Usai Pesta

Usai Pesta
Aku Sakit


__ADS_3

Saat di rumah Dewi mengisi waktu luangnya dengan berselancar di sosial media. Ketika sudah memutuskan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, ia menyadari tidak akan punya banyak kesempatan untuk bersosialisasi dan berkumpul kembali bersama teman temannya seperti saat masih bekerja dulu.


Kini, ia mengabdikan dirinya lahir dan batin untuk keluarganya. Ia telah memasak, membereskan rumah, mengantar dan menjemput anak anaknya ke sekolah. Lalu kembali lagi setelah urusan sekolah anak, dia akan kembali meneruskan pekerjaannya mengurus rumahnya. Ia sama sekali tidak menggunakan asisten rumah tangga, bahkan pengasuh untuk membantunya.


Ia sangat mencintai anak anaknya dan menjaga mereka dengan sepenuh hatinya. Ia tak pernah tega pergi meninggalkan anak anak dengan pengasuh. Maka, hanya dengan dunia maya, ia dapat mengaktualisasikan diri tanpa harus berpisah dengan anak anak.


Roni tidak pernah tahu, jika Dewi memiliki identitas yang berbeda di dunia Maya. Saat berselancar di dunia Maya, terlebih sosial media, Dewi bebas menjadi apa saja. Ia dapat menjadi model, anak SMA, atau manager perusahaan. Terserah!


Dewi berselancar di beberapa sosial media. Baik Instagram, Facebook, maupun Twitter. Ia berusaha mencari cari sesuatu yang selama ini ia curigai. Ia mencari Roni, suaminya di jejaring sosial media. Dan ia telah menemukan akun Roni, suaminya di laman Facebook. Dan kini, ia tengah mengamati halaman Facebook milik suaminya itu.


Hari ini, ia memperhatikan pribadi Roni yang lain di situs pertemanan itu.


Ia membaca status unggahan suaminya sebagai ungkapan kata hatinya.


Melihat foto foto Roni yang tengah memeluk wanita wanita di klub malam. Mengetahui Roni lebih banyak lagi lewat komentar teman temannya.


Hati Dewi miris membaca lama sosial media milik suaminya. Seharusnya, ia sebagai istri, tahu semua tentang Roni. Luar dan dalam. Bagaimana keadaannya, perasaannya, jiwanya.


Tapi, sepertinya, halaman bisu di sosial media lebih dipercaya oleh Roni untuk mencurahkan segalanya.


Dewi membaca komentar komentar teman teman di Facebook. Dewi berusaha menangkap celotehan suaminya dari berbagai sudut.


Dewi membaca tulisan yang disematkan pada foto yang diunggah oleh suaminya.


Party on fire


Pesta ulang tahun Dave


Dewi memperhatikan setiap foto foto yang Roni posting di sana. Ia terpaku pada salah satu foto Roni dan seorang wanita. Ada tautan di sana, wanita itu bernama Rosa. Foto itu bukan hanya satu, tapi beberapa foto, dan kebanyakan adalah foto mesra layaknya orang yang sedang di mabuk cinta.


Ia membaca komentar yang ada pada setiap foto foto.


Wow... Pacar baru ya??


Cantiknya....


Hallo, Bos apa kabar? Kemarin ketemu makin gemuk aja! Kok nggak bilang bilang punya pacar baru? Cantik juga!

__ADS_1


Hai, Ron.. kapan kapan ajak pacarnya ke party ku ya...


"Astaga Roni...! Apa yang telah kamu lakukan?" Ucap Dewi sambil menggelengkan kepalanya masih tak percaya dengan yang telah ia lihat sekarang.


Ia memastikan postingan suaminya itu baru baru ini dilihat dari tanggalnya. Dan itu benar benar wajah suaminya, tidak salah lagi.


Air mata Dewi merebak di matanya yang sudah bengkak. Ia melihat status Roni adalah single, bukan married.


Dan Rosa. Siapa dia? Wanita cantik itukah? Apakah ini wanita yang sama yang mengirimkan pesan pada ponsel Roni tempo hari?


Dewi menjerit dalam hatinya.


"Roni. Siapa wanita itu? Apa salahku?? Kenapa kamu perlakukan aku seperti ini?? Tak bisakah kau setia? Ron.... RONNNIII!!!"


Air mata Dewi terus mengalir dalam tangis tanpa suara. Tanpa sadar ia menggapai ponselnya dan menghubungi suaminya.


Kedua anaknya sedang asik menonton televisi di ruang tengah. Ia menutup pintu kamar.


TUT.... TUT.... TUT....


"Ya? Ada apa?" Suara bising menyambut si seberang. Mungkin Roni sedang bersenang-senang dengan wanita itu. Sementara ia kuyu dan lelah mengurusi semua keperluan keluarga. Dewi hanya bisa menggigit bibirnya.


"Belum pulang? Aku menunggumu. Aku sudah memasak ikan bakar kecap kesukaanmu, Sayang." Sahut Dewi terbata bata.


Roni hanya terdiam sesaat. Ia seperti mencari cari alasan untuk diucapkan kali ini.


"Oh, aku makan di luar, Ma. Sudah ada janji dengan teman." Jawabnya.


Dewi menarik napas panjang, wajahnya mengernyitkan seperti menahan rasa sakit.


"Teman? Dengan Rosa maksudmu? Itu kan namanya?" Suaranya mendesis. Namun, Dewi berusaha tetap tegar, menahan air matanya. Ia tak ingin anak anaknya mendengar.


Roni terdiam lagi.


"Roni... Jawab!!" Dewi nyaris berteriak. Ia menjadi sangat tidak sabar dengan sikap pengecut Roni.


"Mengapa harus berselingkuh? Jika masalah dengan hubungannya, mengapa Roni tidak memberitahukannya dan mencoba memperbaikinya bersama? Ada apa dengan laki laki yang dulu ia cintai ini?!"

__ADS_1


Dewi mendengar Roni seperti berjalan menjauhi keramaian. Suasana menjadi lebih tenang.


"Penjelasan apa yang kamu butuhkan dariku, Wi. Semua sudah jelas." Jawab Roni singkat, dan acuh tak acuh.


Tangis Dewi pecah. Ia terisak sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan. Ia berharap tangisannya tidak menembus hingga keluar kamar.


"Teganya kamu melakukan ini semua padaku, Ron! Pada keluarga kita. Setelah sekian tahun lamanya kita bersama. Kupikir selama ini kita bahagia, kita baik baik saja!" Rintihan Dewi dalam tangisnya.


"Sudah terjadi.." Jawab Roni singkat dengan nada dingin.


Dewi mendengar suara Roni menjadi semakin tercekat. Suaminya itu pasti merasakan dukanya yang mendalam.


"Sudah berapa lama?" Tanya Dewi yang berusaha memunculkan logikanya kembali.


"Sudah beberapa bulan." Sahut Roni jujur.


"Masih bisa... Kita masih bisa memperbaiki ini semua. Roni, tolong tinggalkan dia! Kembalilah pada keluargamu. Mari kita mulai lagi dari awal." Tatap Dewi memohon belas kasih Roni untuk membangun rumah tangga mereka kembali.


Dewi berusaha mengesampingkan perasaannya sendiri yang kini telah hancur lebih sedari tadi, saat mengetahui perselingkuhan Roni, suaminya.


"Dewi, maaf, aku tidak bisa membicarakan ini sekarang. Yang jelas, saat ini, aku tidak akan meninggalkan siapa pun. Baik kamu... Ataupun dia." Sambung Roni perlahan lahan, seperti sedang memikirkan taktik selanjutnya.


"Demi Tuhan, Roni! Kamu mau aku bersikap bagaimana?? Tersenyum dan tidur denganmu beberapa jam setelah dia menyentuhmu? Kamu pikir aku gila? Atau mungkin kamu sedang berusaha membuatku gila??" Ucap Dewi setengah berteriak.


"Aku tidak bisa bicara sekarang, Wi." Sahut Roni tetap dengan nada suaranya yang tanpa emosi.


"Maaf.." sambungnya kemudian.


TUT... TUT...TUT...


Telepon ditutup dari seberang.


"Oh, tidak, Ron... Roniii!" Dewi memanggil nama Roni, tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar sendiri dari mulut suaminya. Dewi menutup ponselnya dan meletakkannya di meja.


Roni menutup panggilan telponnya begitu saja. Lalu Dewi mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi suaminya kembali. Namun, Roni, tak kunjung mengangkat panggilannya. Pada usaha yang keenam, Dewi pun akhirnya menyerah.


Dewi tergolek lemas di lantai kamarnya. Air mata meleleh dan mengering di pipinya. Tangannya bergetar meraih sesuatu dari kantong bajunya. Ia meraih botol obat dari sana, Prozac. Tadi malam, ia bermimpi menggoreskan pisau di nadinya sendiri. Mungkinkah ia harus lakukan itu pada kali ini. Sedikit saja! Siapa tahu, Roni akan pulang dan kembali padanya, lalu menyayanginya lagi, seperti dahulu.

__ADS_1


__ADS_2