
Juna merasa lelah. Dia duduk, menunduk. Dia merasa benar benar sangat sedih luar biasa. Dia sudah tak bisa menahan pertahanannya kali ini, air matanya tumpah sudah. Hatinya benar benar merasa hancur.
"Junaa..." Terdengar seorang wanita memanggil namanya.
Sebuah tangan lembut wanita menepuk punggungnya.
Juna menoleh ke samping. Di sebelahnya, Kini ada Luna. Luna berdiri dengan wajah lelah dan mata bengkak.
"Maaf, kamu sampai menunggu, aku.."
Tiba tiba, Juna berdiri dan mencium bibir istrinya dengan penuh perasaan.
Semua rasa rindu, sakit hati, senang, sedih, lega, kesal, cinta, bercampur aduk jadi satu. Luna tidak perlu menyelesaikan kalimatnya. Juna sudah tahu semuanya.
Luna adalah istrinya, cinta sejatinya, urat nadi, dan bagian dari hidup dan jiwanya.
"Juna...kenapa kamu biarkan aku sendirian? Aku tidak tahan seperti ini. Aku sangat rindu. Aku sangat merindukanmu!" Luna menangis terisak dalam pelukan Juna.
Saat ini Taman Menteng sudah agak sepi pengunjung. Hari telah mulai malam, pengunjung beberapa sudah pulang dari area itu. Sehingga tidak ada yang terganggu dengan drama di antara keduanya.
Juna tak dapat menjawab pertanyaan istrinya. Dia hanya diam, sambil memeluk Luna erat menahan perasaannya. Bibirnya bergetar penuh kesedihan. Juna berpikir, mengapa mereka berdua bisa membiarkan keadaan memburuk dan berlarut-larut.
"Soal yang kemarin itu, aku.." Luna tak sampai meneruskan ucapannya, Juna telah memotongnya.
"Sssttthhh... Sudahlah! Sudah. Kejadian kemarin itu sangat buruk dan pasti ada penjelasannya. Tapi, aku tidak ingin mendengarnya saat ini. Aku hanya merasa sangat yakin dengan keputihan hati istriku. Kejujuran dan kesetiaan selama ini. Aku tidak peduli dengan ucapan orang lain. Ini hanya antara kita berdua, Lun. Hanya kita. Kamu dan aku." Ucap Juna menenangkan istrinya yang masih terisak dalam dekapannya.
Luna menghela napas lega mendengar jawaban dari Juna, suaminya. Dia menyeka sisa air mata yang membasahi wajahnya. Luna tersenyum sambil menatap Juna. Lalu memeluk erat kembali Juna, kali ini lebih lama.
"Kamu tahu, anak kita sudah bisa mendengar percakapan kita, loh. Mungkin, saat ini dia juga dapat merasakan kebahagiaan yang kita rasakan saat ini." Sahut Luna, sambil melepas pelukannya, lalu mengelus perutnya.
Seketika Juna tersadar. Mereka memiliki calon buah hati, calon anak mereka yang ada dalam rahim Luna.
Juna menatap Luna, lalu melihat ke arah perut yang dielus oleh Luna.
Juna menurunkan kepalanya hingga ke perut Luna.
"Anakku sayang, Papa dan Mama baru saja baikan. Kamu senang, kan?" Ujar Juna sambil ikut mengelus perut Luna dan menciumnya. Juna berharap, anaknya dapat merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.
Luna tersenyum bahagia dalam sisa sisa tangisnya. Saat saat seperti inilah yang ditunggu Luna selama ini.
Akhirnya, Luna merasa sangat bersyukur, tiba juga saatnya mereka untuk berbahagia. Juna menempelkan telinganya ke perut Luna.
"Ma, katanya, anak kita mau makan cheese pizza!" Sahut Juna dengan jenaka.
__ADS_1
Luna tersenyum lebar. Matanya bersinar. Sudah lama, dia memimpikan saat saat indah seperti ini bersama Juna.
Dalam hatinya, Luna berterima kasih yang sedalam-dalamnya pada Tuhan yang telah mengijinkan Juna kembali lagi padanya.
Mereka menikmati cheese pizza dan lemon teh sambil duduk di bangku taman. Diterangi lampu taman.
Mereka saling bersenda gurau malam itu, menikmati kebersamaan mereka yang rasanya telah lama tidak mereka rasakan bersama.
*
Juna dan Luna secara rutin bertemu sepulang kerja, sebelum pulang ke rumah orang tua mereka masing-masing.
Mereka membiarkan saja orang tua mereka sengaja tidak mengetahui hubungan mereka yang mulai membaik.
Orang tua Luna maupun Juna sama sama menentang keras mereka untuk kembali rujuk. Bagi mereka, hubungan suami-istri antara Juna dan Luna sudah berakhir.
Sekarang, mereka seperti abege yang masih pacaran sembunyi sembunyi karena tidak disetujui oleh orang tua.
Bedanya, jika dulu, alasannya adalah mereka harus belajar dulu, menimba ilmu sampai tinggi, baru boleh pacaran.
Sekarang, alasannya benar benar berbeda. Masalah ego kedua keluarga besar yang benar benar sensitif.
Hari ini, Juna menemani Luna, istrinya untuk periksa kandungan ke dokter kandungan.
Juna duduk di sebelah istrinya yang terbaring dengan perut terbuka. Dokter tersenyum ke arah Juna dan mengatakan.
"Tumben."
Juna terkejut, dan akhirnya dia hanya bisa tersenyum kecut menjawabnya.
Dokter mulai membalurkan cream pada sekitar perut Luna. Luna merasakan dingin yang aneh di daerah perutnya. Kemudian, perlahan, di layar terlihat mahluk kecil mungil yang meringkuk di dalam rahim ibunya dengan mata terpejam.
Juna terpana. Anaknya sudah besar. Dia menggenggam tangan Luna tanpa sadar.
"Itu, Dokter?" Sahut Juna sambil menunjuk ke layar.
"Itu apa, Pak?" Dokter menatap Juna dengan heran.
"Itu anak saya, Dok?" Juna mengucap antusias.
Sontak Dokter dan Luna tertawa berbarengan.
"Iya, itu anak Bapak!" Jawab dokter.
__ADS_1
"Wah, ganteng sekali!" Seru Juna dengan gembira.
"Eh, kita, kan belum tahu, ini laki laki atau perempuan!" Tukas Luna sambil mencubit tangan Juna.
"Perasaanmu mengatakan, bahwa, ank kita ini laki laki!" Kata Juna sambil mengangguk angguk yakin.
Juna melihat Luna menjadi tidak mengurus diri selama ini. Mungkin itu karena anaknya laki laki atau mungkin juga karena berbagai masalah yang menimpa rumah tangga mereka selama ini. Juna tidak begitu paham.
Usai memeriksa kandungan, mereka menuju ke sebuah tempat makan favorit mereka.
Warung tenda pecel lele.
Luna memesan ayam goreng, dan Juna memesan lele goreng dan minumnya es jeruk.
"Kita harus memikirkan cara untuk memberitahukan semua ini pada orang tua kita masing masing." Ucap Juna sambil menikmati makanannya.
Luna terdiam sejenak. Lalu dia mencomot daging yang ada di piring Juna.
Sambil menikmati makannya, Luna berpikir.
"Tapi gimana dong? Mami kamu tuh orangnya keras kepala gitu!" Jawab Luna dengan ketus.
"Dih, apalagi ibumu, suka cari cari kesalahan mantunya!" Juna menyerang balik.
"Kamu tahu. Aku pernah datang ke rumah, dan Mami sangat dingin padaku. Lalu mengatakan kalau kita sudah berakhir." Luna bercerita, lalu menatap ke arah Juna.
Juna terdiam sejenak. Saat dia bertanya pada pembantu di rumah, dia mengatakan Luna tidak pernah datang.
Namun, dalam hati kecilnya Juna tahu, Luna berkata jujur padanya.
Mereka terdiam sambil menikmati makan malam mereka.
Mereka berdua sama sama ingin kembali lagi. Seperti dulu, memperbaiki semuanya. Namun, jika ego masih ada, maka semua akan sia sia.
Mereka harus sama sama berpikir dengan jernih, menekan ego masing-masing, maka semua pasti akan berhasil.
Mereka saling berdiskusi banyak hal setiap hari, saat bertemu seperti saat ini.
Kali ini Luna menyinggung, kelemahan Juna tentang mengemudi mobil.
"Semua akan berjalan dengan baik, jika kamu bisa menyetir. Kita dapat kembali lagi ke rumah kita, dan menjalani rumah tangga seperti impian kita dulu. Tanpa campur tangan pihak lain." Ucap Luna.
Juna hanya tersenyum. Selama ini, dia sengaja tidak menunjukkan dahulu, supaya bisa memberi kejutan untuk Luna.
__ADS_1