
Bisikan mendesah, Ilyaz yakin suara itu berasal dari dalam. Angin dingin berembus menerpa wajah, agak tercium bau daging kering layaknya mayat yang sudah berusia ratusan tahun dan mengering. Jantung berdegup kencang, keraguan muncul setelah mendengar bisikan peringatan itu, ada kekuatan mengerikan dari dalam. Namun, ia berusaha melawan dengan terus membaca doa-doa dalam hati, sekuatnya menangkis energi negatif yang menyerang.
“Bismillahi tawakaltu Alallahu, lauhala walakuata illabillah aliyyil adzim. Ya Allah, aku percaya tidak ada kekuatan yang bisa melawan kehendak-Mu,” desahnya. Sambil terus membaca doa-doa, beberapa menit mengamati keadaan. Mata itu tetap terpaku pada bayangan putih dari dalam musala. Mata menatang, tak takut dengan peringatan yang datang.
Jangan mengganggu!
Ilyaz tak bergeming. Ia tetap menguatkan tekad untuk mengembalikan kembali wajah musala seperti sebelumnya.
Angin dingin lebih kencang bertiup dari dalam hingga daun-daun yang bertebaran di lantai, berterbangan. Begitu pula, pintu musala bergerak sendiri, terbanting.
“Pak Dokter,” bisik Atang gemetaran. Pemuda itu merasakan keganjilan dari embusan angin yang membanting pintu. Hawanya dingin, tapi bukan dingin biasa.
Berbeda sekali dengan udara dingin pedesaan, hawa yang dirasakannya bercampur kengerian. Ia paham dan peka, ini hawa keberadaan makhluk yang tak kasat mata. Kakinya rada mundur menuju ke belakang punggung Ilyaz.
Ilyaz tetap terpaku dengan mulut tak henti berdoa, kedua tangan diangkat setengah dada. Angin dari arah dalam musala semakin kencang berembus saat ia merapalkan doa-doa. Sedangkan Atang membenamkan sedikit kepala di punggung dokter itu. “Allahu akbar!” gema takbir berkumandang keras.
Kreetttt… brugg, pintu musala berderit lalu terbanting.
“Astaga!” sentak Atang kaget.
“Sudah Tang, hanya angin. Kita mesti cepat membenahi musala ini. Setidaknya, sampah-sampahnya dibersihkan dulu,” langkah Ilyaz mantap menuju bagian dalam musala.
Atang mengikutinya dari belakang, perlahan. Namun, terus melangkah ke depan.
Debu dan sarang laba-laba menghuni rumah ibadah di desa ini. Tercium bau usang dari kayu-kayu yang mulai lapuk. Hati Ilyaz sungguh teriris dengan keadaan musala yang tak terurus. “Menyedihkan sekali kondisi musala ini, Tang,” ia memelas.
“He-em,” jawab Atang singkat. Ia bukan memikirkan kondisi musala yang menyedihkan, tetapi mengenai hawa keangkeran yang masih terasa. Matanya terus berputar memeriksa keadaan, setiap sudut diperhatikan.
“Tang!” panggil Ilyaz memperhatikan tingkah Atang.
__ADS_1
“Oh, Pak Dokter. Bisa kita selesaikan dengan cepat?”
“Baru saja mulai, Tang.”
“Ehm..., kenapa Pak Dokter sangat peduli dengan musala desa ini? Pak Dokter ‘kan bukan warga desa ini.”
Ilyaz tersentak, pertanyaan Atang sangat dalam untuk dicari jawabannya. Benar sekali, ia sama sekali tak memiliki hubungan apa pun dengan musala ini. Namun, kenapa harus sangat peduli sampai berani menentang kepercayaan yang ada di desa ini. Apakah ini kebodohan yang dilakukannya?
Tidak, semua karena panggilan hati. Ada bentuk tanggung jawab yang datang untuk mematahkan kepercayaan warga desa yang menurutnya, salah memahami peristiwa yang menimpa ust. Aslam. Ia ingin agar warga kembali mengingat Tuhan, takut melanggar perintah Tuhan, bukan menakuti teror arwah penasaran yang menganggu desa. Jelas ini semua hanya kebohongan.
Tak mungkin orang yang sudah meninggal, mendatangi mereka yang masih hidup dan menakut-nakuti. Bukankah jelas, bila ruh orang mati berada di tempat yang tak ada satu kekuatan pun yang bisa menembusnya tak terkecuali, arwah itu sendiri. Mereka berada di tempat yang sangat ketat penjagaannya, alam kubur.
Namun, Ilyaz juga memahami. Kepercayaan kutukan itu terlanjur melekat serta menyebar di desa ini dan terlanjur menjadi keyakinan yang pastinya, bakal sulit disingkirkan dari benak warga.
“Saya tidak butuh alasan ‘kan, Tang untuk mengajak warga kembali ke jalan Allah? Ya, mungkin alasannya terlalu sok agamis, saya memang terpanggil untuk mengembalikan musala ini sebagai tempat ibadah,” ujarnya mantap, tetapi penuh kelembutan.
“Mudah-mudahan saja, dengan dibangun kembali musala ini, arwah ust. Aslam bisa tenang dan kutukan di desa ini berakhir.”
“Amin, semoga saja. Kita mulai dari bagian sana Tang!” tunjuk Ilyaz ke sisi dekat halaman.
Ijah datang membawa sepiring makanan ala kampung. Rebusan singkong, pisang muda serta gelas dan teko berisi air teh.
Beberapa warga kampung datang. Mereka membawa kemarahan, terlihat wajah-wajah tak senang dari ekspresi yang tak bersahabat.
“Kalian ini ngeyel! Kami sudah memperingatkan apa yang akan terjadi bila berani mengusik musala angker ini,” ujar Ismat berada di depan barisan warga yang datang.
Ilyaz keluar setelah mendengar teriakan dari Ismat, Atang dan Ijah menyusul, menemui kerumunan. Mereka keheranan dengan banyaknya warga yang emosi.
“Pak Dokter, hanya tamu di sini. Pak Dokter telah membuat warga marah dan menebar teror di desa ini, tahu?” Ismat menghardik tanpa canggung, sepertinya terbakar emosi tinggi.
__ADS_1
“Maaf, Pak Ismat. Salah saya apa?”
“Heh, jangan pura-pura! Kan sudah saya peringatkan, jangan ganggu musala ini. Keinginan Pak Dokter itu akan membuat penunggu tempat ini marah besar. Kami tidak sudi menerima kutukan hanya karena ulah sok tahu.”
“Tunggu, Pak Ismat. Kita bicara baik-baik.” Ilyaz tetap tenang menghadapi gejolak kemarahan warga. Belum meledak sepenuhnya, tapi aura tak enaknya sangat kuat terasa, “kita jernihkan keadaan, berpikir dingin dan tahan dulu emosi.”
“Pak Dokter, jangan terlalu banyak berdalih. Kami kemari untuk menghentikan pekerjaan yang membuat desa bakal terkena kutukan,” tegas Ismat berapi-api.
“Tenang dulu, Pak Ismat. Saya melakukan ini sesuai dengan kesepakatan sebelumnya. Pak Lurah sudah memutuskannya, nasib musala ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama, benarkan?” Ismat terdiam sejenak mendengar penjelasan Ilyaz, “hasilnya, warga sepakat kalau musala ini dibersihkan dan diperbaiki lagi.”
Beberapa warga saling berbisik setelah Ilyaz menerangkan hasil musyawarah yang telah dilakukan.
Ismat merasakan ketegangan, lalu menoleh ke belakang, kiri dan kanan dan kembali melihat. Ilyaz sebagai lawan bicaranya. “Dan kami ingin mufakat itu batal,” selanya bersikukuh.
“Alasannya?”
“Pak Dokter benar-benar tidak paham, apa pura-pura? Saya ‘kan sudah jelaskan, kami tidak ingin desa kena kutukan lebih parah lagi. Arwah penunggu musala ini pasti marah besar karena kediaman mereka telah diusik.”
Ilyaz tersenyum agak sinis, nenertawakan kemunduran pemikiran warga. Mereka begitu kental dengan kepercayaan klenik yang tak bisa diterima akal.
“Bapak-bapak, Ibu-ibu, sekali lagi, saya ingin mengajak warga sekalian untuk membuka pemikiran kita. Apa Bapak dan Ibu benar-benar yakin sumber kutukan itu karena musala ini?”
Warga bisik-bisik saja, tidak ada satu pun yang berani menentang.
Ismat memperhatikan setiap ekspresi massa. Warga dinilainya tidak konsisten, mereka datang ke sini untuk menghentikan tindakan Ilyaz, bukan malah saling berbisik dan gaduh. Ismat gusar, rona memerah dengan rahang menekan gigi-giginya. Kadus itu berpikir bila warga terus ragu, maka semuanya akan kacau. Dokter itu akan mudah memfungsikan kembali musala terkutuk itu. Tak terbayang, apa yang akan terjadi bila rumah ibadah itu seperti dulu, para penunggunya pasti tidak akan rela terusir dan bisa saja teror kutukan menebar lebih ganas lagi.
“Kalian mau mendengarkan orang asing yang baru mengenal desa ini atau percaya padaku yang sudah puluhan tahun tinggal di desa ini?” ucap Ismat arogan.
Ilyaz semakin tak memahami pemikiran Ismat, apa maunya? Niat itu benar-benar murni untuk menyadarkan warga agar kembali kepada Tuhan, menjalankan kewajiban pada-Nya. Musala ini tempat ibadah satu-satunya di desa.
__ADS_1