
Malam itu, usai beristirahat. Juna mencoba menghubungi kembali Luna. Berkali-kali dia menelpon, namun sama sekali tak diangkat.
Dengan khawatir, Juna akhirnya memutuskan untuk mencoba menelpon ke rumah mertuanya.
"Ya, Halo?" Suara Ibu mertua Juna terdengar mengalun.
"Halo, Ibu? Ini saya Juna."
"Oh. Ya. Ada apa?" Suara di seberang terdengar kaget. Ada suara ramai anak anak juga di sana.
Juna bertanya tanya, mungkin itu adalah suara anak anak Kak Dewi.
"Begini, Bu. Saya dan keluarga, ingin datang ke rumah Ibu besok." Sahut Juna menahan kegugupannya.
"Baik. Nanti saya sampaikan pada Luna." Jawab Ibu mertuanya.
"Kalau bisa, Ibu dan Ayah juga hadir besok." Sahut Juna lagi.
"Baik." Jawab ibu mertuanya singkat.
Talepon ditutup.
Tanpa basa basi, tanpa menanyakan kabar. Dingin.
Juna menghela napas dalam-dalam sejenak. Ia hanya ingin, dan berharap situasi belum terlalu buruk untuk diperbaiki.
***
Luna memarkir mobilnya di garasi. Lalu berjalan dengan lemas memasuki rumahnya yang gelap gulita. Ia berjalan sendiri ke sana kemari untuk menghilangkan rasa suntuknya. Kesedihannya.
Luna ingin menghubungi semua sahabatnya, tetapi ia juga tidak ingin menganggu mereka dengan menambahkan masalah pribadinya.
Semua sahabatnya mengira Luna bahagia dengan keluarga barunya. Mereka tidak tahu apa apa. Luna menyimpan semua lukanya, sedihnya, kecewanya, hanya dengan dirinya sendiri.
"Luna.." Panggil Ibu yang tiba tiba muncul dari kegelapan ruang tamu.
Sontak Luna tersentak kaget. Nyaris dia menjatuhkan tas yang disandangnya.
"Astaga, Ibu! Bikin kaget saja!" Sahut Luna sambil menyalakan lampu.
Wajah ibunya tampak tegang dan khawatir. Luna menjadi cemas.
"Ada apa, Bu?" Luna bertanya kepada ibunya.
Mereka secara otomatis, berjalan menuju sofa besar tempat mereka biasa menerima tamu.
__ADS_1
Ibu hanya terdiam. Luna jadi semakin penasaran.
"Bu.??"
Jarum jam bergerak dalam alur yang monoton dengan suara detik memenuhi keheningan di ruangan itu.
"Juna tadi telepon ke sini." Sahut Ibu pelan. Dari dalam dada Luna, bergemuruh suatu perasaan yang tak bisa dijelaskan.
"Oh, ya? Dia di mana, Bu?" Luna berusaha tetap tenang dan tidak terlihat terlalu mengharapkan jawaban dari ibunya.
"Ibu nggak tahu. Dia nggak cerita." Sahut ibunya.
Keterangan ibunya tidak cukup. Luna menjadi semakin bertanya tanya. Mengapa, Juna sama sekali tidak menghubungi ponselnya.
"Terus, dia bilang apa, Bu?" Tanya Luna hati hati.
"Dia besok masih datang kemari bersama keluarganya!" Sahut ibu lagi. Masih dengan keterangan singkatnya. Ibu sepertinya bingung harus berkata apa.
Luna mendengarkan kabar itu dengan terkejut. Ia teringat perjumpaan terakhirnya dengan maminya Juna. Perjumpaan pahit yang menorehkan luka di hati Luna.
Luna bertanya tanya untuk apa tujuan mereka datang besok. Apakah mereka datang untuk membicarakan putusnya jalinan pernikahan mereka?
Luna menggeleng gelengkan kepalanya sambil menutup wajahnya. Ia ketakutan dan tak menyangka ini akan terjadi pada dirinya.
"Ibu... Mungkin Juna ingin minta cerai." Ucap Luna lirih. Suaranya bergetar menahan tangis. Matanya berkaca-kaca.
Luna tak sanggup menjawab ibunya. Ia sudah tak dapat mengontrol air matanya. Ia nyaris tersungkur karena kesedihan.
"Ibu dan Ayah akan panggil keluarga besar kita besok. Kalau perlu, Pak RT juga akan hadir. Untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan si Juna itu dan sekalian juga mendengarkan dari kita semua hal hal negatif yang telah dilakukan Juna di rumah ini dan kepada kamu! Biar orang lain yang menilai!" Seru Ibu penuh emosi.
Luna tersentak.
"Ibu! Apa apaan, sih? Ini kan urusan internal keluarga!"
Namun, ibunya menggeleng.
"Dari dulu, Ibu sudah bilang, kalau Juna itu bukan laki laki yang pantas untuk kamu. Dulu, kamu tidak percaya sama ibu. Sekarang, kamu harus ikuti semua kata kata Ibu. Besok, kita selesaikan semua masalah ini." Ucap ibu dengan tegas.
Luna masih duduk termenung di sofa. Sementara, ibu sudah pergi meninggalkan Luna sendiri.
*
*
Roni menarik kursi untuk Dewi, membiarkan istrinya duduk di meja dengan pemandangan terbaik di restoran ini.
__ADS_1
Pemandangan lampu lampu kota Jakarta tampak terlihat dengan cantik.
"Sudah lama kita nggak makan malam seperti ini, ya?" Kata Roni berusaha membuka pembicaraan.
Selama di mobil, mereka terpekur dengan alam pikiran mereka masing masing. Tidak berani membuka suara. Takut salah bicara.
"Iya.., di sini indah sekali." Ucap Dewi. Hampir saja dia keceplosan mengatakan, "Ternyata, di sini kamu sering membawa dia." Tapi, Dewi buru buru menutup bibirnya rapat rapat.
Perlahan-lahan, rasa sakit merembet menggantikan rasa rindu dan sayang pada suaminya.
"Ini restoran steak yang baru buka. Aku pikir kamu pasti suka. Kombinasi dua hal yang kamu senangi. Steak dan city view." Sahut Roni sambil tersenyum.
Cahaya lilin di meja berpendar di wajah Dewi. Ia terlihat sangat cantik.
"Ya! Aku suka sekali di sini." Ujar Dewi tersenyum lebar.
Tiba tiba Dewi teringat sesuatu.
"Sebentar, aku harus telepon rumah dahulu. Anak anak sudah waktunya makan malam." Sahut Dewi sambil mengambil ponselnya.
Roni memandang dengan alis berkerut. Seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka.
"Tapi, Wi, anak anak, Kan sudah aman dengan Ibu dan tantenya!" Balas Roni hampir tidak sabar.
Inilah yang selama ini menjadi masalah. Dewi selalu khawatir, terutama masalah anak anak. Roni merasa kehilangan sosok istrinya sebagi kekasih.
Wajah Dewi terkejut. Dengan bimbang ia menaruh kembali ponselnya dalam tas.
"Oh, oke. Jadi, hari ini kita makan apa, ya?" Ucapnya dengan nada riang pada pelayan itu.
Suasana menjadi terasa agak canggung setelah itu.
Menyadari apa yang selama ini menjadi masalah mereka. Mereka tidak pernah lagi benar benar melakukan komunikasi layaknya suami istri. Itu lah yang selama hilang dalam hubungan mereka. Inilah saat yang tepat untuk memperbaiki semuanya.
"Aku nggak tahu mau mulai dari mana." Ucap Roni pelan. Sayup sayup, suara denting piano merasuk dalam percakapan mereka.
"Aku juga." Sahut Dewi. Matanya memandang ke arah lain.
Roni menghela napas panjang. Kemudian ia meraih tangan Dewi yang terlihat kurus.
"Kejadian kemarin, benar benar membangunkanku. Aku berpikir tentang apa yang salah dalam perkawinan kita, sehingga kamu jatuh dan menyerah. Aku rasa, salah satunya datang dari kesalanku. Maafkan aku. Dan ini kan aku membangun semua dari awal lagi. Keluarga ini, cinta ini." Ucap Roni sambil menggenggam dan meremas tangan Dewi lembut, seolah olah memohon.
Dewi terkejut saat Roni memggenggam tangannya. Seperti ada aliran listrik yang mengalir dari tangan ke seluruh tubuh. Jantungnya berdetak begitu kencang.
Dewi terasa seperti saat pertama kali Roni menggenggam tangannya. Saat pertama kali mereka saling jatuh cinta.
__ADS_1
Mereka menikmati makan malam mereka yang romantis kala itu. Dewi tak banyak mengatakan apa pun. Malam itu. Tapi, dia tak berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Roni, suaminya.