
Luna dan Nyonya Soemardjan duduk di ruang tamu yang lenggang dan luas. Mereka telah duduk berhadapan dalam diam selama lima menit. Masing-masing seakan tak mampu memulai pembicaraan. Pikiran keduanya berkecamuk antara dua wanita berbeda generasi itu. Hanya detak jam dinding yang mengisi kesunyian yang meresahkan itu.
"Maaf mengganggu Mami siang siang begini." Ujar Luna yang akhirnya sanggup dan berhasil mengeluarkan suara. Luna tertunduk, tak berani menatap mata ibu mertuanya itu.
"Kamu nggak kerja?" Tanya Nyonya Soemardjan dengan suara tertahan.
"Saya ijin, Mam." Jawab Luna singkat.
Lalu Nyonya Soemardjan hanya diam. Kesunyian kembali menyergap mereka kembali.
Luna mengubah posisi duduknya yang tidak nyaman. Nyonya Soemardjan melihat perut Luna yang mulai membesar. Ia baru sadar, wanita di hadapannya ini membawa cucunya. Wanita itu masih menantunya.
"Kamu mau minum apa?" Tanyanya sambil berdiri untuk memanggil salah satu pembantunya.
"Air putih saja." Jawabnya Luna lirih.
Luna merasa aneh saat itu. Selama ini, ia tak pernah duduk di ruang tamu yang mengintimidasi ini. Sofa yang besar dengan ukiran ukiran naga dan guci guci setinggi manusia mengelilingi. Luna tidak pernah suka ruang tamu ini. Ia selalu lewat melalui pintu belakang dan langsung ke ruang keluarga. Di sana, ada sofa yang nyaman dan aksesnya langsung ke meja makan.
Berada di ruang tamu ini, membuat Luna merasa terasing.
"Apakah aku dianggap tamu? Masihkah aku bagian dari keluarga Soemardjan?"
Tiba tiba pertanyaan mengelilingi kepala Luna yang rapuh dan makin sensitif.
Matanya berkaca-kaca terserang tusukan tusukan kesedihan.
Nyonya Soemardjan kembali dengan seorang pembantu yang membawakan dua gelas air.
"Halo, Mbak Luna. Apa kabar? Susah lama nggak main ke sini!" Sapa Bilang Asih sambil menaruh gelas di meja.
"Baik Bi. Terima kasih airnya." Sahut Bulan seraya tersenyum kecut.
Nyonya Soemardjan duduk kembali di tempatnya. Wajahnya terlihat kaku dan tegang. Ia telah menahan perasaannya sedari tadi. Semua yang ingin disampaikannya.
"Kenapa kamu datang ke sini?" Tanya Nyonya Soemardjan dengan nada tegas. Akhirnya, kata kata itu keluar juga dari mulutnya.
"Mami. Saya tahu, Juna ada di sini..." Ucap Luna. Kini, ia memberanikan diri menatap ibu mertuanya itu.
"Kenapa kamu mau bertemu dengannya setelah kamu menyakiti hatinya, melukai perasaannya!" Sahut Nyonya Soemardjan dengan kasar. Ketegangan terlihat di mata mereka saat ini.
Luna tercekat, terkejut dengan apa yang telah ia dengar.
__ADS_1
"Astaga, apa yang telah dikatakan Juna pada ibunya? Aku menyakitinya? Aku telah melukai perasaannya? Apakah Juna tidak menjelaskan keseluruhan ceritanya pada ibunya ini?" Batin Luna.
"Mami, kami perlu bicara. Urusan kami belum selesai! Ini bukan tentang saya menyakitinya atau siapa menyakiti siapa. Tapi, bagaimana kami saling menyakiti!" Ujar Luna dengan suara meninggi.
"Kamu pulang saja, Juna sangat sakit hati karenamu." Ujar Nyonya Soemardjan dengan suara yang menusuk hati Luna.
"Mam! Bisa saya bertemu dengan Juna? Kami harus bicara. Nomor ponsel barunya mungkin? Atau whatsapp nya? Saya benar benar perlu bicara dengan Juna, Mam!" Ucap Luna, kini dengan nada lebih rendah dan memohon.
Nyonya Soemardjan menggeleng dengan tegas.
"Lupakan!" Jawab nya dengan tegas.
Luna menatap ibu mertuanya dengan terkejut.
Ia memang tahu, sejak awal, ibu mertuanya tidak menyukainya. Ia bukan jenis menantu yang diinginkan oleh mertuanya.
Namun, Juna selalu mendukung dan menguatkannya. Sehingga Luna selalu merasa terlindungi. Namun sekarang, Juna tak ada. Pergi menjauh darinya, tanpa kabar. Luna tiba tiba merasa limbung.
"Tapi, Mami.. saya harus meluruskan semuanya dengan Juna!"
"Sudahlah! Juna tidak menginginkan kehadiranmu lagi! Dan kamu tidak perlu repot-repot menunggu dan jangan menggangunya. Sudah cukup, sekali saja kamu menyakitinya!" Jawab Nyonya Soemardjan dengan ketus sambil menatap tajam ke arah Bulan.
Luna terdiam. Matanya berkaca-kaca.
Pertanyaan pertanyaan menari nari di kepala Luna saat mendengar ucapan Ibu mertuanya.
Luna hanya bisa mengelus perutnya. Hatinya hancur berkeping-keping, mengingat nasib anak dalam kandungannya kelak. Air matanya kini tak tertahan lagi.
"Kalau begitu, saya permisi Mam." Pamit Luna dengan suara parau sambil mengusap air matanya. Ia menghambur menuju pintu keluar.
Sudah berakhir semua. Ia tak punya harapan lagi. Sudah selesai rumah tangganya dengan Juna.
***
Hari ini hari pertamanya di Solo. Juna bertemu dengan rekan kerjanya. Dia seorang wanita dengan kulit cokelat dan senyum yang manis.
Wanita itu bernama Ayu. Seperti namanya wajahnya cantik (ayu) khas gadis Jawa. Ia santun, dan jalannya selalu lambat lambat dan bicaranya pelan. Juna menyukainya. Ayu berbeda dengan gadis gadis yang pernah ia temui di Jakarta.
"Pak Juna, apakah sudah siap melihat gedung kantor cabang baru di Solo?" Ayu tersenyum dengan profesional. Tangan kanannya menggenggam map besar.
"Oh, tentu.. tentu." Jawab Juna dengan sigap.
__ADS_1
Ayu baru saja mengantarnya ke hotel tempat tinggalnya selama satu bulan ke depan di Solo. Hotel yang lumayan megah dengan sentuhan tradisional Jawa di setiap sudut ruangan.
Juna dan Ayu berjalan melewati resepsionis. Beberapa wanita staf hotel sedang bergerombol, terlihat menggosipkan dan cekikikan saat mereka lewat.
"Kenapa mereka?" Tanya Nina sambil menunjuk para staf hotel dengan ibu jari tangan kirinya.
Ayu melirik sedikit ke belakang.
"Mungkin Bapak dikira artis dari Jakarta." Sahut Ayu.
"Loh, kok bisa?" Ujar Juna agak bingung.
Ayu tertunduk malu. Sopir menghampiri mereka dengan mobil kantor.
"Soalnya, wajah Bapak cakep seperti artis yang ada di televisi." Jawab Ayu dengan tersipu sebelum membuka pintu mobil.
Juna terpana. Wajahnya. Ia sudah agak lupa dengan asetnya yang satu ini. Di Jakarta, tentu ada banyak jenis kegantengan yang mengalahkannya. Plus perlakuan istrinya yang selalu menganggapnya sepele telah membuatnya melupakan pada kelebihannya itu.
Tapi di kota kecil ini, pria dengan wajah menarik, plus menebarkan aura yang memikat jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Rasa percaya diri Jika jadi bertambah sepuluh kali lipat.
"Mengapa orang-orang di sini bisa bersikap baik baik? Ramah? Apakah ada aturan mengenai hal itu? Ataukah adat turun temurun?" Tanya Juna dengan penasaran.
"Semua sudah terjadi secara alami. Sejak lahir, mereka sudah diajarkan tata Krama dan melakukan hal yang baik. Ramah. Menghormati orang lain, saling menghargai. Semua berawal dari lingkungan paling kecil, yaitu keluarga." Terang Ayu.
"Oh.." jawab Juna manggut-manggut.
Juna melirik ke jari Ayu. Tidak ada cincin di jari manis mana pun di situ.
"Kamu sudah menikah?" Tanya Juna dengan gugup.
"Belum Pak. Kalau Bapak?" Ayu balik bertanya.
Juna terdiam sejenak. Cincin kawinnya tidak ia gunakan hari itu. Ia sebenarnya bisa mengaku apa saja saat itu. Apalagi pada wanita manis dan lembut seperti Ayu.
Tapi, Juna memutuskan, ia datang ke Solo untuk mencari solusi, bukan menambah masalah.
Ia menghela napas sejenak.
"Saya sudah menikah. Istri saya sedang hamil." Ucapnya.
Mata Ayu seperti terkejut mendengar jawaban dari Juna. Namun, cepat cepat dihapusnya dengan senyuman senang.
__ADS_1
"Oh, ya? Bapak pasti bahagia sekali akan punya momongan!" Kata Ayu tampak tulus.
"Iya, tentu. Tentu saya bahagia." Sahut Juna dengan nada tak begitu yakin.