Usai Pesta

Usai Pesta
Kembali


__ADS_3

Dentuman musik dan hiruk pikuk orang mengerakkan tubuhnya, bergoyang mengikuti irama dalam keremangan lampu klub malam itu. Roni menarik lengan Rosa, mengajak keluar dari kebisingan yang telah menjadi rutinitas mereka selama berbulan-bulan ini.


Roni menarik Rosa menuju ke mobil. Setelah masuk mereka saling bertatapan.


Rosa menyentuh wajah Roni dan tersenyum.


"Aku senang dengan kebersamaan kita saat ini."


"Ya. Aku pun demikian."


Roni membalas tatapan Rosa dan membelai wajah gadis itu, menyematkan rambut yang tak berada pada tempatnya, menuju ke belakang telinga.


Roni menautkan bibirnya pada gadis itu. Mereka saling mencumbu satu sama lain di mobil Roni.


Roni menurun ciumannya ke leher jenjang gadis itu, yang membuatnya mengeluarkan suara manja, yang memacu adrenalin Roni untuk melakukan lebih dan lebih.


Roni mendorong jok kemudinya agak bergeser ke belakang, supaya merasa nyaman. Dan Rosa akhirnya naik ke pangkuan Roni dengan kemeja setengah terbuka, yang membuat gunung kembarnya terlihat.


Roni dan Rosa terus melakukan aksi fisik mereka di mobil. Tubuh Rosa menggeliat tak kala Roni mencium dan mencumbu bagian sensitif miliknya.


"Aahhh... Ronni...." Ucapnya dengan manja, menginginkan lebih dari sekedar ciuman.


Rosa berpindah ke jok belakang diikuti oleh Roni. Roni menciumi gunung kembar milik Rosa dan memainkannya, puncaknya yang menyembul langsung dinikmati oleh Roni dengan buas membuat Rosa sukses melenguh dengan manja sambil menjambak rambut Roni. Bagian bawah miliknya mulai terasa basah dan gatal sekali, ingin menikmati belaian kasih sayang dari prianya.


Roni mencium perut Rosa dan menurunkan rok yang dikenakan oleh Rosa, ia membuka penutup pelindung berwarna merah muda itu.


"Hhmmm harumnya....!" Desis Roni lalu menenggelamkan kepalanya di antara paha gadis itu, yang kini tubuhnya menggelinjang tak karuan karena efek perbuatan Roni itu.


"Roni... Oh... Ahhh... Aaakkuuu...ohhhh...!" Teriakan manja Rosa terdengar, lalu Roni mencium bibir gadis itu sambil tersenyum.


"Dasar anak nakal!" Ucap Rosa sambil memukul dada Roni dengan manja.


"Tapi kamu suka, kan?" Sahut Roni sambil menjawil hidung Rosa.


Rosa mendorong tubuh Roni duduk ke jok untuk membalas memberi servisnya.


Rosa menciumi dada Roni dengan penuh gairah, lalu turun ke bawah. Rosa membuka ikat pinggang dan kait resleting dan menurunkan celana Roni.


"Hallloo boy!" Sapa Rosa sambil mencium lembut adik kecil Roni, yang kini mulai terbangun.


Roni menjambak rambut Rosa saat Rosa melahap pusaka miliknya dan menciuminya.


"Oh.. Rosa..!"


"Kamu pikir, hanya kamu yang bisa nakal? Aku juga bisa." Ucap Rosa sambil meneruskan aksinya dengan manja.

__ADS_1


Gadis itu membelai dan melahap dengan manja, hingga Roni tak tahan lagi untuk mengeluarkan miliknya.


"Rosssaaa...ahhh!" Teriaknya. Rosa membersihkan sisa lava yang disemburkan milik Roni dari sudut bibirnya.


Lalu Roni menarik Rosa ke pangkuannya.


"Kamu makin pintar!" Puji Roni.


Rosa tersenyum bangga. Lalu ia memasukkan pusaka Roni yang masih berdiri kokoh ke lubang miliknya, ia mengoyangkan pinggulnya naik turun.


"Oohhh... Roniii....!"


"Rossaaa... ohhh!"


Keduanya saling beradu menikmati setiap gesekan yang terjadi.


Tiba tiba ponsel Roni berbunyi.


Rosa menghentikan kegiatannya ketika mendengar suara panggilan itu tak berhenti.


"Mungkin penting." Ucap Rosa sambil turun dari pangkuan Roni.


Roni mengambil ponsel yang ada di dashboard mobil. Ia mengerutkan keningnya saat membaca nama di layar. Dari Luna.


"Ron, Kak Dewi masuk rumah sakit."


"Hah? Bagaimana bisa?"


"Kak Dewi mengiris nadinya, Ron. Percobaan bunuh diri. Kamu di mana sekarang?"


"Oh, eemmm... aku masih di kantor. Nanti aku segera ke sana. Terima kasih."


Roni menutup panggilan telponnya dan masih belum percaya apa yang ia dengar.


Ia terdiam, Rosa memegang pundak Roni seolah bertanya.


"Istriku di rumah sakit. Ia mencoba mengiris nadinya." Ucap Roni dengan dingin. Wajahnya terlihat pucat pasi.


Hati Rosa berdesir mendengar kata istriku yang digunakan oleh Roni. Itu jelas menandakan bahwa Roni bukan sepenuhnya miliknya. Dan saat ini Roni sedang mengkhawatirkan wanita itu.


Rosa merasa sedikit tak rela melihat perasaan Roni terbagi, meskipun ia sadar ia tak berhak untuk merasa tidak rela.


"Mungkin kamu harus pergi ke rumah sakit." Sahut Rosa agak ragu ragu.


Roni menatap wanita di hadapannya dengan resah. Ingatannya seperti berputar putar di dalam kepala.

__ADS_1


Sejak peristiwa yang nyaris merenggut nyawa anaknya, Dewi, istrinya telah memutuskan untuk berhenti bekerja dan berkonsentrasi pada rumah tangga.


Namun, ternyata konsentrasinya menjadi berlebihan, terutama pada anak anak.


Sebagai suami, Roni merasa tidak dipedulikan lagi. Bagi Dewi, yang terpenting adalah anak anak.Titik. Roni tidak bisa lagi berbicara pada Dewi tentang masalahnya. Dewi akan memotong dengan cerita cerita tentang anak mereka hari itu. Terus dan terus.


Saat itulah, Rosa muncul di hadapannya. Wanita itu memiliki semua yang tak dimiliki lagi oleh Dewi. Ia muda, fresh, bersemangat, selalu bisa diajak berdiskusi, pintar menanggapi keluhannya, dan pintar memuaskannya di ranjang.


Rosa selain cantik, pintar dan seksi. Rambutnya yang agak ikal dan tebal selalu digerai dengan manis. Baju baju kantornya selalu modis dan rapi. Tas laptoyanh tipis pun tidak lupa ia bawa ke mana pun ia pergi.


"Ceritakan tentang dirimu?" Kata Rosa saat pertama kali mereka bertemu di klub itu. Mereka menghabiskan malam dengan mengobrol di lounge.


Roni mendapatkan perhatian yang selama ini ia butuhkan. Ia tak tahan untuk tidak terpikat dengan gadis itu. Ia sangat ingin mendapatkan Rosa.


Tidak sulit menggaet Rosa. Ia baru saja keluar dari hubungan yang buruk dengan tunangannya. Gadis itu juga lapar perhatian. Senyuman Roni yang simpatik langsung membuatnya tertarik.


"Kamu cantik." Puji Roni saat itu. Rosa tersipu.


Baru beberapa hari kemudian, ia tahu Roni sudah berkeluarga. Rosa sempat merasa hancur. Bagaimana bisa ia tertipu oleh dua laki laki dalam waktu yang berdekatan? Rosa benar benar merasa menjadi orang yang sangat bodoh.


Namun, Rosa sadar, hatinya telah terlanjur ditambatkan di relung hati Roni. Ia telah berpikir keras bagaimana melepaskan jeratan rasa sayang yang tiba tiba menjalarinya. Ia pun berserah dan mengikuti apa saja yang diinginkan oleh garis nasib. Ternyata, nasib membawanya kembali pada Roni. Hingga akhirnya mereka sering melakukan kegiatan aktivitas fisik bersama untuk saling memuaskan hasrat mereka.


"Aku harus segera ke rumah sakit." Gumam Roni pelan. Rosa dapat membaca gerak bibirnya dan mengangguk setuju.


"Kenapa dia bisa berbuat senekad itu?" Tanya Roni seolah-olah bertanya pada dirinya sendiri. Ia berdecak resah, pikirannya menerawang.


"Mungkin ia terlalu sakit hati dengan hubungan kita." Jawab Rosa sambil mengangkat bahu. Ekspresinya santai.


Roni memandang Rosa dengan tatapan tajam.


"Aku akan pergi." Ucap Roni sambil membenarkan pakaiannya yang berantakan.


Rosa mengangguk, dan memakai dan merapikan pakaiannya kembali.


"Aku bisa pulang sendiri." Ucap Rosa hendak membuka pintu mobil.


Roni memegang tangan Rosa.


"Maaf. Aku pergi dulu.." ucapnya perlahan lalu melepaskan pegangannya pada Rosa.


Rosa pun keluar dari mobil.


Roni lalu melajukan mobil tanpa menoleh kembali pada Rosa.


Dalam pikirannya hanya satu, Dewi dan anak anak. Saat ini mereka membutuhkannya. Dan ini adalah masalah hidup dan mati. Roni tak ingin menghilangkan hidup siapa pun.

__ADS_1


__ADS_2