
DOK...DOK..DOK...
"Juna, lekas dong mandinya! Kita sudah telat nih!" Teriak Luna sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. Suaminya telah berada di dalam kamar mandi selama satu jam. Kebiasaan buruk merokok dalam kamar mandi yang membuat waktu mandi Juna menjadi molor begitu lama.
Padahal mereka sudah sangat terlambat untuk berangkat ke kantor. Luna sangat khawatir.
Saat ini ia baru saja diangkat menjadi manager. Ia tak ingin memberikan contoh yang buruk kepada team kerjanya.
Tak terasa, mereka telah menempati rumah baru selama hampir satu bulan. Tidak banyak yang berubah dari kondisi rumah itu. Luna dan Juna hampir tak punya banyak waktu untuk membereskan rumah.
Mereka berharap punya banyak waktu saat akhir pekan. Ternyata banyak acara kondangan yang harus mereka hadiri. Untuk mencuci dan menyetrika pakaian mereka, masih mengandalkan jasa laundry yang ada di depan kompleks perumahan tempat mereka tinggal.
Pintu kamar mandi membuka. Tubuh Juna masih dililit handuk. Ia tak tampak tergesa. Malah terlihat lebih santai. Luna gemas melihatnya.
"Juna, cepatlah! Kita terlambat!" Ujar Luna menukas. Luna terlihat sangat marah dan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya itu.
"Santai, dong!" Jawab Juna sambil memutar bola matanya. Ia mulai mengenakan kemeja kerjanya.
"Tuh, aku sudah siapkan kopi." Luna menunjuk ke cangkir berisi kopi yang diletakkan di meja kerja dalam kamar.
Juna mengambil cangkir itu dan meminum seteguk.
"Terlalu manis." Komentarnya singkat.
Luna mendengus kesal mendengar komentar Juna.
"Apa maksudmu? Kamu mengkritik caraku menuangkan kopi instan ke dalam cangkir, hah?" Protes Luna sambil berkacak pinggang.
Bagaimana Juna dapat mengatakan terlalu manis? Kopi di cangkir itu semuanya berasal dari bubuk kopi instan langsung seduh dalam sachet yang biasa diminum oleh Juna. Luna merasa Juna hanya mengada ada saja saat itu.
"Kalau kamu tidak suka, kamu bisa membuat kopinya sendiri sesuai selera!" Tukas Luna yang telah terlanjur emosi.
"Apa apanya sih kamu? Aku kan cuma bilang, kalau itu terlalu manis! Aku tak pernah menyalahkanmu! Demi Tuhan, Luna!" Juna mengomel sambil membenarkan pakaiannya. Lalu ia menyambar tas dan sepatunya, kemudian membuka pintu kamar dengan kasar.
__ADS_1
"Sudah! Tidak ada acara ngopi, sarapan, atau apa. Berangkat, sekarang!" Juna memerintah.
Sepanjang jalan, mereka terdiam. Tak ada diskusi masalah berita terbaru seperti biasanya. Luna serius memandangi jalan yang lagi lagi selalu padat merayap.
Sedangkan, Juna hanya diam sambil menekuri ponselnya. Ia membaca berita di media online, mengecek sosial media miliknya, lalu mengecek film film terbaru apa yang sedang diputar di bioskop saat ini.
Juna tidak sesibuk Luna. Bahkan ia jarang sekali sibuk. Pekerjaannya santai dan tidak menuntut terlalu banyak.
Tidak seperti Luna, Juna hampir tidak pernah menerima telpon mengenai pekerjaan selama dalam perjalanan. Juna juga hampir tak pernah lembur untuk mengerjakan tugas kantornya.
Ia hanya lembur, jika ia merasa perlu menyelesaikan pekerjaan agar esoknya ia dapat sedikit santai dan bisa bermain game online kesukaannya.
"Apa kamu lembur malam ini?" Tanya Juna. Suaranya memecah keheningan yang terjadi dalam situasi kemacetan ibu kota.
Tampaknya, Juna ingin menyudahi perang dingin antara ia dan istrinya.
"Nggak. Kenapa?" Jawab Luna sambil menoleh sebentar. Wajahnya melunak. Ia memang tidak pernah memendam kemarahan lebih dari dua jam lamanya.
"Mungkin, kita bisa mampir ke rumahku. Bertemu Mami. Sudah lama, kan, kita nggak ketemu?" Kata Juna pelan.
Tempat tinggal mertuanya sangat jauh dari tempat tinggal mereka. Dan, apa enaknya ketemu sebentar, kemudian pulang lagi? Bahkan, ia sendiri belum bertemu dengan orang tuanya dan kakaknya, Dewi. Pikirannya berkecamuk di batin Luna. Namun, ia tak ingin bertengkar lagi dengan Juna.
"Kok kamu diam, kenapa? Kamu ada urusan lain?" Juna menatap Luna yang sedang menyetir dengan penuh harap.
"Ah, tidak!" Luna tersenyum dipaksakan.
"Ya, nanti kita bisa ke rumah Mami. Nanti malam. Gak masalah." Jawabnya sambil terus fokus mengendarai mobilnya.
****
"Hai, Mami, apa kabar?" Sapa Juna sambil mencium pipi ibunya yang masih terlihat awet muda di usia hampir 65 tahun. Rambutnya disasak rapi dan lipstiknya dipulas dalam warna yang cerah untuk menyambut kedatangan anak tersayangnya.
Juna adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Saudara laki laki yang tertua sedang meneruskan S2 di Belanda. Kakak yang kedua perempuan, bernama Shasa, dan sudah menikah dengan seorang pengusaha bernama Matt. Mereka memiliki satu orang anak, saat ini mereka tinggal di rumah orang tua Juna.
__ADS_1
Papi Juna, Bapak Soemarjan, orangnya pendiam dan tidak banyak bicara. Ia lebih suka duduk di meja sambil bermain catur sendirian.
"Mami baik. Kalian gimana? Wah, kelihatannya segar sekali, ya, pengantin baru!" Mami mencium kedua pipi Luna sambil tersenyum.
Luna menjawab dengan senyum kecut. Mungkin ia sudah tak bisa dibilang segar. Perjalanan yang tadi mereka tempuh, rutenya cukup panjang. Dari kantor, Luna menuju kantor Juna untuk menjemput suaminya itu. Lalu mereka baru menuju ke rumah mertuanya. Rute tersebut dan menghadapi kemacetan jalanan Jakarta pada jam pulang kantor sudah cukup menghabiskan tenaga Luna.
"Hei, pengantin baru! Sini dulu dong! Makan bareng yuk!" Teriak Shasa yang tengah menggendong anaknya. Ia melambaikan dari ruang makan. Rupanya keluarga Soemardjan sedang makan malam.
"Yuk, langsingan aja sekalian makan malam!" Mami menggandeng tangan Juna menuju meja makan. Luna mengikuti mereka dari belakang dengan canggung.
"Wah, kebetulan, nih, Mam. Sudah beberapa lama tidak makan masakan rumahan!" Celetuk Juna.
Luna yang mendengar ucapan suaminya, langsung merasakan pipinya memerah.
Selama ini mereka memang selalu makan di luar. Luna belum sempat belajar memasak atau paling tidak mencoba memasak apa pun.
"Oh, ya?" Mami menjawab sambil melirik ke arah Luna.
Luna pura pura tak melihat tatapan mertuanya itu. Luna merasa sangat kesal pada Juna yang membuatnya terlihat seperti istri yang tidak becus mengurus suami.
Di meja makan, sudah duduk anggota keluarga Soemardjan yang lain. Ada Matt, suami Shasa, dan ada Papi. Mereka saling bersalaman sebelum Juna dan Luna mengambil tempat di meja makan. Mami memanggil seorang pembantu untuk menyediakan peralatan makan untuk Juna dan Luna.
"Jadi, gimana, selama aku pergi, apa ada berita baru?" Tanya Nina pada Shasa.
"Nggak banyak! Cuma si Dika, sudah bisa makan mangga loh, kemarin." Sahut Shasa sambil mengangkat anaknya yang lucu dan menggemaskan. Semua wajah di meja makan menjadi cerah melihat bayi yang chubby itu.
"Kalian tidak menunda, kan?" Tiba tiba, Mami bertanya dengan lugasnya. Luna mulai siap siap menjawab pertanyaan pertanyaan seperti dari mertuanya.
"Menunda apa, Mi?" Jawab Juna sambil menyendokkan nasi ke piringnya.
"Ya, punya anak lah! Kalian tidak menunda punya anak, kan? Biar Dika ada temannya." Ujar Mami beralasan.
Suasana di meja makan langsung hening. Semua tahu, pertanyaan mami itu terlalu pribadi. Luna sendiri tidak tahu harus menjawab apa, sehingga ia menunggu Juna untuk menjawabnya. Juna mengaduk aduk lauk pauk di piringnya sebelum menjawab.
__ADS_1
"Ya, tentu saja kami nggak akan menundanya. Kami pengen punya anak banyak, kok, Mam! Tenang saja!" Sahut Juna sambil tersenyum.
Luna berdehem. Dia masih tak habis pikir. Baru sekitar satu bulan mereka menikah, dan sudah mulai diteror soal anak.