Usai Pesta

Usai Pesta
Resah dan Gelisah


__ADS_3

Luna meraih ponsel pintarnya yang berada di nakas. Ia menatap aplikasi whatsapp yang ada di halaman awal layar ponselnya. Ia memilih nama Dewi untuk menemaninya malam ini sambil menunggu Juna pulang.


L : Hai kak, apa kabar?


D : Hai cantik. Kamu di mana? Ibu bilang kamu sudah pulang dari honeymoon?


L: Iya, aku sudah pulang kemarin.


D : Gimana nih? Cerita cerita dong!


L : Besok aja, kita janjian ketemuan di rumah Ibu. Sekalian aku bawain oleh oleh.


D : Wah... Asik banget pastinya! Jangan lupa kirim fotonya ya!


L : Siap kak!


Bagi Luna, Dewi bukan hanya sekedar kakak perempuan saja. Dewi adalah sahabat, teman curhat, penolong, penyayang, penuntun, pengajar, pokoknya, Dewi adalah panutan hidup bagi Luna.


Dahulu, Dewi adalah seorang perempuan yang ambisius. Mengejar karir hingga sukses menempati posisi direktur di sebuah perusahaan farmasi terkenal.


Namun, semua itu ia tinggalkan begitu saja untuk benar benar menjadi ibu rumah tangga.


Luna sering memandang iri dengan keharmonisan kehidupan rumah tangga kakaknya itu. Yang telah memiliki dua orang anak itu. Dan kini, ia pun bermimpi membangun keharmonisan rumah tangga yang sama seperti kakaknya dengan Juna.


L : Belum tidur?


D : Belum tidur?


(Mereka menuliskan pertanyaan dalam waktu yang sama)


D : Tanyanya barengan hehehe... Aku belum tidur, masih menunggu Roni. Kamu kenapa? Kok belum tidur, malah main hape?


L : Sama Kak, aku juga sedang menunggu suami.

__ADS_1


D : Loh... Pengantin baru kok sudah ga betah di rumah? 😁😁


L : Sedang lembur, Kak 😪


Ia berbohong pada kakaknya. Ya, terpaksa berbohong. Sebab tidak mungkin mengatakan pada kakaknya, bahwa ia sampai sekarang pun, belum mendapatkan kabar apa pun dari suaminya.


D : Wah, kok samaan ya dengan alasannya Roni? Jangan jangan, mereka sedang janjian untuk merayakan persaudaraan mereka 😁😁


L : Mungkin 😅


Luna, menatap ponselnya sejenak, lalu mencari nama Juna di whatsapp. Ia menatap chat yang telah dikirimkan beberapa jam yang lalu dan beberapa menit yang lalu, namun hanya centang dua abu, tanda belum dibaca.


Luna merasa gamang. Ia merasa sedikit khawatir. Ia berharap suaminya membaca dan membalas pesannya. Namun, semua masih sama, bahkan terakhir dilihat adalah pukul 18.57.


Luna mulai bertanya tanya, apa yang sedang terjadi pada suaminya saat ini. Apakah Juna marah, lalu ngambek saat dia mengabari akan lembur?


Atau ada hak lain yang saat ini membuat Juna marah padanya? Masa, sih, begitu? Seperti anak kecil saja!


Luna memutuskan, jika suaminya benar benar tidak pulang malam ini, ia akan segera melapor ke kantor polisi untuk mencari suaminya yang tanpa kabar itu.


Ia tak ingin Kakaknya akan khawatir, lalu bicara pada Ibunya. Luna tak ingin ibu tahu apa pun persoalan dalam rumah tangganya bersama Juna. Urusannya akan menjadi lebih panjang dan ribet nantinya.


Diam diam, Luna berharap memang benar benar seperti itu keadaannya, sehingga ia tak perlu khawatir lagi akan kondisi Juna.


Sayup sayup ia mendengar suara deru mobil mendekat ke arah rumah. Perlahan ia bangkit berdiri mendekati jendela kamar. Lalu perlahan ia membuka sedikit tirai untuk mengintip dari balik jendela kamarnya.


Sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di depan rumah. Lalu terdengar suara pagar dibuka dengan kasar dan tak sabar.


Luna bergegas berjalan tergopoh-gopoh menuju pintu depan. Tak lama terdengar ketukan ketukan pintu yang makin lama semakin terdengar keras. Luna terkaget dan terdiam sejenak untuk beberapa saat. Luna tak yakin itu Juna. Tapi bisa jadi itu suaminya yang pulang ke rumah.


Dengan ragu ragu ia menjawab.


"Si-siapa?" Tanya Luna setengah berteriak tergetar karena takut. Ia takut orang di luar itu bukan Juna, suaminya yang ditunggu sedari tadi. Karena daerah sekitar komplek memang masih sepi, belum banyak yang ditempati oleh pemiliknya.

__ADS_1


"Aku! Cepat, buka pintunya!" Suara Juna berteriak nyaring.


Luna menghembuskan napas lega. Dibukanya pintu depan rumah dan membiarkan Juna yang wajahnya kusut masuk ke dalam rumah.


Juna berjalan melewati Luna begitu saja dan langsung melempar tas kerjanya ke sofa. Ia berjalan menuju ruang dapur, lalu mengambil gelas dan meminum seteguk air dingin yang diambilnya dari dispenser.


Juna terdiam sejenak, seperti bimbang. Luna menatapnya dengan kening berkerut. Menunggu penjelasan keluar dari mulut Juna.


"Tutup dulu, dong, pintunya!" Tukas Juna sambil menunjuk pintu depan dengan dagunya. Ia tampak kesal dan gusar.


Luna berlari ke depan menutup pintu dengan kasar, lalu kembali lagi ke depan suaminya.


"Ada apa? Kenapa baru pulang jam segini? Aku khawatir setengah mati Juna!" Tanya Luna dengan raut muka penasaran dan tak sabar.


Juna berjalan mendekati Luna. Sesaat menatap wajah wanita yang kini telah menjadi istrinya. Lalu tangannya terulur merengkuh tubuh istrinya itu. Hidungnya menempel di rambut Luna. Sejenak ia menikmati aroma harum shampo lavender yang selalu dipakai wanita itu.


Luna tersentak, terkejut menerima pelukan yang diberikan oleh suaminya yang tiba tiba. Namun, ia sangat menikmatinya.


"Maafkan aku sayang! Aku tadi tidak memberi kabar. Tadi ada sedikit masalah agak pelik. Ponsel-ku dicopet saat memesan taksi online." Ucap Juna perlahan sambil menatap wajah istrinya menceritakan alasannya pulang larut malam.


"Hah...! Apa!? Di mana?" Luna menarik tubuhnya keluar dari pelukan Juna, sambil membulatkan bola matanya.


"Tadi... dicopet waktu aku sedang menunggu taksi online pesananku tiba, di pinggir jalan. Tapi, aku berhasil menangkap pencopetnya. Lalu aku menyeretnya ke kantor polisi yang ada di dekat situ. Terus aku diminta jadi saksi. Lalu menunggu polisi membuat laporan dan lain lain. Jadi agak ribet dan lama di kantor polisi tadi. Sampai aku nggak sempat mengabari kamu. Dan pulang sampai malam begini. Maafkan aku, ya, Sayang!" Ujar Juna berbohong sambil mengusap-usap rambut hitam dan panjang milik Luna.


Juna, Belum ingin membagi cerita pertemuannya dengan Roni di klub malam tadi dengan Luna. Karena tak ingin akibat yang akan ditimbulkan kemudian. Baik untuk rumah tangga Kakak tercintanya, maupun rumah tangganya.


Luna menarik napas lega menatap wajah suaminya itu.


"Tapi, kamu tidak apa apa, kan? Jangan berlagak jadi James Bond, deh! Kalau memang dicopet, ya, biarin saja! Dari pada kamu nantinya terluka dan terjadi apa apa denganmu!" Luna meraba sekujur tubuh Juna dan mencari cari sesuatu, memeriksa jika ada yang terluka pada tubuh suaminya itu.


Juna menangkap tangan Luna dan meremasnya dengan lembut.


"Tenang saja, Sayang. Di saat saat terjepit, aku bisa menjadi Gatot Kaca!" Tatap Juna sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Luna mencubit perut Juna yang buru buru menghindar. Mereka tertawa bersama, melunturkan ketegangan yang sempat tercipta di antara mereka.


__ADS_2