Usai Pesta

Usai Pesta
Menyadari Kesalahan


__ADS_3

Malam itu, Juna keluar dengan penuh amarah dari kediaman orang tua Bulan. Ia sangat kecewa dengan Bulan yang seolah tak menganggapnya sebagai seorang suami, bahkan membandingkannya dengan Roni. Terlebih mertuanya yang selalu membandingkannya dengan Roni, sang menantu idaman itu.


Juna memesan taksi online dan dalam kepalanya hanya satu tujuan yang terlintas saat itu. Rumah orang tuanya.


Juna pergi hanya dengan mengenakan pakaiannya itu dan tas kerjanya. Lalu pulang kembali ke rumahnya. Perasaannya kecewa dan marah dengan Luna dan keluarganya yang seolah menolaknya dan mencari cari kekurangan dari dirinya.


"Junnaa...?" Ucap Mami saat membuka pintu dan melihat putra bungsunya kembali dengan wajah kusut dan tertekan.


Ia menoleh kiri dan kanan memastikan Juna sendirian datang ke rumah saat itu.


Mami menatap Juna dan lalu memeluknya dengan erat, seolah tahu apa yang dibutuhkan oleh Juna saat itu. Ia seakan merasakan pilu dan luka yang Juna rasakan saat itu.


Juna tak banyak bicara, ia masuk ke dalam rumah langsung menuju ke kamarnya dan kemudian membersihkan dirinya.


"Juna, makanlah! Sudah mami siapkan di meja makan." Ucap Mami saat Juna keluar dari kamar mandi.


"Iya, Mi. Nanti aku ke sana." Jawab Juna sambil mengeringkan rambut dengan handuk.


Mami menatap punggung Juna yang kembali masuk ke kamarnya. Ia bertanya-tanya dalam hati, masalah apa yang di hadapi anak ya saat ini. Ia hanya bisa menebak jika ini adalah masalah rumah tangga putranya.


Mami membiarkan Nina kembali ke kamar yang dulu ditempatinya semasa masih sendiri. Letaknya di lantai dua dan berada di ujung sebelah kanan tangga. Tak ada satu pun yang berubah dari kamar itu. Masih ada Lego Lego koleksi Juna, coretan coretan semasa kuliah, dan masih ada buku bukunya yang kata Mami, buku nggak jelas. Semua masih ada dan tersusun rapi di sana. Hanya bau lembap saja yang awalnya melingkupi.


Malam pertama itu, ia lalui di rumah dengan perasaan tersiksa. Ia membolak-balik badan dengan resah. Biasanya, tempat tidurnya nyaman dan selalu dapat membuat Juna tidur pulas. Namun, saat ini, ia merasa ada yang kurang. Seperti ada potongan hatinya terlepas, ada yang hilang.


"Jun, ambil lagi ikannya. Aku tadi masak banyak loh." Celetuk Shasa saat mereka sedang menikmati makan malam.


"Dika sekarang sudah bisa makan ikan, Om. Jadi, mamaku masak yang banyak, biar semua bisa menikmatinya." Oceh Shasa ke arah putranya yang masih balita, seolah-olah mengajak berbicara dengan Juna.

__ADS_1


Juna hanya tersenyum menanggapinya, ia akhirnya mengambil ikan yang dimasak oleh kakaknya tadi.


Juna bermain sebentar dengan keponakannya itu, dan semua anggota keluarga menanggapi dengan suka cita balita lucu itu.


Seluruh keluarga menerima kembali kehadiran Juna dengan sikap wajar seperti setiap hari Jumat ada di situ sarapan bersama mereka atau terkadang menikmati makan malam bersama sama.


Mereka pura pura tidak melihat masalah besar yang tergambar di wajah Juna. Juna merasa itulah yang terbaik untuk mereka semua saat ini.


Juna belum menjelaskan atau menceritakan semua masalah pada ibunya, bahwa ia dan Luna ada sedikit kesalahpahaman dan mudah mudahan mereka dapat berbaikan.


Juna mulai berangkat ke kantor pagi itu dan akhirnya setiap pagi dengan menggunakan angkutan umum untuk berangkat dan pulang kembali.


"Rey, aku bertengkar dengan Luna, dan telah pergi dari rumah mertuaku." Cerita Juna suatu pagi sebelum jam kantor dimulai pada Rey.


Rey membulatkan matanya, menatap Juna dengan prihatin.


"Bro, aku turut sedih atas semuanya."


"Kamu benar. Tinggal bersama mertua benar benar mengerikan, dan aku menjadi salah satu korbannya kini." Juna berkata lirih.


Juna berpikir Rey akan tertawa terbahak mendengarnya, tapi ternyata tidak seperti itu.


"Itu lah sebabnya aku memutuskan belum ingin menikah hingga saat ini. Tapi, aku rasa kalian hanya salah paham saja. Butuh waktu untuk meluruskan semua masalah. Bersabarlah Bro!" Hibur Rey sambil menepuk pundak temannya itu.


"Aku pun akan siap dan senang hati membantumu jika kamu membutuhkan bantuanku. Kamu tahu, supaya aku tidak terlalu memikirkan masalah rumah tanggaku yang kacau ini." Juna menawarkan diri pada Rey.


"Oke. Baiklah. Dimulai dengan meeting hari ini." Sahut Rey sambil menaruh map berwarna merah di atas meja Juna.

__ADS_1


Rey memberikan beberapa tugas tugas baru pada Juna setelah itu. Dan Juna pun menjalankan semua pekerjaannya dengan senang hati, dan mulai melupakan masalahnya untuk sementara.


Tak terasa sudah sebulan lebih dia telah terpisah dengan Luna. Dan selama itu, Juna mencoba menenggelamkan diri dalam pekerjaan.


Hari itu, Rey mengabarkan bahwa perusahaan akan membuka kantor cabang baru di Solo. Dan Juna ditugaskan ke sana selama sebulan untuk mengurusi segala sesuatunya. Lalu Juna menyanggupinya.


Juna memilih perjalanan menggunakan kereta api menuju ke Solo. Meski kantor memberi budget menggunakan pesawat.


Yang akomodasi yang berlebih dapat ia tabung. Sesuatu yang dahulu tak pernah terpikirkan olehnya.


Setelah sekian lama, suatu malam ia memikirkan kalau perkataan Aluna ada benarnya juga. Penghasilannya tak pernah akan cukup, selalu habis hanya untuk kesenangannya sendiri. Dan, Luna yang selama ini terpaksa mengeluarkan uang untuk pengeluaran maupun tabungan keluarga.


"Mengapa selama ini aku selalu santai dengan kenyataan bahwa penghasilan Luna lebih besar dari punyaku? Luna adalah seorang yang cerdas dan pekerja keras. Wajar jika dia menghasilkan uang yang banyak." Gumam Juna pada dirinya sendiri.


Dia memikirkan semuanya malam itu. Tentang penghasilan istrinya yang lebih besar dari miliknya dan bahkan membiayai kebutuhan rumah tangga mereka. Lalu membuat semuanya menjadi tidak lazim.


Bagi Juna hidup dan rejeki itu telah ada yang mengatur. Selama ini Juna melihat Ibu dan kakaknya yang sangat sukses dalam bisnis, bahkan melampaui suami. Menurutnya hal itu tidak menjadi masalah. Karena selama ini di keluarganya memang tidak pernah ada konflik mengenai penghasilan istri yang lebih besar dari suami.


Namun, ternyata masalah tidak sesederhana itu bagi orang lain. Tidak semua orang beranggapan dan berpikir sama seperti Juna. Mungkin inilah awal kesalahpahamannya dengan Luna.


Selama ini, Juna selalu merasa menjadi suami yang mendukung dan mengijinkan istrinya untuk tetap bekerja dan sibuk hingga larut malam. Tak jarang, Luna hanya menyisakan kelelahan di waktu malam. Mungkin kesibukan itu, bukanlah yang diinginkan oleh Luna. Mungkin istrinya lebih senang di rumah dan melakukan hal yang disukai.


"Astaga, Luna... Maafkan aku!" Ucap Juna sambil mengusap usap wajahnya menyadari semua yang pernah ia lakukan pada Luna.


"Aku telah begitu egois selama ini, padamu. semoga semua belum terlambat. Aku akan membuktikan semua padamu dan anak kita!"


****

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2