
Kualat? Ada apa sebenarnya dengan desa ini? Bermacam pertanyaan menggelayuti pikiran Ilyaz. Di zaman serba listrik dan komputerisasi saat ini, ia sadar dengan ketimpangan sosial yang ada di desa ini. Jauh dari peradaban layak dengan kepercayaan klenik yang kental. Warga yakin sekali dengan kualat dan ia sendiri sudah mengalami beberapa hal mistis seharian kemarin dan barusan.
**
Mak Ijah menata piring-piring di atas meja. Nasi hangat berserta lauk pauk ala kadarnya sudah siap tersaji. Atang dan Ilyaz tiba tepat waktu. Menu pagi ini sudah siap disantap. Sarapan ala kampung yang menggugah selera makan.
“Pak Dokter, silakan makan dulu. Ala kadarnya, maklum saja, kampung,” kata Ijah.
“Tidak apa-apa, Mak. Saya senang kok dengan makanan kampung. Saya juga berasal dari kampung, Mak. Makanan itu disyukuri. Apa pun yang ada di atas meja ini sudah rezeki kita dari Allah.”
“Iya, Pak Dokter. Apa benar Pak Dokter suka?” Ijah meyakinkan dirinya. Senyum Ilyaz menjadi jawaban keraguan wanita itu. “Syukurlah, silakan Pak Dokter.”
“Terima kasih, Mak,” katanya. Ijah dan Atang hendak pamit, namun dokter itu menahan mereka, “Mak sama Atang sekalian makan di sini saja. Kita sama-sama sarapan.”
“Tidak usah, Pak Dokter. Biar saya dan Atang makan di perkebunan saja,” ucap Ijah.
“Tidak apa-apa, Mak. Saya justru senang bisa ditemani makan. Sekalian, saya ingin tahu tentang desa ini.” Ilyaz duduk dan kemudian membalikkan piring yang ada.
Mak Ijah dan Atang nurut saja. Mereka ikut menemani Ilyaz makan.
“Pak Dokter masih penasaran dengan kutukan yang ditakuti di desa ini, ya?” terka Atang memulai obrolan pagi.
“Salah satunya itu.”
“Kutukan apa, Tang?”
“Itu Mak. Kutukan musala sekitar dua tahunan lalu. Kutukan ust. Aslam, Mak.” Atang menyambar pertanyaan Mak Ijah tanpa aba-aba.
“Ah, kamu ada-ada saja. Almarhum ust. Aslam itu orang salih. Musala dan semua kejadian di desa kita bukan kutukan dari almarhum. Jangan memfitnah orang yang sudah meninggal. Dosa, Tang!”
“Tapi, Mak. Sejak kematian ust. Aslam yang mengerikan itu, desa kita banyak mengalami kejadian-kejadian aneh. Musala itu, banyak warga yang sering lihat pocong dan keranda bergerak sendiri. Lalu setelahnya, ada saja warga yang mati dengan keadaan mengerikan. Contohnya Bapak sama Si Anto yang baru saja dikuburkan.”
“Itu takdir, Tang. Bukan karena kutukan,” Ijah berusaha menjernihkan anggapan-anggapan penduduk desa.
__ADS_1
“Mak masih tak percaya juga? Padahal, Pak Lurah sering kali mengingatkan kutukan itu, Mak. Pak Lurah malah memerintahkan kita untuk tidak mendekati musala itu. Istri Pak Lurah sendiri-” perkataan Atang terpotong.
“Hush! Kamu ini, malah buka aib orang!”
“Ada apa dengan musala itu, Mak? Saya dari kemarin sebenarnya ingin menanyakan perihal musala itu. Kemarin malam saya mendengar orang bercakap-cakap di samping musala. Lalu saat tengah malam ada empat orang yang mengusung keranda yang ada di musala. Keranda itu bergerak sendiri awalnya.”
Bulu kuduk Atang meremang dan matanya malah melirik ke segala arah.
“Yang benar, Pak Dokter?” tanya Atang bergidik.
Dokter itu mengangguk.
“Apa Pak Dokter tak salah lihat?” Ijah tertarik dengan obrolan yang tadi tak membuatnya selera.
“Benarkan, Mak? Pak Dokter lihat sendiri. Warga banyak yang melihat juga.”
“Tidak, Mak. Awalnya saya pikir itu warga desa. Mereka mengobrol, tapi suara mereka agak aneh. Lalu saya pastikan, suara itu hilang. Sampai pada pukul satu dini hari, ada suara gaduh yang berasal dari samping kamar. Saya pastikan lagi dan-“ Ilyaz diam menenangkan detak jantung yang tak bisa menahan kegugupan karena kengerian sosok-sosok yang dilihatnya semalam.
“Lalu Pak Dokter? Apa mereka itu… pocong?” tanya Atang ragu dan takut. Sang dokter mengangguk lagi. “Tuhkan, Mak! Atang bilang apa? Warga desa tidak salah. Kutukan musala itu benar adanya. Emak sih, tidak pernah mau percaya dengan kutukan itu.” Atang benar-benar puas dengan semua kebenaran yang dikatakan Ilyaz.
“Ah, Emak masih tak ingin percaya dengan kutukan musala itu. Mana mungkin orang sesalih itu berbuat fitnah dan meresahkan warga,” bantah Ijah.
“Emak tahu sendiri ‘kan bagaimana kematian ust. Aslam?” Atang terus meyakinkan Emak akan kutukan yang menimpa desanya.
“Memang bagaimana?” tanya Ilyaz yang dari tadi penasaran sekali dengan kutukan dan kualatnya warga desa.
“Ceritanya sekitar dua tahun lalu. Dulu desa ini sangat jauh dari agama. Kami tidak mengerti apa itu salat atau perintah agama. Desa kami senang dengan permainan judi kupluk. Sampai ust. Aslam datang ke desa ini. Beliau adalah santri yang tidak sengaja berkunjung ke desa ini karena tugas dari pemerintah pusat,” cerita Ijah.
“Iya, Pak Dokter. Listrik di desa ini juga hasil kepandaian ust. Aslam. Ia yang membangun pembangkit listrik sederhana di desa ini,” ucap Atang antusias.
“Juga musala dan pondokan ini,” tutur Ijah ikut muram. Tampak kesedihan di wajahnya.
“Oh pondokan ini, rumah ust. Aslam?” Ilyaz semakin tertarik dengan awal kualat di desa Suka Asih.
__ADS_1
“Ya, Pak Dokter. Rumah ini dulu rumah ust. Aslam dan musala itu tempat warga desa belajar agama. Saya juga belajar mengaji, tapi sayang sekali, Beliau mati mengenaskan.” Atang merasakan kesedihan yang sama dengan Ijah.
“Semenjak ada ust. Aslam, permainan judi di desa ini bisa berkurang. Warga lebih giat mengaji dan berjamaah daripada harus bermain judi kupluk. Dan akhirnya, pada saat pemilihan lurah tahun lalu. Warga mencalonkan ust. Aslam jadi calon terkuat,” ujar Ijah.
“Warga mencalonkan ust. Aslam dan menang?” tanya Ilyaz terpancing untuk menggali informasi lebih dalam.
“Ya, tapi hanya berlangsung tujuh bulan,” ujar Ijah masih menunjukkan kemuramannya.
“Apa yang terjadi, Mak?”
“Ustaz Aslam… Emak yakin ia difitnah. Saat itu, ust. Aslam akan melangsungkan pernikahan dengan putri Pak Aryo, juragan tanah di desa ini. Namun, ada satu kejadian di luar rencana. Ustaz Aslam dituduh melakukan perzinahan dengan calon istrinya,” Ijah semakin sedih menceritakan perihal ust. Aslam.
“Astagfirullah! Perzinahan, Mak?” Ilyaz ikut tak percaya dengan tuduhan itu.
“Iya, Pak Dokter. Ustaz Aslam saat itu datang hendak ke musala. Alasan beliau datang ke sana karena ada yang ingin bertemu dengannya. Lalu beliau malah mendengar teriakan dari arah belakang musala. Dan di situ, Arum ditemukan sudah tak sadarkan diri tanpa memakai apa pun,” ucap Atang.
“Hm, lalu hubungannya dengan musala itu?”
“Nah, itu Pak Dokter!”
Atang benar-benar antusias sampai-sampai Ilyaz memegang dada, menenangkan jantungnya yang hampir saja loncat.
Mak Ijah menggeleng, lalu memukul pelan kepala Atang. “Hish!” desah Ijah.
“Hehehe, maaf Pak Dokter,” ucap Atang dibarengi senyum malu-malu.
“Di musala itulah Pak Dokter, beberapa warga dipimpin Hamid memergoki ust. Aslam sedang membawa Arum tanpa busana. Warga sangat marah lalu-” Mak Ijah makin sedih. Wajahnya memerah menahan rasa sedih.
“Warga menghakimi ust. Aslam, Pak Dokter. Sangat tragis,” sambung Atang ikut bersedih.
Dokter Ilyaz memperlihatkan ekspresi yang bercampur baur. Penasaran, rasa simpati dan juga tak percaya. Ada hal yang harus diluruskannya dari masalah itu.
“Warga tak memberi kesempatan kepada ust. Aslam untuk menjelaskan duduk perkaranya. Dengan saran dari Hamid, ust. Aslam diberi hukuman berupa hukuman gantung selama tiga hari tanpa diberi makan dan minum.”
__ADS_1