Usai Pesta

Usai Pesta
Semua masalah ada jalan keluarnya


__ADS_3

Saat ini, Dewi dan Roni telah kembali ke rumah mereka. Dewi dan Roni juga mengalami kesulitan menjalin kembali hubungan yang ada di antara mereka setelah krisis karena perselingkuhan yang dilakukan oleh Roni kemarin.


Dewi selalu merasa curiga atas apa pun, yang dilakukan oleh Roni, begitu juga sebaliknya. Roni merasa sangat terganggu karena selalu dicurigai.


Namun, mereka telah sepakat untuk memulai kembali rumah tangga mereka yang sempat porak poranda. Mereka berusaha membangun rasa percaya di antara mereka.


Anak anak telah mereka bawa kembali ke rumah. Dan mereka mulai menjalani hari-hari seperti biasa.


Roni mencoba pula g lebih cepat, dan membantu Dewi mengerjakan pekerjaan rumah. Begitu juga Dewi.


Dia tak hanya mengingat anak anak, tetapi dia juga berusaha menjadi istri yang bisa mengurus suami lahir dan batin dengan penuh kasih sayang.


Kedua anak mereka, terutama Miko, anak pertama mereka, perlahan lahan mulai berusaha melupakan mimpi buruk saat dia melihat ibunya tersungkur di lantai dengan darah di mana mana.


Mereka sekeluarga, pergi ke konseling bersama sama. Berusaha saling menyembuhkan. Berusaha memperbaiki semuanya. Dewi dan Roni saling membangun kembali kepercayaan di antara mereka yang pernah hilang.


Anak anak juga mulai melupakan trauma mereka.


Namun, kadang kadang, Dewi masih terus membayangkan wajah Rosa yang dia lihat di laman Facebook suaminya.


Membayangkan bagaimana Rosa dan suaminya pernah saling menyayangi, bahkan sampai tidur bersama. Setiap kali teringat, Dewi selalu merasa hancur dan lemas. Tak mampu melakukan apa apa.


Di pihak lain, Roni masih suka mengingat Rosa juga di saat saat tak terduga. Seperti saat sedang menemani Dewi berbelanja. Lalu terdengar lagu diputar di supermarket. Lagu lagu yang menjadi favorit Rosa, yang sering mereka dengar saat bersama. Roni terpaku dalam memori.


Roni juga masih suka memandangi nomor telpon dan whatsapp Rosa pada ponselnya. Roni menimbang nimbang apakah dia akan menghubungi gadis itu untuk menanyakan kabar .


Roni merindukan keterbukaan yang terjadi di antara mereka. Saat mereka sedang mengobrol, dan Roni berkeluh kesah, Rosa selalu bisa memberikan saran saran yang bagus.


Wangi laut yang memancar dari Rosa. Roni belum bisa melupakan wanita itu 100%. Roni berharap kalau dirinya normal.


Dewi masih sesekali bersikap sensitif, jika melihat Roni saat sedang melamun. Dewi menuduh Roni sedang mengingat ingat Rosa. Roni pun dengan marah selalu membantah.


Memang berat bagi keduanya. Namun, mereka sadar bahwa ini harus mereka jalani pelan pelan, sehingga tak terasa waktu akan membantu mereka melewati Badia yang luar biasa hebatnya ini.


Saat keadaan rumah tangga mereka mulai membaik. Dewi mendengar bahwa rumah tangga adiknya, Luna sedang terguncang dan berada di ujung tanduk.


Ibu menghubungi Dewi, dan menceritakan kejadian di rumah hari itu.


Dewi menanyakan duduk permasalahan yang terjadi. Ibu mengatakan bahwa Luna dan Juna sedang bersiap untuk bercerai.


Dewi menahan napas saat ibu menceritakan hal tersebut. Itu tidak mungkin terjadi.

__ADS_1


Dewi lantas menghubungi Luna untuk berbicara dengan adiknya. Tetapi, Luna saat itu belum siap untuk bicara dengan siapa pun saat itu. Dewi merasakan pedih di dadanya.


Malam itu, usai menghubungi Luna dan ibu. Saat Dewi dan Roni bersiap untuk tidur.


"Roni.." Dewi memanggil suaminya saat mereka telah berpelukan dalam gelap bersiap untuk tenggelam ke alam mimpi masing-masing.


"Hhmmmm?" Roni menggumam. Tangannya melingkar di pinggang Dewi.


"Ron, kamu cinta aku?" Tanya Dewi.


"Tentu. Kenapa?"


"Luna dan Juna juga saling mencintai. Mereka tidak seharusnya berpisah. Mereka harus tetap saling bersama. Aku tahu mereka masih saling cinta satu sama lain."


"Itu urusan mereka, Wi. Tidurlah, sudah malam!" Ucap Roni.


Namun, Dewi malah berusaha melepaskan pelukan Roni dan bangun dari tidurnya.


Dewi duduk termangu dengan pikiran yang berkecamuk.


Roni meregangkan tubuhnya sebelum ikut duduk di sebelah Dewi. Wajahnya terlihat sangat mengantuk.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Sayang?" Roni menyentuhkan hidungnya ke pipi Dewi. Saat ini dia setengah tertidur.


"Apa??" Roni langsung terbangun penuh. Matanya melotot. Ia menatap istrinya, sepertinya istrinya sedang mengigau.


"A-apa maksudmu? Aku tidak begitu dengan dengan Juna! Aku hanya orang asing baginya!" Tampik Roni sambil menggelengkan kepalanya.


"Ayolah, Ron, kalian kan sudah menjadi saudara secara tidak langsung." Dewi berkata sambil mengerutkan keningnya.


Roni hanya bisa geleng-geleng kepala. Roni merasa tidak yakin. Sangat tidak yakin. Terakhir kali dia berbicara dengan Juna adalah saat Juan memergokinya bersama seorang wanita lain di sebuah klub dan mereka bertengkar hebat malam itu. Entahlah apa yang harus Roni katakan jika bertemu dengan Juna kembali.


"Aku nggak tau, Wi." Ujar Roni sambil menggeleng lemah.


Dewi menatap ke arah Roni.


"Please, kumohon Roni, tolonglah.. ini semua demi kebahagiaan Luna!" Tiba tiba Dewi memeluk Roni erat erat.


"Aku ingin adikku juga merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan saat ini. Apalagi dia sedang hamil. Tolonglah, Ron. Kamu bicara dengan Juna dari hati ke hati. Agar mereka bisa berbaikan kembali. Roni, aku yakin kamu pasti bisa melakukannya! Dan semua bisa diselesaikan. Tidak ada masalah yang terlalu besar. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya dan dapat di selesaikan. Sampaikan itu padanya!" Ucap Dewi masih dengan memeluk Roni.


"Aku tak yakin, Wi!"

__ADS_1


"Roni, berjanjilah padaku kamu akan bicara dengan Juna!"


Dewi menatap Roni dengan tatapan penuh harap. Hingga akhirnya Roni menjadi luluh dan mengangguk lemah.


Dewi tersenyum, lalu mencium bibir suaminya dengan lembut.


"Terima kasih, Sayang." Bisik nya tepat di telinga.


*


*


Dewi melangkahkan kakinya keluar dari rumah ibunya usai berbicara dengan Luna. Dewi menghela napas lega. Dia sangat yakin pernikahan adiknya masih dapat diselamatkan.


Luna dan Juna hanya perlu waktu, duduk berdua dan berbicara dari hati ke hati.


Sama dengan dirinya dan Roni, yang akhirnya dapat melewati masa krisis rumah tangganya dengan menyelesaikan bersama pasangan tanpa campur tangan orang lain.


Ya orang lain yang baik dan tidak menghakimi mereka. Seperti konselor dan Luna, yang mau mendengar semua keluh kesah, tanpa menyalahkan.


Saat di dalam mobil, Dewi tiba tiba teringat lagi pada Rosa. Sungguh, berat rasanya, rasa sakit di dadanya saat mengingat wanita itu. Dewi ingin sembuh dari racun yang ditancapkan wanita itu pada pikirannya. Namun, bagaimana?


Dewi meletakkan kepalanya pada setir mobil, dia memejamkan matanya, mencoba sekuat hati menepis semua ingatan tentang Rosa.


Lalu dia teringat bahwa dia memiliki nomor ponsel Rosa yang diambilnya dari ponsel Roni.


"Mungkin. Mungkin inilah saatnya aku harus bicara dengannya! Mengungkapkan semuanya dan memintanya untuk menjauh dari kehidupan kami selama lamanya!" Gumam Dewi.


Dewi mengambil ponselnya, lalu membuka aplikasi whatsapp, di sana ada nama Rosa, terhubung dengan whatsapp.


Dewi mengetik beberapa baris pesan, tentang siapa dirinya dan mengapa dia menghubungi Rosa. Dewi berharap Rosa dapat menemuinya saat makan siang.


Dewi mengirim pesan tersebut pada Rosa. Detik itu juga, Dewi merutuki tindakannya barusan.


Mengapa dia sampai mengirimkan pesan pada sang wanita lain yang tak punya perasaan, yang telah mengganggu rumah tangganya?


Dewi menghela napas dalam-dalam sejenak. Dalam kepalanya ingin mengetahui, alasan mengapa Rosa melakukan itu semua. Mendekati Roni, dan mengganggu rumah tangganya.


Dewi ingin mendengarkan alasan dari Rosa. Dia ingin instrospeksi, apa yang salah dari dirinya, mengapa Roni sampai mencari wanita lain seperti Rosa dan sampai tega meninggalkannya kemarin. Dewi ingin tahu, kekurangan dari dirinya yang ada pada diri Rosa.


Tak butuh lama untuk menunggu. Wanita itu membalas pesan yang dikirim oleh Dewi.

__ADS_1


Dia bersedia bertemu di sebuah kafe di sebuah mall besar.


Dewi menghela napas sejenak. Dia harus bertemu dan menyelesaikan masalah yang tertancap dalam kepalanya ini.


__ADS_2