Tumbal Pesugihan Pocong

Tumbal Pesugihan Pocong
empat


__ADS_3

Jarak rumah di desa ini satu dengan yang lainnya cukup lebar. Dari satu rumah ke rumah lain sangat renggang. Pantas saja, orang-orang tak begitu ramai berada di rumah duka untuk melayat. Begitu pula rumah Anto, terhitung ada enam rumah yang saling berkumpul dengan jarak sekitar enam sampai delapan meter dari satu rumah ke rumah lainnya.


Di sana sudah ada sekitar sepuluh orang yang melayat dan mengurusi jenazah Anto. Orang-orang di dalam mengalihkan perhatian pada Ilyaz. Tak terdengar lantunan surat-surat alquran sebagai tanda doa dari pelayat. Mereka hanya diam saja, beberapa orang menangisi Anto yang terbujur kaku.


Ilyaz membuka lembaran kain yang menutupi mayat.


Deg!


Jantung Ilyaz berdetak cepat.


Tidak mungkin! Mayat ini sama persis dengan mayat yang ada di keranda semalam. Sosok yang terlihat di musala tadi, Anto? Keadaannya sama persis dengan yang ada di musala.


Dokter itu terhenyak menyaksikan kondisi mayat Anto. Lidah menjulur keluar dengan mata yang hampir juga keluar, melotot kesakitan, dan di leher ada bekas luka menghitam. Luka yang persis sama dengan luka jeratan. Kondisi mayat teramat kesakitan


“Sudah dimandikan, Pak?” tanya Ilyaz.


“Sudah, Pak Dokter,” Atang malah menjawab.


Tas yang dibawa, dibuka. Alat-alat kedokteran dan catatan dikeluarkan. Sarung tangan karet dan masker dipakai untuk sterilisasi. Atang dijadikan sebagai asisten dadakan. Dengan cekatan, ia mengamati setiap tanda-tanda kematian yang ada. Hampir semua bagian tubuh mayat diperiksa. Tiga puluh menit, pemeriksaan dilakukan. Catatan sudah didapatkan sebagai bahan penelitian dan pengambilan hipotesis.


“Tang, tolong kamu rapikan,” ujar Ilyaz yang sibuk membuka sarung tangan karet berwarna putih kekuningan. “Sudah disalatkan, Pak?” tanyanya lagi pada para pelayat yang sedari tadi hanya menonton dokter itu mengotopsi mayat Anto.


Tak satu pun ada yang menjawab. Para pelayat saling melirik dan berbisik-bisik saja. Mereka tak berani mengatakan sesuatu untuk menjawab pertanyaan Ilyaz.


“Maaf, Pak Dokter. Di desa ini, mayat tidak boleh disalatkan. Langsung dikubur saja setelah dimandikan dan dikafani.” Ismat angkat bicara setelah tadi agak kikuk.


Kening Ilyaz mengerut serta mata agak menyipit. Heran dengan jawaban Ismat. Bukankah dalam ajaran agama, menyalatkan mayat adalah hak dari mayat tersebut dan kewajiban yang masih hidup sebagai tanda penghormatan serta perintah wajib dalam tata cara penyelenggaraan mayat?


“Lho Pak, kok bisa begitu? Bukannya menyalatkan mayat kewajiban kifayah? Akan berdosa seluruh kampung bila tidak ada yang menyalatkan orang meninggal.”


“Ah, biarkan saja dosa, Pak Dokter daripada desa ini kena kualat dan kutukan,” jawab Ismat semakin membuat Ilyaz menggelengkan kepala.


“Hah, kutukan?!”

__ADS_1


“Ceritanya panjang, Pak Dokter. Wis, tidak usah disalatkan daripada kena kualat,” ujar Ismat bersikukuh dengan pendiriannya.


“Warga semua percaya dengan kutukan?”


“Pak Dokter di sini untuk meneliti penyakit yang terjadi, bukan untuk mengusik kepercayaan kami!” Ismat semakin garang dengan pendiriannya.


“Baiklah, bila tidak ada yang mau menyalatkan, saya yang akan menyalatkannya.”


Wajah Ismat cemberut. Sangat tidak suka dengan kekerasan hati Ilyaz menyalatkan Anto.


“Ngeyel. Kalau Bapak dapat kutukan karena kualat, saya tidak mau tanggung jawab. Bila ada warga yang ikut menyalatkan mayat ini, kalian tanggung sendiri akibatnya karena kalian sudah kualat!” ancam Ismat.


Warga yang ada, terdiam dan ketakutan dengan ancaman Ismat. Mereka tak berani membantah ucapan KaDus itu. Kutukan itu benar-benar nyata. Warga tak mau mendapatkan kengerian dari kutukan desa ini.


“Pak Dokter, lebih baik jangan,” bisik Atang.


Bibir Ilyaz malah tersenyum.


“Kamu takut jadi kualat?”


“Kalau tidak ada yang memenuhi hak almarhum, saya akan tetap menyalatkannya.”


Warga berbisik-bisik, suasana berubah ricuh dengan keputusan Ilyaz yang berani melanggar kutukan yang ada di desa. Padahal, ia baru saja tiba di desa ini. Gegabah sekali menentang kutukan. Terlalu berani untuk tidak mengindahkan larangan desa. Kualat.


Mayat Anto masih terbujur kaku ditutupi kain panjang. Seorang diri, Ilyaz menyalatkan mayat yang tergolek. Empat kali takbir akan dilaksanakan dengan disaksikan warga. Mereka memandang ritual itu. Ketakutan malah lebih dirasakan warga daripada keharusan mereka menghormati jenazah.


Takbir pertama dilakukan. Baru saja berkumandang, tiba-tiba warga menjerit panik, ricuh dan berhamburan keluar. Mereka dikagetkan dengan mayat yang bergerak-gerak, melayang.


“Astagfirullahaladzim!” sentak Ilyaz, setengah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mayat bisa melayang dan membuat heboh. Para pelayat melarikan diri, tak terkecuali Atang yang juga ketakutan. Mayat Anto jatuh setelah beberapa menit melayang.


“Kan, saya sudah peringatkan. Kualat. Dokter tidak mengerti apa-apa dengan kutukan di desa ini!” Setengah marah Ismat menceramahi Ilyaz, lalu keluar dan memanggil warga lainnya.


Mereka segera masuk, membungkus mayat Anto untuk dimasukan ke dalam keranda yang ada di luar. Tertegun saja, Ilyaz nampak kebingungan dengan kejadian yang menimpanya. Aneh, tapi nyata, antara harus percaya atau tidak.

__ADS_1


Prosesi pemakaman Anto akan dilakukan. Jarak kuburan lumayan jauh dari rumah duka. Sepanjang jalan sepi. Orang-orang desa tak tampak ikut mengantarkan kepergian alhmarhum Anto untuk terakhir kalinya.


“Sedikit sekali pelayatnya, Tang?” tanya Ilyaz.


“Iya, Pak Dokter. Warga desa ini ‘kan memang sedikit, ditambah banyak warga yang enggan kembali ke desa.”


“Loh, kenapa?”


“Kutukan musala... semua karena itu, Pak? Ih.” Atang malah bergidik lagi setiap mengingat musala dekat pondokan desa.


“Memangnya, ada apa dengan musala itu?”


“Hm, nanti saja, Pak,” bisik Atang. Matanya tak lepas dari perhatian Ismat yang turut mengantarkan jenazah Anto.


Tanah dengan lubang kurang dari dua meter tampak baru digali di antara jajaran gundukan tanah berbatu nisan. Beberapa orang duduk menunggu beserta peralatan gali tanah. Bekas-bekas tanah merah menempel di semua peralatan gali yang digunakan.


“Sudah siap?” tanya Hamid. Pagi menuju siang ini, pria itu mengenakan kemeja hitam dengan peci dan juga kacamata berwarna sama.


“Sudah, Pak Lurah,” ucap Ismat, lalu membisikan sesuatu..


Lurah itu memanggut, “begitu ya?” desahnya. “Ayo semua! Kita segera kuburkan saja mayatnya. Tak baik membiarkan lama-lama. Mayat harus segera dikembalikan ke asalnya.”


Keranda diletakkan di dekat lubang yang masih baru. Tiga orang turun ke bawah untuk meletakkan mayat yang sudah diberikan bantalan-bantalan bulat dari tanah makam.


Mata Ilyaz jeli. Ia melihat satu bulatan diambil.


Untuk apa Pak Lurah mengambil bantalan tanah?


Mayat Anto diletakkan begitu saja dalam lubang kubur. Tak ada doa-doa yang dipanjatkan. Semuanya dilakukan dengan cepat. Para pelayat pergi setelah lubang tertutup sempurna membentuk gundukan tanah merah yang masih baru. Atang membalikkan badan. Ia berhenti sejenak menunggu Ilyaz yang masih berada dekat makam, mengangkat ke dua tangan, berdoa.


“Pak Dokter mendoakan almarhum Anto?” Atang malah melontarkan pertanyaan yang tak perlu setelah sang dokter selesai berdoa.


“Ya, kewajiban sebagai seorang muslim memang harus mendoakan muslim lainnya, ‘kan? Terlebih pada ahli kubur, butuh doa orang hidup sebagai peringan keadaan kubur mereka.”

__ADS_1


“Pak Dokter benar, tapi.... Ah, saya bingung menjelaskannya! Mudah-mudahan saja tidak jadi kualat. Kutukan itu mudah-mudahan tidak terjadi lagi.”


__ADS_2