Usai Pesta

Usai Pesta
Kabar Bahagia


__ADS_3

Luna mengambil ponselnya dan segera memilih nama Juna, lalu menghubungi suami tercinta.


"Hai, Sayang, kamu sudah selesai? Aku jemput kamu sekarang, ya?" Ujar Luna saat menghubungi suaminya sambil mematikan laptopnya.


Jarak perjalanan antara kantor Luna dan kantor Juna memakan waktu hampir satu jam perjalanan karena macet.


Kepala Luna terasa berdenyut denyut pusing menambah rasa mualnya. Kaki dan batinnya terasa lelah.


"Tumben lebih cepat?" Tanya Juna saat ia sudah duduk di samping Luna.


"Aku agak gak enak badan." Jawab Luna pendek.


Bahkan, untuk berbicara menjawab pertanyaan Juba saja ia merasa kewalahan.


Masih ada dua jam lagi perjalanan yang harus ia tempuh untuk menuju ke rumahnya.


Bagaimana pun juga, Juna tak bisa menggantikanuna untuk menyetir mobil. Jadi Aluna sama sekali tak punya pilihan lain.


Luna menunggu suaminya menanggapi kata katanya, dan mungkin ia akan memijat pundak sang istri yang kelelahan. Namun, tidak ada yang terjadi.


Saat Luna menoleh di kursi sampingnya, Juna sudah tertidur tidak mempedulikan sekitarnya. Luna menggelengkan kepala tak percaya. Mengapa suaminya bisa begitu cuek dan tak mempedulikannya?


Mobil direm mendadak karena lampu lalu lintas menyala merah. Luna menatap nanar ke depan, di perempatan kota Jakarta yang super sibuk, Luna menangis tersedu saat merasakan semua itu.


Ia merasa sangat sedih sekali. Di saat ia sangat membutuhkan sentuhan dan belaian suaminya, ternyata Juna malah sedingin itu padanya.


Ia menghabiskan dua jam perjalanannya membelah kemacetan kota Jakarta menuju pulang ke rumahnya.


Huek...!


Luna menelungkup di depan wastafel. Ia baru tidur sekitar pukul tiga pagi setelah selesai mengerjakan semua tugas tugasnya.


Saat ia terbangun pagi itu, hentakan rasa mual langsung menyerangnya seketika.


"Apa kamu baik baik saja?" Teriak Juna dari dalam kamar. Ia baru saja bangun.


Huek.... Huek..


Luna berusaha mengatur napasnya. Ia merasa tak pernah seperti ini. Pasti ini karena ia sangat kecapaian.

__ADS_1


Juna membuka pintu kamar mandi. Wajahnya menyembul dari balik pintu dengan terlihat cemas.


"Kenapa?" Tanya Juna sambil menatap Luna.


"Nggak tahu." Jawab Luna sambil mengusap mulutnya.


"Aku harus ke dokter sepertinya, Aku sakit." Imbuh Luna yang terlihat pucat.


Luna duduk dengan perasaan tidak nyaman di ruang tunggu dokter umum di sebuah rumah sakit di dekat kantornya. Juna membaca koran pagi itu, di sebelahnya.


Beberapa pasien lalu lalang berjalan di depan mereka sambil membawa masalahnya masing masing. Luna sangat membenci rumah sakit. Ia membenci baunya ya khas. Bau kekhawatiran, bau kecemasan.


Ibunya baru saja menelpon menanyakan kabar. Memang, insting seorang ibu sangat kuat. Namun, Luna memutuskan untuk tak memberitahukan keadaan yang sebenarnya. Ia tak akan berbicara apa apa pada ibunya, sebelum mendengar apa kata dokter. Ia tak ingin membuat ibunya khawatir.


"Ibu Luna." Panggil seorang suster dengan baju putih bersih. Suster itu menyembulkan kepala dari balik pintu. Luna dengan spontan berdiri saat namanya disebut.


"Ya." Jawab Luna.


Suster itu tersenyum dan memberikan kode agar Luna dan Juna segera masuk ke dalam. Juna menyentuh pundak istrinya, mengelusnya dengan lembut pundak Luna.


Itu merupakan sentuhan pertama Juna pada Luna setelah mereka melakukan perang dingin kemarin. Beban dalam batin Luna seolah langsung terangkat. Dia sudah merasa lebih baik. Bahkan sebelum masuk ke ruangan sang dokter untuk memeriksakan keadaannya.


Dokternya laki laki muda yang tampan. Senyumnya profesional saat menyambut kedatangan mereka. Juna dan Luna duduk di depannya.


"Ada apa nih, pagi pagi?" Sapa dokter itu dengan ramah.


"Iya, nih, Dok. Saya merasa kurang sehat. Sejak kemarin, pusing dan mual mual. Memang agak kecapaian juga sih, Dok. Mungkin saya bisa dikasih vitamin atau apa?" Ujar Luna melancarkan keluhannya. Sementara Juna masih menggenggam tangannya dengan erat.


Dokter mengangguk sambil membuat catatan.


"Oke. Mari saya cek dulu. Silahkan tiduran di sana." Katanya sambil menunjuk tempat periksa.


Luna berdiri, lalu menuju tempat periksa. Ia merebahkan tubuhnya di tempat yang telah ditunjuk dokter muda tadi. Juna ikut berdiri dan mengelus ngelus rambut Luna.


"Kamu adalah gadis yang sangat beruntung." Kata dokter itu ketika melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Juna pada Luna.


"Maklum, Dok. Pengantin baru." Kata Luna senang, pipinya memerah kemudian.


Tiba tiba dokter terdiam mendengar perkataan Luna barusan. Ia berhenti memeriksa Luna.

__ADS_1


"Wah, pengantin baru ya? Kalau begitu, dari gejala Ibu, mungkin sedang hamil."


"HAMIL..?!" Luna dan Juna serentak berteriak.


Mereka bertiga berpandangan pandangan.


Dokter meminta suster untuk membantu Luna mengambil air seninya untuk diperiksa lebih lanjut untuk meyakinkan, bahwa Luna benar hamil atau tidak.


Setelah menunggu tes pack beberapa saat dan ternyata ada tanda garis dua yang berarti positif. Dokter menghitung usia kandungan dan menyarankan untuk selanjutnya berkonsultasi ke dokter kandungan secara teratur.


Setelah dari rumah sakit, mereka berdua tetap pergi ke kantor seperti biasa dengan perasaan senang dan cemas bercampur aduk. Di kantor, Luna mulai sibuk berselancar di dunia Maya, mencari berbagai informasi mengenai kehamilan.


Juna juga memberitahukan kabar baik itu pada rekannya, Rey.


Atas permintaan Luna, sepulang kantor mereka langsung pergi ke rumah orang tua Luna, yang letaknya masih di area kota Jakarta.


Ibu menyambut dengan senyumnya yang khas. Ayahnya yang sang pengusaha, belum tiba di rumah kala itu.


Ibu memeluk putrinya setibanya di rumah. Juna menyalami Ibu mertuanya itu.


Lalu tanpa basa basi, Luna memberi tahu kabar bahagia itu pada ibunya.


"Sudah dicek?" Tanya Ibu meyakinkan dirinya dan Luna. Mereka duduk di sofa berhadap-hadapan dengan Luna dan Juna.


Wajah Ibu terlihat tenang dan teduh.


"Sudah, Bu. Aku sudah coba testpack, dan tadi di rumah sakit juga di cek lagi. Hasilnya tetap sama. Positif, Bu!" Kata Luna dengan riang. Tangan kanannya tanpa sadar mengelus perutnya.


Air mata mengalir di pipi ibu Luna. Ia bersyukur mendengar akan mendapat cucu lagi dari salah satu anaknya. Sungguh keluarganya telah diberikan berbagai macam berkah dari Tuhan. Luna beranjak dari tempat duduknya. Lalu memeluk ibunya tersayang.


"Selamat ya!" Sahut Ibu dengan suara parau. Luna mengangguk. Matanya berkaca kaca. Di sudut matanya, ia melihat Juna menunduk. Pastilah Juna merasa paling senang lagi saat itu.


Ibu duduk diikuti oleh Luna. Lalu ia menatap lembut wajah putrinya itu.


"Bagaimana jika selama kehamilanmu, kamu tinggal di sini saja. Bukan apa apa, Ibu khawatir dengan kandungannya yang masih muda itu. Pulang pergi perjalanan jauh, dan macet. Jika di sini, dengan tempat kerja kalian kan lebih dekat. Jika ada apa apa, kami bisa membantu kalian." Ucap Ibu masih dengan suara lembutnya.


Luna terdiam sejenak, lalu ia melirik ke arah Juna yang masih terpaku di sofa.


Kemudian Luna dan Juna berpamitan pada Ibu untuk pulang, tanpa memberi jawaban apapun dari ucapan Ibunya tadi.

__ADS_1


Ibu mengantar hingga ke depan pintu rumah. Lalu mereka masuk ke dalam mobil untuk pulang.


__ADS_2