Tumbal Pesugihan Pocong

Tumbal Pesugihan Pocong
sepuluh


__ADS_3

Atang tak sepenuhnya salah. Dokter itu juga merasakan suasana malam yang mencekam. Sekuat mungkin, ia berpikir tenang agar ketakutan pemuda desa itu tak bertambah lebih serius.


“Ah, sudahlah. Jangan berpikiran yang tidak-tidak.” Mencoba santai dan berpikiran positif.


Tidak akan ada apa-apa. Malam ini langitnya indah dengan purnama bersinar terang. Namun, cukup dingin dan sedikit mencekam. Itu bukan apa-apa, tidak ada apa-apa dan tidak akan ada apa-apa. Atang menguatkan diri untuk tidak terbawa pikiran negatif.


Malam bermandikan bulan purnama bersenandungkan lolongan anjing yang entah dari mana asalnya. Sial, Atang malah terbawa hanyut dengan lolongan anjing yang terdengar samar di telinga. Ia yakin bila suara itu berasal dari tanah pemakaman. Instingnya mengatakan demikian. Ah, pertanda tak bagus, bulu kuduk anak itu meremang. Ia semakin merasakan tekanan yang membuatnya semakin tak bisa menenangkan kegelisahan yang ada.


Tap… tap… tap, langkah kaki terdengar samar, tapi dekat. Derapnya bukan seperti orang berjalan atau berlari. Hentakan itu mirip dengan orang yang sedang melompat, malam-malam.


“Pak Dokter dengar itu?” tanya Atang agak mengigil takut.


“Hmm... tidak, Tang. Sudah, kamu terus jalan saja. Sebentar lagi kita sampai di pondokan.” Ilyaz tak sama sekali melirik Atang. Berbeda dengan sebelumnya, dokter itu pasti akan memandang lawan bicaranya.


Atang merasakan kecurigaan dengan sikap yang ditunjukkan, tak biasanya.


Apa yang terjadi dengan sang dokter?


Suara hentakan kaki meloncat-loncat masih terdengar tepat dari arah belakang. Anak itu merasa sangat tertarik dan penasaran dengan suara yang terdengar. Ia sudah tak sabar ingin memastikan.


“Jangan menengok ke belakang, Tang!” cegah Ilyaz, “fokus saja ke depan.”


“Memang ada apa, Pak Dokter?” Atang tak jadi menengok. Larangan Ilyaz memalingkan kepenasarannya untuk memastikan siapa yang mengikuti mereka.


“Tidak ada apa-apa, Tang. Musala sudah dekat,” dokter itu berkilah agar Atang tetap memusatkan perhatiannya ke depan.


Apa yang dilakukan Ilyaz bukan tanpa alasan. Sekilas tadi, sebelum Atang menyadari langkah kaki yang mengikuti mereka, ia menangkap sesosok bayangan putih. Cara jalannya melompat-lompat, terikat lima tali, khas sesosok mayat yang siap dikuburkan.


Pondokan desa sudah terlihat. Derap kaki melompat masih mengikuti mereka.


“Pak Dokter mencium sesuatu?” tanya Atang.

__ADS_1


Hidung pemuda desa yang satu ini peka. Baunya mengganggu, samar beraroma busuk agak amis.


“Sudah Tang, jangan dihiraukan,” ujar Ilyaz tak mau banyak berkomentar.


Bukan karena dokter itu tak peka, bau yang sama juga terindera di penciuman. Sosok yang mengikuti merekalah penyebabnya.


Keringat dingin mengalir diiringi detakan jantung yang kencang. Atang semakin tak enak hati dengan jawaban dokter itu, pasti ada sesuatu yang tak ingin diketahui. Suasana hati yang tak enak menguatkan praduganya. Ia tak bisa menyembunyikan kecurigaan, terlebih ketika mereka semakin dekat dengan musala desa.


Gugup dan gemetar membuat lutut Atang serasa lemas. Ingin melarikan diri sesegera mungkin. Bila harus, menghilang saja dari sana dan sekejap saja sudah sampai di pondokan. Nyalinya sangat kecil untuk melewati musala desa yang semakin terasa seram saat mata itu tak lepas memperhatikan keadaan. Suram, gelap dan menyebarkan aroma mistis yang kental. Matanya tak ayal terus memandangi keadaan tempat ibadah itu. Seakan terhipnotis untuk tidak berpaling, Atang betah memandangi musala yang sepi dan mencekam.


Derap kaki yang mengikuti turut berhenti saat mereka sejenak terdiam di halaman musala. Bau yang menyertai mereka, samar menjauh dan semakin tak tercium. Namun, semuanya tak membuat Atang lega. Justru ia semakin menangkap ketakutan lain, matanya terbelalak, hampir keluar dari tempatnya. Mulut benar-benar kaku dan hanya keluar kata-kata yang terpatah-patah. “Po… po… poc…pocong!” teriak Atang.


Sosok yang mengikuti mereka melompat masuk ke dalam musala. Atang baru tersadar saat sosok itu melompat tinggi, setengah terbang.


“Tang!” panggil dr. Ilyaz.


Atang pucat dengan penampakan itu. Hantaman berat pada nyalinya membuat ia tak bisa melakukan apa-apa. Ia kaku dengan lutut yang bergetar, jantungnya benar-benar terkesiap dengan sosok yang mengikuti.


“Pak Dokter?” sahut Atang kebingungan. Matanya melirik ke arah belakang lalu halaman musala. Rasa takut masih ada, tapi tak sehebat tadi.


“Tidak ada apa-apa, Tang. Tadi itu hanya semacam ilusi, gambaran alam bawah sadarmu saja.”


“Tadi? Itu tadi… sungguh Pak Dokter, pasti yang tadi bukan ilusi,” sanggah Atang yakin benar dengan apa yang dilihat.


“Kamu terlalu ketakutan, Tang. Ketakutan yang berlebihan menyebabkan otakmu terus membayangkan sosok yang kamu lihat.”


“Ta…tapi tapi,” Atang tak bisa menjelaskan apa-apa.


“Sudah! Kita tinggalkan tempat ini dan istirahat. Besok kamu temani saya menyakinkan warga untuk membersihkan musala ini.”


Atang tak bisa komentar apa-apa. Sosok yang mengikuti sudah tak ada, napasnya lega. Meskipun, di hati masih merasa was-was.

__ADS_1


Ilyaz menangkap dua sosok bayangan dari arah musala, mereka mengendap-endap. Siapa yang mengendap? Kepenasaran Ilyaz bangkit. Ia yakin, bila bayangan yang dilihat bukan teman dari sosok yang mengikuti mereka selama perjalanan tadi. Nalurinya meyakini hal itu. Ia dapat membedakan, meski hanya selintas melihat sosok tadi.


Perbedaannya, mereka mengendap bukan melompat. Pasti, sosok yang dilihat kali ini bukan mayat hidup yang membuat Atang mengalami syok hebat.


“Tang, sebentar. Sepertinya di dalam musala ada seseorang,” ujar Ilyaz.


“Pak Dokter jangan menakut-nakuti, ah.” Dokter itu beranjak memastikan kebenaran nalurinya. “Pak Dokter, mau ke mana?” Atang mulai merasa ketakutan saat Ilyaz melangkah.


Ia tak menggubris. Kakinya mantap melangkah menuju musala.


Atang tak punya pilihan selain ikut ke mana pun sang dokter pergi. Bak gerakan halus seekor kucing, mereka juga mengendap untuk memergoki siapa yang ada di dalam musala. Target tak boleh lepas dari sergapan.


Baru saja Ilyaz akan masuk, dua orang dikenal keluar dari dalam.


“Lho, Pak Lurah dan Pak Ismat?” tanya dr Ilyaz.


Atang senang bercampur heran dengan kehadiran Hamid dan Ismat.


“Pak Lurah ada di sini?” Atang ikut bertanya.


Hamid terlihat gugup. Matanya memperlihatkan bila ia sedang gelagapan mencari jawaban untuk menjelaskan keberadaan mereka yang belum sempat terpikirkan.


“Oh, kami sedang memeriksa musala. Kata Pak Lurah, musala mau difungsikan lagi.” Ismat tanggap dengan kebingungan Hamid.


“Pak Ismat, tidak takut? Tadi, saya melihatnya Pak. Hih seram, pocong masuk ke dalam musala,” ucap Atang heboh dibarengi goyangan tubuh, bergidik.


“Pasti arwah ustaz cabul itu. Ya pasti itu, tidak salah lagi. Banyak warga menyaksikan kalau musala ini memang menyimpan kutukan arwahnya,” dengan berapi-api, Ismat meyakinkan.


“Benar, Pak. Benar-benar seram,” sahut Atang lagi.


“Ini tidak bisa dibiarkan, Pak Lurah. Apalagi kalau musala ini difungsikan kembali. Bisa-bisa arwah itu marah. Pak Lurah masih ingat dengan sumpah kutukannya ‘kan?” ocehan Ismat mengubah ekpresi Hamid.

__ADS_1


“Iya Pak Lurah, Atang masih ingat. Sebelum ust. Aslam tergantung, ia bilang bila suatu saat desa ini akan mendapatkan balasan azab dari Allah,” ucapnya.


__ADS_2