketakutan dengan cerita yang beredar. Semua ini penyebabnya bukan karena musala. Melainkan, hal lain yang membuat arwah ini tak tenang. Dorongan keyakinan dan teorinya membangkitkan keberanian untuk menghadapi sosok yang terus mengikuti. Ia menghentikan langkah, langkah yang mengikutinya juga ikut berhenti. Jantung tetap deg-degan dan tenggorokan menegang. Perlahan Ilyaz membalikkan badan.
“Astagfirullahadzim!” sentaknya kaget.
Sosok itu memang Anto, berwujud pocong dengan wajah pucat dan menyedihkan. Matanya basah dengan bibir agak membiru. Sepertinya sangat kelelahan, garis-garis di wajah terlihat layu.
“Tolong,” desahannya serak.
“Apa yang kamu inginkan dengan mengikutiku?” tanya Ilyaz, berani.
“Saya tak mau dijemput dan dibawa ke istana Ki Ageng Mayitan, ia iblis jahat.”
Ilyaz tak mengerti dengan pesan yang disampaikan Anto, “siapa Ki Ageng Mayitan?”
“Pemilik istana kerajaan pocong. Ia sangat kejam, setiap hari saya dipaksa bekerja di istananya. Saya ingin pulang,” ucapnya terdengar isakan dan rintihan.
Ilyaz terperanjat, baru kali ini ada arwah menangis dan merintih. Pertanyaan tersirat di benak, apa maksudnya ingin pulang?
“Bukankah kamu sudah mati?”
“Belum. Saya-,”
Tiba-tiba angin berembus kencang, ranting pepohonan yang ada di sekitar melambai-lambai, tapi lambainya sangat berbeda karena sesuatu meloncat-loncat di atasnya. Berbeda sekali dengan biasanya, pohon-pohon itu seolah benar-benar hidup. Ilyaz merasakan energi negatif lebih besar menyerang, bulu kuduknya dipaksa berdiri dan gemetar saat energi itu semakin besar menerjang. Seperti ada kehadiran makhluk lain selain, mereka.
__ADS_1
“Mereka datang, saya tidak ingin dibawa ke istana.... tolong,” rintih Anto.
Namun, seketika Ilyaz melihat bayangan putih berjumlah dua orang. Keduanya menangkap Anto, lalu berubah lagi menjadi asap putih tipis dan menghilang dengan cepat.
“Astagfirullah,” lagi-lagi Ilyaz bergidik ngeri. Bayangan dua orang tadi terlihat lebih jangkung dengan wujud sama seperti Anto, pocong.
Angin dingin di sekitar berdesir kembali, kali ini berlawan arah. Ranting-ranting pohon melambai-lambai. Namun Ilyaz menyaksikan tiga sosok yang melompat di atasnya, menjauh. Sejenak terdiam, mata itu tak bisa berkedip dengan pemandangan barusan.
“ Apa yang terjadi? Tadi, Anto? Benar, tadi Anto. Jelas sekali, ia minta tolong dan kemudian lenyap,” gumamnya.
Pada akhirnya, banyak misteri yang memancing kepenasaran Ilyaz. Kutukan musala, pocong yang berkeliaran serta kejadian yang menimpa Anto. Padahal, menurut pengetahuan agama, ruh orang yang meninggal sudah terputus dengan urusan dunia. Mereka tidak akan pernah bisa kembali ke dunia dan tetap berada di alam kubur. Semua urusan keduniawian sudah tak akan bisa lagi mencampuri ruh tersebut. Ilyaz bingung dibuatnya, tidak mungkin keyakinan agama mengajarkan hal yang salah.
Sepanjang jalan, tak hentinya isi kepala Ilyaz memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi sampai perjalanan itu tak terasa. Rumah itu sudah ada di depan mata, ia mengetuk pintu dan memberi salam. Dari dalam tak ada jawaban apa pun, pintu diketuk lagi, tetap tak ada jawaban. Sedikit ragu untuk mengetuk pintu ketiga kali, tangan mengepal dan hendak mengetuk, deritnya sudah terdengar.
“Waalaikumussalam,” pintu terbuka disertai jawaban salam. “Oh, Pak Dokter?”
“Iya, ini saya Mak.”
“Ah, Pak Dokter!” teriak Atang histeris.
“Ada apa, Tang? Heboh benar.”
“Ah, tidak Pak Dokter, hihi,” bibir Atang mesem.
Ilyaz malah bertambah aneh menatap Atang.
“Masuk, Pak Dokter,” ujar Ijah.
Pintu kembali dikunci rapat setelah Ilyaz masuk.
“Pak Dokter jadi juga menginap, tidak takut?” tanya Atang.
“Memang apa yang harus saya takutkan, Tang?”
“Pak Dokter bukan penakut sepertimu, Tang. Tadi saja, kamu malah dorong-dorong Emak buat buka pintu,” ujar Ijah.
“Ya ‘kan Atang takut, kalau-kalau yang ketuk pintu arwah Si Anto. Kapok, Mak."
__ADS_1
“Kamu masih trauma sama kejadian di pondokan itu, ya Tang?”
“Iya, Pak Dokter. Si Anto selama empat puluh hari bakal terus keliaran, mendatangi rumah-rumah, ketuk pintu satu per satu. Makanya, tadi Emak ngintip siapa yang datang.”
“O, pantas tadi saya ketuk-ketuk tidak ada yang menyahut,” kata Ilyaz.
“Begitulah, Pak Dokter. Warga di sini sudah paham benar. Bila ada yang mengetuk pintu malam-malam pasti tidak akan dibuka, apalagi ada yang meninggal. Selama empat puluh hari arwahnya gentayangan,” Ijah menguatkan cerita Atang.
Ingatan Ilyaz menggarahkannya pada peristiwa saat di perjalanan tadi. Anto dengan wujud pocong mengikuti dari musala sampai akan ke rumah ini. Kemudian, lenyap dimakan kabut tipis berbentuk pocong jangkung, dekat kebun yang ditumbuhi pohon-pohon rindang berjajar.
“Hmm, kalau Anto,” tekanan suara Ilyaz agak ragu, antara ingin bercerita dan tidak. Dokter itu tidak ingin ceritanya malah menambah kuat mitos yang sedang terjadi di desa ini. Namun, ia jadi saksi dengan penampakan-penampakan pocong hampir setiap malam di desa ini.
“Ada apa, Pak Dokter?” tanya Ijah.
“Entahlah, benar atau tidak. Tadi, saat saya menuju kemari-,” Ilyaz berhenti sejenak menghirup napas dalam-dalam, “saya diikuti Anto, Mak.”
“Hah? Pak Dokter, diikuti Si Anto?” Atang terbelalak, heboh. “Tuh benar ‘kan, Mak! Si Anto gentayangan. Di pondokan itu juga minta tolong, Mak,” ucap Atang mengebu-gebu.
“Itu juga yang dimintanya. Tapi, apa? Saya bingung. Katanya tidak ingin dibawa ke istana Ki Ageng Mayitan,” ujar Ilyaz.
“Ki Ageng Mayitan, Pak Dokter?” mimik Ijah kaget dengan nama itu.
“Ada apa, Mak? Sepertinya, Mak sangat takut dengan nama itu?”
Ijah ketar-ketir, keringatnya timbul dari dahi, pupil mata agak mengecil. “Pak Dokter, Ki Ageng Mayitan itu raja siluman, banaspati yang suka meminta tumbal nyawa manusia. Mak yakin, ada yang bersekutu dengannya di desa ini.”
“Maksud Emak, ada yang melakukan pesugihan?” Atang heboh.
“Pesugihan, dari mana Mak tahu?” tanya Ilyaz penasaran.
“Mak, dapat cerita ini dari kakek Emak. Dulu, saat desa ini masih hutan belantara yang angker, ada gua terlarang yang berada di hutan larangan yang dihuni kerajaan siluman. Nah, pemimpin mereka itu, Ki Ageng Mayitan,” cerita Ijah memancing bulu kuduk berdiri.
“Hmm, saya mengerti sekarang. Anto ingin dibantu agar lepas dari Ki Ageng Mayitan. Percaya tak percaya, kata guru saya, korban tumbal pesugihan, arwahnya masih berada di alam manusia karena sebenarnya, mereka belum mati sampai batas waktu perjanjian terpenuhi.”
“Begitu, ya. Apa mungkin Si Anto memang belum mati? Pak Dokter tahu sendiri, kalau mayatnya terbujur kaku,” ujar Atang.
“Wallahu’alam, Tang, saya juga tidak tahu. Kematian itu rahasia Allah, begitu juga tentang ruh. Kalau benar Anto korban tumbal pesugihan, artinya di desa ini bukan kutukan yang berlaku, tapi kejahatan seseorang yang bersekutu dengan iblis.”
__ADS_1