Tumbal Pesugihan Pocong

Tumbal Pesugihan Pocong
dua


__ADS_3

Atang manggut-mangut menjawab seperti burung kakatua.


“Terima kasih Pak Ismat atas bantuannya. Saya jadi banyak merepotkan warga desa ini.”


“Ah, tidak Pak Dokter. Sudah jadi kewajiban kami mengurusi semua kepentingan Pak Dokter. Ini perintah Pak Lurah langsung. Lagi pula, Pak Dokter akan melakukan tugas penelitian untuk memberantas penyakit di desa kami.”


“Iya, Pak. Saya mohon juga bantuannya nanti selama saya meneliti penyakit yang menjangkiti desa ini.”


“Pasti Pak Dokter. Dengan senang hati kami akan membantu Pak Dokter. Saya permisi dulu, Pak. Masih banyak tugas di desa,” katanya undur pamit.


Ismat memundurkan badan dan tak berbicara apa-apa lagi. Atang bersama Ilyaz membereskan barang-barang yang dibawa. Satu per satu, koper dimasukkan ke dalam kamar yang cukup luas.


“Namamu Atang ‘kan?” tanya Ilyaz, Atang mengangguk dan berhenti sebentar dari kegiatan benah-benahnya. “Saya heran dengan masyarakat di sini.”


“Memangnya, ada apa Pak Dokter?”


“Mushola. Mushola itu tidak terawat. Apa warga punya mushola lain untuk shalat?”


“Hmmm, mushola itu...” Atang tak berani menyampaikan perihal mushola desa.


“Ya, Mushola itu! Kamu kenapa, Tang?”


“Saya takut menceritakannya Pak Dokter. Kata Pak Lurah, warga di sini terlarang menceritakan mushola itu. Takut kena kualat.”


“Kualat? Memangnya ada apa dengan mushola di samping rumah ini?”


“Eh, itu… anu,” kikuk. Atang benar-benat mati kutu. Tak berani menceritakan apapun mengenai mushola itu.

__ADS_1


Ada apa dengan mushola desa ini?


“Tang!” panggil suara perempuan dari luar. Atang keluar untuk menemui suara yang memanggilnya.


Dokter Ilyaz mulai mengamati keadaan kamar. Jendela kamar langsung menuju area belakang mushola. Ada tempat MCK dan tempat wudhu. Di sana juga ada keranda mayat yang tergeletak di sampingnya. Bila diperhatikan agak lama, mushola itu sudah seperti kamar mayat yang tak terawat. Penuh dengan aroma keangkeran dan energi negatif. Ilyaz tak begitu peduli. Namun, ia merasa heran dengan ketidakpedulian warga dengan mushola desa ini. Padahal, selama dalam perjalanan, desa ini tak terlihat memiliki rumah ibadah lain selain mushola berantakan ini.


Apa warga sudah tak ada yang peduli dengan kewajibannya sebagai hamba Tuhan? Ah, itu hanya prasangka buruk saja. Siapa tahu memang ada mesjid lain.


Cukup lama ia menunggu Atang yang tak juga kembali. Lalu, sang dokter keluar melihat Atang dan seorang perempuan tua.


“Oh, ini Pak Dokter yang dari kota?” sapa perempuan tua yang bersama Atang.


“Ya, Mak. Ini Pak Dokter Ilyaz. Baru sampai dari kota,” ucap Atang.


“Assalamualaikum, sore Bu,” sapa Ilyaz.


Lagi-lagi mushola itu. Bukankah mushola tempat ibadah yang harusnya diisi jamaah bukan ditakuti layaknya kuburan atau rumah angker? Meskipun, memang ada aroma keangkeran yang menyelimuti hawa keberadaannya.


“Loh, Mak. Memang ada apa dengan mushola itu?” tunjuk Ilyaz.


Mak Ijah dan Atang sekilas menoleh ke arah mushola, lalu kembali melirik Ilyaz. “Ceritanya, hmm… nanti saja Pak Dokter, saya takut kalau cerita sekarang. Sudah mau magrib, saya sama Atang permisi dulu. Assalamualaikum.”


Dokter Ilyaz membalas salam, ia tidak bisa mencegah.


**


Langit memang bermegakan oranye kemerahan di ufuk, agak menghitam di beberapa wajahnya. Burung-burung juga sudah mulai berterbangan pulang ke sarang. Tidak salah bila mak Ijah dan Atang ingin segera pamit pulang. Hawa mushola jadi semakin menunjukkan kemistisannya. Seperti ada sesuatu yang membuat Ilyaz menggidikkan pundak saat memandang ke arah mushola. Ia merasakan seseorang sedang mengawasi. Dia sadar, tapi tak tahu siapa. Dengan hawa masih misterius, Ilyaz masuk ke dalam pondokan untuk beristirahat dan bersegera menunaikan shalat magrib.

__ADS_1


Magrib tiba, saatnya menunaikan panggilan Tuhan.


Tak ada suara azan. Desa benar-benar sepi dari aktifitas ibadah, tapi ia tetap berprasangka baik saja. Barang kali, warga menunaikan ibadah di rumah masing-masing mengingat mushola desa ini sudah tak layak untuk digunakan shalat berjamaah.


Air wudhu. Ke mana mencari air? Dokter itu lupa menanyakan letak kamar mandi untuk mendapatkan air wudhu. Terpaksa ia mencari letak kamar mandi. “Desa ini butuh banyak perbaikan. Listrik, sarana ibadah dan juga sarana lainnya. Aku akan mengajukan beberapa proposal untuk perbaikan mushola dulu. Mengawatirkan sekali kondisinya,” gumamnya. Cahaya lampu pondokan tak terlalu terang. Lampu pijar lima watt saja. Cukup untuk mata sang dokter berjalan merayap mencari kamar mandi.


Ditemukan juga. Letaknya tepat berada di belakang rumah dekat dapur, juga dekat dengan MCK mushola. Hanya tersekat dinding dan jarak satu meter dari MCK. Beruntung air tersedia dalam bak, jadi Ilyaz tak harus keluar mencari air. Ia mulai mengucurkan air ke bagian-bagian tubuh dengan sempurna.


“Loh, bukannya mushola tak terpakai?” desah Ilyaz. Telinganya menangkap sekelumit suara yang berasal dari arah mushola. Suara kucuran air dan orang bercakap-cakap. “Ah, mungkin orang yang kebetulan lewat,” desisnya. Suara itu menghilang lagi.


Tiga rakaat sudah dilakukan. Dengan kekhusyukan, ditunaikan shalat. Hawa dingin dan agak sepi yang dirasakan, berubah drastis saat ia selesai menunaikan shalat magrib. Hawa ruangan memanas, hawa itu peringatan untuk tidak melaksanakan ibadah lebih lanjut. Kebiasaan dr. Ilyaz berdzikir sehabis shalat, menambah hawa di dalam kamar memanas dengan cepat. Ia merasakan energi panas menyerang. Namun, itu tak menghentikannya dari bertasbih.


Krukk krukkk, bruggggg, dengan keras suara barang dengan ukuran berat, terguncang dan jatuh dari tempat yang cukup tinggi.


“Astagfirullahadzim!” sentaknya kaget dengan suara yang didengar. Dengan rasa penasaran yang memuncak, ia memastikan arah datangnya suara. Dari arah dapur, dipastikan arah suara yang didengar. Aneh, tak ada apa pun. Padahal, suara tadi sangat keras. Apa sebenarnya?


Logika Ilyaz berputar; benda sangat keras dan berat jatuh dari ketinggian dan tepat berada di dapur. Tapi, tak ada apa-apa setelah diperiksa. Ah, mungkin hanya pendengarannya saja yang masih lelah dengan perjalanan tadi siang. Apalagi jalan desa ini masih berbatu dan belum tersentuh aspal sebagai lapisan jalan. Kembali, tak dipedulikannya hal-hal yang mulai terasa aneh di sekeliling. Pikirannya masih tetap menganggap hal-hal aneh yang terjadi sebagai fenomena biasa, tak harus berlebihan ditanggapi. Ia sudah cukup lelah dengan perjalanannya. Tidak perlu menambah kelelahan lagi dengan berpikiran macam-macam dari semua yang dialami.


Koper yang masih tergeletak, diambil. Dibuka satu koper berisi alquran kecil dan halamannya dibuka. Lantunan ayat alquran menggema, memenuhi suasana kamar. Bruggg! suara benda jatuh kembali terdengar. Ilyaz tak acuh saja menanggapi suara yang didengar. Namun, suara jatuh itu kemudian berubah menjadi suara langkah kaki. Bukan langkah kaki orang berjalan, melainkan suara langkah kaki orang yang meloncat-loncat.


Lantunan ayat berhenti. Suara itu telah menganggu konstrasi.


Arahnya dekat sekali. Di samping kamar, dari arah mushola, tapi kemungkinan lebih dekat lagi. Kepanasarannya bangkit. Telinga diarahkan ke arah suara. Dari sebelah jendela yang terbuat dari kayu berdaun dua. Dengan desain bersela-sela dari potongan kayu yang tersusun. Tirai yang menutupi daun jendela, disingkapkan, sedikit saja.


Ia mengintip dari arah jendela. Di luar gelap, tak terlihat siapa pun. Sepi dan tenang. Pemandangan langsung menuju mushola. Suara gaduh yang didengar diyakini dari arah mushola. Benda berat yang jatuh. Lalu, suara langkah orang melompat-lompat.


Malam begini, siapa? Pikiran Ilyaz tak bisa menemukan jawaban. Jelas di mushola itu tak ada siapa pun. Hanya gelap dengan nuansa mistis yang kental. Sudahlah, tak ada apa-apa. Tak mau ambil pusing, ia kembali melanjutkan lantunan ayat alquran yang dibacanya.

__ADS_1


__ADS_2