
Waktu berjalan dengan cepat. Jika waktu adalah seorang anak, sekarang mungkin dia sudah bisa berlari melesat ke depan.
Tanpa terasa, kehamilan Luna telah memasuki bulan ke-7. Dia mulai merasakan bayinya menendang nendang kala diajak berbicara.
"Nak, nanti kamu jadi anak yang baik, ya! Bantu Mama. Jangan bandel. Kamu keluar dengan lancar ya!" Ucap Luna sambil mengelus perutnya.
Kak Dewi menyarankan metode mengajak anak berbicara sejak dalam kandungan. Katanya akan efektif untuk membantu persalinan.
Ternyata si jabang bayi, sudah mulai mengerti. Dia akan bereaksi saat Luna mengajak berbicara. Luna merasa senang dan bangga dengan anaknya yang aktif dan sehat.
Setiap akhir pekan, Luna dan Juna menginap di rumah mereka sendiri dan saling melepas rindu yang telah lama tertahan di antara keduanya.
Luna selalu mengatakan bahwa dia menginap di rumah Kak Dewi pada orang tuanya. Sedangkan Juna, selalu mengatakan tak pulang karena urusan kantor.
"Sayang, aku senang kita bisa seperti ini lagi." Bisik Luna saat dalam pelukan Juna.
"Aku minta maaf, terlambat melakukan hal yang seharusnya dapat aku lakukan. aku terlalu egois, dan membuatmu harus melakukan hal yang lebih untuk rumah tangga kita." Sahut Juna sambil menatap Luna.
"Aku senang kamu dapat berubah. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Toh, kita masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Dan kamu bisa membuktikan menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab." Luna mengubah posisinya menjadi duduk bersandar sandaran tempat tidur.
"Lalu, kapan kita bisa menjelaskan semua ini pada Ayah Ibu, Mami Papi?" Tanya Luna kemudian.
Juna terdiam. Lalu menatap Luna dan perutnya yang membuncit.
Juna mengelus lembut perut istrinya itu, dan mengecup lembut.
Terasa ada pergerakan saat Juna mengelus dan mencium perut Luna.
"Nah, anak pintar! Sehat sehat ya, jangan nakal!" Juna berbisik di perut Luna.
Luna tersenyum bahagia melihat tingkah Juna.
"Bagaimana, jika kita menjelaskan semua pada keluarga saat dia sudah lahir. Aku berharap, kehadiran anak kita nanti dapat melunakkan hati Ayah, Ibu, Papi, dan Mami. Dan semua bisa berbicara dengan kepala dan hati dingin." Tutur Juna masih sambil mengelus lembut perut Luna. Kini dia mengecup kening Luna dengan lembut.
Luna mengangguk setuju, dan tangannya memegang punggung tangan Juna yang ada di atas perutnya.
Mereka memutuskan untuk berbicara tentang rujuknya mereka pada keluarga besar, setelah anak mereka lahir.
Mungkin dengan adanya bayi di tengah tengah mereka, kedua belah pihak akan menjadi melunak.
Saat ini Luna sedang berada di kantor untuk mempersiapkan launching produk besar besaran dari perusahaan.
__ADS_1
Luna masih bekerja di perusahaan sebagai manajer. Mr Mark tentu saja tidak berani mengadukannya pada manajemen.
Dia telah mengajukan cuti sesuai prosedur perusahaan, dan pekerjaan dari Mr Mark tidak ada sangkut pautnya dengan divisinya. Mr Mark hanya menggertak saja. Dan Luna sangat senang, saat dia mengetahui menang dari pertempuran ini.
"Bu Luna, belum berangkat? Ingat, kan, hari ini ada rapat dengan direktur marketing dari kantor pusat New York di JW Marriott?" Sekretarismya menyembulkan wajahnya di ruang kantor Luna.
Luna tersentak. Tatapannya kosong. Dia berusaha mengingat ingat jadwalnya hari ini.
"Astaga!" Luna menepuk keningnya.
"Mampus dah!"
Luna melirik jam tangannya. Waktunya tinggal 30 menit lagi dari jadwal rapat. Ia baru sesegera mungkin menuju ke sana supaya tidak terlambat.
Karena ini adalah meeting dengan pimpinan dari New York. Dia tak ingin dianggap tidak profesional.
Ia segera menyambar tasnya di meja dan bergegas berlari ke luar kantor.
Luna menekan tombol lift. Namun, lift tak kunjung tiba.
Luna berlari lari menuju tangga darurat. Ruang kantornya berada di lantai 8. Seharusnya lebih cepat jika turun dengan cara ini.
"Nak, maafkan mamamu ini, jika kasar terhadapmu. Mama sudah terlambat untuk bekerja." Luna berbicara, memohon agar anaknya mengerti.
Tiba tiba, pada lantai ke-3, Luna mulai terlihat lelah. Luna menghembuskan napasnya yang mulai tersengal senggal. Kepalanya terasa berputar putar dan penglihatannya terasa gelap. Untuk sesaat Luna tak merasakan tempatnya berpijak. Dia merasa seakan tubuhnya melayang.
Tubuhnya jatuh dalam ketidakseimbangan, membentur anak tangga yang keras dan dingin. Luna mengerang kesakitan.
Tubuhnya terasa berat, dan dia tak berdaya.
Benturan keras pada punggung dan pinggangnya membuatnya tersiksa dan sakit.
PYUK!
Tiba tiba suatu cairan perlahan keluar membanjir dari bagian bawah tubuhnya.
"Aduh! Astaga! Ya Tuhan, tolong jangan sekarang." Gumam Luna saat memeriksa dengan meraba bagian bawah tubuhnya.
Luna panik dan meraih ponselnya. Luna mengatur napasnya, dan berusaha untuk tenang saat ini, karena nyawa bayinya sedang dipertaruhkan.
Luna mencoba menghubungi Juna berkali kali.
__ADS_1
"Juna, kamu di mana? Mengapa tidak diangkat angkat?" Luna mulai menangis dan putus asa.
Lalu setelah lelah mencoba menghubungi Juna, Luna memutuskan untuk menghubungi bagian keamanan di kantornya.
Tak selang lama, dua orang satpam, dan ob datang ke tempat Luna dan membantunya.
Lalu sopir kantor segera membawa Luna menuju Rumah sakit Bunda untuk menolong Luna.
*
Juna mendengus dengan gusar saat mengetahui ponselnya tertinggal. Lalu dia kembali ke rumah dan mengambil ponselnya, dan kembali lagi menuju ke kantornya.
Sesampainya di kantor, Juna memeriksa ponselnya. Dia melihat ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Luna. Juna menghela napas dalam dalam. Dia segera menghubungi kembali Luna, untuk menjelaskan bahwa ponselnya tertinggal di rumah, supaya tidak salah paham.
Juna menghubungi, namun tak terjawab.
Juna mengerutkan keningnya. Sesibuk apa pun, Luna pasti akan menerima panggilannya, atau setidaknya segera memberi balasan pesan, mengatakan jika sedang meeting.
Juna mencoba kembali menghubungi Luna. Lalu tersambung. Namun, terdengar suara berisik.
"Juna!" Terdengar suara seseorang menjawab panggilannya. Namun, bukan suara Luna. Suara Kak Dewi.
"Juna, kamu harus cepat segera ke rumah sakit Bunda. Luna pecah ketuban dini!" Suara Kak Dewi langsung berteriak tak terkendali. Terdengar suara tangisan dalam kepanikan itu.
DEG!
Jantung Juna langsung terasa sakit. Napasnya sesak karena kaget.
"Apa yang terjadi dengan Luna? Ini masih bulan ke-7. Seharusnya masih ada dua bulan lagi?!"
"Juna... Juna, halo??! Kamu harus segera ke sini!" Ucap Kak Dewi dan panggilan terputus.
Tanpa banyak bicara, Juna langsung melesat keluar dari ruangannya.
Saat di luar dia berpapasan dengan Rey.
"Nanti akan aku jelaskan!" Ucap Juna sambil bergegas pergi sambil berlari kecil. Rey hanya geleng-geleng kepala, menatap dengan heran.
"Ya Tuhan, tolonglah hambaMu ini! Berilah kelancaran dan yang terbaik untuk istri dan anak hamba."
Sepanjang perjalanan Juna mengucap doa untuk anak dan istrinya.
__ADS_1