
Luna dan Juna bertemu dan menghabiskan waktu mereka seharian di rumah mereka saat weekend.
Juna telah sampai di rumah, dan sedang bermain game di ponselnya usai membersihkan rumah.
Luna yang baru tiba, hanya bisa melongo tak percaya dengan yang dia lihat saat tiba.
Rumah dalam keadaan rapi dan bersih. Lalu tersedia teh, dan sekotak brownies di meja makan. Tak lupa, rice cooker telah berisi nasi hangat.
"Ah, Juna... Sungguh ini kamu yang melakukannya?" Tanya Luna sambil menatap meja makan mungil yang ada di dapur.
Juna menganguk sambil tersenyum.
Luna memeluk dan mengecup ringan pipi suaminya itu.
"Apa yang kamu bawa itu?" Tanya Juna sambil menunjuk plastik yang berisi kotak makan di tangan Luna.
"Ah... Iya... Tadi aku masak ini." Seru Luna dengan riang sambil tersenyum lebar.
"Masak?" Juna mengerutkan keningnya.
"Iya, aku tadi belajar memasak di rumah Kak Dewi. Hasilnya, aku bisa membuat makanan ini. Yuk kita coba!" Luna bergegas menuju dapur dan menaruh kotak makan di atas meja.
Juna menatap kotak makan itu dengan tatapan ragu.
"Silahkan dibuka dan dicoba!" Bujuk Luna.
Juna membuka kotak makan itu, dan aroma lezat menyebar.
"Hmmm harumnya!" Celetuk Juna sambil membaui mie tumis buatan Luna.
Luna terkekeh melihat tingkah Juna.
Luna mengambil piring, lalu mereka berdua menikmati makan siang mereka dengan santai dan penuh cinta.
"Aku sungguh senang, kamu bisa memasak seenak ini." Puji Juna.
Luna hanya tersenyum dan melahap masakannya sendiri.
__ADS_1
"Ini berkat bantuan Kak Dewi, aku bisa membuat masakan seperti ini."
"Hmmm... Tapi kamu sungguh sudah sangat hebat."
"Terima kasih, Sayang." Luna menggenggam tangan Juna sambil tersenyum.
"Sayang, aku mau bilang ini untuk masa depan keluarga kecil kita." Ucap Luna sambil menatap sekeliling ruangan itu.
"Ya, apa?" Juna mendengarkan Luna.
"Aku ingin kita selalu jujur tentang semua hal. Terutama mengenai soal keuangan. Kita memiliki tabungan bersama, gunanya untuk keperluan anak kita kelak. Tabungan itu, untuk mempersiapkan masa depan buah hati kita. Untuk biaya kebutuhan anak kita, kesehatan, sekolah. Aku ingin kita bisa seperti dulu lagi. Menyisihkan setiap penghasilan kita untuk kita tabung. Untuk biaya anak kita dan biaya darurat." Ucap Luna.
Juna hanya mengangguk angguk setuju.
"Jika kita ingin membeli sesuatu di luar anggaran kita, aku harap kita saling mengingatkan. Aku dan Kamu, kita harus sama sama bisa saling menegur. Dan jika ada kebutuhan untuk orang tua atau ingin investasi di tempat lain. Aku harap kita bisa saling berdiskusi lebih dahulu." Tutur Luna panjang lebar.
Juna menatap Luna dan menggenggam jemari tangan istrinya itu.
*
Pagi itu, ketika hendak berangkat kerja. Juna sedang mematut diri pada cermin di ruang tengah.
"Matt..!" Panggil Juna dengan spontan. Juna berlari kecil tergopoh-gopoh menyusul Matt.
Sudah sebulan lebih, Juna tidak bertemu dengan Matt di rumah. Menurut keterangan Shasa, Matt pergi untuk urusan bisnis ke luar kota.
"Oh, hai! Apa kabar?" Ucap Matt tergagap saat melihat Juna menghampiri dirinya.
"Baik. Oh, ya, soal uang investasi tambang kemarin bagaimana? Ada kabar?" Tanya Juna dengan tenang.
"Oh itu... Sabar saja, namanya juga investasi, pasti lah ada hasilnya. Tapi, ya agak lama!" Sahut Matt dengan santai seolah tanpa beban.
Juna sontak terperanjat mendengar jawaban dari Matt. Wajahnya memerah. Dia kecewa.
Juna sudah membela mati matian Matt di depan istrinya, hingga rumah tangganya hampir berakhir. Kini, jawaban Matt benar benar seperti perkiraan Luna. Matt benar benar tak bertanggung jawab dengan investasi itu.
"Brengsek Lo!" Juna meraih kerah kemeja Matt. Tangannya mengepal siap meninju Matt.
__ADS_1
"Kamu bilang dulu padaku, saat kita bertemu waktu itu. Katanya bulan depan akan menghasilkan lima juta, lalu bulan bulan seterusnya setidaknya lima juga atau lebih akan di dapat sebagai hasil dari investasi. Mana! Kamu, jangan menipu aku!" Seloroh Juna dengan kasar sambil mengayunkan tangan hendak memukul Juna.
Matt terjepit di antara Juna dan mobilnya. Wajah Matt takut, melihat ekspresi juna yanga semakin geram.
"Juna, aku tidak pernah menjanjikan apa pun! Namanya juga investasi. Tidak selamanya bisa untung terus!" Matt berusaha menjawab.
Juna hanya bisa geleng-geleng kepala dengan raut wajah yang mengerikan.
BUK...
"Kamu salah!" Juna telah mengayunkan bogem mentah pada wajah Matt.
Matt berusaha mengelak dengan mendorong tubuh Juna.
Sopir keluarga tergopoh-gopoh berlari menghampiri Juna dan Matt.
"Sabar, Mas Juna.. Sabat, Mas!" Sopir keluarga itu terloncat dan berteriak-teriak melerai perkelahian antara Juna dan Matt.
Sopir keluarga menahan badan di depan Juna.
Matt melihat kesempatan untuk kabur dari tempat itu.
Dia buru buru masuk mobil dan melesat meninggalkan asap di wajah Juna.
Juna menatap mobil Matt yang semakin lama semakin menjauh.
Rasa geram semakin memuncak di kepala Luna.
Dirinya seharusnya tidak boleh percaya pada Matt. Dan Luna benar.
Dari arah belakang, terdengar suara tangisan anak kecil yang memilukan. Juna menoleh ke sumber suara.
Shasa sudah berdiri di situ sambil menggendong anaknya.
Pipinya telah penuh dengan air mata yang mengalir deras. Anaknya seperti merasakan perasaan ibunya dan turut menangis dengan kencang.
Juna hanya menghela napas dalam dalam.
__ADS_1
Ternyata bukan hanya rumah tangganya yang bermasalah.
Tinggal bagaimana cara menyelesaikannya. Satu demi satu.