Usai Pesta

Usai Pesta
Pertengkaran


__ADS_3

Luna mengetikkan beberapa poin penting untuk disampaikan pada meeting siang nanti. Pekerjaan telah membuat dirinya kelelahan dan nyaris menelan tubuhnya yang sudah terisi dengan jiwa manusia baru yang kini sedang bertumbuh dalam rahimnya.


Namun, ia tetap bertahan dengan hal itu. Ia membutuhkan uang dari gajinya. Gaji Juna, suaminya nyaris tidak bisa diharapkan. Ia tahu persis jumlahnya.


Luna teringat akan biaya melahirkan yang perlu dikeluarkan beberapa bulan lagi. Memang dari kantor ia mendapat asuransi, namun, tidak mengcover semuanya. Selain biaya rumah sakit, ia juga memikirkan persiapan lainnya untuk anaknya kelak.


Luna mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang. Meskipun ia pusing memikirkan biaya, tak ada yang dapat mengalahkan senyum sumringah dari bibir Luna. Kehidupan baru yang kini ada dalam rahimnya sangat ia nantikan.


Luna telah menghubungi rumah sakit ibu dan anak yang bagus dan kebetulan dokter kandungannya juga berdinas di sana. Luna telah memesan kamar di sana untuk persiapannya kelak. Pihak rumah sakit mempersilakan Luna untuk mentransfer sejumlah uang sebagai deposit. Dengan begitu, kamar VIP dan beberapa fasilitas yang ia inginkan tidak diambil oleh yang lain.


Luna mengutak-atik ponselnya ke aplikasi perbankan, lalu ia memasukkan kode kode untuk membuka akunnya. Luna siap mentransfer sejumlah uang dari tabungannya.


Ya, tabungan ini sebenarnya adalah tabungan bersama antara dia dan Juna. Tapi, Juna hampir tidak pernah mengisinya. Jadi, tabungan ini sudah seperti tabungan milik Luna sendiri.


Tapi, tiba tiba, mata Luna membulat kaget. Ia duduk tegak di kursinya. Baru saja ia mencoba transfer deposit kepada rumah sakit, tetapi transaksinya gagal.


Dana tidak tersedia.


Jantung Luna berdetak kencang. Uangnya tidak cukup? Bagaimana bisa? Luna takut ada yang merampoknya secara diam diam. Ia ingat kejadian kejahatan pencurian uang dari tabungan yang beredar di berita.


Jangan jangan dia salah satu korbannya.


Dengan tangan gemetar, ia mengecek saldo tabungannya. Angka yang tertera di situ sempat membuatnya sesak napas. Uang yang ia kumpulkan sekian lama, kini saldo yang tertera hanya tinggal Rp 100.000,-.


Dengan panik, ia mencoba menelpon customer service bank.


"Terima kasih Anda telah menghubungi layanan Bank Sejahtera. Untuk berbicara dengan customer service kami, tekan 0."


Luna menekan angka 0, ingin segera berbicara dengan customer service. Napasnya memburu.


"Bank Sejahtera. Selamat pagi, ada yang bisa saya kami bantu?" Sapa customer servis dengan sopan.

__ADS_1


"Mbak! Ada apa dengan tabungan saya? Saldonya hanya tinggal seratus ribu. Padahal saya tidak pernah pakai!! Ini tabungan keluarga, Mbak!"


"Bisa sebutkan nomor rekening Ibu?"


Luna menyebut nomor rekeningnya, dan menjawab semua pertanyaan verifikasi yang dilakukan sang customer service.


"Mohon waktu sebentar, Bu. Kami akan melakukan pengecekan!"


"Iya, segera ya, Mbak!"


Luma menggoyangkan kakinya dengan tidak sabar. Ia sangat gugup. Tabungan itu merupakan satu satunya pegangan keluarga kecil mereka. Tanpa itu, mereka tidak akan bisa melakukan apa apa jika dalam keadaan mendesak, saat membutuhkan sejumlah uang.


"Terima kasih telah menunggu. Kami sudah melakukan pengecekan, dan kami lihat, semuanya valid, Bu. Tidak ada tanda tanda penyalahgunaan pada rekening Ibu. Dana ditarik secara sah melalui ATM." Suara customer service yang mengalun itu bagai tamparan di pipi Luna.


Ia menutup telpon tanpa mengucapkan apa apa sama sekali. Wajahnya dingin, memandang lurus ke depan.


ATM. Selama ini, Juna meminjam kartu itu. Hanya untuk keperluan mendadak dan mendesak, katanya. Emosi Luna campur aduk. Ia merasa ditipu oleh suaminya sendiri.


***


Juna sontak menoleh dengan kaget. Lampu kamar dimatikan, hanya ada berkas berkas cahaya dari luar yang merembet masuk.


Luna, sang istri, telah tiba lebih dahulu. Duduk diam di sofa, pinggir jendela.


Selama beberapa Minggu ini, mereka sudah tidak pergi atau pulang ke kantor bersama lagi. Juna memilih naik ojek online dan sengaja mengatur tak bertemu orang tua Luna di pagi dan malam hari. Ia selalu pergi saat orang tua Luna sedang olahraga, dan pulang setelah makan malam. Ia selalu merasa tak nyaman dengan tatapan selidik dan komentar kritis orang tua Luna, mertuanya.


"Apa maksudmu?" Juna mendesis, lalu ia menyalakan lampu kamar. Wajah sembap Luna langsung terlihat.


"Kamu apakan uang yang ada di tabungan bersama kita?" Tanya Luna langsung pada intinya. Ada luka yang dalam tertanam di suaranya. Tangannya terlipat di dada seperti menahan rasa sakit.


Juna tertegun dan terdiam sejenak. Dia tak menyangka Luna akan mengetahuinya.

__ADS_1


Biasanya, Luna tidak pernah mengutak-atik atau mengecek tabungan itu. Setiap bulan, secara otomatis, gajinya telah terpotong sekitar dua puluh persen masuk langsung ke rekening tabungan itu. Luna jarang mengeceknya.


"A-aku baru mau bilang, ibuku kemarin minta bantuan dan keperluan keluarga." Jawab Juna terbata bata.


Orang tuanya memang meminta pertolongan Juna untuk merenovasi rumah. Tentu saja, Juna tak dapat menjawab kalau tak punya uang. Ia terpaksa mengambil uang tabungan mereka berdua dalam rekening itu.


"Berapa?" Tanya Luna dengan ketus dan dingin.


"Nggak banyak." Jawab Juna masih berdiri. Ia terlalu gugup untuk duduk.


"Kalau nggak banyak, KENAPA saldonya tinggal seratus ribu??!" Suara Luna meninggi, ia nyaris berteriak.


Juna menghela napas berat. Ia duduk di pinggir tempat tidur mereka. Tubuhnya membelakangi Luna.


"Ini harusnya menjadi kejutan yang menyenangkan untukmu. Aku berusaha menginvestasikan uang itu dalam bisnis tambang batubara bersama Matt." Jawab Juna. Ia benar benar ingin membuat istrinya bangga padanya.


Luna menggeleng gelengkan kepalanya dengan frustasi.


"Astaga, Juna! MATT?? Suaminya Shasa itu?? Kamu tahu, kan, dia itu bermasalah?!" Teriak Luna sambil membulatkan matanya menatap Juna.


Uang kita tidak akan pernah kembali. Kamu tertipu! Kita tertipu! Apa yang ada dalam pikiranmu, Juna? Kamu sadar nggak sih, sudah menjadi suami? Apakah kamu tidak berpikir, setidaknya memberitahu saat kamu menggunakan uangku itu!" Ucap Luna seraya berteriak, kini dengan suara lebih melengking meluapkan kemarahannya.


"UANGMU??" Emosi Juna tiba tiba terpancing.


"Apa maksudmu? Itu uang kita bersama yang kita kumpulkan sejak kita pacaran! Aku juga berhak menggunakannya. Kita suami istri, dan aku suamimu. Aku berhak memutuskan apa yang akan aku lakukan untuk keluarga ini!" Balas Juna tak kalah keras suaranya.


"Ya! Betul! Tapi, sudah hampir setahun kamu tidak pernah memasukkan uang lagi ke dalam rekening itu. Uang kamu sudah habis duluan untuk beli macam macam barang elektronik yang kamu mau! Kamu bahkan tidak bisa membayar tagihan tagihan kita!! Bagaimana kamu bisa mengambil keputusan untuk berinvestasi dengan iparmu yang nggak jelas itu tanpa berdiskusi denganku. Itu jumlahnya besar! Dan kita mengumpulkannya bertahun tahun!!!"


"Uang itu akan kembali pada kita! Makanya, itu disebut investasi!" Balas Juna sambil mengangkat tangannya kesal.


"Tapi, investasi macam apa itu?? Apa sudah ada buktinya?? Apa kamu sudah selidiki? Aku yakin belum!! Kamu memang mudah jatuh ke bujuk rayunya orang yang reputasinya sudah terkenal buruk!" Teriak Luna.

__ADS_1


Luna mengingat dengan ngeri berbagai cerita penipuan yang telah dilakukan oleh Matt.


Matt sering mengatasnamakan mertuanya, yang pejabat penting negara, untuk membuat perjanjian perjanjian bisnis dengan berbagai pihak. Ujung ujungnya, Matt pasti menghabiskan uang bisnis itu hanya untuk kepentingan pribadinya. Kemudian para debt kolektor mulai mendatangi rumahnya yang juga rumah mertuanya itu. Meminta pertanggungjawaban. Namun, Shasa terlalu mencintainya, ia ingin mempertahankan perkawinannya. Kedua orang tua adik iparnya itu tak dapat berbuat apa apa, kecuali membiarkan Matt, dan selalu menyelesaikan masalah yang dibuat oleh Matt.


__ADS_2