Tumbal Pesugihan Pocong

Tumbal Pesugihan Pocong
empat belas


__ADS_3

Tujuh malam sejak peristiwa itu.


Ilyaz kerap mendapatkan kejadian-kejadian aneh. Suara riuh dari musala kerap didengar. Tangisan, orang-orang mengobrol dan benda-benda jatuh menjadi tak asing lagi di telinga. Kadang kala, terdengar pintu pondokan ada yang mengetuk pada jam-jam dini hari, di mana sudah dipastikan orang-orang desa sudah tidak ada yang berani keluar, apalagi mendekati musala. Tentu itu bukan manusia. Ia sudah bisa menebak, siapa yang mengetuk pintu pondokan.


Tak hanya Atang, warga lain juga selama tujuh malam ini didatangi arwah berwujud pocong. Pengakuan mereka sama, Anto pasti meminta tolong pada orang-orang terutama mereka yang semasa hidupnya kenal dengan pocong itu.


“Ah, belum ada jawaban dari Kyai Tapa,” gumamnya.


“Pak Dokter, jadi bersihkan musalanya?”


“Oh, Mak?” Ilyaz tersentak kaget dengan panggilan Ijah, “jadi, Mak.”


“Pak Dokter kaget, ya? Maaf, Pak Dokter,” Ijah merasa bersalah dengan panggilannya tadi.


“Tidak apa-apa, berapa orang yang akan ikut membersihkan musala, Mak?”


“Sepertinya hanya Pak Dokter, saya dan Atang saja. Warga tidak berani memperbaiki musala. Mereka takut terkena kutukan itu, Pak.”


“Heh,” hela napas dr. Ilyaz memanjang, “saya heran dengan warga. Lekat sekali kepercayaan mereka dengan kutukan itu.”


“Warga ketakutan, Pak Dokter. Kepercayaan kutukan musala sudah terlanjur mendarah daging. Siapa saja yang berani mengubah-ubah musala, mereka akan terkena penyakit kutukan itu.”


“Masa, Mak?”


“Iya, kata Pak Ismat begitu. Saya dan warga lain dikumpulkan untuk menolak niat Pak Dokter membangun kembali musala itu. Pak Ismat bilang bila ingin selamat dari kutukan, warga tidak boleh mendekati musala.”


“Dan warga percaya?” Ilyaz heran.


Ijah diam. Mau bagaimana lagi, kepercayaan kutukan sudah terlanjur melekat di benak warga. Mereka lebih takut dengan teror yang akan diterima. Arwah orang-orang yang mati karena kutukan itu berwujud pocong, pasti selalu menghilang di musala itu.


Warga sangat yakin bila mereka yang telah mati, semuanya terkena kualat dari arwah ustaz itu. Musala itu tempat kematiannya dan pasti tidak akan rela bila mati sendirian. Ia ingin membalas dendam dengan menyebarkan penyakit kutukan dan menarik arwah mereka ke rumah ibadah itu. Banyak warga yang menyaksikan beberapa warga yang telah mati, pasti jadi pocong, meminta tolong, kemudian lenyap di sana.


“Entah harus bagaimana lagi Mak, meyakinkan warga,” tekanan suara Ilyaz mengeluh, “saya berusaha meyakinkan warga agar mereka tak usah terlalu memikirkan kutukan itu. Kita ini punya kekuatan yang lebih hebat, Allah, tapi itu semua tak membuat warga yakin.”


“Sabar, Pak Dokter, memang sulit mengajak pada kebenaran. Warga hanya butuh jaminan dan bukti nyata saja. Teror pocong dan kutukan di desa ini sudah membuat warga jauh dari Allah.”

__ADS_1


“Ya, saya menyayangkan itu. InsyaAllah Mak, bila Kyai Tapa nanti kemari, teror pocong di desa ini berakhir, sekaligus saya meminta Kyai Tapa untuk memberikan pengajaran di desa ini.”


“Alhamdulillah, mudah-mudahan saja, Pak Dokter.”


“Kalau begitu, kita segera saja Mak, musala harus cepat dibersihkan sebelum magrib tiba.”


“Iya. Pak Dokter, Atang dari semalam belum pulang.”


“Lho, memang Atang ke mana, Mak?”


“Emak juga tidak tahu, Pak Dokter. Katanya, ingin ke Wisma Papayon.”


“Di sana ada apa, Mak?”


“Sudah jadi tradisi di sini, Pak Dokter. Warga kalau punya uang pasti akan dihabiskan di sana, setiap malam tidak pernah sepi. Keuntungan panen tahun ini sangat besar, sehingga para pekerja kebagian bonus. Nah uang itu, mereka habiskan untuk bermain judi kupluk,” ujar Ijah.


“Judi, Pak Lurah tidak melarang?”


“Justru wisma itu didirikan Lurah Hamid. Dulu, sejak ada ust. Aslam, warga sangat menentang perjudian yang sering dilakukan di sana. Namun, sejak fitnah itu, Wisma Papayon jadi makin ramai dikunjungi dan mereka mulai meninggalkan musala.”


“Itulah, Pak Dokter. Mulanya, mereka juga tidak mau meninggalkan perintah Allah. Musala masih ramai dijadikan tempat berjamaah. Namun, warga sering diganggu penampakan pocong bila datang ke sana. Pernah saya juga diganggu, waktu itu, saya akan melaksanakan salat magrib. Baru saja rakaat kedua, di belakang ada orang teriak melihat pocong. Warga jadinya ketakutan dengan musala itu.”


“Ya Allah, tidak mungkin musala dijadikan tempat makhluk-makhluk terlaknat untuk berdiam.”


“Tak hanya itu, Pak Dokter. Saat kematian suami saya, Atang melihat empat pocong muncul dan mengusung keranda bergerak sendiri, lalu terbang di atas langit kemudian berputar-putar di sekitaran atap rumah ini, pocong-pocong itu mengelilingi almarhum. Sejak peristiwa itu, Atang selalu ketakutan melihat keranda mayat yang ada di musala.”


Bulu kuduk Ilyaz meremang dan sedikit bergidik mendengar cerita itu. Persis sekali dengan kejadian saat baru datang ke desa ini juga kematian Anto malam sebelumnya, persis sama.


“Ah, kita tidak usah menceritakan itu lagi, Mak,” ucap Ilyaz tak ingin terlalu terpengaruh dengan perasaan yang membuatnya jadi ciut untuk melaksanakan niat membersihkan musala, “ayo Mak, kita segera saja membersihkan musala.”


“Ya, Pak Dokter.”


Atang datang dengan wajah penuh kebahagiaan. Rona wajahnya dipenuhi garis bibir yang lebar, tersenyum sendiri, “eh, Mak. Tahu tidak, hari ini hari apa?”


“Hari kamis, Tang. Memangnya, ada apa?”

__ADS_1


“Bukan, ini hari keberuntungan Atang. Semalam dapat banyak, lihat Mak!” Atang merogoh saku celananya dan menunjukkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan, jumlahnya sekitar tiga puluh lembar. Atang dengan bangga memperlihatkan hasil keberuntungannya.


Beda dengan emaknya, Ijah tak tertarik dengan lembaran-lembaran kertas merah yang ditunjukkan. Bibir cemberut, mata tak acuh dan tak menunjukkan rasa senang.


“Hasil judi ‘kan, Tang?” ucap Ijah culas.


“Bukan, ini rezeki. Atang cuma iseng memainkan keberuntungan, tak disangka dapat uang sebanyak ini, Mak,” dengan polosnya, ia membela diri.


“Namanya tetap judi, Tang,” Ilyaz ikut berkomentar.


“Ah, Pak Dokter. Yang penting uang ini bukan dari hasil mencuri,” kilahnya.


“Tetap saja uang itu tidak halal, Tang,” Ijah sedikit kesal dengan pembelaan Atang.


“Mak, lebih baik kita segera ke musala untuk bersih-bersih?” ucap Ilyaz mengalihkan suasana yang sudah mulai tak enak dirasakan.


“Tang, sekarang bantu Mak bersihkan musala.”


“Ke musala, Mak?”


“Iya, musala.”


“Musala angker itu?” Ijah memanggut. “Ya, Atang bantu,” nada Atang kaku dan malas.


Musala terlihat suram, meskipun hari masih siang menuju sore. Dari luar terlihat berantakan dengan kondisi angin berembus dingin, benar-benar membuat bulu kuduk berdiri. Padahal, belum sepenuhnya masuk ke dalam, aura sunyi dan merinding sudah bisa dirasakan.


“Masih jam segini saja sudah seram, Mak,” protes Atang.


“Sudah. Kamu bantu saja Pak Dokter. Emak mau siapkan dulu peralatan dan makanan.”


“Ya, Mak.” Atang menjawab sekenanya.


Ilyaz melebarkan garis bibir melihat Atang berwajah agak terpaksa dengan semua perintah emaknya. Kemudian, dokter itu memperhatikan keadaan musala dari luar, bayangan putih tampak. Tak jelas wujudnya seperti apa, tapi hawa keberadaannya terasa.


Jangan mengganggu! Suatu bisikan terbawa angin berdesir di telinga Ilyaz.

__ADS_1


__ADS_2