
Luna mengetahui jika Juna menggunakan uang tabungan mereka untuk membantu renovasi rumah orang tua, dan yang terparah adalah diserahkan pada Matt, kakak iparnya yang terkenal bermasalah. Luna sangat sangat marah dan kecewa pada Juna saat ini.
"Kamu tidak usah menghina Matt! Dia itu kakakmu juga!" Tukas Juna sambil membuang muka.
"Juna, kamu tahu kenyataannya seperti apa! Berani beraninya kamu menggunakan uang kita untuk membantu orang tuamu tanpa meminta ijin dariku! Orang tuamu itu sudah kaya raya. Mungkin, bagi mereka, itu uang kecil yang dengan iseng mereka pinjam darimu. Kita lebih butuh uang itu dari pada mereka, Juna!" Emosi Luna semakin meledak ledak.
"Tak ku sangka kamu begitu perhitungan pada orang tuamu sendiri!" Sela Juna sambil menatap tajam ke arah Luna.
"Dan menurutmu, kamu tidak perhitungan, hah?? Kamu tinggal di rumah orang tuaku. Dan tak satu rupiah pun kamu sisihkan untuk membantu membayar tagihan bulanan mereka!" Sahut Luna balas menatap Juna.
Tak lama setelah Luna pulang kemarin sore, ibunya mendatanginya. Membicarakan semua kesalahan kesalahan Juna. Menunjukkan keberatannya akan sikap menantunya itu. Lalu, ibu menyebutkan masalah uang pada akhirnya.
Karena ada beberapa tagihan rumah yang membengkak. Tagihan listrik dan air terutama.
Ibunya berpikir, mengapa Juna tidak bisa seperti Roni. Yang meskipun tidak tinggal di situ, dengan rutin memberikan uang untuk Ibu. Luna merasakan napasnya sesak mendengar keluhan ibunya, dan ia sangat marah pada Juna, marah kepada keadaan.
"Ibu juga tanya sama aku, kenapa kamu tidak bisa seperti Roni?! Rajin mengunjungi mertua, ramah pada saudara, sukses, rajin memberi uang bulanan,..."
"Dan, BERSELINGKUH!" Potong Juna dengan kasar.
Sontak Luna langsung berdiri dengan marah.
"Apa apaan kamu?! Jangan menuduh Roni macam macam hanya karena kami tidak mampu menjadi seperti dia!!" Luna berkata dengan suara lantang.
"Sudah cukup! Kalau aku sudah tidak dipercaya lagi, lebih baik aku keluar dari sini!"
BRAAAAKKKK....
Terdengar suara pintu dibanting. Juna tergesa keluar dari kamar. Luna juga mendengar suara pintu pagar juga dibanting. Luna menghempaskan tubuhnya dengan lelah. Air matanya mengalir tak terkendali. Batinnya hancur berkeping-keping.
Ia terduduk di sofa kamar, menangis, merenungi yang telah terjadi.
TOK... TOK... TOK...
__ADS_1
"Mbak Luna... Mbak Luna.. Mbak...!" Pintu kamar Lina tiba tiba diketuk oleh pembantu.
Luna buru buru menghapus air mata dengan lengan bajunya.
"Sebentar..." suaranya parau.
Luna berdiri dan berjalan tertatih untuk membukakan pintu. Mungkin pembantunya mendengar pertengkarannya dengan Juna tadi dan merasa khawatir. Luna bersiap siap dengan berbagai alasan agar mereka tak terlihat sedang bertengkar hebat.
Luna membukakan pintu dan dengan mimik wajah senormal mungkin.
"Mbak Luna! Tolongin! Ibu pingsan, Mbak!" Ucap pembantu saat Luna membukakan pintu kamar.
"Astaga!"
Mereka berlari menuju ke ruang tengah, di dekat kamar orang tua Luna.
"Ada apa, Bu?!" Tanya Luna dengan panik melihat ibu yang lemas duduk di sofa.
Tak lama ayah keluar dari kamar.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang juga!" Instruksi ayah dengan tegas pada Luna.
Tanpa banyak tanya lagi Luna masuk ke mobilnya bersama Ibu dan Ayah, dan menuju ke rumah sakit.
"Dewi mau bunuh diri, Lun." Ucapan Ibu lirih saat Luna sedang fokus mengendarai mobilnya.
Luna terhenyak dan menatap ibu yang duduk di sebelahnya.
"Tetangganya yang mengubungi rumah, tadi. Ibu yang menjawab telponnya. Kak Dewi melukai urat nadi tangannya. Miko yang menemukannya telah bersimbah darah. Lalu Maya dan Miko menangis dan berteriak histeris ketakutan. Para tetangga yang mendengar langsung datang ke rumah Kak Dewi. Salah seorang tetangga langsung membawa ke rumah sakit. Kini anak anak bersama tetangga yang lain." Terang Ayah dari kursi belakang menerangkan.
Luna ingin bertanya, namun sepertinya ayah dan ibu pun belum tentu tahu apa yang terjadi sesungguhnya.
Mereka berlari sepanjang lorong rumah sakit menuju ruang emergency.
__ADS_1
Semua tiba tiba menjadi seakan seperti mimpi buruk bagi Luna. Jeritan ibunya. Teriakan ayahnya. Mereka saling memapah di lorong rumah sakit. Berbicara pada dokter. Air mata mengalir dan pertanyaan pertanyaan mengalun. Mengapa?
Mengapa? Itulah pertanyaan. Tidak ada yang mengerti mengapa Kak Dewi mau menyakiti dirinya sendiri. Ia seorang istri yang bahagia dengan suami baik hati dan memiliki dua orang anak yang sehat. Tidak memiliki masalah ekonomi. Tapi mengapa?
Dokter mengatakan, Kak Dewi mengkonsumsi Prozac. Obat depresi yang akhirnya memiliki efek samping yang sangat buruk. Mendorong orang yang telah tergantung dengannya untuk melakukan bunuh diri.
Tapi, apa yang terjadi? Mengapa Kak Dewi membutuhkan Prozac? Di mana dia mendapatkannya? Apakah ia pergi ke dokter jiwa atau psikiater? Tidak ada yang tahu saat ini.
Ibu tidak mampu melihat Kak Dewi dalam keadaan yang menyedihkan itu. Dia menyingkir bersama Ayah, duduk di luar kamar rumah sakit dan berbicara dengan pilu pada dokter.
Di dalam, Luna menemani kakaknya. Memandangi wajah pucat kakaknya dengan hati teriris. Ia menggenggam tangan kiri Kak Dewi yang dibalut perban. Membenamkan wajahnya ke telapak tangan kakaknya.
"Kakak.... Ada apa? Mengapa nggak pernah cerita sama aku??" Luna menangis tersedu-sedu. Seorang perawat berdiri memandangi mereka dengan mata berkaca-kaca.
Kak Dewi sadar, tapi tidak sadar. Matanya membuka, tapi tatapannya kosong. Kak Dewi ada, tapi jiwanya tiada.
Luna berusaha mengingat ingat apa yang berubah dari kakaknya, yang mungkin adalah pertanda dari depresi dan keinginannya untuk bunuh diri. Karena dokter sempat menjelaskan kepadanya ciri ciri orang yang akan bunuh diri.
"Biasanya, mereka akan terlihat sedih dan depresi. Menarik diri dari keluarga dan teman. Tidak memiliki selera humor lagi, sering mengeluh bahwa tidak ingin hidup lagi, tidak lagi peduli pada penampilan, dan menggunakan obat obatan secara berlebihan!" Terang dokter yang menangani Kak Dewi.
Luna mendengarkan setiap perkataan dokter sambil terisak. Bagaimana bisa ia tak memperhatikan semua pertanda itu. Ia selalu memikirkan dirinya sendiri dan mengeluh pada kakaknya tanpa mendengarkan apa yang kakaknya ingin sampaikan.
Mungkin saja, dari dulu Kak Dewi ingin berbicara padanya tentang segala permasalahannya. Namun, Kak Dewi tidak melakukannya karena merasa tak ingin memberatkan dirinya. Luna merasa sangat bersalah pada kakaknya.
Luna teringat pada Roni. Ke mana Roni? Ini sudah tengah malam dan pria itu belum pulang atau pun belum terlihat sama sekali? Luna bertanya tanya.
Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Ia harus segera mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada Kak Dewi dari Roni, suaminya.
Luna baru saja membuka ponselnya dan di situ ada pesan whatsapp tak terbaca. Itu dari Kak Dewi.
Aku minta maaf atas semua yang harus kamu saksikan nanti. Jangan pikirkan lagi tentang alasan mengapa aku memilih pergi. Aku dan hanya aku yang patut dipersalahkan. Tolong jaga kedua buah hatiku. I Love you.
Luna membaca perlahan pesan yang ditulis oleh Kak Dewi. Tiba tiba tubuhnya merosot, terduduk di lantai dingin rumah sakit. Matanya terpejam, keseimbangannya limbung. Hatinya sangat hancur dan sedih dengan kejadian ini. Ia benar-benar membutuhkan seseorang di sampingnya saat ini. Ia ingin Juna.
__ADS_1