Usai Pesta

Usai Pesta
Solo


__ADS_3

Juna hampir satu Minggu berada di kota Solo. Ia ingin mengisi hari libur weekend dengan hal yang bermanfaat bagi dirinya, bahkan untuk masa depannya kelak.


Juna mendatangi sebuah tempat yang tak sengaja pernah dilihatnya saat berkeliling bersama sopir kantor. Letaknya juga tidak jauh dari hotel tempatnya menginap.


Juna berdiri di depan sebuah kantor dengan plang " Kursus Mengemudi Amanah - Pasti Bisa dalam 1 Hari - Cepat Aman Pasti Sampai".


Dengan berat, ia melangkahkan kakinya memasuki kantor tersebut.


"Selamat pagi, Mas!" Sapa seorang wanita menyambut kedatangan Juna.


"Ya, Mbak. Selamat pagi." Jawab Juna, sambil matanya memperhatikan seluruh isi kantor itu.


"Mau belajar nyetir, Mas?" Tanya wanita itu yang masih duduk di balik meja. Suaranya terdengar ramah dan tetap menyunggingkan senyum pada Juna.


"Iya." Jawab Juna agak berbisik. Ia menengok ke kanan dan kiri. Takut kalau kalau ada teman kantor atau kenalan yang melihatnya mendaftar di tempat seperti ini. Memalukan!


"Baik. Silahkan isi formulir pendaftaran dulu, ya!"


Juna menganguk dan mengisi formulir standar pendaftaran.


"Mas nya mau pakai mobil apa, nih? Mobil keluarga atau sedan?"


"Mobil keluarga saja, Mbak. Yang otomatis, kan?" Jawab Juna segera.


Seketika Mbak admin kursus mengemudi itu tertawa terbahak bahak mendengar jawaban Juna.


"Kalau otomatis kan, tinggal nge-gas, Mas! Nggak usah belajar nyetir lagi, dong!" Celetuk di Mbak.


Meskipun rasa percaya diri Juna menjadi sedikit terluka mendengar ucapan si Mbak, Juna tetap berusaha memandang ke depan.


Sebenarnya, selama ini ia tidak bisa menyetir karena adanya trauma masa kecil. Waktu itu, ia masih duduk di bangku SMP dan sedang belajar membawa mobil papinya ke jalan raya. Tiba tiba, ada orang yang menyeberang mendadak, sehingga ia harus banting setir ke pinggir jalan. Ternyata, di pinggir jalan ada anak kucing yang tidak dapat menghindar. Anak kucing yang lucu itu mati, terlindas mobil yang Juna kendarai. Juna yang penyayang binatang tak pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.


Sejak kejadian itu, Juna sama sekali tidak mau menyetir. Setiap kali ia mencoba, saat itu juga rekaman peristiwa tabrakan itu terulang kembali di kepalanya. Ia merasa pusing dan mual, tatapan matanya nanar dan berputar-putar. Ia pun tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan.


Instrukturnya kali ini bernama Pak Kasno. Ia orang Jawa Tengah, asli Boyolali. Wajahnya ramah khas mas mas Jawa. Logat Jawanya medok sekali saat berbicara dalam bahasa Indonesia, membuat Juna terkadang tak mampu menahan senyum.


"Mas Juna, nggeh*? Kita mulai latihan mobilnya, ya. Mulai dari latihan kopling dan jalan lurus!" Pak Kasno memberikam sedikit instruksi dengan ilustrasi. Juna ingat teori ini pernah diberi tahu oleh papinya sekian tahun yang lalu.

__ADS_1


Mereka menggunakan mobil keluarga di sebuah lapangan besar yang kosong milik perusahaan belajar mengemudi itu.


Juna telah berada di belakang kemudi. Teorinya sudah ia hapal. Sekarang, tinggal prakteknya. Ia akan menuntaskan kekurangannya ini demi keutuhan rumah tangganya.


"Kalau kamu bisa nyetir, kita bisa kembali ke rumah kita sendiri. Tidak perlu numpang di rumah orangtuaku. Itu pasti akan baik bagi kita semua."


Suara Luna terngiang kembali di telinga Juna. Itu menjadi penyemangatnya. Ia harus bisa.


"Kita mulai, Pak?!" Ia menoleh ke arah Pak Kasno yang sudah siap di kursi sebelahnya.


Juna baru tahu, bahwa mobil untuk belajar itu mempunyai rem juga di kursi penumpang sebelah kiri.


Setiap saat, Pak Kasno bisa menyelamatkan mereka berdua dari kecelakaan yang tidak perlu.Juna agak lega juga mengetahuinya.


Pak Kasno mengangguk. Memberi aba aba agar Juna bisa memulai latihan.


"Ya Tuhan!" Desis Juna. Ia dilanda kepanikan yang sama seperti yang sudah sudah. Keringat dingin menetes di keningnya.


Juna mencoba mengingat motivasinya kembali datang ke tempat itu. Ia mengingat kehidupan baru yang jantungnya mulai berdetak di rahim istrinya. Lalu ia mencoba mengingat wajah Luna, istrinya.


Namun, mereka tidak juga berjalan. Mobil menggerung keras.


"Pak, kok nggak jalan?" Juna yakin ia sudah mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Pak Kasno.


"Nganu... Rem tangannya dereng* dilepas, Mas!" Ucapnya sambil tersenyum.


"Astaga...!!"


****


Juna merasa semakin lama ia semakin mempunyai keterikatan batin dengan Ayu. Ayu pandai mengubah suasana kaku menjadi menyenangkan. Ia senang memasak. Dan, setiap Rabu, dia selalu membawakan Juna makan siang. Ia bilang, ia masak berlebih. Kelebihan belanja. Kebanyakan uang, dan berbagai alasan lain untuk membawakan Juna makanan.


Ayu juga teliti dalam bekerja dan selalu bersemangat saat membantu Juna dalam menyiapkan pembukaan kantor baru ini. Juna merasa saat ini, dia dan Ayu memiliki chemistry yang sulit dijelaskan.


Pernah sekali waktu, Ayu ketiduran di sampingnya saat perjalanan rapat dari Solo ke Yogyakarta. Kepalanya terantuk lembut di pundak Juna dan tetap di situ selama beberapa menit.


Juna terkejut dengan perasaannya sendiri. Diam diam, ia menikmati saat saat itu. Saat di mana seorang wanita membutuhkannya. Sudah lama sekali ia tidak merasakannya.

__ADS_1


"Aku ndak ngerti, Pak! Kenapa, ya, orang Jakarta kalau ngomong selalu cepat kayak kereta, seolah kehabisan waktu saja. Apa karena biaya telpon, ya?" Tanya Ayu setengah bercanda, setelah ia menerima telpon dari kantor pusat.


Juna terkekeh dibuatnya.


"Sebagian besar orang Jakarta menganggap orang Solo bicaranya selalu lambat dan pelan. Jadi, siapa yang benar?" Sahut Juna sambil mengangkat bahu.


"Ah, kami orang Solo bicaranya dari hati, Pak!" Tukas Ayu dengan cepat.


Juna hanya tersenyum menanggapi Ayu.


Juna mengecek telpon genggam di meja kerja yang masih berantakan. Beberapa perabotan kantor baru dan masih berlapis plastik dan sedikit berdebu.


"Mengecek wa dari istri, Pak?" Ayu bertanya. Tak biasanya ia begitu ingin tahu.


Juna menggeleng cepat sambil meletakkan ponselnya kembali.


"Tidak. Ini nomor baru, yang tahu hanya kamu dan Rey di Jakarta." Jawab Juna. Suaranya pelan tertahan.


Ia tahu mata Ayu bertanya tanya. Ia menyadari pertanyaan terlontar tanpa suara dan hanya dari tatapan mata gadis itu. Juna memilih menutup mata dan mulutnya. Tak ada gunanya menjelaskan semuanya pada Ayu.


Yang jelas, saat ini, Juna ingin lepas sejenak dari semua keriwehan rumah tangganya di Jakarta. Ia berharap, di Solo, ia menemukan jawaban untuk langkahnya ke depan.


Wajah Juna berubah murung. Meskipun sebentar, mengingat nama Luna, membuat suasana hatinya berubah menjadi kelabu.


"Jalan jalan, yuk! Sudah lama di Solo, tapi nggak pernah keliling keliling." Ajak Juna tiba tiba sambil menutup map di tangannya.


"Jalan jalan?" Ayu terbelalak kaget.


"Bapak mau jalan jalan ke mana? Minta ditemenin sopir, Pak?" Tanya Ayu.


"Tidak usah. Kamu saja yang temenin saya. Saya yang nyetir. Kamu cukup tunjukkan tempat yang baling bagus di kota Solo." Ucap Juna tersenyum sambil menatap Ayu.


***


* nggeh : ya


* dereng : belum

__ADS_1


__ADS_2