
Roni sedang menemani kedua buah hatinya makan siang di luar, di gerai sebuah restoran cepat saji kenamaan, sepulang mengantar mereka berenang.
Kini, Roni tengah menikmati perannya sebagai seorang ayah bagi kedua buah hatinya.
Dewi tidak ikut hari itu, karena sedang akan berbelanja bulanan untuk kebutuhan rumah mereka, lalu setelah itu membereskan rumah.
"Pa, kapan kapan kita ajak Mama untuk meluncur di kolam renang. Yang tadi itu sangat menyenangkan sekali! Akan aku ceritakan pada teman temanku di sekolah! Jangan lupa, fotonya nanti, aku minta, ya, Pa?!" Miko, anak pertama Dewi dan Roni berbicara sambil mengunyah ayam goreng kesukaannya.
Roni tersenyum dan mengangguk. Anak itu, diam diam telah menjadi orang dewasa yang kecil.
Di mana saja dirinya, saat anak anak tumbuh besar? Roni menghela napas, dia berharap, akan mendapat kesempatan lagi untuk melihat perkembangan hidup Miko dan Maya.
Tiba tiba, seorang wanita yang tak asing lagi baginya lewat melintas di dekat Roni dan anak anaknya.
"Oh, hai, Roni! Kejutan sekali!" Sapa wanita itu dengan riang.
Roni terkejut. Dia diam sebentar, berusaha mencerna yang terjadi saat ini.
Saat ini Rosa berdiri di hadapannya. Roni merasa canggung, bingung harus berbuat apa.
"Oh... Ini anak anaknya ya, Ron. Kenalin, ini Tante Rosa, teman bisnis Papa!" Ucap Rosa sambil mengulurkan tangannya.
Miko dan Maya masing masing menyalami dengan tatapan penuh selidik.
Roni berdiri, dengan cepat dia berusaha menjauhkan Rosa dari anak anaknya.
"Oh, ya, Roni. Ini Ricky. Kenalkan!" Rosa menderong dengan lembut seorang lelaki blasteran dengan tubuh atletis, berwajah tampan, rambut agak pirang, kulit putih seperti bule, namun, wajah masih setengah bule setengah Indonesia.
Seorang model, pemain film, dan bintang yang iklan, sering muncul di layar kaca.
Rosa pernah cerita, jika dia batu saja putih dengan seorang model, blasteran.
Lalu kali ini, dia bertemu dengan Rosa dan mantannya.. mungkin mereka menjalin kasih kembali. Baru kali ini, Roni melihat wujud mantan Rosa.
"Eh, aku sudah cerita belum, ya? Ricky dan aku akan berlibur bersama ke Jepang bulan ini. Jadi mungkin, segala urusan bisnis kita bisa dicancel saja dulu. Aku akan merekomendasikan perusahaan lain untuk membantumu mengurus semuanya." Sahut Rosa masih sambil tersenyum.
Roni hanya mengangguk angguk dengan linglung.
Lalu Rosa dan Ricky beranjak pergi dengan tangan saling bergandengan.
__ADS_1
Roni menghela napas dalam-dalam. Entah mengapa ada perasaan lega yang tiba tiba merasuki dadanya.
Dirinya merasa terbebas dari segala bentuk rasa bersalah pada wanita itu.
*
Sesampainya di rumah, Roni langsung mencari Dewi dan memeluk istrinya yang sedang sibuk membersihkan wastafel dapur.
"Aku cinta kamu, Dewi. Aku sangat mencintaimu." Bisik Roni lirih.
Akhirnya, hatinya dan dirinya bisa dengan leluasa diberikan pada Dewi, istrinya.
Dewi yang kebingungan hanya tersenyum dan membalas dengan kecupan.
"Aku cinta kamu juga, Roni." Sahutnya.
Mereka berpelukan untuk waktu yang sedikit lama. Menikmati kebersamaan mereka yang sempat menghilang.
*
*
Luna menatap microwave yang dia banggakan. Hanya dengan alat ajaib ini, dia biasa menghasilkan masakan seperti koki profesional. Luna membeli makanan siap saji, yang tinggal dipanaskan dalam microwave, tunggu satu menit, dan sudah jadi.
Luna hampir setiap hari membeli makanan siap saji tentang tinggal dipanaskan yang ada di supermarket.
Namun, lama kelamaan, jika dipikir pikir kembali, makanan yang seperti itu tidak baik juga untuk kesehatan, apalagi untuk anaknya yang ada dalam kandungan.
Lalu, jika memasak dengan alat itu, hal yang dapat Luna lakukan adalah memasak telur. Dan dia tidak mungkin memberikan telur setiap hari kepada Juna.
Luna tidak pernah benar-benar menyukai memasak.
Seumur hidup, bisa dihitung berapa kali Luna masuk ke dapur. Itu pun hanya untuk mengambil piring, mencomot makanan yang sedang dimasak, atau hanya sekedar mematikan kompor karena disuruh oleh ibu.
Karena sangat sangat keterlaluan penyakit buta memasak dan keengganan Luna ke dapur, sampai sampai, Luna pernah baru menyadari adamya perubahan interior di dapur ibunya setelah satu tahun.
Mungkin banyak cerita tentang orang yang tidak bisa memasak, tidak bisa membedakan antara ketumbar dan merica, lengkuas, kunyit, jahe, serai, atau daun salam, dan daun jeruk. Dan cerita yang sepertinya buruk lainnya. Tapi, Luna merasa kasusnya sudah parah.
Luna tidak tahu bagaimana cara menggunakan kompor, sehingga Luna terpaksa mengetahui di tempat kost semasa kuliah, dan itu karena tuntutan perut.
__ADS_1
Itu lah pertama kali Luna memasak mi instan dengan tangannya sendiri. Proses pembuatannya yang ternyata mudah, dan Luna merasa sangat terharu. Inilah masakan pertama Luna.
Hari Minggu siang, dengan tekad bulat, Luna memutuskan untuk pergi ke rumah Kak Dewi untuk belajar memasak. Bersama sama mencoba resep baru. Jika ada teman mencoba dan belajar, tentu lebih menyenangkan, daripada harus repot-repot sendiri.
Rumah Kak Dewi terlihat lengang saat Luna memasuki ruang tamunya. Kak Dewi tampak segar dengan potongan rambut baru. Model bob, tidak terlalu pendek, namun terlihat lebih segar dan cantik.
"Hai, Sayang. Aku sudah nunggu kamu dari tadi, loh! Kebetulan, Roni dan anak anak sedang pergi ke kolam renang. Anak anak mau berenang. Supaya kita bisa bersenang-senang di dapur!" Kak Dewi menyambut dengan senyum ceria.
Tidak ada lagi bekas bekas dia baru saja mengalami kejadian terburuk dalam hidupnya. Luna sangat gembira. Luna memeluk kakaknya dengan sepenuh hati.
"Kak, tolong aku!" Ujar Luna dengan mimik wajah memelas.
"Oke. Jadi, resep apa yang kamu bawa?" Tanya Kak Dewi.
Luna menunjukkan buku Resep Aneka Masakan Nusantara, yang dia beli lewat market place dengan promo gratis ongkos kirim.
Dewi mengambil buku yang disodorkan oleh adiknya itu, dan membuka buka halaman buku resep itu dengan antusias.
"Juna suka menu mi, Kak. Mungkin aku bisa belajar membuatnya!" Ucap Luna riang.
Luna membalik balik halaman buku resep itu.
"Nah, yang ini, resepnya, Kak!" Tunjuk Luna pada halaman ke sekian.
Kak Dewi melihat sebentar dan terkekeh.
"Ini, gampang sekali!" Sahut Kak Dewi.
Luna mengerjap matanya menatap kakaknya dengan penuh harap.
"Aku yakin, Juna pasti akan bahagia makan masakanku." Tukas Kak Dewi sambil mempersiapkan bahan bahan masakan yang ada di dapur.
"Hmmm.... Mudah mudahan ya, Kak." Jawab Luna sambil tersenyum.
Kak Dewi mengusap punggung adiknya dan memeluknya ringan, sebelum mereka sibuk memasak.
"Kalian belum memberi tahu Ayah dan Ibu soal kalian yang sudah baikan?" Tanya Kak Dewi saat mereka sedang menunggu sayur campuran mi lunak.
"Belum, Kak. Waktunya belum tepat." Sahut Luna lirih.
__ADS_1