Usai Pesta

Usai Pesta
Setiap Kesusahan pasti ada Jalan keluar


__ADS_3

Luna bersenandung riang seraya duduk di kursinya yang empuk. Dia akan cuti besok, untuk berbelanja perlengkapan bayi bersama Juna.


Hari ini, Luna membereskan semua beberapa urusan kantor sebelum cuti.


Tok tok!


Terdengar ketukan dari luar pintu ruangannya.


Dari kaca jendela kantor yang bening, terlihat Mr Mark berdiri di luar.


Luna berdiri untuk membuka pintu dan menyambutnya.


"Oh, hai, Mr Mark. Ada yang bisa saya bantu?" Sahut Luna dengan riang.


"Ya. Eh, Maaf Luna. Saya harus mengganggu kamu lagi. Beberapa hal dalam meeting kemarin harus kamu revisi dan saya ingin lihat itu nanti malam. Besok, kita akan meeting lagi tentang masalah revisi ini dengan pihak dari pusat internasional." Cerocos Mr Mark dengan logat bulenya.


Luna terdiam. Mulutnya terbuka seperti akan memotong ucapan Mr Mark.


"Ya, kenapa, Luna? Kamu ingin mengatakan sesuatu?"


"Saya... Saya sudah mengambil cuti untuk besok Mr Mark." Jawab Luna pelan.


Luna tak ingin dianggap sebagai manager manja yang tidak tahu kondisi.


Tapi, sebenarnya, Luna juga tahu yang sedang dibicarakan oleh Mr Mark saat ini sama sekali bukan urusannya.


Sejak pertama kali, Luna menerima pekerjaan dari Mr Mark, pria itu semakin lama semakin melunjak. Dan memberikan lebih banyak pekerjaan lain yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan divisi Luna.


"Saya sangat berharap sekali, kamu mau koperatif dalam hal ini. Saya tunggu revisinya!" Ucap Mr Mark dengan tegas. Lalu pria itu berlalu, membiarkan Luna terdiam lama.


Luna duduk tercenung di mejanya. Mr Mark pernah mengatakan, jika manager di perusahaan itu semuanya saling bantu.


Dan saat ini Luna adalah anak baru di managerial pun mau tak mau harus percaya. Tapi kali ini, tindakan Mr Mark sudah kelewatan.


Luna memandangi berkas berkas yang sudah terlanjur dia kerjakan. Semua laporan dan revisinya biasa dia kerjakan sendiri. Dia ingin memastikan semua dibuat dengan benar.


Oleh karena itu, Luna sulit mempercayakan pekerjaan ini kepada orang lain. Padahal, seharusnya, dia lebih banyak mengerjakan hal hal yang berbau managerial daripada mengerjakan semua yang bisa dikerjakan oleh stafnya.


Luna teringat akan ucapan Juna. "Kadang kadang, aku pikir, kamu itu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Kamu tenggelam terlalu dalam, Lun."


Juna menginginkan waktu dan perhatian yang lebih. Terutama setelah anak mereka nanti telah lahir. Luna harus memikirkan itu.


Luna menghela napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.


Luna harus berusaha untuk mendelegasikan pekerjaannya dan belajar untuk berani menolak pekerjaan yang tidak relevan dengan divisinya. Luna butuh itu untuk m ndapat lebih banyak waktu untuk dirinya dan keluarga.


"Shinta, tolong ke sini sebentar." Panggil Luna melalui interkom kantor.


Tak lama kemudian, seorang staf masuk ke dalam ruangan Luna dengan canggung.

__ADS_1


"Tolong kamu urus, ya, laporan ini. Jika ada pertanyaan, jangan ragu untuk menghubungi saya!" Ucap Luna.


"Baik, Bu." Jawab stafnya sambil mengangguk dan membawa semua berkas yang sudah dikumpulkan Luna di atas meja.


Dan detik itu juga, Luna hanya menatap dengan melongo.


Luna menatap punggung stafnya yang melenggang keluar ruangan sambil membawa setumpuk berkas.


"Sudah? Begitu saja? Semudah itu?" Luna bertanya tanya dalam hati.


Semua berkas di meja sudah terangkat. Tidak ada lagi kepeningan. Dan ia sekarang dapat berpikir tentang konsep dan strategi bagi perusahaan. Namun, besok dia tetap harus cuti.


Luna berjalan keluar ruangannya, menuju ruangan Mr Mark.


Dari luar, Luna dapat melihat Mr Mark sedang sibuk membuat catatan.


Biasanya, Luna paling anti untuk mendekati ruangan Mr Mark. Luna hanya akan melakukan apa yang Mr Mark minta dan dia sama sekali tidak punya keinginan untuk bertanya ataupun keberatan dengan apa pun yang diminta oleh seniornya itu.


Luna tidak ingin dianggap malas dan suka mencari cari alasan untuk tidak bekerja.


"Hai, Mr Mark, maaf mengganggu" Sapa Luna saat berdiri di ambang pintu ruang Mr Mark.


"Oh, ya, Luna. Ada apa?" Jawab Mr Mark dengan heran.


"Mr Mark, maaf saya tidak dapat ikut rapat besok. Saya sudah mengajukan cuti sejak Minggu lalu." Luna berkata pelan pelan. Berusaha agar setiap kata yang keluar dari mulutnya tidak disambut dengan teriakan oleh Mr Mark.


Mr Mark menghentikan kegiatannya, lalu menatap ke arah Luna dengan mengerutkan keningnya.


"Tapi ini adalah dapat yang sangat penting, Luna! Semua klien dan rekan kita akan hadir. Kehadiran kamu sangat diharapkan besok!" Ujar Mr Mark mendesak Luna.


"Tapi, Mr Mark! Besok adalah hari yang penting juga bagi saya. Dan saya tidak bisa ikut rapat. Lagi pula rapat itu juga tidak dapat hubungannya dengan divisi saya. Sekali lagi maaf, saya tidak bisa!" Sahut Luna dengan kesal pada Mr Mark. Luna membalik tubuhnya hendak meninggalkan ruangan itu.


"Luna!" Panggil Mr Mark dengan suara nyaring.


Luna menoleh menatap seniornya itu.


"Jika kamu tidak datang besok, saya akan ----"


"Anda tidak akan bisa melakukan apa apa. Perusahaan sudah memberi ijin pada saya untuk cuti. Saya berhak mengambil cuti saya kapan saja. Pihak perusahaan sudah memberikan ijin seminggu yang lalu dan saya telah mempersiapkan semuanya. Have a nice day, Mr Mark. Good luck for you!" Tukas Luna Sam menutup ruangan Mr Mark dengan kasar. Dia sudah tidak peduli lagi.


Luna menyadari, satu satunya alasan Mengapa Mark berkeras mengajaknya ikut rapat besok, tentu ada hubungannya dengan beberapa ketidakberesan yang dilakukan oleh Mr Mark selama ini. Yang tertuang dalam laporan laporan itu. Lalu, Luna lah yang nanti akan dijadikan tumbal untuk menyelamatkan badan Mr Mark. Luna tidak sudi.


Luna kembali ke ruangannya, dan mengirimkan beberapa baris pesan pada Juna.


*


Juna mengecek chat yang baru saja masuk pada ponselnya. Dari Luna.


Belakangan ini, Juna sebentar-sebentar mengecek ponsel. Ia merasa seperti remaja yang sedang jatuh cinta, yang merindukan datangnya pesan dari kekasih hati setiap menit, setiap waktu.

__ADS_1


Juna selalu merasa rindu pada Luna, dan menantikan chat yang masuk dari Luna.


"Heh, ngapain senyum senyum sendiri!" Celetuk Rey sambil melempar pesawat dari kertas ke kepala Juna.


"Soal Lo!" Sahut Juna sambil melempar balik pesawat kertas itu ke arah Rey.


Rey masih terkekeh melihat tingkah Juna.


"Dapat chat dari selingkuhan, ya, kok girang banget kayaknya!" Goda Rey.


"Enak aja, Lo! Ini chat dari istri tercinta. Istri sah, nih!" Juna menukas dengan cepat.


Saat itu kebetulan ruangan divisi mereka sedang sepi. Hanya ada mereka berdua yang tidak pergi ke sebuah workshop yang dijadwalkan oleh kantor.


"Hmmm... Tambah mesra aja, nih, kayaknya?"


"Iyaaaaaaa dong!"


"Mau honeymoon kedua nggak? Ke Australia!" sahut Rey sambil bersiul siul.


"Boro boro honeymoon! Ini lagi siap siap untuk biaya kelahiran anak gue, nih! Belum lagi persiapan kebutuhan lain buat anak! Lagi butuh duit tingkat tinggi, nih!" Seru Juna setengah mengeluh.


Juna berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki perkawinannya. Dia ingin membuktikan bahwa dia juga lelaki yang bertanggung jawab. Meskipun harus mengemis pada perusahaan untuk memperoleh promosi jabatan.


Juna tahu, Rey adalah salah satu corong perusahaan yang dapat dia manfaatkan.


Rey terkekeh mendengar keluhan Juna.


"Hei, dengar dengar, ada peluang terbaru untuk beberapa posisi cabang perusahaan kita, di negara lain." Sahut Rey memancing.


"Benarkah?" Tanya Juna dengan antusias.


"Iya. Memang ada! Kenapa? Mau daftar? Tumben?!" Rey mencibir. Namun, Juna tak peduli.


"Ya. Pasti dong. Harus daftar! Lumayan buat ngumpulin duit, tabungan buat masa depan." Tukas Juna dengan cepat.


Rey tersenyum simpul sambil mengecek sesuatu pada ponselnya.


"Ya, oke. Nanti aku bantu. Untuk syarat syarat dan link pendaftaran nanti gue kirim ke wa. Tapi, Lo harus ikut beberapa ujian tertulis. Dan tenang aja, nanti akan gue beri surat rekomendasi buat Lo."


Juna terlonjak mendengar ucapan Rey. Lalu dengan spontan, Juna memeluk dan menepuk punggung Rey.


"Jun, sudahlah! Gue masih suka perempuan tulen!" Ucap Rey.


Namun, Juna makin memeluk sahabatnya dengan erat, sehingga membuat Rey terlihat panik saat melihat ada beberapa orang menuju ke ruangan mereka.


"Juna, ada orang datang kemari. Nanti kita dikira ada apa apa?!" Seru Rey dengan panik.


Juna tetap tak bergerak dari posisinya. Dia tetap memeluk Rey, dan bahunya bergetar, dia menangis haru. Dia tak menyangka akan mendapat bantuan sebesar itu dari sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2