Usai Pesta

Usai Pesta
Rencana Berbaikan


__ADS_3

Pagi itu, Juna telah terjaga sebelum matahari muncul dari balik jendela kamarnya. Semua masih gelap.


Juna memutuskan akan bangun dan bersiap siap. Juna baru akan berangkat ke rumah Luna sekitar pukul 10 nanti. Tapi, tidur pun, tak bisa nyenyak karena tidak tahan lagi ingin bertemu dengan istrinya kembali. Juna sangat merindukan Luna.


Kamarnya sudah berantakan lagi, semenjak Juna pulang dari Solo. Tas kopernya belum sepenuhnya dibuka.


Berbagai macam buku yang dia beli untuk mengisi waktu tampak berserakan di lantai. Ia meloncati beberapa buku sebelum masuk ke kamar mandi untuk menikmati shower di pagi hari.


Kemarin, Juna telah berbelanja sabun dan shampo dengan wangi yang senada. Juna juga telah mempersiapkan baju batik lengan panjang berwarna cokelat yang sengaja dia beli di Solo tempo hari saat dia sedang berjalan-jalan mengisi waktu senggangnya di sana.


Juna tahu, dia bukan sedang akan melamar Luna untuk kedua kalinya, tapi tetap saja ia ingin hari ini menjadi hari yang spesial bagi dirinya.


Saat menatap pantulan wajahnya di cermin, Juna melihat seorang laki-laki tampan dengan rambut belah punggungnya yang tertata rapi. Setelah semua beres sempurna, Juna menyemprotkan parfum dari telinga hingga kakinya. Penjualnya bilang, parfum ini akan membuat semua wanita jatuh cinta. Juna menyukai konsep parfum ini.


Sekali lagi, Juna mematut dirinya ke cermin. Menatap wajahnya dan tersenyum.


Dia lalu turun ke lantai bawah. Juna duduk di sofa ruang televisi sambil menunggu mami dan papi nya siap.


Tadi malam, Juna sudah bicara pada mereka dari hati ke hati. Awalnya, maminya protes dengan keputusan Juna.


"Ngapain lagi kita ke sana?" Tanya mami saat Juna mengatakan maksudnya hendak menemui Luna dan keluarganya, hendak meminta maaf.


"Mami, kami telah menikah. Aku telah memikirkan semuanya dengan sungguh sungguh. Aku ingin memperbaiki hubungan dengan Luna. Dan meminta maaf pada keluarganya telah pergi dari sana, tanpa pamit sebelumnya." Juna menjelaskan pada Mami.


"Tapi, mami rasa itu tidak perlu! Masalah kalian tidak akan pernah selesai. Luna bukan wanita yang pantas untuk kamu, Juna. Dari dulu kalian memang sudah tidak cocok, dan mungkin tidak akan pernah cocok." Ucap mami dengan sinis.


"Mam, Luna adalah wanita yang selalu menemani Juna dalam suka dan dukanya sejak lama. Banyak hal yang telah kami alami selama ini, jauh sebelum kami menikah. Juna percaya, jika ada masalah, pasti dapat kami atasi bersama. Juna sama sekali tidak percaya dengan perpisahan. Hanya maut yang bisa memisahkan kami, Mam. Kami saling mencintai. Luna adalah wanita dalam hidup Juna." Juna berusaha meyakinkan Maminya dengan sungguh-sungguh.


Mami hanya geleng-geleng kepala.


*

__ADS_1


*


"Kamu, kok, kayak mau kondangan?" Tanya Mami yang baru keluar dari kamar. Kamu menggunakan baju kasual, seperti akan jalan jalan ke mall.


"Mam, pakai baju yang rapi dikit, dong! Kan, kita kamu ke rumah besannya Mami, mertuaku." Sahut Juna.


Dia tahu, maminya berusaha memboikot rencananya untuk berbaikan dengan Luna.


"Ah, sudahlah. Kan, bukan acara penting juga." Ujar mami sambil melenggang dengan cuek.


Lalu tak lama, papi keluar kamar dengan mengenakan kaus polo dan celana jeans biru tua.


Juna menghela napas sejenak melihat kedua orang tuanya. Juna terlihat kecewa dengan sikap mami dan papiny yang seolah tidak mendukung niatnya. Namun, Juna tetap berusaha untuk berjalan di jalur yang telah dia rencanakan semula, tak peduli orang tuanya akan berbuat apa.


Mereka lalu berjalan keluar rumah menuju ke mobil.


"Mami dan Papi, seperti yang sudah aku bilang semalam. Aku datang ke rumah orang tua Luna untuk meminta maaf secara langsung atas semua kesalahan. Lalu aku dan Luna akan kembali tinggal serumah lagi, dan memperbaiki hubungan kami kembali." Sahut Juna sebelum mereka masuk ke mobil untuk menuju rumah Luna.


Papi memandang Juna dengan kasihan. Tetapi, tetap mengikuti Mami masuk ke mobilnya.


Juna menghela napas berat. Dia berharap semua akan berjalan sesuai dengan rencana dan lancar.


*


*


Di kediaman orang tuanya, Luna duduk di taman rumahnya. Memandangi bunga bunga mawar aneka warna yang baru saja mekar pagi ini.


Suasana di rumahnya sudah ramai. Di ruang keluarga, terlihat keluarga besarnya sudah berdatangan. Di sana, juga ada Pak RT, yang konon katanya dapat menjernihkan suasana.


Luna benar benar merasa cemas hari itu. Dia cemas akan masalah pribadinya yang seharusnya dapat diselesaikan secara baik baik berdua saja. Namun, nyatanya keluarga besarnya ikut terlibat, bahkan Pak RT pun turun tangan untuk mengatasinya. Lalu Luna, juga mencemaskan akan apa yang akan terjadi nanti.

__ADS_1


Apakah Juna akan melepaskan dirinya untuk selamanya? Mereka akan benar benar berpisah seperti yang diucapkan mami nya Juna.


Apakah Juna benar benar sudah tidak peduli lagi, akan kenyataan bahwa dirinya telah mengandung buah cinta mereka?


Semudah itu kah, Juna menyerah dan mengakhiri semua ini?


Semua pertanyaan pertanyaan berputar putar di kepala Luna saat ini.


"Luna." Panggil Ibu sambil mendekati putrinya.


"Ya, Bu?" Luna menjawab sambil menoleh ke arah ibunya.


"Makan, Yuk! Ibu sudah buatkan sarapan untukmu." Sahut ibunya sambil meremas pundak Luna.


Luna menjawab dengan anggukan kepala. Sejujurnya, saat ini dia sama sekali tidak berminat untuk makan.


Luna beranjak ke ruang makan. Dia mengambil segelas air putih dari dispenser, lalu meneguknya hingga habis.


Luna berjalan ke ruang tengah. Dia menyalami beberapa on dan tantenya yang tengah duduk di sana. Mereka semua memandang Luna dengan tatapan prihatin.


Luna sama sekali tak menyangka, dia harus bertemu lagi dengan keluarga besarnya hanya setelah beberapa bulan usia pernikahannya dengan Juna. Terutama untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya yang kian ruwet.


Luna merasa wajahnya saat ini seperti dicoreng dengan tinta hitam. Ia sangat malu dan tak nyaman dengan situasi saat ini.


Luna juga menyadari, selain dirinya, Ibu dan ayahnya juga pasti merasa tak nyaman dengan keadaannya yang seperti ini.


Ibu dan ayahnya merupakan pribadi yang sangat berorientasi pada keluarga. Mereka tidak dapat memutuskan sesuatu sendiri. Semua harus dirembuk bersama sama. Tidak terkecuali masalah yang menimpa rumah tangganya dengan Juna saat ini.


Setelah berbasa basi sejenak dengan om dan tentunya, Bulan memilih untuk kembali ke kamarnya. Bulan merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya.


Luna mengelus dengan lembut perutnya, yang mulai terlihat kian membesar saat ini. Sehingga membuat dirinya sering merasa cepat lelah.

__ADS_1


Luna mengelus perutnya dengan rasa sayang. Usia kandungan tak terasa telah masuk usia 18 Minggu.


__ADS_2