Tumbal Pesugihan Pocong

Tumbal Pesugihan Pocong
Tiga


__ADS_3

Waktu semakin berjalan. Malam cepat sekali membuat keheningan semakin mengental. Berbaur dengan suara jangkrik dan nyanyian katak-katak sawah. Jarum jam menunjukkan angka 01. 58. Waktu yang sudah terbiasa untuk Ilyaz terbangun dari lelap untuk menunaikan shalat malam. Udara desa Suka Asih sangat dingin. Sangat berbeda dengan udara kota yang harus menggunakan air conditioner untuk mendapatkan hawa sejuk. Itu semua tak menyurutkan niatnya untuk bangun dan bersujud di pagi buta. Air wudhu diambilnya dari kamar mandi dekat MCK mushola. Gemerincik air dan suara orang bercakap-cakap. Suara yang sama seperti yang didengarnya saat magrib dan sekarang, suara itu kembali hilang lagi. Namun kali ini, suaranya terdengar empat orang.


Bruggg, bruggg!


Suara benda keras bergoyang-goyang. Disusul dengan suara benda berat berjatuhan sebanyak empat kali. Suara-suara itu juga disertai kukuk burung hantu yang terdengar dari kejauhan. Samar, Ilyaz dengan saksama mendengarkan.


“Kita jemput yang namanya Anto. Dia tumbal selanjutnya. Kita harus cepat sebelum ayam berkokok dan subuh tiba,” suara yang terdengar agak berat.


“Iya, iya tapi semua sudah siap ‘kan?” suara lain bertanya.


“Sudah. Kain kafan, alat ukur juga tali. Ki Ageng Mayitan pasti sudah tak sabar dapat tumbal baru.”


“Ayo, cepat! Sebelum ayam berkokok.”


Suara percakapan empat orang, lenyap seketika disertai suara angin kencang berembus. Bulu kuduk dr. Ilyaz berdiri. Hawanya memang terasa sedikit asing.


Suara keempatnya benar-benar berbeda dari suara manusia. Agak berat dan sengau. Mereka bersuara layaknya orang yang sakit tenggorokan dan lebih mirip orang yang sesak tercekik. Sang dokter tetap tenang. Ia sama sekali tak terpengaruh dengan keanehan-keanehan yang dirasakan. Padahal, rasa takut sempat menghampiri. Ia sendiri tak menampik ada rasa takut yang datang saat embusan angin kencang melenyapkan suara-suara yang terdengar.


Mencoba berani, Ilyaz tak mengizinkan psikologinya dipengaruhi hal-hal di luar nalar. Dengan penyerahan diri dan keikhlasan, ia bersujud dan kemudian melantunkan ayat-ayat alquran lagi. Kebiasaannya tak lepas dari membaca alquran di kala waktu senggang. Seperti pagi buta ini.


Lagi-lagi hawa berubah menjadi panas dan energi lain sedang mencoba menghentikan lantunan ayat sang dokter. Suara yang sama di kala magrib kembali mengganggunya. Langkah orang berjalan meloncat disertai dengan bunyi benda yang bergoyang. Hawanya semakin menusuk gerah. Kali ini, Ilyaz terganggu dengan suara yang mengetuk-ngetuk jendela kamar. Ia menghentikan lantunan ayat yang dibaca. Lalu, dengan perlahan membuka tirai yang menutupi jendela kayu bersela. Matanya mengintip. “Astagfirullahaladzim, allahu akbar!” sentaknya kaget, akan tetapi bernada lirih.


Rasa takut mendera seketika. Keringat Ilyaz membasahi dahi. Keranda yang tergeletak di samping mushola dekat kamar, mengambang. Keranda mayat yang kosong bergerak, bergoyang-goyang. Lalu, ada empat orang yang mengusung keranda, sepertinya baru datang dari satu tempat. Di dalam keranda ada isinya. Ia tak bisa memastikan siapa yang berada dalam keranda, tapi di dalamnya ada sosok putih yang terbaring dengan ikatan-ikatan khas orang mati. Lalu, keranda diusung oleh empat orang yang mulai terlihat.

__ADS_1


Keempatnya memakai pakaian yang sama. Pakaian khas orang mati dengan lima ikatan dibalut kain yang lusuh, penuh dengan tanah. Keempatnya mengusung keranda mayat dengan cara meloncat-loncat. Pantas saja, dari tadi terdengar suara kaki orang yang meloncat dibarengi benda berat yang jatuh.


Ilyaz terbelalak. Setengah tak percaya, tapi ia menyaksikan sendiri kenyataan yang ada. Tenggorokannya jadi kering dan keringat menetes dari dahi. Keempat pengusung itu menghilang bersama keranda yang dipikulnya.


**


Masih enggan terbelalak, mata Ilyaz menyipit. Mulutnya menguap lebar menahan rasa kantuk bekas semalam. Ini hari pertama di desa.


“Pak dokter, Pak!” Suara ribut di luar memaksanya untuk membuka mata. “Pak dokter, Pak! Maaf, Pak! Ada yang meninggal lagi karena penyakit aneh.”


Agak malas, tapi terpaksa Ilyaz menuju luar dan membuka pintu. Atang, pagi-pagi sudah teriak tak karuan. Mulut dokter itu kembali menguap dengan entengnya. “Ada apa, Tang?”


“Pak, malam tadi. Anto, Pak. Meninggal... kena penyakit kutukan itu lagi!” Dengan tergesa-gesa, Atang menarik napas.


“Iya, Pak. Anto. Padahal, kemarin ia baru saja minta diantar ke kota buat beli perabot rumah tangga,” jelas Atang terengah-engah dengan gaya bicaranya.


“Anto punya penyakit akut, Tang?”


“Terakhir bertemu saya, masih sehat. Malah Anto menang taruhan kupluk tiga hari lalu,” ucapnya rada kikuk. Atang menyadari sesuatu yang salah dengan apa yang keluar dari mulutnya. Ia terdiam dan melirik ke sana-sini.


“Ada apa, Tang?” tanya Ilyaz ikut aneh dengan sikap Atang yang celingak-celinguk memastikan bila ucapannya tidak didengar siapa pun.


“Eh, tidak ada apa-apa. Ayo Pak, kita berangkat ke rumah Anto! Bapak ‘kan mau meneliti penyakit kutukan di desa ini?”

__ADS_1


Benar juga, Ilyaz berada di desa ini untuk meneliti pandemi yang belum diketahui jenisnya. Menurut laporan sebelumnya, penyakit aneh yang menyerang warga Suka Asih memiliki tanda-tanda penyakit menular yang mematikan. Ini sebuah fenomena yang sangat berbahaya sekaligus bisa berguna untuk kemajuan ilmu kedokteran di masa depan. Penyakit ini harus mendapatkan penanganan yang serius guna mendapatkan obat pencegahnya.


“Tunggu sebentar, Tang. Saya mau mempersiapkan peralatan dulu,” Ilyaz masuk ke dalam kamar, mengambil beberapa alat kedokteran yang diperlukan beserta alat tulis. Dimasukannya semua peralatan yang dibutuhkan ke dalam tas jinjing hitam berbahan campuran kulit. “Ayo, Tang!”


Sejenak, dokter itu memandangi musala lapuk yang memancarkan aura mistis. Atang memperhatikan dan ikut menengok ke arah musala. Tak tahu ada apa, Atang malah bergidik ketika memandang sejenak.


“Pak? Kita berangkat sekarang?” ucap Atang sambil bergidik ngeri.


“Ya, Tang,” ujar Ilyaz.


Terpaksa Atang dan Ilyaz harus melewati musala dan memutar jalan. Rumah Anto berada di arah barat musala desa. Mata sang dokter tak lepas dari tempat diletakkannya keranda mayat yang tergeletak.


Apa sebenarnya yang terjadi semalam? Keranda ini masih utuh berada di tempatnya. Tapi... semalam, keranda dan empat orang pengusungnya dengan kain lusuh dan ikatan tubuh persis bungkusan mayat, membawa keranda ini dan lenyap dalam sekejap mata.


Ia menyaksikan keempat mayat hidup yang masih memakai kain kafan lusuh mengusung keranda musala. Di luar logika, tapi saat ini penelitian jadi prioritas utama.


“Cepat, Pak! Saya takut kalau harus lama-lama di musala,” ujar Atang, tak henti-hentinya bergidik.


“Oh, iya. Ayo Tang!”


Sekilas di penglihatan Ilyaz, orang yang sama semalam sedang berdiri di dekat keranda. Agak sedikit masuk ke dalam musala yang dipenuhi sarang laba-laba dan debu, ia melambaikan tangan, seakan hendak meminta Ilyaz agar menolongnya. Wajah menyedihkan, pucat pasi dengan lidah menjulur keluar dan leher menghitam. Empat ikatan membelit pada tubuh berbalut kain kafan. Sisi manusia Ilyaz mengakui ketakutan yang ada dalam diri, ngeri bercampur rasa penasaran dengan sosok yang disaksikan di dalam.


Ajakan Atang untuk tak berlama-lama berada di dekat musala, membuyarkan rasa penasaran Ilyaz. Sosok yang sekilas terlihat, hilang begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2