
Atang mengalirkan air mata penuh harap, membalikkan badan, melompat-lompat kemudian melayang dan lenyap seketika bersamaan dengan suara angin kencang yang berembus, yang terlihat hanya kabut putih, terbang ke arah musala.
“Atang!” jerit Ijah, histeris.
Ijah didudukkan di kursi depan.
Ilyaz memberinya air putih yang telah diberi doa oleh kyai Tapa.
“Ki Ageng Mayitan,” ucap Ilyaz tiba-tiba saja, “Pak Kyai, arwah sebelumnya juga mengatakan hal yang sama, minta tolong tidak ingin dibawa ke istana Ki Ageng Mayitan.”
“Mak, jadi semakin yakin dengan ucapan Pak Dokter, di desa ini ada yang melakukan persekutuan dengan Ki Ageng Mayitan, dan Atang jadi tumbalnya.”
“Kita harus menyelidiki dulu kebenarannya, jangan sampai bertindak gegabah.” Kyai Tapa menyikapi secara bijak
Obrolan demi obrolan terus berlanjut, sampai tak terasa, waktu subuh seakan cepat datang. Ilyaz dan tamu-tamunya sengaja salat subuh di musala, dengan memulai ibadah itu, menjadi awal rencana menegakkan kembali dakwah yang sudah hilang di desa Suka Asih.
**
Ruangan termaram berlampukan cahaya lilin, bergetar hebat dan tercium aroma busuk yang menyengat, suara-suara gaduh juga jadi bagian keanehan yang hadir. Dua orang bersila, ditemani satu bayang hitam tinggi besar.
“Ki Ageng memanggil kami, pagi-pagi begini. Apa yang terjadi?” tanya salah satunya.
“Kalian tahu? Di musala itu ada kekuatan besar. Ini bahaya sekali, istanaku bisa hancur dan kalian akan menanggung akibatnya bila itu terjadi,” ucapnya geram.
Kedua orang duduk bersila, gemetaran dengan kemarahan tuannya, gelegarnya benar-benar membuat bulu-bulu halus berdiri dan menegang.
“Siapa Ki? Berani sekali orang itu.”
“Tujuh orang, enam laki-laki dan satu perempuan. Keenam laki-laki itu bukan dari desa ini dan yang perempuan warga desa ini.”
“Enam orang bukan warga desa ini?” pikir satu orang yang duduk bersila. “Warga di luar desa hanya dokter itu saja. Ia memang jadi duri dalam daging, harus dilenyapkan secepatnya.”
“Bagaimana kalau pakai cara yang sama seperti pada Aslam. Kita tebar teror penyakit lalu adili untuk dijadikan tumbal, sesuai keinginan Ki Ageng,” usul satunya lagi.
“Hmm, bagus juga,” ucapnya gembira. “Ki Ageng tak usah khawatir, kami akan mengusir mereka dan mempersembahkan dokter itu sebagai tumbal.”
__ADS_1
“Hihihi, aku senang memiliki abdi-abdi seperti kalian. Bila berhasil, apa pun permintaan kalian akan aku kabulkan, tapi bila gagal, tanggung akibatnya. Aku akan menyebarkan anak buahku untuk membantu,” ucapnya lalu menghilang.
Sepasang mata lagi-lagi memperhatikan, bersembunyi agar tak disadari keberadaannya.
***
Langkah beberapa orang cepat, hampir setengah berlari menuju musala di pagi-pagi buta. Mungkin mereka tak mau ketinggalan salat berjamaah, derapnya benar-benar memaksakan diri agar segera sampai.
Mereka sampai kemudian berhenti di depan musala, diperhatikannya baik-baik. Di dalam, tujuh orang sedang khidmat melantunkan ayat-ayat alquran dan mendengarkan ceramah dari salah satunya. Orang-orang itu buru-buru ke dalam.
“Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” tanyanya.
“Lho, Pak Ismat dan Pak Lurah?” tanya Ilyaz.
Ismat dan Hamid terlihat agak gusar dengan kelakuan mereka.
“Hentikan kegiatan ilegal yang kalian lakukan!” perintah Hamid.
“Astagfirullah,” serentak tamu-tamu Ilyaz menghela napas, geleng-geleng.
“Pak Dokter kemari untuk penelitian, tapi apa yang dilakukan di sini, malah membawa orang-orang ini tanpa sepengetahuan saya?” ujar Hamid.
“Oh, itu? Kemarin saya ingin lapor, tapi Pak Lurah tak ada di kantor setelah pemakaman Atang. Rencananya, hari ini saya mau menemui Pak Lurah lagi.”
“Bukan hanya itu, Pak Dokter. Musala ini, berkali-kali sudah saya peringatkan, jangan diganggu. Kalian malah berani mengadakan kegiatan terlarang di sini,” tuduh Ismat.
“Kegiatan terlarang? Kami hanya melakukan salat subuh dan setelah itu tausyiah subuh.”
“Itu, itu yang aku maksud terlarang. Siapa yang mengizinkan kalian menggunakan fasilitas desa untuk tausyiah? Kalian pasti orang-orang radikal yang akan merekrut warga desa ini jadi seorang ekstrimis dan penyebar teror, benarkan?” tuduhan Ismat semakin membuat geram Ilyaz, yang lain memperhatikan tak mengerti.
“Pak Ismat, jangan menuduh sembarangan. Kami bukan penyebar paham ekstrim, hanya melakukan pengajian biasa.”
“Haha, mana ada penjahat mau ngaku. Ini harus segera diselesaikan, Pak Lurah tidak ingin ‘kan ada warga yang terlibat paham-paham mengerikan akibat ulah mereka?”
“Astagfirullah, keji sekali tuduhan Pak Ismat,” ujar Ilyaz tersinggung dengan tuduhan KaDus itu, “Pak Lurah, silakan awasi kegiatan kami, bila memang dirasa ilegal. Kami juga siap, bila semuanya menginginkan jalur hukum atas kegiatan kami.”
__ADS_1
“Tidak usah membela diri. Kegiatan ini sudah melanggar adat istiadat desa kami, ngeyel sekali. Buktinya nyata ‘kan? Atang mati setelah berani mengganggu musala ini, mana tanggung jawab Pak Dokter?”
Ilyaz diam, tak bisa berkata apa-apa, sangat sulit membuktikan perkara-kara yang bersifat gaib dan tahayul. Ia kebingungan dengan jawaban yang harus diberikan.
“Pak Ismat, Atang bukan mati karena kutukan musala ini,” Ijah angkat bicara dan maju ke hadapan warga. “Para warga dan sesepuh desa! Kalian masih ingat dengan nama Ki Ageng Mayitan?” tanyanya keras.
Warga spontan berisik, saling berbisik. Mereka agak ketakutan dengan nama itu.
“Apa yang Mak Ijah bicarakan? Ngaco,” ujar Hamid merasa keanehan dengan Ijah.
“Semalam, arwah Atang datang. Mak baru tahu kalau pocong yang sering mendatangi rumah-rumah warga akibat kutukan itu, mereka tersiksa dan meminta tolong agar tidak dibawa ke istana siluman Ki Ageng Mayitan, dan kalian tahu siapa ia,” jelas Mak Ijah pada warga.
“Ijah, otakmu sudah dicuci oleh ajaran Dokter sesat ini, ya?” sindir Ismat seenaknya.
“Demi Allah, saya menyaksikan sendiri, semalam Atang datang dan mengatakan tidak ingin dijemput ke istana Ki Ageng Mayitan,” pungkas Ijah mantap.
Keadaan semakin ricuh, orang-orang saling berbisik dan berkomentar serta malah merasa ketakutan dan menginginkan adanya pelindung yang bisa menyelamatkan dari gangguan raja jin jahat itu. Mereka tahu sekali ulah siluman itu, sesuai cerita Ijah.
Raja siluman itu dulu menguasai hutan angker sebelum desa ini berdiri, yang senang menebar teror dan memangsa warga untuk tumbal kerajaan, sampai ust. Aslam datang mengubah warga desa jadi lebih dekat dengan agama. Mereka jadi tak terlalu ketakutan dengan teror siluman itu karena lebih sering menimpa kekuatan batin daripada harus memikirkan rasa takut. Namun, semenjak ustaz itu meninggal, desa kembali harus merasakan banyak teror yang membuat hawa mencekam.
“Benarkah, Mak?” tanya seorang warga yang berani bersuara dan maju.
“Demi Allah! Kalau bohong, saya berani mengalami nasib yang sama dengan ust. Aslam,” tegas Ijah tanpa ragu sedikit pun.
Wajah Ismat amat masam dan tak bersahabat memandang Ijah.
“Ijah, kamu sadar dengan ucapanmu, mau tanggung akibatnya?” ancam Ismat.
“Saya siap. Saya yakin dengan apa yang terjadi semalam, Atang sangat sedih dan tersiksa. Saya tidak rela ia dijadikan tumbal Ki Ageng Mayitan.”
Warga memusatkan perhatiannya pada Ijah.
“Mak Ijah benar-benar berani menjamin?” tanya Hamid bijak. Namun, ada raut tak suka yang disembunyikannya.
“Saya berani bersumpah, Pak Lurah,” tegas.
__ADS_1
“Baik, kita percaya saja dulu dengan Mak Ijah, Beliau masih dalam kondisi berduka. Bila terjadi apa-apa dengan desa ini, kita minta Dokter Ilyaz dan tamu-tamunya bertanggung jawab. Hukuman mereka sama seperti yang kita tetapkan pada Aslam. Setuju?” ucap Hamid lantang.