Usai Pesta

Usai Pesta
Pencarian


__ADS_3

Sejak kejadian menyedihkan itu, Dewi dan anak anaknya tinggal bersama Ibu dan Ayah. Mereka menempati kamar yang tadinya milik Luna dan Juna.


Luna pikir, kamar itu akan lebih penting dan berguna bagi Dewi dan anak anaknya. Jadi, ia pindah ke kamar yang lebih kecil di samping kamarnya dahulu, yang biasa dipakai sebagai kamar untuk tamu yang datang me manginap.


Seluruh keluarga berusaha membuat keadaan kondusif bagi Dewi. Mereka berbuat seakan akan kejadian itu tidak pernah terjadi.


Luna hanya dapat memeluk kakaknya yang selalu dalam keadaan murung. Ia tak pernah membuka percakapan apa pun yang membahas malam itu. Ia menunggu kakaknya untuk bicara sendiri tentang masalahnya.


Luna juga berusaha berbicara dengan beberapa temannya yang psikolog. Berharap dapat menolong Kak Dewi.


Sebenarnya, Kak Dewi harus diajak berbicara. Banyak bicara mengenai berbagai hal. Sehingga cepat atau lambat, cerita tentang masalah yang menghimpitnya tentu akan keluar.


Luna ingin sekali mendengar semuanya dari Kak Dewi, namun, ia tak tahu harus memulai dari mana. Yang dapat ia lakukan hanya bisa menggenggam tangan kakaknya dan menangis.


Kehamilannya semakin hari semakin nyata. Tetapi, Juna, suami dari ayah bagi anaknya malah semakin hari semakin kabur bayangannya.


Karena masalah Kak Dewi, ibu jadi tidak terlalu khawatir dengan Luna. Karena masalah Kak Dewi adalah hidup dan mati. Sedangkan masalah Luna dan Juna, mungkin hanyalah masalah kesalahan pahaman akibat ego pengantin muda yang dapat diselesaikan seiring dengan waktu.


Sudah hampir satu bulan, Luna tak mendengar kabar apa pun dari Juna. Sudah ratusan bahkan ribuan chat whatsapp ia kirimkan pada suaminya, bahkan pesan teks SMS pun ia kirimkan. Luna berusaha menghubungi ponsel suaminya baik panggilan whatsapp maupun ponsel, namun tak pernah aktif.


Luna mencoba menghubungi kantor, namun, Juna selalu tidak ada di kantor, entah tugas atau pun sedang meeting. Luna berusaha menghubungi ke rumah keluarga Soemardjan, juga sama. Juna tidak ada di sana.


Luna sungguh tak percaya suaminya akan berbuat Setega itu padanya.


"Juna, apa yang kamu pikirkan saat ini. Mengapa kamu setega ini meninggalkan aku di saat saat seperti ini. Apa kamu terlalu marah padaku? Apa aku telah terlalu melukai dirimu? Juna maafkan aku! Aku ingin kamu kembali, atau setidaknya memberi kabar padaku. Apa kamu tidak merindukan anak dalam perutku ini? Anak kita."


Luna hanya terpekur membaca pesan yang telah dikirimkan pada Juna. Tak bosan bosan, Luna mengabarkan tentang keadaannya, bahkan menceritakan keadaan Kak Dewi yang sedang dalam kondisi yang sulit. Namun, semua pesan tersebut hanya centang dua tak terbaca, dan setelah itu centang satu saja. Dan akhirnya tak pernah ada balasan dari Juna. Sama sekali.


Luna meletakkan ponselnya, lalu menenggelamkan kepalanya pada bantal.


Lalu tiba tiba ponselnya bergetar, ada panggilan yang masuk. Luna langsung meraih ponsel pintarnya itu, melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata Roni.


"Halo, Roni." Luna menjawab panggilan itu.


"Hai, Lun. Apa kabar?" Suara Roni mengalun lembut. Sepertinya, saat ini sedang berada di ruang kantor.


"Baik." Jawab Luna singkat.

__ADS_1


"Bagaimana kabar anak anak?"


"Baik juga."


"Hmmm...." Ada sedikit jeda yang tidak nyaman dari Roni.


"Tentang Dewi.. Apakah sudah ada perkembangan yang berarti?" Tanya Roni dengan nada kurang nyaman, seperti sedang menanyakan sesuatu yang memalukan.


"Tergantung. Apa yang kamu maksud sebagai perkembangan yang berarti itu." Sahut Luna dengan ketus.


"Maksudku..."


"Mengapa kamu tidak datang dan melihatnya secara langsung?! Menemui langsung Kak Dewi." Ujar Luna dengan benar benar marah.


Tak pernah sekali pun Roni benar benar ada di samping Dewi untuk menenangkannya, menghiburnya, menyayanginya, seperti yang seharusnya dilakukan olehnya sebagai suami. Roni hanya sempat menemani istrinya sebentar di rumah sakit. Kemudian, saat kondisi istrinya membaik, ia pergi dan tak pernah kembali lagi datang untuk menjenguk istrinya.


Luna sangat heran.


Ke mana semua citra suami teladan yang selama ini ditunjukkan oleh Roni? Apakah semua itu hanyalah sandiwara? Apakah ini semua yang membuat Kak Dewi menyerah pada hidup?


"Aku belum bisa, Lun. Aku belum sanggup." Kata Roni dengan lirih.


Luna menutup panggilan ponselnya. Ia tak Sudi mendengar kata kata dari Roni lagi.


Bagaimana mungkin seorang suami tidak ada di saat istrinya sedang membutuhkannya??!


Tiba tiba Luna tercenung dengan jalan pikirannya sendiri.


Juna pun saat ini tak ada untuknya.


Apakah ia belum berusaha mencari dengan benar? Selama ini, ia hanya m mgandalkan telepon saja. Mungkin ia perlu mencarinya dalam arti yang sesungguhnya.


Luna mengangguk angguk. Tekadnya sudah bulat. Ia akan berusaha menemukan Juna. Suaminya, cintanya.


***


Nyonya Soemardjan, Ibunya Juna sedang mengganti ganti saluran televisi dengan bosan. Siang hari seperti ini, biasanya seluruh orang di rumah sedang beraktivitas. Suaminya pergi rapat, anak perempuannya pergi menjemput sekolah, terkadang meneruskan berjalan jalan ke mall. Menantunya pergi ke luar, bekerja. Hanya tinggal ia dan para pembantu saja di rumah.

__ADS_1


Sebenarnya, Nyonya Soemardjan memiliki bisnis batik di Pekalongan yang telah berjalan sangat baik. Hasilnya diekspor ke banyak negara di Eropa. Bulan ini adalah bulan tersibuk di pabriknya. Tetapi, ia tetap di rumah, mengurus rumah tangganya. Itulah gunanya merekrut direktur dan manager untuk pabriknya. Agar ia tetap dapat menyiapkan sarapan untuk suaminya dan menonton acara gosip di sofa ruang tengahnya.


Saat ini acara di televisi sedang menayangkan tentang kuliner khas Solo. Nyonya Soemardjan teringat akan Juna, putranya.


Sebulan yang lalu, putranya datang ke rumah, dengan wajah paling menyedihkan yang pernah dilihat olehnya.


Apa yang sebenarnya terjadi pada Juna? Apakah ada hal yang telah menyakitinya?


Juna tidak pernah mengatakan apa apa.


Namun, sejak malam itu, Juna tinggal di rumah orang tuanya. Ia tidak pulang ke rumah untuk bersama istrinya seperti yang seharusnya.


Ia pernah berdiskusi bersama suaminya, bagaimana cara menghadapi Juna. Apakah mereka harus mengajak Juna bicara atau menunggu anaknya untuk membuka diri? Lalu, akhirnya mereka memutuskan untuk menunggu Juna siap untuk mengungkapkan semuanya.


Sebenarnya, Nyonya Soemardjan sangat penasaran akan masalah yang menimpa Juna. Belum terjawab rasa penasaran itu, anaknya tiba tiba minta ijin untuk pergi dinas ke Solo selama satu bulan.


Mungkin Juna ingin menenangkan diri di luar kota. Menjauh sejenak dari masalah yang dihadapinya. Wanita itu hanya bisa mengangguk dan menyiapkan keperluan anaknya.


Sekarang sudah hampir dua minggu, Juna di Solo. Ia baru menelpon satu kali, itu pun hanya untuk mengabarkan bahwa dia telah tiba dengan selamat di Solo. Setelah itu, tak ada kabarnya sama sekali.


TING TONG


Bel rumah berbunyi. Nyonya Soemardjan mendengarnya, ia ingin salah satu dari empat pembantunya yang ada di rumah itu yang membukakan pintu. Itulah mengapa mereka dibayar.


TING TONG


Nyonya Soemardjan menahan diri untuk tidak bangun dan tetap menikmati acara televisi.


TING TONG


Setelah menghembuskan napas panjang, Nyonya Soemardjan akhirnya berdiri.


"Huh, siapa sih, yang datang pagi pagi begini?!" Gerutunya.


"Mana ini orang orang, awas saja, besok besok kalo terulang, aku pecat saja semuanya, punya empat pembantu, tapi bel Ting tong ting tong ga ada yang denger! Huh..!" Omel Nyonya Soemardjan.


Wanita itu berdiri sebentar di depan sebuah cermin besar sebelum pintu masuk. Membetulkan rambutnya yang agak acak acakan. Kemudian membukan pintu.

__ADS_1


"Mami...!" Panggil tamunya pagi itu.


Jantung Nyonya Soemardjan seperti berhenti berdetak, ia tak mengharapkan tamunya kali ini. Di hadapannya, berdiri seorang wanita muda dengan wajah lelah dan semangat hidup seakan akan padam.


__ADS_2